Tag Archives: santri milenial

KH. Masdain: Metode ngajar Mbah Marzuqi

Metode belajar yang dipakai oleh KH. Marzuqi dahlan adalah metode klasik, seperti memaknai dengan sistem mubtadak-khabar. Saya dan Gus Bahru disuruh membaca kemudian di-maknai lalu di-tarkib. KH. Marzuqi Dahlan tidak menyuruh untuk menerangkan. Kemudian KH. Marzuqi Dahlan membaca kembali dan di-Murodi. KH. Marzuqi Dahlan dalam membacakan kitab dan memaknai tidak perlu di-murodi seperti halnya para santri, itu sudah dipahami. Cara penyampaian beliau sangat simpel tapi sangat mudah untuk dipahami dan melekat di hati. Itu merupakan kelebihan beliau yang dianugrahkan oleh Allah kepada beliau.

KH. Marzuqi Dahlan dalam menerangkan selalu menambahkan cerita-cerita yang berhubungan dengan apa yang beliau baca. Beliau menceritakan tentang guru-guru beliau, saat mengaji kepada KH. Dahlan, saat mengaji kepada KH. Abdul Karim, dan lain sebagainya. Nasihat dan cerita beliau itu sudah membuat para santri takut. Cerita tersebut bagaikan doktrinisasi yang cukup harus ditaati. Pada saat beliau menerangkan, para santri selalu memperhatikan betul.

Saya tidak pernah menemui kegalakan KH. Marzuqi Dahlan. Saya hanya pernah menjumpai jika ada santri yang lalaran dengan tabuhan yang sangat keras kemudian terlihat oleh KH. Marzuqi Dahlan, beliau akan marah. Pernah suatu ketika pada pukul 23.00 WIB, santri lalaran dengan tabuhan yang berlebihan, beliau mendatangi mereka dengan membawa batu (kayu) dan melemparkan kepada para santri. Beliau belum sempat berkata apa pun, para santri yang tahu itu KH. Marzuqi Dahlan, semua berdiam lalu bubar dan berlari.()

Sumber: Himasal Lirboyo

Haflah, Negara Berharap Santri Terus Bersumbangsih

LirboyoNet, Kediri—Haul & Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien yang dilaksanakan Selasa malam Rabu, (24/04) kemarin, berlangsung semarak.

Hujan deras sempat mengguyur Lirboyo sore harinya. Namun, acara yang dimulai pukul 18.30 WIB itu tidak kehilangan hadirinnya. Ribuan alumni dan masyarakat umum tetap tumpah ruah di Aula Al-Muktamar, tempat di mana acara dilaksanakan.

Diawali dengan istighotsah, rangkaian acara berlanjut dengan sambutan KH. An’im Falahuddin Mahrus atas nama keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo. “Kami dzuriyah Pondok Lirboyo mengucap terima kasih kepada para wali murid yang telah memberikan kepercayaan untuk mendidik putra-putri panjenengan.” Lebih jauh, beliau berharap, apa yang dipelajari santri kini benar-benar bisa membentuk kepribadian santri yang berakhlakul karimah dan menjadi manusia yang baik. “Semoga apa yang diberikan para dzuriyah mampu menjadi sumbangsih yang berarti bagi bangsa dan negara,” tutup beliau.

Undangan pemerintah provinsi diwakili oleh Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Gubernur, Abdul Hamid. Ia mengungkapkan, pesantren sekarang telah menjadi faktor utama pembangunan provinsi. “Pembangunan sektor pendidikan sedang giat-giatnya oleh pemerintah provinsi. Terutama di pesantren. Ada kerjasama yang dibangun oleh pemerintah, yang menghubungkan pesantren dengan pihak industri.” Bagi pemerintah, ini adalah momen berharga bagi pesantren untuk ikut andil menyejahterakan bangsa. “Ini saatnya pesantren ikut menjadi pendorong aktivitas ekonomi daerah, disamping menjadi pelopor dan pusat lembaga keagamaan,” ungkapnya.

Seperti yang telah direncanakan, penceramah dalam acara besar malam itu hadir tanpa kendala. KH. Said Aqil Siroj, yang terbang langsung dari Jakarta, segera bersimpuh di depan KH. M. Anwar Manshur begitu turun dari mobil pengantarnya. Beliau mengambil tempat duduk di belakang para pengasuh. Bagi para santri, ini adalah bukti luapan penghormatan dan rasa takdzim kepada orang-orang mulia.

Dalam ceramahnya, panjang lebar beliau paparkan bagaimana seharusnya santri kini berperan. “Kitab Fathul Muin itu sudah luar biasa. Itu sudah sangat cukup sebagai bekal menghadapi tantangan masyarakat nantinya.”

Beliau memuji apa yang dipelajari santri di Lirboyo sudah lebih dari cukup untuk menjawab perihal-perihal yang terjadi di masyarakat. Dari permasalahan ibadah, ekonomi, hingga politik praktis. Hanya saja, santri masih kurang begitu pandai mengemas kemampuan mereka sehingga bisa dikonsumsi khalayak banyak.

Menurut beliau, santri zaman sekarang harus bisa membumikan ajaran yang ia terima di pesantren. Masyakarat kini menuntut santri untuk berbahasa yang bisa dipahami mereka. Dengan begitu, Islam akan lebih mudah diajarkan dan benar-benar menjadi jalan terbaik yang  harus mereka pilih untuk mengarungi kehidupan dunia.][