Mengenang Romo KH. Ahmad Idris Marzuqi Lirboyo

Mbah Idris Lirboyo

Saya sungguh bersyukur telah diberi kesempatan belajar langsung kepada almarhum dalam praktik kehidupan sehari-hari. Di mana saya dapat melihat, mendengar dan berdiskusi bersama almarhum dalam berbagai hal. Saya sering didawuhi tentang beberapa hal bahkan yang bersifat pribadi sekalipun. Almarhum  terasa begitu dekat, saya merasakan bahkan lebih dekat dari ayah kandung sendiri.

Almarhum adalah kiai yang alim  dan zuhud, tidak sibuk mempersoalkan urusan duniawi. Saya yang selalu membawakan tasnya pergi ke mana-mana, ketika ada sowanan langsung dimasukkan begitu saja,  dan tidak pernah dihitung uang yang ada di dalamnya sama sekali. Bahkan pernah almarhum diberi amplop berisi uang pecahan dolar AS dalam jumlah sangat besar, ditaruh begitu saja di almari hingga lupa tidak dibuka sampai lima tahun! Hingga suatu saat almarhum menelpon saya ketika membuka amplop itu dan bermaksud mentasharrufkannya sambil tertawa.

Saya sangat mengagumi almarhum, sebagai guru dan orang tua yang bijak, sabar dan welas asih. Sosok yang sangat sederhana dan bersahaja, tulus ikhlas dan tanpa pamrih dalam keseharian. Mempunyai selera humor yang bagus, memberi nasihat dengan halus, tidak pernah berucap kasar bahkan selalu berbahasa Jawa halus kepada murid seperti saya.

Saya belajar tentang disiplin istikamah dalam keseharian, melihat berbagai lelaku wirid dan amalan sunnah yang dilakukan. Saya terkagum dengan keberaniannya menyatakan pendapat secara ikhlas, berdiri tegak melawan arus dalam kebenaran. Saya mengagumi keteguhan hatinya memegang prinsip, kesabaran menghadapi gangguan dan rintangan. Selalu tabah dan tenang memecahkan permasalahan serta murah hati dalam kebaikan.

RKH Ahmad Idris Marzuqi adalah pribadi yang sangat tawadlu dan tidak suka pujian. Suka bermusyawarah dan tidak memaksakan kehendak, gemar bersilaturahim dan sangat memperhatikan hubungan kekerabatan. Dikenal berjiwa pemaaf dan lebih suka mengalah terutama pada sanak saudara. Termasuk menghormati habaib dan ulama, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal.

Sungguh saya sangat merasa berutang budi kepada almarhum. Atas jasanyalah saya mendapatkan banyak sekali kebaikan dan keberkahan dalam hidup. Almarhum  adalah orang tua dan guru panutan sempurna bagi hidup saya selamanya. Saya sungguh mencintainya, semoga kelak disatukan dengan almarhum di surga-Nya, amin.

Editor: Athori Thohir

Baca Juga; Sejarah Berdirinya Masjid Agung Lawang Songo Pondok Lirboyo

Follow Instagram; @pondoklirboyo

Subscribe; Pondok Lirboyo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.