Tag Archives: mahasiswa

Cakrawala Ilmu Perguruan Tinggi

Banyak Mahasiswa atau Mahasantri belum dapat memaksimalkan kegiatan belajarnya di perguruan tinggi mereka.  Penyebabnya adalah dalam perguruan tinggi hanya memfasilitasi kaidah-kaidah penting atau kuncinya saja, belum dapat membuka cakrawala ilmu yang begitu luas.

Jika menengok realitas dari para lulusan pesantren dan sesamanya—banyak ditemukan—mereka merasa cukup dengan kunci-kunci tersebut. Padahal ketika hanya berpijak pada kunci-kunci itu, belum bisa dipastikan maksimal.

Sebagai kaum terpelajar, tidak sepatutnya merasa cukup atas kunci-kunci yang didapatkan dalam pengembaraan ilmu. Sebab dengan dirasa cukup, mereka akan menemukan beberapa kesulitan-kesulitan ketika menghadapi problematika baru yang muncul. Misalnya ketika ada pertanyaan yang muncul dan ia tidak bisa menjawab. Bisa jadi untuk memberikan argumen atas pertanyaan itu, ia membuat solusi dengan mencukupkan maklumat instan tanpa mau bersusah payah untuk menggalinya lebih dalam.

            Meninjau pada kenyataan yang ada, mereka yang tidak memiliki keseriusan dalam belajar tampaknya mengandalkan hasil pembukuan tanya jawab yang dikeluarkan oleh purna siswa di setiap jenjang akhir semester yang mengharuskan untuk menulis hasil bahtsu masa’il, mengambil jalan keluar atas persoalan waqi’iyyah umat sebagai bekal dakwah. Atau barangkali mengandalkan cuitan ulama yang tersebar, baik di perangkat sosial atau pun di media cetak yang ia temukan tanpa mau mencari terlebih dahulu konteksnya.

Watak Pengetahuan

Ilmu bersifat sambung-menyambung. Pencarian ilmu tanpa ada batas waktu. Kunci-kunci yang telah didapat di dalam kelas seharusnya diperlebar penguasaannya dengan diskusi-diskusi ringan atau penelaahan kitab-kitab muthowalat. Tidak dicukupkan pada materi yang diajarkan saja.

Dr. Muhammad Abu Musa[1] juga menggaris bawahi, bahwa bagi seorang pelajar tidak lantas merasa cukup dengan setiap pengajaran yang didapat dari gurunya.

الشيخ لن يعلمك كل شيء؟ هناك خطوات يجب أن تقطعها بنفسك

“Seorang guru tidak mengajarimu segala sesuatu. Ada beberapa hal yang harus kamu tempuh sendiri.”

Untuk memperoleh hasil yang memuaskan, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Butuh ketelitian dan tidak tergesa-gesa. Tidak lupa juga untuk sering memutholaah dan selalu berusaha menambal dan menambah apa saja yang masih dirasa kurang. Tidak kemudian setelah menyelesaikan studi—pembelajaran berhenti di situ, sedang di antara kecerobohan yang sering terjadi adalah ketika telah mengetahui pemahaman salah satu fan, mereka lekas berhenti untuk tidak mempelajarinya kembali.

لا سلم في طلب العلم

“Tidak ada kata perpisahan dalam mencari ilmu.”

            Pondasi pengetahuan harus dibangun dengan kuat, bagus dan baik. Hal ini akan sangat menunjang pengetahuan dan pemahaman baru di kemudian hari. Mengoreksi kembali apa saja yang telah dibangun sebelumnya juga sangat penting. Sebab bisa jadi ada kekeliruan atau cacat yang bisa untuk diperbaiki.[]


[1] Salah satu pengajar Syarah Dalaailul ‘Ijaz di Universitas al-Azhar.

CAKRAWALA ILMU PERGURUAN TINGGI

Simak juga:
Puncaknya Ilmu | K.H. Abdulloh Kafabihi Mahrus

Baca juga: TENTANG ALI BIN HAMZAH CAHAYA DARI KUFFAH

4300 Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang Mengkaji Fikih Kebangsaan

Tantangan merebaknya ideologi radikal dan intoleran yang menggerus generasi bangsa belum juga padam. Karenanya baru-baru ini kajian buku Fikih Kebangsaan digelar di UIN Raden Fatah Palembang.

Dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Raden Fatah Palembang (14-16/08) sebanyak 4.300 mahasiswa baru diwajibkan membaca dan membuat resume buku Fikih Kebangsaan karya HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Pondok Pesantren Lirboyo).

Rika Febriyansi Ketua Panitia menjelaskan: “PBAK yang mengambil tema ‘Mewujudkan Mahasiswa Nasionalis Kreatif Religius dan Intelektual dalam Rangka Menyongsong Bonus Demografi’ tahun ini sengaja menjadikan buku Fikih Kebangsaan karya HIMASAL sebagai media untuk mengenalkan budaya akademik, membudayakan baca tulis, memperkaya literasi dan wawasan kebangsaan di lingkungan mahasiswa baru.”

Aktifis kampus yang juga Ketua PC IPNU OKU Selatan lebih lanjut menegaskan: “Kajian Fikih Kebangsaan ini sangat penting bagai kalangan mahasiswa sebagai upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan, rasa cinta tanah air, membekali mahasiswa baru dengan pemahaman keagamaan yang proporsional dan menjauhkannya dari paham ekstrim-radikal yang menyusup ke berbagai ruang di masyarakat, tak terkecuali berbagai kampus di Indonesia.”

Mahasiswa Fakultas Psikologi Islam UIN Raden Fatah Palembang juga berharap, agar buku Fikih Kebangsaan dapat menjadi rujukan bagi mahasiswa dan masyarakat dalam meningkatkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara, serta menangkal ideolegi ekstrim radikal anti Pancasila di lingkungan kampus UIN Raden Fatah khususnya dan di kota Palembang secara lebih luas. (Windy Susilawati/Palembang)

Sumber : aswajamuda.com

 

Judul: Fikih Kebangsaan Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinnekaan
Pengantar: KH. Maimun Zubair
Mushahih: KH. Athoillah Sholahuddin Anwar, dkk.
Penyusun: Tim Bahtsul Masail HIMASAL
Editor: Ahmad Muntaha AM
Page, Size: xvi + 100 hlm; 14,5 x 21 cm
Penerbit: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL
ISBN: 978-602-1207-99-0
Harga: Rp 22.000
Pemesanan: 0856-4537-7399

Mahasiswa IAI Tribakti Lirboyo Perdalam Wawasan tentang ASEAN

LirboyoNet, Jakarta— Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN menerima kunjungan studi dari 120 mahasiswa Program Pascasarjana Institut Agama Islam (IAI) Tribakti Lirboyo Kediri, di Jakarta, Senin (12/3). IAI Tribakti Lirboyo melakukan kunjungan ini untuk memperdalam pengetahuan mengenai perkembangan kerja sama ASEAN saat ini.

Untuk memenuhi tujuan tersebut, Sekretariat Ditjen Kerja Sama ASEAN memberikan materi paparan bertema “Perkembangan Kerja Sama ASEAN”.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, Ashariyadi, menyambut baik pelaksanaan kunjungan tersebut karena sejalan dengan program peningkatan awareness tentang ASEAN. Ashariyadi juga menyampaikan bahwa di Kediri sudah terbentuk Pusat Studi ASEAN (PSA), yaitu di Universitas Kadiri. Ia berharap IAI Tribakti Lirboyo Kediri juga dapat melakukan kajian-kajian mengenai ASEAN dan menyelenggarakan kegiatan ilmiah serta aktivitas yang melibatkan publik, sesuai dengan visi pembentukan PSA di seluruh Indonesia.

Dalam paparannya, Ashariyadi menjelaskan isu-isu yang menjadi perhatian di ASEAN, termasuk capaian dan tantangan yang dihadapi oleh negara-negara anggota ASEAN, Mutual Recognition Arrangement (MRA), penguatan Setnas ASEAN – Indonesia,  peran PSA, dan perusahaan-perusahaan Indonesia yang sudah memasuki pasar ASEAN.

Sementara itu, Direktur Program Pascasarjana IAI Tribakti Lirboyo Kediri, Dr. Suko Susilo, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN. Ia juga mengajak para mahasiswa untuk memanfaatkan kunjungan guna pengembangan kapasitas diri dan mendapatkan pengetahuan yang seluas-luasnya mengenai ASEAN.

Pada sesi tanya jawab, para mahasiswa/i menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang pada umumnya terkait penyelesaian konflik dalam masyarakat ASEAN, kerja sama pendidikan, gagasan memasukkan budaya muslim ke dalam masyarakat ASEAN, pertumbuhan ekonomi dan isu Laut China Selatan.

Setelah melakukan kegiatan di Ruang Nusantara, para mahasiswa melanjutkan kunjungan ke Gedung Pancasila guna mendapatkan informasi mengenai sejarah kelahiran Pancasila. Acara di Gedung Pancasila dipandu oleh staf dari Direktorat Diplomasi Publik, Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik.

Sumber: www.kemlu.go.id

Brosur Isntitut Agama Islam TRIBAKTI Lirboyo Kediri :
-Brosur 1
-Brosur 2

Dialog Kebangsaan bersama Mahasiswa Kristen

Lirboyonet, Kediri GMKI yang merupakan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Rabu kemarin (04/10/17) datang berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo. Mereka bertujuan untuk melakukan dialog kebangsaan dengan pesantren. Mereka mengaku bahwa ini adalah pertama kalinya berdialog dengan pesantren, meskipun sebenarnya GMKI sudah sering berdialog dengan ormas-ormas islam.

Ponpes Lirboyo menyambut baik kedatangan pemuda-pemuda GMKI ini, sehingga dialog yang diselenggarakan di Kantor Muktamar itu berlangsung hingga dua jam, yang dimulai pada pukul 10.00 Wib. Dari GMKI, ada enam pemuda yang datang, dengan dipimpin oleh Saad Mardin sebagai Ketua Umum. Sementara Ponpes Lirboyo diwakili oleh Agus HM. Ibrohim A. Hafidz, Agus HM. Dahlan Ridlwan, Agus H. Adibussoleh Anwar, ustadz Anang Darunnaja, ustadz M. Tohari Muslim, ustadz Hamim Hudlori, dan pimpinan pondok.

Agenda diskusi ini berlangsung cair, meskipun tema yang mereka perbincangkan terbilang berat. Terutama, tema ini berkaitan erat dengan kondisi bangsa akhir-akhir ini yang banyak menimbulkan keresahan. Ketidakmengertian dan kesalahpahaman terhadap suatu hal kian marak terjadi. Padahal, apa yang dipertentangkan seringkali bukanlah hal-hal yang urgen. “Adanya human error dalam setiap agama itulah sebenarnya yang menimbulkan salah faham,” tukas Agus HM. Ibrohim A. Hafidz. Padahal, isu agama adalah isu paling sensitif yang bisa memecah belah persatuan umat. Akibatnya, bisa terlihat dengan apa yang terjadi di masyarakat kini. “Ketika salah satu orang melakukan kesalahan dan membawa-bawa nama suku atau agama, selalu timbul kericuhan,” imbuhnya.

Tentang radikalisme, mereka sepakat bahwa prilaku-prilaku radikal berangkat dari, lagi-lagi, pemahaman konteks agama yang keliru. Ada tiga faktor utama yang membuat prilaku-prilaku radikal ini mewabah. “Pertama,” ujar ustadz Hamim Hudlori, “adanya ideologi yang salah. Ini bersumber dari pendidikan yang salah.” Pendidikan, dalam konteks ini adalah agama, hanya dipelajari secara setengah-setengah. Ajaran-ajaran yang semestinya wajib dipelajari dengan komperhensif malah ditinggalkan.

Kedua, adanya kepentingan kekuasaan yang diurus dengan cara-cara yang tidak elegan, bahkan cenderung menghalalkan segala cara. Dan ketiga adalah faktor ekonomi. Karena bagaimanapun, dalam kegiatan radikalisme yang demikian terorganisir dan masif tentu didukung dengan kondisi finansial yang memadai.

“Seharusnya, kita tidak perlu susah-susah untuk menjaga perdamaian bangsa,” ungkap Agus HM Dahlan Ridlwan. “Kita hanya perlu mempelajari bagaimana para pendahulu merawat bangsa. Salah satunya Walisongo. Bagaimana kearifan mereka dalam menyebarkan agama.” Sebagaimana sejarah mencatat, Walisongo tidak pernah menjanjikan kesejahteraan hidup dengan merubah kebudayaan yang sudah ada. Justru, Walisongo memadukan agama dan budaya dengan sangat cerdas dan bijaksana, sehingga agama, budaya dan jiwa kebangsaan demikian menyatu.][