Masyaqoh Santri; Kisah Perjuangan KH. Abdul Karim

Masyaqoh Santri

Dalam haul KH. Abdul Karim yang terselenggara pada bulan Ramadan 1445 H, KH. Abdullah Kafabih mengangkat kisah perjuangan sang ulama besar semasa menuntut ilmu. Bukan sekadar mengenang, beliau membuka tabir masyaqoh—kesulitan luar biasa—yang KH. Abdul Karim tempuh selama puluhan tahun mondok.

Baca Juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Dewasa dalam Menghadapi Tahun Demokrasi

Alasan Peninggalan Kitab KH. Abdul Karim Sedikit

KH. Abdul Karim menghabiskan sekitar 27 tahun untuk belajar dari pesantren ke pesantren. Namun yang mengejutkan, peninggalan kitab beliau sangat sedikit. KH. Abdullah Kafabih sendiri pernah bertanya-tanya, mengapa seorang santri yang belajar hampir tiga dekade justru tak banyak meninggalkan kitab?

Jawabannya mencerminkan keteguhan hati dan pengorbanan: setiap kali hendak mempelajari kitab baru, KH. Abdul Karim menjual kitab lamanya—yang telah penuh makna dan catatan—demi bisa membeli kitab berikutnya. Itu adalah bagian dari masyaqoh yang beliau jalani, bentuk pengorbanan yang tidak kasat mata, tapi sarat makna.

Baca Juga: Kiai Anwar; Pesantren dan Memperjuangkan Kemerdekaan

Hanya Memiliki Satu Stel Pakaian

Kisah masyaqoh lainnya: beliau hanya memiliki satu stel pakaian. Saat mencuci pakaian itu, beliau berendam di sungai—sambil menghafal kitab Alfiyah. Tak ada jeda untuk bermalas-malasan. Bahkan dalam kondisi serba terbatas, beliau tetap menggunakan waktunya untuk belajar.

Keikhlasan KH. Abdul Karim

Ada pula kisah saat beliau hendak berangkat mondok. KH. Abdul Karim sempat bekerja di sawah untuk mendapatkan bekal. Namun setiba di pondok, hasil jerih payahnya itu justru diminta oleh Syaikhona Kholil Bangkalan—gurunya—untuk dijadikan pakan ayam. Bukan tanpa maksud, ini adalah bagian dari latihan spiritual: mengikis rasa kepemilikan, membentuk jiwa ikhlas, dan melatih kesabaran. Sebuah ujian berat yang justru menjadi pondasi keilmuan beliau.

Semua masyaqoh itu tak sia-sia. Buah perjuangan KH. Abdul Karim kini dinikmati oleh ribuan santri dan dzurriyahnya. Warisan ilmunya terus mengalir, menjadi cahaya bagi umat islam, khususnya masyarakat yang belajar dari santri-santri yang memiliki sanad keilmuan dari KH. Abdul Karim.

Baca Juga: Tahun Baru Sebagai Manifestasi Rasa Syukur

Dari kisah di atas, dapat kita simpulkan bahwa perjuangan dalam menuntut ilmu tidak selalu berjalan mudah. KH. Abdul Karim adalah contoh nyata bagi kita para santri, bagaimana keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan justru menjadi jalan belajar ikhlas, dan semangat pantang menyerah.

Masyaqoh yang beliau alami—menjual kitab demi kitab, hanya memiliki satu stel pakaian, hingga mengorbankan hasil kerja demi perintah guru—bukan hanya menunjukkan kesabaran, tapi juga keikhlasan yang luar biasa dalam belajar.

Dan dari kesungguhan itulah lahir keberkahan yang terus mengalir hingga hari ini. Ilmu KH. Abdul Karim tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi terus hidup melalui para santri dan keturunannya. Ini mengajarkan kita bahwa kesabaran dan keikhlasan dalam proses akan menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil instan.

Tonton Juga Haul KH. Abdul Karim Wa Zaujatihi Wa Dzurriyyatihima | RAMADAN 1445 H.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses