HomeAngkringSurat Untuk “Mereka”

Surat Untuk “Mereka”

0 1 likes 711 views share

Suatu ketika Umar bin Khattab sedang berkhutbah di masjid kota Madinah, beliau mengulas tentang keadilan dalam Islam. Khutbah Umar berhenti sejenak ketika muncul laki-laki asing dalam masjid. Lalu beliau melanjutkan, “Sesungguhnya seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian, bukan dari bangsa lain. Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindas kaum lemah. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka kepada orang yang ditindas diberikan hak untuk membalas pemimpin itu. Begitu pula jika seorang pemimpin di antara kamu sekalian meghina seseorang di hadapan umum, maka kepada orang itu harus diberikan hak untuk membalas hal yang setimpal.”

Selesai khalifah berkhotbah, tiba-tiba laki-laki asing tadi bangkit seraya berkata: “Ya Amirul Mukminin, saya datang dari Mesir dengan menembus padang pasir yang luas dan tandus, serta menuruni lembah yang curam. Semua ini hanya dengan satu tujuan, yakni ingin bertemu dengan Tuan.”

“Katakan apa tujuanmu bertemu denganku,” ujar Umar.

“Saya telah dihina di hadapan orang banyak oleh Amr bin ‘Ash, gubernur Mesir. Sekarang saya akan menuntutnya dengan hukum yang sama.”

“Wahai saudaraku, benarkah apa yang telah engkau katakan itu?” Tanya Umar.

“Iya Amirul Mukminin, benar adanya.”

“Baiklah, kepadamu aku berikan hak yang sama untuk menuntut balas. Tetapi, engkau harus mengajukan empat orang saksi, dan kepada Amr aku berikan dua orang pembela, jika tidak ada yang membela gubernur, maka kau dapat melaksanakan balasan dengan memukulnya 40 kali.”

“Baiklah ya Amirul Mukminin. Akan saya laksanakan semua itu,” jawab orang itu sambil berlalu.

Ia langsung kembali ke Mesir untuk menemui gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash. Sesampai di sana, ia langsung mengutarakan maksud dan tujuannya.

“Wahai Amr, sesungguhnya seorang pemimpin diangkat oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Dia diangkat bukan untuk golongannya, bukan untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya, dan bukan pula untuk menindas yang lemah dan mengambil hak yang bukan miliknya. Khalifah Umar telah memberi izin kepada saya untuk memperoleh hak di muka umum.”

“Apakah kamu akan menuntut gubernur?” Tanya salah seorang yang hadir.

“Iya, demi kebenaran akan saya tuntut dia,” jawab lelaki itu.

“Tetapi, dia kan gubernur kita?”

“Seandainya yang menghina itu Amirul Mukminin, saya juga akan menuntutnya.”

“Wahai, saudara-saudaraku. Demi Allah, aku minta kepada kalian yang mendengar dan melihat kejadian itu agar berdiri,” kata sang gubernur. Lalu banyaklah yang berdiri.

“Apakah kamu akan memukul gubernur?” Tanya salah satu sahabat.

“Ya, demi Allah saya akan memukul dia sebayak 40 kali.”

“Tukar saja dengan uang, sebagai pengganti pukulan itu,” tambah mereka.

“Tidak, walaupun seluruh Masjid ini berisi perhiasan, saya tidak akan melepaskan hak itu,” jawab si lelaki.

“Baiklah, mungkin engkau lebih suka demi kebaikan nama gubernur kita, di antara kami ada yang mau jadi penggantinya,” bujuk sahabat.

“Saya tidak suka pengganti,” jawabnya.

“Kau memang keras kepala. Tidak mendengar dan tidak suka usulan kami sedikitpun.”

“Demi Allah, umat Islam tidak akan maju bila terus begini. Mereka membela pemimpinnya yang salah dengan gigih karena khawatir akan dihukum,” ujamya sambil beranjak meninggalkan tempat.

Amr bin Ash serta merta menyuruh anak buahnya untuk memanggil lelaki itu. Ia kembali.

“Ini rotan, ambillah! Laksanakanlah hakmu,” kata Amr bin Ash sambil membungkukkan badannya siap menerima hukuman balasan.

“Apakah dengan kedudukanmu sekarang ini engkau merasa mampu untuk menghindari hukuman?” Tanyanya kembali.

“Tidak, jalankan saja keinginanmu itu,” jawab Amr bin Ash.

“Tidak, sekarang aku memaafkanmu.” Lelaki itu melemparkan rotannya dan memeluk sang gubemur.