Majalah MISYKAT

Di era 80-an, tepatnya tahun 1986, Lirboyo berkesempatan mengirimkan delegasinya (Kru Majalah Dinding Hidayah) untuk mengikuti lokakarya kejurnalisan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Acara tersebut diikuti oleh perwakilan pesantren yang ada di tanah Jawa. Inti kegiatan itu adalah agar dalam lingkungan pesantren budaya tulis menulis kian berkembang, seperti yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Ishomuddin Hadziq, dalam sambutannya.

Menyadari akan pentingnya media informasi sebagai penunjang dakwah, tepat beberapa waktu setelah diadakannya lokakarya tersebut, hampir secara bersamaan terbitlah banyak majalah di pesantren-pesantren, seperti Suara Cipasung di Pondok Pesantren Cipasung, Majalah Tebuireng di Pondok Pesantren Tebuireng, dan Bulletin MISYKAT di Pondok Pesantren Lirboyo yang secara resmi diterbitkan berdasarkan SK. BPK P2L No. 20/BPK P2L/III/’86 Tentang penerbitan Bulletin/ Majalah.

Setelah disepakatinya penerbitan majalah di Lirboyo, dari hasil sidang tim ada dua nama yang diajukan, yaitu GAGASAN dan MISYKAT. Nama MISYKAT sendiri sebenarnya bukanlah usulan dari anggota sidang. Adalah Ghazi GZ, redaktur Majalah Panji Masyarakat (Panjimas) yang mengusulkan nama MISYKAT.

Untuk menentukan salah satu dari kedua nama tersebut, ditunjuklah Nur Badri (Kepala Madrasah PP. Raudlatul Huda, Kerokan, Kedu, Temanggung, Jateng) untuk melakukan salat istikharah. Oleh Nur Badri –yang selanjutnya menjadi pimpinan redaksi pertama MISYKAT–  kedua nama ini kemudian ditulis pada dua helai kertas dan diletakkan di bawah sajadah. Seusai salat istikharah, kedua kertas nama yang sudah dilipat itu diajukan kepada KH Imam Yahya Mahrus untuk diambil salah satunya. Dan setelah dibuka, yang keluar adalah nama MISYKAT.

Saat penerbitan edisi pertama dilaksanakan selamatan kecil-kecilan yang diikuti oleh semua kru (saat itu kru MISYKAT diambilkan dari kru Majalah Dinding Hidayah). Dengan modal sebuah mesin ketik, satu buah tustel, dan uang sebesar Rp. 600.000,00 hasil mengikuti lokakarya UDPI di Tebuireng, terbitlah edisi perdana Bulletin MISYKAT dengan tema; Empat Belas Macam Ilmu dalam Itmamuddiroyah, yang disampaikan oleh Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) ketika berkunjung di Lirboyo dan diliput oleh Bulletin MISYKAT.

Sesuai keputusan, Bulletin MISYKAT terbit secara berkala tiga bulan sekali. Edisi pertama cetak 300 exs. dengan harga RP. 500/ exs. Dari 300 exs tersebut, terjual sekitar 200 exs., sedang yang 50 exs. dibagi-bagikan kepada para masyayikh dan simpatisan. Melihat kesuksesan edisi pertama, pada edisi selanjutnya MISYKAT memberanikan diri untuk mencetak 200 exs.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.