Khutbah Jumat: Mengapa Orang Dengki Tak Akan Pernah Berjaya?

khutbah tentang dengki

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ. وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ. وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Baca juga: Khutbah Jumat: Amalan dan Doa Orang Tua agar Anak di Pondok Pesantren Sukses Dunia Akhirat

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Pernahkah kita menyadari sebuah keanehan dalam psikologi manusia? Mengapa sering kali keberhasilan orang lain terasa seperti ancaman bagi diri kita sendiri? Mengapa saat tetangga membeli kendaraan baru, dada kita yang terasa sesak? Saat teman sejawat mendapat promosi jabatan, pikiran kita yang justru bekerja keras mencari-cari celah kekurangannya?

Pepatah Arab menyimpulkan bahwa:

اَلْحَسُودُ لَا يَسُودُ

“Seorang pendengki tidak akan pernah bisa memimpin atau meraih kejayaan sejati.” Begitulah terjemahannya!

Kenapa bisa demikian? Karena seorang yang di dalam hatinya bersemayam hasad (iri dengki), pada hakikatnya sedang mengidap penyakit jiwa yang luar biasa menguras energi. Karakter pendengki itu menyedihkan. Ia buta terhadap keindahan nikmat yang Allah berikan kepadanya, tetapi memiliki mata yang sangat tajam untuk menemukan detail keburukan sekecil apa pun nikmat orang lain.

Kita mungkin mengira bahwa penyakit dengki hanyalah sebuah dosa emosi biasa. Padahal, jika kita telusuri dan amati secara mendalam, dengki adalah bentuk perlawanan dan protes paling radikal terhadap keadilan Allah SWT.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Perhatikan baik-baik. Ketika seseorang dengki dan menginginkan hilangnya nikmat dari saudara mukminnya, ia sebenarnya sedang menggugat takdir. Ia seolah-olah berkata kepada Allah: “Ya Allah, Engkau telah salah alamat dalam membagikan rezeki! Orang itu tidak layak menerima nikmat itu, akulah yang lebih layak!”

Inilah alasan mengapa hasad merupakan dosa paling purba di alam semesta, yang melahirkan berbagai tragedi besar dalam sejarah peradaban:

Iblis diusir dari surga bukan karena ia tidak kenal Allah, melainkan karena dengki atas kemuliaan yang Allah berikan kepada Nabi Adam AS.

Dosa pembunuhan pertama dalam sejarah manusia—ketika Qabil membunuh Habil—terjadi semata-mata karena benteng dengki yang membakar dadanya.

Saudara-saudara Nabi Yusuf AS tega membuang adik mereka sendiri ke dalam sumur tua karena menganggap kasih sayang ayah mereka tidak adil.

Bahkan orang-orang Yahudi di zaman Nabi ﷺ menolak kebenaran Islam bukan karena mereka tidak tahu bahwa Muhammad adalah Nabi, melainkan karena hati mereka terbakar oleh dengki.

Allah berfirman:

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) atas karunia yang telah Allah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisa’: 54)

Baca juga: Khutbah Jumat: Ujian yang Harus Kita Syukuri

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

“Mengapa orang yang dengki selalu hidup dalam penderitaan dan tidak pernah menang?”

Hasan Al-Basri rahimahullah, pernah menyampaikan sebuah pesan perihal ini. Katanya:

مَا رَأَيْتُ ظَالِمًا أَشْبَهَ بِمَظْلُومٍ مِنْ حَاسِدٍ؛ نَفَسٌ دَائِمٌ، وَحُزْنٌ لَازِمٌ، وَغَمٌّ لَا يَنْفَدُ

“Aku tidak pernah melihat seorang pelaku zalim yang bentuk fisiknya paling mirip dengan korban kezaliman selain pendengki: nafasnya selalu sesak, kesedihannya melekat abadi, dan dukacitanya tak pernah usai.”

Betapa ironisnya! Pendengki berniat menyiksa orang lain, namun dialah yang pertama kali terbakar oleh api yang ia nyalakan sendiri.

Musibah yang dilemparkan oleh seorang pendengki justru sering kali menjadi sarana bagi Allah untuk melambungkan derajat orang yang didengki.

Maka bersabarlah.

بَارَكَ اللهُ ِليْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Di akhir dari khutbah ini, kita harus mengetahui dua hal penting. Bagaimana menyembuhkan diri kita jika terjangkit dengki, dan bagaimana membentengi diri jika kita menjadi sasaran dengki orang lain?

Pertama, strategi menyembuhkan hati dari dengki

Jika di dalam dada kita mulai timbul benih-benih tidak senang atas keberhasilan orang lain, lakukan 3 hal ini rasional:

Pertama, sadarilah bahwa pembagian rezeki Allah itu sempurna. Meminta rezeki orang lain hilang tidak akan menambah rezeki kita sedikit pun. Justru Allah memerintahkan kita meminta langsung kepada-Nya:

وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ

“Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.” (QS. An-Nisa’: 32)

Kedua, dengki lahir dari kesombongan, keserakahan, dan kecintaan pada rasa unggul. Sadarilah bahwa puncak kehancuran seseorang dimulai saat ia merasa tidak boleh ada orang lain yang melampauinya.

Ketiga, ketika nafsu mengajak kita membenci orang yang mendapat nikmat, paksakan diri untuk mendoakannya secara tersembunyi. Ini adalah obat paling ampuh untuk menundukkan ego pada diri kita masing-masing.

Untuk selanjutnya, strategi membentengi diri dari serangan pendengki

Jika hari ini Anda menjadi objek dengki atau lemparan fitnah dari orang lain, maka yang bisa Anda lakukan adalah:

Tawakal dan taqwa. percayalah, tipu daya pendengki tidak akan sanggup menembus perlindungan Allah jika kita menjaga ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak akan mendatangkan kemudaratan kepadamu.” (QS. Ali ‘Imran: 120)

Selanjutnya,jangan habiskan energi dan fokus hidup Anda untuk memikirkan balasan atau meladeni permainan mereka. Mengabaikan pendengki adalah cara paling ampuh untuk memadamkan apinya.

Terakhir, padamkan api dengki dengan kebaikan. Ini adalah puncak kedewasaan yang paling berat namun amat dahsyat hasilnya. Balaslah keburukan mereka dengan sedekah, doa kebaikan, dan sikap baik.

Baca juga: Khutbah Jumat: Refleksi dari Cerita Mimbar Rasulullah

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Mari kita introspeksi diri. Di manakah posisi mentalitas iman kita selama ini? Apakah kita termasuk golongan orang yang matanya panas saat melihat saudara sendiri bahagia?

Ingatlah, mengeluhkan nikmat orang lain hanya akan menghapus pahala-pahala kita sendiri. Mari bersihkan hati, bangun optimisme, dan lapangkan dada atas setiap ketetapan Allah SWT.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْواتِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

One thought on “Khutbah Jumat: Mengapa Orang Dengki Tak Akan Pernah Berjaya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses