Tragedi Karbala: Luka Abadi dalam Sejarah Islam

Undangan dari Kufah dan Keberangkatan Al-Husain

Pada tahun 60 Hijriah, penduduk Irak mengirim surat dan utusan kepada cucu Rasulullah ﷺ, Al-Husain bin Ali, memintanya datang ke Kufah dan membimbing mereka sebagai pemimpin. Sayyidina Husain pun menerima seruan itu. Pada tanggal 10 Dzulhijjah, beliau berangkat dari Makkah menuju Irak, beliau bersama keluarga dan sahabat terdekatnya — terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak.

Ketika rombongan Sayyidina Husain tiba di suatu wilayah, Husain bertanya, “Apa nama tanah ini?”
Mereka menjawab, “Karbala.” Maka beliau berkata:
“Ini adalah tanah كرب (kesedihan) dan بلاء (bencana).”

Saudari perempuan Husain, Zainab berkata:

“Aku merasakan ketakutan dan aku melihat kecemasan dalam raut wajahmu, apakah engkau menyembunyikan sesuatu?”

“Aku teringat saat ayah mengajakku dan Hasan untuk ikut berperang, karena kelelahan, ayah tertidur di sekitar daerah ini, saat terjaga beliau bercerita pada kami bahwa beliau melihat genangan darah kaum Muslimin di tempat ini. Bisa jadi, ini tempat terakhir kita” Jawab Husain.

Zainab menutup mulut dengan telapak tangannya, ia tak bisa membendung air matanya sambil menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya.

Baca juga: Tahun Baru Hijriah: Sejarah, Penetapan, dan Makna Hijrah

Penolakan Perdamaian dan Awal Tragedi

Gubernur Kufah, Ubaidillah bin Ziyad, di bawah perintah Yazid bin Muawiyah, mengutus pasukan sebanyak 4.000 orang dan Umar bin Sa’ad sebagai pemimpin untuk menghadang dan memerangi Al-Husain.

Namun Sayyidina Husain, yang tidak datang membawa senjata atau pasukan besar, menawarkan tiga jalan damai:

  1. Ia meminta untuk kembali ke tempat asalnya.
  2. Jika ditolak, beliau bersedia menemui Yazid langsung untuk menyerahkan urusan dirinya.
  3. Jika juga ditolak, beliau bersedia dikirim ke perbatasan untuk berjihad melawan musuh hingga mati.

Semua tawaran ini ditolak. Seperti ayahnya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Husain pun dikhianati oleh penduduk Kufah. Mereka mengepung dan membunuh Husein bersama 72 pengikutnya, termasuk 16 orang dari keluarganya sendiri.

Baca Juga: Idul Adha Pertama Kali di Masa Rasulullah

Tragedi Pembunuhan Sayyidina Husain

Singkat cerita, ketika tubuh Husain mulai melemah, beliau bertahmid kepada Allah Swt. dan berdoa:

“Ya Allah aku mengadu kepadamu atas perlakuan mereka terhadap anak laki-laki dari anak perempuan nabimu. sedikitkanlah jumlah mereka, buatlah mereka terbunuh dan janganlah engkau sisakan seorang pun dari mereka”.

Tanpa rasa segan, dengan sombongnya Syamir bin Dzi al-Jausyan menyeru kepada pasukannya:

“apa yang kalian tunggu, bunuhlah dia!!!”

Pasukannya yang tersisa pun memegangi tubuh Husain dari segala arah, kemudian Shar’ah bin Syuraik memukul Husain dengan telapak tangan kirinya, di sisi lain, Sinan bin Atsan menusuk Husein dengan anak panah.

Bersamaan dengan itu Syamir di bantu oleh Khaulay bin Yazid menghampiri lalu memutar pedang di tangannya dan langsung memenggal kepala Husein.

Terdengar jeritan dan tangisan perempuan-perempuan rombongan Husain dari dalam tenda. Langit menghitam tertutupi mendung, Karbala menjadi saksi darah segar yang keluar deras dari tubuh cucu Rasulullah Saw.

Syamir bin Dzi al-Jausyan merampas barang bawaan rombongan Husain dengan penuh keangkuhan, sambil tertawa bangga mereka menginjak punggung dan dada Husain sebagaimana perintah Ubaidillah bin Ziyad.

Pasukan Umar bin Saad membawa kepala Sayyid Husain dalam keadaan tertancap di ujung tombak, yang seolah-olah menjadikannya sebagai trofi kemenangan. Di setiap kota yang mereka lalui, kepala beliau dipertontonkan di depan umum. Tak hanya itu Zainab dan Sajjad bin Husein menjadikannya sebagai tawanan.

Mereka mengaraknya di jalanan Kufah dan Damaskus, dengan kepala suci itu tetap terlihat di ujung tombak. Mereka berjalan tertatih-tatih, bahkan menurut riwayat bahwa Sajjad bin Husain begitu lelah dan hancur, tanpa alas, dan nyaris pasukan memukulnya saat akan menangis.

Setelah itu, mereka membawa kepala Husain ke hadapan Ubaidillah bin Ziyad. la menyajikannya di atas nampan emas sebagai simbol kemewahan yang menyepelekan kesucian.

Baca juga: Turunnya Ayat Kesempurnaan Agama: Tanda Rasulullah Akan Wafat

Tanda-Tanda Alam dan Ratapan Langit

Sejarah mencatat bahwa setelah terbunuhnya Al-Husain, fenomena-fenomena luar biasa terjadi:

  • Matahari bersinar merah selama tujuh hari, mewarnai dinding seperti darah.
  • Bintang-bintang terlihat saling bertabrakan.
  • Hari pembunuhan terjadi pada 10 Muharram (Hari ‘Asyura).
  • Gerhana matahari terjadi saat itu.
  • Langit tetap memerah selama enam bulan setelah kejadian.

Dalam sebuah riwayat juga menerangkan:

  • Batu-batu di Baitul Maqdis mengeluarkan darah segar ketika dibalik.
  • Tanaman wars di kamp musuh berubah menjadi abu.
  • Seekor unta yang mereka sembelih tampak terbakar, dan dagingnya terasa seperti empedu.
  • Seorang pria yang mencaci Al-Husain tertimpa dua bintang dari langit hingga buta.

Baca juga: Muharram: Bulan Allah dan Tujuh Peristiwa Agung dalam Sejarah Para Nabi

Tangisan Sahabat dan Kesaksian Jin

Ummu Salamah, istri Nabi ﷺ, berkata:

“Aku melihat Rasulullah dalam mimpi, dengan kepala dan janggutnya berdebu.
Ketika kutanya apa yang terjadi, beliau menjawab:
‘Aku baru saja menyaksikan pembunuhan Husain.’”

Ibnu Abbas meriwayatkan:

“Aku melihat Nabi dengan botol berisi darah di tangan, dan beliau berkata:
‘Ini darah Husain dan para sahabatnya, aku mengumpulkannya sejak pagi.’”

Bahkan para jin pun terdengar meratap di Karbala, menyenandungkan bait-bait pujian untuk Al-Husain:

Rasul telah menyapu keningnya… Terpancar cahaya dari pipinya
Ayah dan ibunya dari Quraisy mulia… dan kakeknya sebaik-baik kakek

Baca juga: Hijrah Rasulullah SAW: Perjalanan Penuh Strategi dan Pengorbanan

Penutup

Peristiwa Karbala bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga titik balik besar dalam sejarah umat Islam.
Ia menjadi simbol kezaliman yang dilawan dengan keberanian, kehormatan yang dijaga dengan darah, dan cinta yang tak pernah tunduk pada tirani.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Semoga Allah merahmati Sayyidina Husain dan mereka yang gugur bersamanya

Referensi:

  1. ʿAbd al-Raḥmān bin Abī Bakr, Jalāluddīn al-Suyūṭī, Tārīkh al-Khulafā’, taḥqīq: Ḥamdī al-Damardāsy, cet. 1 (Maktabah Nizār Muṣṭafā al-Bāz, 1425 H/2004 M).
  2. Abū al-Fidā’ Ismāʿīl bin ʿUmar bin Kathīr al-Qurasyī al-Baṣrī, kemudian al-Dimashqī, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, cet. 1 (Dār Iḥyā’ al-Turāth al-ʿArabī, 1408 H/1988 M).

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses