HomeAngkringRahasia Para Istri Ulama

Rahasia Para Istri Ulama

0 10 likes 3.1K views share

Pada suatu hari, istri Imam Ibnu Hajar berkeinginan untuk mandi di pemandian. Namun Imam Ibnu Hajar tidak mampu membelikan tiket masuk.

Bersabarlah wahai istriku, sampai aku dapat mengumpulkan uang untuk membayar tiket masuknya.” kata Ibnu Hajar menghibur.

Setiap kali mendapat rezeki, Ibnu Hajar menabung untuk membeli tiket masuk pemandian yang dimaksud. Setelah uang terkumpul sebanyak setengah riyal, istri imam Ibnu Hajar segera pergi ke pemandian. Tetapi sesampainya di pemandian, dia tak diperbolehkan masuk oleh penjaganya.

Hari ini tidak membuka pemandian untuk umun karena istri imam Ar-Ramli—seorang ulama ahli fikih— telah memesan pemandian beserta teman-teman wanitanya. Dia meminta untuk tidak membuka pemandian untuk umum hari ini. Dia pun telah memesan seharga dua puluh lima riyal. Apabila engkau ingin masuk pemandian ini, datanglah esok pagi.” penjaga pemandian itu menjelaskan.

Dengan perasaan kecewa akhirnya dia pun pulang kembali ke rumah dan mengadu kepada suaminya “Ilmu yang sempurna adalah ilmu imam Ar-Ramli. Hari ini istrinya telah memesan pemandian umun seharga dua puluh lima riyal dan tidak mengizinkan seorang pun masuk ke dalamnya, tidak seperti ilmu engkau yang penuh dengan kemiskinan dan kesulitan hidup. Engkau berusaha keras namun tetap saja tidak memperoleh sesuatu dari ilmu yang telah engkau pelajari. Ambillah kembali uang-uangmu ini yang telah engkau peroleh berhari-hari!

Wahai istriku, aku tidak menginginkan duniawi. Aku rela dengan apa yang ditetapkan Allah bagiku. Akan tetapi jika engkau menginginkan dunia, mari ikut aku ke sumur Zamzam.” kata imam Ibnu Hajar seraya mengajak istrinya.

Mereka berdua pergi ke sumur Zamzam. Sesampai di sana, Ibnu Hajar mulai menimba air. Ketika sampai ke atas, timba itu bukannya berisi air Zamzam, melainkan dengan izin Allah timba itu telah penuh dengan uang emas.

Apakah ini cukup untukmu?” tanya Ibnu Hajar.

Tidak,” jawab sang istri yang masih takjub dengan apa yang terjadi.

Imam Ibnu Hajar menimba kedua kalinya, “Cukupkah ini untukmu?

Coba timba sekali lagi.” ucap istrinya, dia merasa senang.

Ibnu Hajar pun sekali lagi menurunkan timbanya, atas izin Allah timba pun penuh dengan uang emas.

Aku lebih menyukai kemiskinan. Aku telah memilih untuk diriku apa yang ada pada sisi Allah. Dunia dan seisinya tidak termasuk apa yang ada pada sisiNya. Dunia ini akan segera berlalu, umurnya singkat, dan kehidupannya hina. Sekarang pilihlah antara keduanya; kembalikan uang emas itu ke dalam sumur Zamzam atau engkau ambil uang emas tersebut dan engkau aku ceraikan dan kembalilah pada keluargamu.” ucap Ibnu Hajar tegas kepada istrinya.

Wahai suamiku. Sebaiknya kita memanfaatkan uang dinar ini sebagaimana umumnya orang-orang memanfaatkannya.” sang istri menawar.

Tidak.” jawab Imam Ibnu Hajar singkat.

Jika demikian, kita kembalikan satu timba saja.”

Tidak.”

Jika demikian, bagaimana kalau kita ambil satu dinar saja untuk kita nikmati hari ini.” pinta sang istri.

Tidak, kembalikan semuanya ke sumur atau engkau aku ceraikan dan kembalilah pada keluargamu.” tegas imam Ibnu Hajar.

Baiklah, kita kembalikan saja semuanya. Sungguh telah bertahun-tahun aku tinggal bersamamu, aku tidak ingin berpisah denganmu. Setelah engkau perlihatkan karamah ini kepadaku, aku semakin mantap hidup bersamamu, walau kita hidup dalam keadaan miskin. Demi Allah, aku akan bersabar dengan segala kesulitan hidup ini.” ucap sang istri dengan penuh keikhlasan.

____________________________

Disarikan dari kitab Al-Fawaid Al-Mukhtaroh hal. 378 yang senada dalam kitab Tuhfah Al-Asyrof, vol. I hal. 147.