Assalamu’alaikum — Mau tanya, jika saya tidur setelah Magrib sampai sebelum masuk waktu Isya, apakah boleh salat Tahajud setelah salat Isya? Maturnuwun.
(Mbak Intan)
Wa’alaikumussalam. Terima kasih atas pertanyaannya, Mbak Intan.
Baca juga: Hukum Menjilat Jari untuk Membuka Lembar Al-Quran
Termasuk syarat salat tahajud
Seperti yang kita ketahui, salat Tahajud itu sunah bagi orang yang telah tidur terlebih dahulu. Hal ini sebagaimana keterangan Imam ar-Rafi‘i dalam Syarh al-Kabir:
أَنَّ التَّهَجُّدَ يَقَعُ عَلَى الصَّلاَةِ بَعْدَ الْهُجُوْدِ وَهُوَ النَّوْمُ يُقَالُ تَهَجُّدٌ إِذَا تَرَكَ الْهُجُوْدَ اَمَّا الصَّلَاةُ قَبْلَ النَّوْمِ فَلاَ تُسَمَّى تَهَجُّدًا
“Sesungguhnya tahajud itu berlaku untuk salat yang dilakukan setelah tidur (hujūd). Dikatakan salat tahajud apabila seseorang meninggalkan tidur (untuk salat malam). Adapun salat yang dilakukan sebelum tidur, maka tidak disebut tahajud.” [Ar-Rafi’i, As-Syarhul Kabir, (Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2015), vol. 2, halaman 124].
Dari penjelasan tersebut, muncul pertanyaan lanjutan: bagaimana hukum pelaksanaan tahajud jika tidurnya sebelum salat Isya?
Baca juga: Hukum Menunduk kepada Guru dalam Perspektif Ulama
Boleh tahajud meskipun tidurnya sebelum isya
Dalam Ḥāsyiyat al-Bujayrimī ‘alā Syarḥ al-Minhāj terdapat keterangan bahwa hal demikian hukumnya boleh. Berikut keterangannya:
وَتَهَجَّدْ أَيْ: تَنَفَّلْ بِاللَّيْلِ بَعْدَ نَوْمٍ، قَالَ تَعَالَى: {وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ} [الإِسْرَاء: ٧٩].
قَوْلُهُ: بَعْدَ نَوْمٍ) وَلَوْ يَسِيرًا، وَلَوْ كَانَ النَّوْمُ قَبْلَ فِعْلِ الْعِشَاءِ، لَكِنْ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ التَّهَجُّدُ بَعْدَ فِعْلِ الْعِشَاءِ، حَتَّى يُسَمَّى بِذٰلِكَ، وَهٰذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ، وَلَوْ مَجْمُوعَةً جَمْعَ تَقْدِيمٍ فِيمَا يَظْهَرُ قِيَاسًا عَلَى التَّرَاوِيحِ وَالْوِتْرِ، اهـ. ز. ي. مُلَخَّصًا، وَقَرَّرَهُ ح. ف. وَظَاهِرُهُ أَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ دُخُولُ وَقْتِهَا الأَصْلِيِّ، وَنَقَلَ الإِطْفِيحِيُّ عَنْ م. ر. أَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْ دُخُولِ وَقْتِهَا الأَصْلِيِّ، اهـ.
وَقَالَ ع. ش. عَلَى م. ر.: لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ النَّوْمُ بَعْدَ دُخُولِ وَقْتِهَا، وَلَوْ قَبْلَ فِعْلِهَا، اهـ.
“(Dan bertahajudlah), maksudnya: lakukan salat sunnah pada malam hari setelah tidur, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
{Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah dengannya} (QS. Al-Isrā’: 79).
(Maksud: setelah tidur) — walaupun tidurnya hanya sebentar, bahkan sekalipun tidurnya sebelum salat Isya. Namun, haruslah salat tahajud itu ia lakukan setelah melaksanakan salat Isya, agar dapat disebut sebagai tahajud.
Inilah pendapat yang mu‘tamād (menjadi pegangan). Bahkan, jika salat Isya ia lakukan secara jama‘ taqdim (Isya digabung dengan Magrib di waktu Magrib), maka tahajud tetap boleh dilakukan setelahnya, karena menyamakan terhadap salat tarawih dan witir. Demikian (penjelasan ini) disarikan dari pendapat Syaikh Nûr ad-Dîn ‘Ali az-Zayâdy atau az-Ziyâdy, dan telah ditegaskan pula oleh Syaikh Muhammad bin Sâlim al-Hafnawy.
Baca juga: Flexing Sedekah di Media Sosial
Pendapat menurut Imam ar-Ramli dan Syaikh Aly Syibramalisy
Secara lahiriah (dalam pelaksanaan salat tahajud), tidak ada syarat harus masuk waktu aslinya (Isya). Namun al-Iṭfīḥī menukil dari Imam ar-Ramli (as-Shagir) bahwa masuknya waktu asli (Isya) itu tetap menjadi syarat.
Dan Syaikh Aly Syibramalisy atas pendapat Imam ar-Ramli berkata: tidur harus terjadi setelah masuk waktu Isya, sekalipun sebelum menunaikan salat Isya itu sendiri.” [Sulaimān bin Muḥammad bin ‘Umar al-Bujayramī, Ḥāsyiyat al-Bujayramī ‘alā Syarḥ al- (Mesir: Maṭba‘ah al-Ḥalabī, 1369 H/1950 M), vol. 1 hal. 286]
Baca juga: Kriteria Sakit yang Memperbolehkan Tayamum
Tidur sebelum isya makruh
Namun, perlu kita ketahui bahwa tidur di antara waktu salat Maghrib dan Isya termasuk perbuatan yang makruh. Hal ini sebagaimana tertuang dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari:
عَنْ أَبِي بَرْزَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ، وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا.
Dari Abu Barzah (ra), bahwa Rasulullahﷺ membenci tidur sebelum salat Isya dan berbincang-bincang setelahnya. (HR. Bukhari: 568)
Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan Jika Imam Menambah Rakaat?
Alasan makruh
Alasan di balik kemakruhan tersebut oleh al-‘Allāmah Badruddin al-‘Ainī jelaskan dalam ‘Umdat al-Qārī Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī:
وَأَمَّا سَبَبُ كَرَاهَةِ النَّوْمِ قَبْلَهَا، فَلِأَنَّ فِيهِ تَعَرُّضًا لِفَوَاتِ وَقْتِهَا بِاسْتِغْرَاقِ النَّوْمِ، وَلِئَلَّا يَتَسَاهَلَ النَّاسُ فِي ذٰلِكَ فَيَنَامُوا عَنْ صَلَاتِهَا جَمَاعَةً.
“Adapun sebab makruhnya tidur sebelum salat Isya, adalah karena hal itu berpotensi menyebabkan terlewatnya waktu salat Isya akibat tertidur pulas. Selain itu, agar orang-orang tidak menjadi terbiasa menundahingga akhirnya mereka tidak ikut melaksanakan salat Isya berjamaah. [Abū Muḥammad Maḥmūd Aḥmad bin Ḥusayn al-Ghīṭābī al-Ḥanafī Badruddīn al-‘Aynī, ‘Umdat al-Qārī Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, tt.). vol. 5 hal. 66]
Baca juga: Hukum Salat Sunah Saat Khutbah Jumat
Kesimpulan:
Jika seseorang tidur setelah Magrib dan sebelum Isya, kemudian bangun dan melaksanakan salat Isya terlebih dahulu, maka ia boleh melakukan salat Tahajud setelahnya.
Yang penting, tahajud dilakukan setelah Isya, meskipun tidurnya terjadi sebelum Isya.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





