Tag Archives: mahad aly

Ngaji Tasawuf bersama Dr. KH. Luqman Hakim

LirboyoNet, Kediri – Senin (27/01) Mahasantri Ma’had Aly Pondok Pesantren Lirboyo berbondong-bondong memasuki Aula al-Muktamar di pagi hari, untuk mengikuti kuliah umum dengan tema Tasawuf Kebangsaan. Dalam kesempatan kuliah kali ini, pakar tasawuf Dr. KH. M. Luqman Hakim menjadi narasumber.

Acara yang dimulai pukul 10:00 Wib itu berjalan seirama dengan rencana. KH. An’im Falahuddin Mahrus menegaskan dalam sambutan beliau bahwa, “Kami pernah ikut ngaji dengan beliau di Kalibata,mengaji hikam. Jadi, anggota DPR disuruh ngaji tasawuf.”

Menurut KH. An’im Falahuddin Mahrus bukan sesuatu yang bertentangan antara perjuangan dan tasawuf.  Antara perjuangan dengan siyasah. “Bahkan definisi siyasah yang mencetuskan adalah ulama tasawuf. Al-Ghazali sebagai contoh.”

Narasumber menyampaikan dengan lugas bagaimana menerapkan konsep tasawuf dalam berbangsa dan bernegara. Salah satunya adalah, “Tasawuf di dalam berbangsa, seperti ruh. Bangsa sebagai jasad, danruhnya adalah adab dan akhlak.” Tutur beliau,

“Bagaimana membangun spirit roh budaya dalam bangsa? Itu tugas tasawuf. Dalam kehihdupan berbangsa, ada rumah besar bernama Indonesia, yang pilar-pilarnya adalah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD ’45. Dan tugas tasawuf adalah membangun jiwa siapapun yang menghuni rumah besar itu. Tuan rumahnya sebenarnya adalah para pengajar nilai-nilai tasawuf, yakni ulama-ulama kita.”

Acara selesai pukul 13:00 Wib, ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh KH. Ahmad Hasan Syukri Zamzami Mahrus.[]

Simak Selengkapnya di Youtube Pondok Pesantren Lirboyo: Tasawuf Kebangsaan | Kuliah Umum

Kuliah Umum: Peran Strategis Santri di Negara Demokrasi

Kuliah Umum Kebangsaan yang diselenggarakan pagi hari di Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri kembali diselenggarakan pada Ahad pagi (14/07). Mahasantri Mahad Aly Lirboyo menyimak materi yang disampaikan oleh Prof. Dr. M. Mahfudz MD.

Dalam Kuliah Umum tersebut Prof. Mahfudz mengutarakan sejarah berdirinya NKRI, mulai dari Kongres Sumpah Pemuda yang menyatukan Bangsa Indonesia, sampai rapat yang menentukan negara ini menjadi Federal atau Republik.

‘Peran Strategis Santri Di Negara Demokrasi’ yang menjadi Tema Kuliah Umum pagi itu diharapkan menjadi motivasi dan pembelajaran Mahasantri dalam mengenal kembali arti Kebangsaan dan Demokrasi di Indonesia.

“Saudara ambil semua bidang ilmu,” menurut beliau, “Karena Santri sekarang mau berperan apa saja, anda tinggal memilih. Dulu, kan, ndak boleh. Sekarang anda yang tentukan peran yang tepat untuk anda. Tidak bisa saya tentukan,” lanjut beliau. “Karena setiap orang mempunyai spesifikasi dan keinginan. Passion anda apa, ambil dan kembangkan.” Pungkas beliau setelah ditanya perihal peran apa yang cocok untuk para santri untuk negara.

Acara selesai pukul 13:10 setelah sesi dialog antara Prof. Mahfudz dan Mahasantri di penghujung acara.[]

Simak selengkapnya di YouTube Pondok Lirboyo

Kenapa Mahasantri Harus Tampil Di Dunia Digitalisasi?

“Memang sedikit tabu ketika kita berbicara tentang dunia digitalisasi di dunia pesantren,” ucap Yatimul Ainun, S.sos.I. selaku pembicara acara siang tersebut membuka materinya di hadapan Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo. “Tapi anggapan itu sudah kuno, kini sudah saatnya kaum sarungan (santri) menguasai dunia digital. Sudah bukan waktunya lagi kita selalu dicibir, selalu di olok-olok dan selalu di habisi di dunia maya, karena kita dinilai gaptek

Beliau melanjutkan, “Berbicara soal ketahanan informasi Nasional. Saat ini diakui atau pun tidak, penghuni negeri yang kita cintai ini dalam tanda kutip sedang menderita sakit, karena sedang sakit maka harus didatangkan obat, supaya mendapatkan ketahanan. Sebenarnya jenis penyakitnya terlihat seperti baru datang secara digitalisasi. Akan tetapi pada subtansinya ini penyakit lama yang sekarang sudah menjadi akut di negeri kita ini yaitu hoax.

“Kenapa penyakit ini harus segera ditangani dan diobati? Karena akan berdampak berubahnya pola pikir kita dan masyarakat secara umum.

“Maka dari itu bahaya derasnya banjir informasi saat ini sudah tidak terpusat lagi pada media mainstream (arus utama) seperti media online, media cetak, televisi, radio dan media mainstream lainya. Akan tetapi saat ini rujukan seseorang yaitu sesuatu yang pertama kali diunggah di media sosial, dan itu langsung dianggap benar.

“Apalagi ketika kita berbicara soal pesantren, berbicara soal Nahdlatul Ulama secara umum, kini memiliki tantanganya yang cukup besar. Maka kita sebagai warga Nahdlatul Ulama kini bukan hanya harus menguasainahwu dan shorof, bukan hanya menguasai mantiq dan balaghoh. Akan tetapi juga harus menguasai jejak digital kita, menguasai teknologi sesuai perkembangan globalisasi dan menjadi sangat penting untuk saat ini.

“Nah, karena kondisi sekarang yang demikian ini maka terbangunlah era post truth (membangun hoaks dan kebohongan dengan terus menerus sehingga akhirnya dipercayai). Rekam jejak kita sudah menumpuk di Google karena hampir semua yang kita butuhkan lalu keluar jawabanya.” Tutur beliau.

“Dan tragisnya pula, mereka yang memproduksi hoax dibesarkan oleh kita, bukan dibesarkan oleh mereka sendiri. Kenapa demikian? Karena yang suka vidio-vidio mereka adalah kita. Setiap mereka posting sesuatu kita langsung like dan share.

“Akan tetapi publik juga kurang menemukan rekam jejak yang positif. Kenapa? Karena mayoritas yang diunggah dan disukai oleh publik adalah hal-hal yang negatif. Publik post truth suka dengan sensasional dan emosional. Dan tidak jarang NU selalu tampil untuk menjadi pendingin dan pereda pada isu yang sensasional dan emosional.

“Maka kita harus ketemu konsepnya yaitu satu berita negatif harus dilawan seribu berita positif.”

Karena saat ini hanya tiga sosok pemuda yang mampu bertahan, yakni pemuda yang kreatif, inovatif, dan yang terakhir yaitu sosok pemuda yang produktif. Sosok-sosok inilah yang dibutuhkan di era milineal seperti sekarang ini. Karena di era post truth orang tidak mencari kebenaran, tetapi mencari afirmasi, konfirmasi, dan dukungan terhadap keyakinan yang dimilikinya.(TB)

Kuliah Umum; Strategi Dakwah Mahasantri di Era Digital

LirboyoNet, Kediri – Rabu siang (10/07) Ma’had Aly Lirboyo melaksanakan Kuliah Umum, yang mendatangkan Pimpinan Redaksi Times Indonesia; Yatimul Ainun, S.Sos.I. Dalam kuliah umum yang mengusung tema Strategi Dakwah Mahasantri di Era Digital dalam lingkup Ketahanan Informasi Nasional tersebut, beliau memaparkan beberapa hal penting seputar teknologi dan informasi-informasi seputar sebab-akibat kabar bohong (hoax) yang kian menjamur di negara ini.

“Penyakit lama yang sudah akut saat ini (terutama di Indonesia) adalah tersebarnya berita bohong (hoax). Penyakit hoax ini, setelah menjamur dimana-mana, fitnah pun menyebar. Bahkan sudah dianggap biasa. Bahkan bohong pun dianggap benar. Tutur beliau.

“Kenapa ini harus segera ditangani dan diobati? Karena akan merubah pola pikir kita. Kesalahannya terletak dimana setiap sesuatu yang diunggah di media sosial, selalu dianggap benar.” Tandas beliau.

Lihat selengkapnya di YouTube Pondok Pesantren Lirboyo

Pada intinya, para mahasantri yang dinilai sudah mumpuni dalam bidang agama, sudah menjadi keharusan memperjuangkan ilmunya melalui media sosial atau media informasi lainnya. Sehingga kabar bohong bisa segera terobati. Dan masyarakat tidak lagi terbohongi.[]

Agar Delapan Puluh Tahun Dosa Kita Diampuni

Manusia tak lepas dari kesalahan. Dosa dan berbagai macam kekeliruan adalah niscaya. Adagium nyata bahwa selain nabi, tak ada insan yang suci memang sudah terbukti. Namun ampunan Allah SWT. juga maha luas dan tak berkesudahan, asalkan nafas masih senantiasa bersambung, maka tak perlu cemas pintu taubat tidak terbuka. Karena kapanpun dan di manapun, Allah SWT akan senantiasa melapangkan pintu maaf-Nya. Faqultus taghfiru rabbakum innahu Kana ghaffara.

Lebih-lebih kita adalah umat yang istimewa. Umat Nabi Muhammad Saw, nabi akhir zaman. Nabi pilihan, dan sayyid bagi para anak cucu Nabi Adam As. Allah SWT memberikan begitu banyak keringanan kepada umat Nabi Muhammad Saw, salah satunya dalam masalah taubat. Dahulu umat Nabi Musa As, kaum Bani Israil yang membuat kesalahan dan hendak bertaubat harus menebus kesalahannya dengan hal yang amat berat, dikisahkan dalam surat Al-Baqarah ayat 54, bahwa konsekuensi yang harus ditebus jika taubat mereka ingin diterima Allah SWT akibat dosa menyekutukan-Nya adalah dengan bunuh diri.

 وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ

 أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Maka sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT, yang tidak lagi mewajibkan hal tersebut dalam syariat Nabi Muhammad Saw. Diantara kemurahan yang Allah SWT berikan kepada umat Nabi Muhammad Saw adalah dihapusnya dosa selama delapan puluh tahun dengan wasilah bacaan selawat kita kepada Baginda Nabi pada hari Jumat.

 مَنْ صَلىَّ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمْعَةِ ثَمَانِيْنَ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ الصَّلاَةُ عَلَيْكَ قَالَ: قُوْلُوْا اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ، وَتَعْقِدُ وَاحِدَةً.

“Barangsiapa yang membaca selawat kepadaku pada hari Jumat delapan puluh kali maka Allah akan mengampuni dosanya selama delapan puluh tahun.” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Ya Rasulullah, bagaimana cara membaca selawat kepadamu?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Katakan:

 اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ

“Ya Allah, limpahkanlah selawat-Mu kepada Muhammad, hamba, Nabi dan Rasul-Mu, seorang Nabi yang ummi”, dan kamu hitung satu kali”. (HR ad-Darquthni)

 Dalam redaksi lain juga disebut,

 (من صلى علي في يوم الجمعة مائة مرة غفرت له ذنوب ثمانين سنة)

 “Barang siapa yang membaca selawat kepadaku pada hari Jumat sebanyak seratus kali, maka dosanya selama delapan puluh tahun diampuni.”

Maka sepatutnya kita meluapkan rasa syukur kita dengan memanfaatkan kemurahan yang telah Allah SWT berikan. Bacaan selawat yang ringan ternyata memiliki nilai luar biasa tinggi jika Istiqomah kita amalkan. Sungguh beruntung kita ditakdirkan menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad Saw.()

Penulis : M. Khoirul wafa (Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo.)