Tag Archives: doa akhir tahun

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun

Bacaan Doa Akhir Tahun

Doa akhir tahun dibaca pada waktu akhir bulan Dzulhijjah sebanyak tiga kali setelah usai salat Asar:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ وَلَمْ تَرْضَهُ ، وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ ، وَحَلُمْتَ عَنِّيْ مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ ، وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَيْكَ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِيْ اَللَّهُمَّ وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ وَالْغُفْرَانَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّيْ ، وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Bacaan Doa Awal Tahun

Sebelum membaca doa awal tahun, sebaiknya membaca ayat kursi sebanyak 360 kali, dengan diiringi basmalah di setiap permulaannya.

Kemudian membaca doa berikut sebanyak tiga ratus kali:

اللّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ الأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِيْ إِلَى أَحْسَنِ الأَحْوَالِ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا مُتَعَال، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم

Setelah itu, dilanjutkan membaca doa awal tahun sebanyak tiga kali:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلَأُ خَزَائِنَ اللهِ نُوْرًا ، وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرْحًا وَسُرُوْرًا ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ الْعَمِيْمِ الْمُعَوَّلِ ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ ، أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ ، وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ ، وَالْاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

 

 

Muhasabah di Akhir Hijriyah

LirboyoNet, Kediri – “Momentum awal tahun ini, mari kita gunakan untuk introspeksi diri, untuk muhasabah. Semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt.” Demikian sepetik mutiara yang disampaikan oleh KH. M. Anwar Iskandar dalam acara akbar, istighosah dan doa awal tahun di Masjid Agung Kota Kediri Rabu kemarin (20/09). Lebih lanjut beliau mengingatkan akan jasa Nahdhatul Ulama dalam membangun harkat dan martabat bangsa ini. Sebab, untuk alasan itu jugalah kenapa Nahdhatul Ulama berdiri. “(Salah satu tujuan NU didirikan) untuk mempertahankan bangsa. Jika dulu, masih dalam era penjajahan, maka untuk mengusir para penjajah,” tandas Gus War.

Istighosah dan doa bersama ini sudah menjadi agenda tahunan. Dan tiap tahunnya, ribuan santri Lirboyo “turun gunung” meramaikan acara ini. Mereka tumpah beserta ribuan jamaah lain yang juga turut hadir dari berbagai wilayah di kota Kediri. Acara yang dihadiri oleh para ulama dan umara (jajaran pemerintah) ini dimulai dengan lantunan khidmat baris demi baris bacaan istighosah. Dipimpin oleh KH. Abdul Hamid Abdul Qodir, pengasuh Pondok Pesantren Maunah Sari, yang juga Rais Syuriyah PCNU Kota Kediri.

Drs. H. Saifullah Yusuf, selaku wakil gubernur Jawa Timur juga turut andil memberikan sambutan singkat. Beliau mengingatkan para jamaah untuk bisa menangkap esensi dari acara istighosah dan doa bersama yang digelar tiap tahun ini. “Kita kumpul di sini, diajak beristighasah. Dengan kata lain, mari kita jadikan Allah sebagai penolong kita. Kalau sudah Allah yang menolong, barang yang mustahil akan terjadi,” beber tokoh yang akrab disapa Gus Ipul ini.

Acara malam kemarin diakhiri dengan untaian doa akhir tahun yang dipimpin oleh KH. M. Anwar Manshur, selaku Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Setiap insan memiliki harapan yang sama, semoga tahun baru ini menjadi tahun yang lebih baik. Bukan hanya dalam hal materi, tapi yang lebih penting adalah dalam urusan bertambahnya ibadah kepada Sang Pemberi Materi./-

Puasa Akhir & Awal Hijriyah, Bid’ah?

Akhir-akhir ini, banyak yang mempertentangkan keabsahan beberapa amaliyah yang telah diwariskan oleh ulama dahulu. Termasuk, amalan yang menjadi tradisi umat muslim saat menyambut pergantian tahun Hijriyah.

Alasan-alasan yang dikemukakan cukup beragam. Namun jika kita baca dengan teliti, ada kekeliruan yang mendasar dalam memberi cap “terlarang” bagi amaliyah-amaliyah ini.

Puasa

Ada beberapa golongan yang menganggap puasa di akhir tahun dan awal tahun tidak berlandas pada dalil yang benar. Mereka mengingkari dalil yang sering digaungkan ulama-ulama salaf:

من صام آخر يوم من ذي الحجة وأوّل يوم من المحرّم جعله الله تعالى له كفارة خمسين سنة، وصوم يوم من المحرم بصوم ثلاثين يومًا

“Barang siapa berpuasa pada akhir dari bulan Zulhijjah dan awal dari bulan Muharram akan Allah jadikan baginya ampunan lima puluh tahun dan puasa sehari di bulan Muharram bagaikan puasa 30 hari.”

Dalil ini mereka ingkari, dengan berlandaskan pada fakta bahwa ada beberapa rawi hadits yang diragukan tingkat ke-dhabith-annya (kemampuan hafalannya). Mereka mengungkap nama perawi hadits itu: Al-Juwaibari dan Wahb bin Wahb. Keduanya dinilai buruk tingkat ke-dhabith-annya.

Memang, Asy-Syaukani, salah seorang pakar hadits, menilai keduanya memiliki kadar kejujuran yang buruk dalam kapasitas sebagai perawi hadits. Al-Albani, dengan berangkat dari statemen Asy-Syaukani ini, menganggap hadits tersebut dla’if (lemah).  Namun di kesempatan lain, pembesar golongan yang gemar memberi stigma bid’ah ini malah menilai hasan terhadap hadits ini. Maka dengan ambiguitas yang ia tampilkan, tentu rancu jika kita jadikan putusannya ini sebagai acuan dasar untuk memberi kepastian hukum.

Toh, jikapun hadits ini benar-benar dla’if, kita telah memiliki konsep bijak yang diwariskan oleh ulama pendahulu. Bahwa, hadits dla’if tetap bisa dipakai sebagai dasar beramaliyah sehari-hari.

Namun, jika kita memeriksa lebih jernih, sebenarnya ada satu perintah dari Nabi saw. yang layak untuk kita pertimbangkan sebelum tergesa-gesa menuduh puasa di akhir & awal tahun sebagai prilaku bid’ah, alih-alih terlarang.

صُومُوا الشَّهْرَ وَسِرَّهُ

“Berpuasalah di awal dan akhir bulan.” (HR. Abu Dawud)

Kalimat سِرَّهُ oleh beberapa pakar, seperti Al-Auza’i, diartikan sebagai puasa di awal bulan. Sementara beberapa yang lain memaknainya puasa di akhir bulan. Dari keterangan yang dipanjanglebarkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubranya, ia memberi garis tegas bahwa puasa di awal maupun akhir bulan telah mendapat legalitas yang kuat. Jika telah terang demikian, maka di mana titik kesalahan tradisi puasa di akhir & awal tahun, seperti yang telah menjadi kebiasaan ulama-ulama pendahulu?

Doa akhir & awal tahun

Momen pergantian tahun juga menjadi momen introspeksi, bukan hanya waktu yang telah berlalu dan tak berbekas apapun. Pergantian tahun juga menjadi waktu yang tepat untuk memohon ampun atas kesalahan-kesalahan kita yang telah lewat di tahun ini, untuk kemudian minta perlindungan agar terhindar dari godaan setan di tahun mendatang. Refleksi ini tak urung tertuang dalam doa awal tahun dan doa akhir tahun yang turun-temurun terus dibaca.

Syaikh Ibn Qudamah Al-Maqdisy, salah seorang ulama besar yang turut meriwayatkan doa awal tahun menuturkan, “Guru-guruku tak pernah luput berwasiat untuk selalu membaca doa tersebut. Dan aku belum pernah melewatkan doa tersebut sepanjang hidupku.” Maka, tidak ada alasan yang bisa diterima untuk mengatakan berdoa di akhir dan awal tahun ini salah, tidak sesuai syariat, dan terlarang oleh agama.

Bacaan doa akhir dan awal tahun bisa didownload di link ini.