Madinah tak lagi sama setelah Rasulullah saw. wafat. Kota yang dahulu dipenuhi langkah kaki Nabi Muhammad saw. kini menyimpan kerinduan yang tak mudah terobati. Bagi para sahabat, setiap sudut kota seakan menghadirkan kembali sosok Rasulullah saw. yang mereka cintai. Salah seorang yang paling merasakan beratnya perpisahan itu adalah Bilal bin Rabah ra., muazin Rasulullah saw.
Sejak Rasulullah saw. wafat, Bilal tak lagi mampu menjalani hari-harinya seperti biasa. Madinah, yang dahulu menjadi tempat ia bersama Rasulullah saw., justru berubah menjadi ruang yang dipenuhi kenangan.
Suatu ketika, Bilal menghadap Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Ia menyampaikan keinginannya untuk meninggalkan Madinah dan berpindah ke wilayah Syam.
“Apa alasanmu, wahai Bilal?” tanya Abu Bakar ra.
Bilal kemudian mengungkapkan alasan yang membuat hatinya tak sanggup bertahan di Madinah.
“Di sini terlalu banyak kenangan bersama Rasulullah. Ketika aku melihat sesuatu yang pernah disentuh oleh beliau, seakan-akan aku melihat bayangan beliau. Hatiku terlalu rapuh untuk menanggungnya, dan mataku terlalu berat untuk menahan air mata karena kecintaan yang begitu besar dan tulus.”
Abu Bakar ra. memahami perasaan sahabat sekaligus budak yang pernah ia merdekakan. Ia pun mengizinkan Bilal untuk meninggalkan Madinah.
Bilal kemudian menetap di sebuah desa bernama Bidariyan, di sekitar wilayah Syam.
Baca juga: Perempuan Selalu Berbicara Menggunakan Ayat Al-Quran
Bilal Tak Lagi Mengumandangkan Azan
Ada satu hal yang kemudian berubah dalam kehidupan Bilal. Ia tak lagi mengumandangkan azan. Bukan karena Bilal enggan menyeru umat Islam untuk menunaikan salat. Bukan pula karena ia telah kehilangan semangat beribadah. Namun, ada satu bagian dari azan yang terasa begitu berat baginya untuk diucapkan.
“Asyhadu anna Muhammadan rasulullah.”
Setiap kali hendak mengucapkan kalimat tersebut, kenangan tentang Rasulullah saw. memenuhi pikirannya. Sosok Nabi yang dahulu berdiri di tengah para sahabat seakan kembali hadir di hadapannya. Kerinduan membuncah, air mata mengalir, dan suara Bilal tak lagi mampu meneruskan azan.
Tahun-tahun pun berlalu. Hingga pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra., Bilal mengalami sebuah peristiwa yang semakin menghidupkan kembali kerinduannya kepada Rasulullah saw.
Baca juga: Saat Semua Orang Terlelap, Satu Pertanyaan Ini Menggagalkan Sebuah Maksiat
Mimpi yang Membawa Bilal Kembali ke Madinah
Suatu malam, Bilal bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpi tersebut, Nabi Muhammad saw. berkata kepadanya,
“Engkau tega, wahai Bilal. Mengapa engkau tidak menziarahiku lagi?”
Bilal terbangun dengan perasaan yang bercampur aduk. Teguran dalam mimpi itu begitu membekas di dalam hatinya.
Tanpa menunda waktu, Bilal segera mempersiapkan barang-barangnya dan berangkat menuju Madinah.
Setibanya di kota itu, ia langsung menuju makam Rasulullah saw. Air mata mengalir deras dari kedua matanya. Bilal menziarahi makam Nabi dengan penuh kerinduan, seakan seluruh rasa kehilangan yang selama ini ia pendam menemukan tempat untuk dicurahkan.
Setelah itu, Bilal menemui cucu Rasulullah saw., Hasan dan Husain ra. Keduanya kemudian menyampaikan permintaan kepada Bilal.
“Wahai Bilal, kami ingin mendengarkan azanmu sebagaimana dahulu ketika Rasulullah saw. masih bersama kita.”
Permintaan tersebut tentu bukan perkara ringan bagi Bilal. Sudah sekian lama ia meninggalkan azan. Namun, demi memenuhi permintaan cucu Rasulullah saw., Bilal akhirnya bersedia mengumandangkannya kembali.
Baca juga: Kisah Kaum Nabi Luth Belum Berakhir: Dua Potret Kaumnya yang Kini Kembali Terjadi
Ketika Suara Bilal Kembali Menggema
Bilal kemudian naik ke tempat azan. Sesaat kemudian, suara yang telah lama dirindukan penduduk Madinah kembali menggema.
Allahu Akbar, Allahu Akbar…
Penduduk Madinah terkejut. Mereka mengenali suara itu. Bilal. Muazin Rasulullah.
Seketika, penduduk berhamburan keluar dari rumah dan bergegas menuju masjid. Mereka seakan ingin memastikan bahwa suara yang mereka dengar benar-benar suara Bilal.
Hingga Bilal sampai pada kalimat:
“Asyhadu anna Muhammadan rasulullah.”
Seketika suaranya bergetar. Bilal tak sanggup melanjutkan. Air matanya tumpah.
Kenangan tentang Rasulullah saw. kembali memenuhi dadanya. Bertahun-tahun ia berusaha menahan kerinduan itu, tetapi pada hari tersebut semuanya pecah bersama suara azan.
Tangisan Bilal terdengar di tengah Madinah. Penduduk yang mendengarnya pun tak mampu menahan air mata.
Hampir seluruh penduduk Madinah keluar dari rumah menuju masjid. Kerinduan kepada Rasulullah saw. seakan kembali terbuka setelah sekian lama mereka pendam.
Sebagian dari mereka bahkan bertanya dengan penuh haru,
“Apakah Rasulullah telah diutus kembali?”
Sesampainya di masjid, mereka menyadari bahwa yang mereka dengar hanyalah suara Bilal.
Rasulullah saw. tidak kembali. Yang tersisa hanyalah kenangan. Namun, suara Bilal seakan membawa mereka kembali ke masa ketika Rasulullah saw. masih berjalan di antara mereka. Mereka pun menangis bersama.
Tangis itu bukan sekadar kesedihan karena kehilangan seorang manusia. Itu adalah tangis kerinduan kepada sosok yang paling mereka cintai.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo





