Lirboyo— Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) dan Ma’had Aly Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, sudah memasuki rangkaian kegiatan evaluasi siswa dan mahasantri dengan melakukan agenda koreksian kitab semester ganjil atau yang lebih akrab di telinga santri Lirboyo dengan sebutan “tam-taman”.
Koreksian kitab kali ini dimulai dari malam Sabtu tanggal 31 Juli hingga malam Rabu tanggal 04 Agustus. Kali ini, terlaksana dengan total sembilan kali pelaksanaan. Mulai dari siswa 3 Ibtidaiyah hingga mahasantri Ma’had Aly Semester V wajib untuk mengikuti koreksian kitab.
Koreksian dilaksanakan mulai jam 07.30 WIs. malam untuk siswa sekolah malam dan mulai 09.30 WIs. pagi untuk siswa sekolah pagi.
Baca juga: Praktik Tajhizul Jana’iz di Lirboyo, Bekali Santri dengan Keterampilan Merawat Jenazah
Mengenal Agenda Koreksian Kitab
Koreksian kitab merupakan proses pemeriksaan kelengkapan makna kitab di setiap tingkatan kelas. Kegiatan ini melibatkan jajaran guru Madrasah dan Ma’had Aly sebagai korektor. Mereka bertugas memeriksa kitab milik para siswa setelah disusun dengan rapi.
Koreksian kitab ini merupakan wujud representasi dawuh masyayikh Pesantren Lirboyo.
“Sudah masyhur dari senior-senior kita bahwa Mbah Yai kita pernah dawuh bahwa petenge kitab padangi ati”, ungkap Bapak Abdullah Kafabihi Hasan, Ketua Panitia Koreksian Kitab, saat diwawancarai, Senin, 03 Agustus 2026.
Sejatinya kegiatan koreksian kitab telah menjadi kegiatan rutin yang terlaksana dua kali setiap tahunnya. Agenda yang sudah ada sejak tahun 1970-an ini merupakan agenda wajib sebelum pelaksanaan ujian semester.
Baca juga: Dauroh Ilmiah & Sanadan Kitab Al-Arbain an-Nawawy bersama As-Syaikh Dr. Yasir Al-Adny
Makna Tersirat dari Koreksian Kitab
Tujuan terlaksananya koreksian kitab ini tidak lain agar para santri bisa mengetahui arti dan maksud dari kitab yang mereka pelajari.
“Dampaknya para santri akan lebih mudah dalam belajar materi ujian semester, terlebih ketika mereka telah pulang ke rumah masing-masing, mereka akan lebih mudah untuk memahami kitab yang telah ditashih maknanya,” tegas Ketua Panitia Koreksian Kitab tersebut.
Untuk tahun ini, tidak ada peraturan baru yang diterapkan oleh pantia. Hanya saja, di tahun ini siswa-siswa lebih ditekankan untuk menulis kitab pelajaran dengan menggunakan pen tutul dan tinta bak. “Hal tersebut merupakan wujud menjaga warisan para senior-senior kita serta menjadi salah satu ciri khas Pondok Lirboyo,” tambahnya.
Hal menariknya, sebelum pelaksanaan koreksian kitab, para siswa saling bantu-membantu satu sama lain untuk membacakan makna kitab guna melengkapi makna kitab temannya yang kurang. Bentuk kebersamaan, beramai-ramai menjadi hal positif guna menjalin kekompakan agar tercapai hasil yang tam (sempurna) bagi kelasnya masing-masing.
Bagi teman-teman yang naqis (masih ada makna yang kurang) saat pelaksanaan koreksian reguler diharuskan untuk melengkapi makna (nembel)kitabnya serta diwajibkan untuk mengikuti Her Koreksian. Hal ini dilakukan guna menjadi evaluasi siswa agar di tahun berikutnya bisa lebih aktif mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
“Dengan diadakannya koreksian kitab ini mudah-mudahan para siswa lebih bersemangat untuk memaknai kitabnya serta bisa menumbuhkan rasa cinta guna mempelajari dan memahami kitab-kitab karangan para ulama salaf,” harap salah satu dosen Ma’had Aly Lirboyo tersebut.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





