Tag Archives: Lomba

Lomba MHQ Ponpes Putri Al- Baqoroh Lirboyo

Lirboyonet, Kediri – Tahun ajaran yang akan segera berakhir membuat Pondok Lirboyo mengadakan berbagai momen seperti diadakannya lomba dan lomba tersebut tidak hanya diadakan di Pondok Induk saja ada juga Pondok Unit Lirboyo juga mengadakan lomba sebelum akhir tahun. Pondok Unit Lirboyo tersebet adalah Pondok Putri Al- Baqoroh.

Lomba yang diadakan oleh Pondok Putri Al- Baqoroh merupakan kegiatan tahunan Ponpes. Putri Al- Baqoroh menjelang PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) untuk tahun ini mengadakan lomba MHQ (Musabaqoh Hifdzil Qur-an) dan CCI (Cerdas Cermat Islami), dan untuk pasca acara pada tahun ini adalah lomba khitobah dengan pesertanya pemenang lomba khitobah dalam kegiatan jam’iyyah mingguan.

Dalam perlombaan MHQ terdiri dari 3 kategori yakni kategori 5 Juz, 10 Juz dan 15 Juz dengan jumlah peserta 26. Untuk yang 5 Juz terdapat 14 peserta dan 10 Juz terdapat 6 peserta sedangkan yang 15 Juz ada 6 peserta. Lomba MHQ ini merupakan lomba yang diselenggarakan diawal sebelum menuju acara puncaknya, lomba MHQ ini diadakan selama 2 hari yakni pada tanggal 24 dan 25 Februari 2018 penampilan di hari pertama dari kategori Juz 10 dan dilanjutkan kategori 5 juz sedangkan yang 15 Juz diadakan pada hari kedua, lomba yang telah terlaksana tersebut telah menghasilkan finalis dari berbagai kategori, dari hasil penilain dan keputusan juri menghasilkan  finalis kategori Juz 5 ada 4, Juz 10 ada 3 dan Juz 15 juga ada 3, dan final akan diselenggarakan pada acara puncak tanggal 9 Maret 2018.

Sedangkan lomba CCI masih berlangsung pada hari ini tanggal 1 Maret 2018.

Lomba MQK Wilayah Kediri 2017

LirboyoNet, Kediri-Pergelaran lomba Musabaqah Qira’atul Kutub (MQK) se-Wilayah Kediri kembali diselenggarakan. Kali ini Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyyah III, yang merupakan Pondok Unit Lirboyo, menjadi tuan rumah. Pagi yang terik di hari Ahad (17/09) lomba digelar di masjid Ponpes Lirboyo HM Al-Mahrusiyah III, di kelurahan Ngampel, Mojoroto, Kota Kediri. Dengan didatangi berbagai santri se-Karisidenan Kediri sebagai peserta, masjid yang begitu luasa ini terlihat penuh. Tidak hanya para santri putra dan putri yang hadir di masjid itu.  Jajaran Kementerian Agama pun ikut menghadirinya.

Agus H. Reza Ahmad Zahid selaku pengasuh Ponpes ini, dan juga sebagai tuan rumah perlombaan memberikan sambutan dalam sesi pembukaan lomba. “Kepada para peserta lomba, bersungguh-sungguhlah kalian dalam perlombaan ini.  Yakinkan diri kalian, bahwa kalian itu mampu. Lomba MQK adalah lomba yang tidak sembarangan.”

Dalam perlombaan kali ini terdapat 11 majelis yang terdiri dari beberapa fan, yakni tafsir & ilmu tafsir, Hadist & Ilmu Hadist, Tauhid, Nahwu, Balaghoh, Usul Fiqh, Tarikh, Akhlaq, Fiqh, Debat Bahasa Arab dan Debat Bahasa Inggris. Pada setiap majelis juga masih terbagi dari tingkat Ula dan Wustha, dan Ulya.

Adapun Pondok Pesantren Lirboyo mengirimkan santri delegasi sebanyak lebih dari dua puluh santri. Mereka disebar dalam berbagai fan-fan yang dilombakan.

Perlombaan MQK pada pagi tadi mendatangkan berbagai juri, yakni:

  1. H. Muhammad Syafi’ (Tafsir)
  2. M. Zainul Fuad (Hadist)
  3. H. Ahmad Kafabihi (Nahwu)
  4. Ali Mahfudz Sidiq (Fiqih)
  5. M. Dinul Qoyyim (Ahlaq)
  6. Agus Syahrowardi (Tauhid)
  7. Agus Ali Mukhtar (Tarikh)
  8. M. Fahim Mubarok (balaghoh)
  9. M. Ali Wafa (Ushul Fiqih)
  10. Ahmad Fauzi Lc.MA. (Debat Bhs. Arab)
  11. Joshua Parfitt (Stamford-British) (Debat Bhs. Inggris).

 

Meriahnya Penutupan Lomba Ilmiah

LirboyoNet, Kediri – Di hari Jum’at, sebagaimana juga kebanyakan pesantren-pesantren salaf lain, bagi santri Lirboyo secara umum, tidak ada kegiatan yang wajib diikuti. Kegiatan mereka libur total, kecuali mereka yang aktif dalam kegiatan ektrakurikuler. Jika pada Jum’at-jum’at biasanya tidak ada yang spesial, berbeda ketika mendekati akhir tahun seperti sekarang ini. Karena dalam rangka mengisi hari libur tersebut, sekaligus memeriahkan peringatan Haul dan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mutadi-ien, setiap menjelang akhir tahun selalu di gelar Pekan Lomba Ilmiah. Kegiatan ini sangat menghibur, pun demikian mampu memberikan banyak pelajaran bagi para santri, meski mereka hanya sekedar menjadi penonton perlombaan.

Seperti halnya Jum’at (17/03) kemarin, gemuruh suara  santri yang hadir membanjiri serambi keramik Masjid Lawang Songo Ponpes Lirboyo seakan tak lagi terbendung. Dengan berbagai posisi, mereka rela berdesak-desakan untuk menonton final Pekan Lomba Ilmiah. Dalam final lomba kemarin, ada salah satu cabang lomba yang paling meriah; Lomba Debat Hukum Islami. Dengan cerdas dan piawai pihak pro dan kontra mampu saling membantah argumen lawan debatnya dengan jawaban-jawaban ilmiah. Sebagai catatan, tema final kemarin adalah “Lebih berbahaya manakah, liberal atau radikal?” dan “NKRI harga mati”.

(Video selengkapnya dapat anda simak di sini.)

Final debat kemarin, menjadi pamungkas dari seluruh rangkaian Lomba Ilmiah Islami yang diselenggarakan sejak Jum’at 03 April 2017 silam. Setiap tahun, pekan lomba ini digelar dengan beragam tema dan jenis lomba yang terkadang tidak sama setiap tahunnya. Untuk tahun ini, ada sepuluh kategori, Hapalan naskah kitab Arba’in Nawawi, Al-Ajurumiyyah, Matan Taqrib, Alfiyah, Pildacil, Adzan dan Muroqqi, Musabaqah Tilawatil Qur’an, Cerdas Cermat Islami, Karya Ilmiah dan Presentasi, serta Debat Hukum Islam. Semuanya sudah rampung digelar, kecuali satu lagi, lomba rebana santri. Lomba tersebut rencananya akan digelar tanggal  07 April 2017.

Dalam penutupan kemarin, Agus Ahmad Kafabihi mengungkapkan, “Semoga dari lomba ini dapat muncul penerus-penerus yang habat.” Beliau juga menambahkan, “Kedepannya kalian bisa sampaikan kepada keluarga-keluarga di rumah, bahwa santri tidak kuper, dan santri bisa memiliki pandangan yang luas…”

Penutupan lomba kemarin juga menjadi momen istimewa bagi para pemenang. Jawara-jawara lomba langsung menerima hadiah dan piala, yang diserahkan secara langsung oleh dzurriyah Ponpes Lirboyo. Kepada para pemenang, diucapkan selamat. Dan bagi yang belum menang, jangan patah arang untuk tetap selalu bersemangat mempeng dan mencoba lagi tahun depan.[]

Tiga Puluh Piala Lomba Ilmiah

LirboyoNet, Kediri – Lomba Ilmiah Islami mencapai puncaknya Jumat (25/03) kemarin. Dimulai tiga pekan lalu, lomba ini diakhiri dengan penyerahan piala dan souvenir, sekaligus foto bersama pemenang, panitia lomba, dan dzuriyah muda Ponpes Lirboyo.

Sore itu, panitia agak ketar-ketir. Pasalnya, mendung gelap tidak juga beralih dari atas masjid Lawang Songo. “Tiga tahun terakhir, acara penyerahan hadiah selalu saja diiringi dengan hujan deras. Banyak santri jadi enggan ikut menyaksikan penyerahan,” tukas Aminuddin, salah satu panitia.

Nyatanya, mendung hanya mendung. Hujan yang dikhawatirkan tidak jadi turun. Walhasil, acara semakin meriah dan santri terus berdatangan.

Ada tigapuluh piala yang dibagikan kepada para pemenang dari sepuluh kategori lomba. Ditambah, satu piala bergilir yang diserahkan kepada juara umum. Sepuluh kategori lomba itu antara lain Adzan dan Muroqqi, Hifdzu Alfiyah, Hifdzu Arbain, Hifdzu Jurumiyyah, Musabaqah Qiraatul Kitab Fathul Qarib, Cerdas Cermat Islami, Musabaqah Tilawatil Qur’an, Presentasi Karya Ilmiah, Pildacil, dan Debat Hukum Islam.

Sepuluh lomba itu dipilah. Beberapa sengaja dilaksanakan di Jum’at terakhir, seperti Pildacil dan Final Debat Hukum Islam. Dilaksanakan demikian karena untuk menjaga keramaian dan antusias santri untuk terus mengikuti lomba ilmiah tahun 2016 ini.

Agus Ahmad Kafabihi selaku Ketua Panitia di awal pelaksanaan menegaskan, bahwa lomba ini bertujuan untuk mendorong santri agar semakin giat belajar. Putra KH. Abdullah Kafabihi Mahrus ini menambahkan, beberapa lomba sengaja digiatkan untuk merangkul kemampuan santri yang berkembang, yang tak melulu kitab dan nadzam. Lomba presentasi karya ilmiah misalnya. Ataupun Debat Hukum Islam.

Adapun hari terakhir ini menjadi milik para santri berusia 13 tahun ke bawah. Di sinilah mereka mendapat tempat untuk unjuk aksi lewat lomba Pemilihan Dai Cilik. Sekitar 30 peserta dibagi dalam tiga lokasi: serambi maqbarah, serambi kuning, dan serambi keramik. Dari tiga tempat inilah diambil masing-masing dua finalis.

Mereka yang mendapat kesempatan untuk melaju hingga ke babak final hanya mendapat waktu 15 menit untuk mempersiapkan materi dan mental kembali. Setelahnya, mereka harus mengerahkan kemampuan terbaik, demi memperebutkan juara dai cilik.

Penampilan Kafa Azmi menyita perhatian para penonton. Dengan waktu isitrahat sesempit itu, dia mengajukan tema berlainan dengan yang dibawakannya saat kualifikasi. Judulnya pun tak sederhana, “Korelasi antara Ilmu dengan Amal Shalih”. Santri Pondok Unit HM Al Mahrusiyah ini mengundang decak kagum para penonton dengan bahasanya yang lugas dan santun.

Setelah salat Jum’at, lomba dilanjutkan dengan Debat Hukum Islami. Dibuka dengan perebutan tempat ketiga antara kelas Satu Aliyah dengan Dua Aliyah, perlahan para santri mulai menyemut di serambi.

Diselingi dengan pembagian doorprize bagi penonton, Final Debat Hukum Islami terhelat juga. Juara satu diperebutkan oleh kelas Dua Tsanawiyah dan Tiga Aliyah. Masing-masing peserta membawa suporter. Tema debat “Islam Nusantara, Perlukah?” menjadi semakin menarik dengan hujjah-hujjah yang diajukan peserta.

Debat selesai 30 menit kemudian, dengan iringan riuh tepuk tangan penonton. Panitia segera membereskan meja dan mikrofon, menggantinya dengan susunan piala yang akan dibagikan.

Satu per satu pemenang dipanggil. Nama Himpunan Pelajar Madiun menjadi yang paling banyak didengar. Ini menandaskan, mereka lah yang menjadi Juara Umum pada perhelatan Lomba Ilmiah Islami tahun ini. Juga, ini menjadi kali kedua bagi mereka meraih Juara Umum, setelah tahun lalu mendapat gelar serupa.

Setelah para pemenang mendapat kesempatan berfoto bersama dengan para dzuriyah dan juga panitia pelaksana lomba, rangkaian acara kemudian diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Agus Adibussholeh Anwar.

“Sudah selesai hura-huranya. Setelah ini, kalian harus kembali ke aktivitas masing-masing. Masih ada muhafadhoh akhirusanah. Masih ada koreksian kitab. Disiapkan hafalannya. Dilengkapi lagi makna kitabnya,” pesan putra KH. M. Anwar Manshur itu kepada santri, sekaligus menutup perjumpaan sore itu.][