Tag Archives: Halal

Nasihat Ulama Agar Hasil Pekerjaan Kita Berkah

Layaknya manusia yang normal, kita pasti menginginkan hidup yang berkecukupan, rizki yang baik dan semacamnya. di samping itu, karena mencari penghidupan juga merupakan keharusan bagi seseorang yang menjadi tulang punggung kelauarga, maka sudah selayaknya hal itu dilakukan dengan penuh nilai-nilai keluhuran agar kita sebagai manusia tidak terjebak menjadi robot yang hanya terus bekerja dan bekerja tanpa peduli teradap kondisi apa pun, bahkan kondisi kita dan orang-orang di sekitar kita.

Oleh karena itu, penting kiranya kita mengetahui dan mengamalkan prinsip-prinsip luhur dalam bekerja, lebih-lebih agar hasil yang kita peroleh menjadi baik dan berkah.

Dalam hal ini, Imam Abu lais ash-Samarqandy dalam kitab Tanbihul Ghofilin menuturkan: bila seseorang menginginkan berkah dan sukses dalam pekerjaannya, maka ia harus menjaga lima hal berikut:

Pertama, tidak menunda-nunda hal-hal fardu hanya demi pekerjaannya dan tidak menjadikannya sesuatu yang kurang atau asal-asalan.

Kedua, tidak menyakiti atau merugikan orang lain demi pekerjaannya.

Ketiga, meniatkan diri dalam pekerjaannya itu, agar ia dan keluarganya terjaga dari kearaman, bukan untuk menumpuk dan memperbanyak harta.

Keempat, tidak memayahkan diri hanya demi pekerjaan.

Kelima, tidak meyakini bahwa rizki yang ia peroleh berasal dari jerih payah kerjanya, melainkan itu semata-mata dari Allah Swt, sedangkan pekerjaan hanyalah perantara saja.

Semoga kita sekalian bisa merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. setidak-tidaknya, berusaha agar memiliki sifat-sifat demikian. Semoga.(IM)

Paytren dalam Kacamata Syariat

Paytren merupakan produk bisnis dari PT. Veritra Sentosa Internasional milik Ustadz Yusuf Manshur yang sebetulnya telah didirikan sejak tahun 2013. Paytren, yang kini ramai diperbincangkan kehalalannya, adalah sebuah aplikasi perangkat lunak atau software yang diperuntukkan bagi pengguna HP dengan sistem operasi Android (minimal Ice Cream Sandwich). Teknologi Paytren ini biasa digunakan untuk melakukan berbagai transaksi layaknya menggunakan ATM, internet banking, ataupun PPOB (Payment Point Online Bank) dalam proses pembayaran tagihan, pembelian tiket, pengisian pulsa, dan lainnya.

Memandang visi dan misi Paytren yang diantaranya membantu pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, sangat sesuai dengan ajaran Islam, dan tentu bernilai positif. Hal ini sangat perlu diapresiasi dan didukung serta dijadikan contoh bagi pengusaha-pengusaha muslim untuk bersama-sama membangun perkembangan ekonomi yang lebih memihak kepada kemaslahatan umat, bukan kepentingan golongan tertentu (kapitalis).

Tetapi kemudian, ia oleh beberapa pihak ternyata dinilai memiliki unsur-unsur yang cacat syariat. Unsur ini sangat riskan, bahkan tidak dapat ditolerir oleh agama. Terutama, terkait dengan sistem transaksinya yang berpotensi merugikan sebagian pihak.

Lalu bagaimana Pondok Pesantren Lirboyo memberi sikap?

download Hasil Keputusan Bahtsul Masailnya di link ini

Hukum Adegannya Aktor

Dalam tayangan sinetron, sering terjadi adegan pegang-pegangan, peluk-pelukan antara artis laki-laki dan perempuan yang bukan mukhrim. Dan bahkan juga ada adat nikah di dalam sinetron. Pertanyaan saya :
1. Bagaimanakah hukumnya adegan peluk-pelukan di dalam sinetron?
2. Apakah hukum akad nikah dalam sinetron tetap sah atau batal?
3. Apakah akad nikah dalam sinetron mempermainkan agama Islam?

Ibnu Abdul Aziz

Admin – Bapak Ibnu yang mudah-mudahan dirahmati Allah, terima kasih atas kunjungan dan kesediaanya bersama Kami kita belajar bersama. Dan sebelum menjawab pertanyaan Anda, Kami kira akan lebih mengena jika kita menyinggung tentang hiburan keluarga.

Berbicara tentang hiburan yang dinikmati keluarga kita, dalam hal ini televisi, tentu saja dewasa ini kita harus lebih berhati-hati. Karena harus diakui, prosentase tayangan yang mendidik dan tidak sangatlah berbanding terbalik, terlebih sinetron. Meskipun tidak semuanya, kenyataannya kebanyakan sinetron (setahu Kami) menampilkan adegan yang jauh dari realita. Jangankan soal tayangan mendekati realita, hal yang positif saja kebanyakan ditampilkan kurang sesuai. Misalnya karakter yang suka membaca atau kutu buku. Coba Anda perhatikan, karakter ini antara diperankan oleh tokoh yang berpenampilan “keren” dibandingkan dengan yang digambarkan culun lebih banyak mana? Padahal, bukankah membaca itu positif, tapi kenapa karakternya culun?

Begitulah kenyataannya tayangan televisi kita. Sebuah hiburan yang semestinya mampu meninggalkan hal-hal positif pada memori penonton, yang terjadi malah sebaliknya. Maka di sini, peran kepala keluarga sangatlah vital. Karena biar bagaimanapun, meskipun kepala keluarga punya tanggungjawab agar seluruh keluarganya berada pada rel yang benar, dia juga dituntut bisa membahagiakan/ memberikan hiburan pada keluarganya. Jika memang soal hiburan kepala keluarga baru bisa mampu memberikan tontonan televisi pada keluarganya, ada baiknya ketika ada pertemuan keluarga disampaikan agar mereka hendaklah lebih bisa memilih acara yang ditonton dan lebih bijak menyikapinya.

Kembali pada pertanyaan Anda. Terkait soal peluk-pelukan, kiranya harap kita terima dengan bijak bahwa soal percampuran laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, agama sangat keras melarang. Jangankan sampai peluk-pelukan, untuk saling melihat wajah tanpa ada sebuah hajat saja, mayoritas ulama Syafi’iyah menghukumi haram baik menimbulkan birahi ataupun tidak. Namun begitu menurut sebagian ulama Hanafiyah, diperbolehkan dengan catatan tidak menimbulkan birahi. Dan kiranya memang pendapat inilah yang cocok dengan negara kita. Karena memang tatap muka antar lawan jenis di negara ini bisa dipastikan tidak bisa dihindarkan. Kalau nanti sudah ada angkutan umum khusus perempuan dan laki-laki, pasar yang berbeda untuk masing-masing jenis kelamin, atau juga ruang sekolah yang dibedakan antara siswa dan siswi, mungkin akan lain ceritanya.

Maka menjawab pertanyaan Anda, jika kedua aktor yang berpelukan itu bukan mahrom, kemudian wali yang berperan dalam adegan akad nikah bukan wali asli pengantin wanitanya (tidak sesuai dengan syarat dan rukun nikah), maka jelas pelukan itu haram dan tentu akad nikahnya tidak sah. Tentang apakah adegan akad nikah mempermainkan agama, Kami kira tentu harus diperjelas detail adegan yang dipertontonkan itu seperti apa.

Kiranya demikian, semoga membantu dan harap maklum adanya. Untuk referensi bisa dijumpai dalam Fathal Muin Juz 3, Faidul Qodir Juz 5, Al-Mausuatu Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah Juz 31, Addarul Mukhtar (syarah Tanwirul Abshar) Juz 1, dll.