Tag Archives: hari pahlawan

KH. M. Anwar Manshur Muda adalah Pekerja Keras

KH. M. Anwar Manshur Ketika setelah menikah di usianya yang ke 24, beliau memulai bekerja dengan menjual singkong ke Jakarta.

Sampai suatu ketika kiriman singkong itu sampai ke Jakarta dalam keadaan busuk, akhirnya beliau mengalami kerugian.

Lalu beliau dipanggil ayahandanya KH. M. Manshur Anwar. Dengan kasih sayang, sang ayah menasehati kiyai Anwar,

“Wes toh war ngajio ae. Sampean nyambut gawe gak ngaji blas, ngajio wae.” (Sudahlah war, mengaji saja, kamu bekerja keras tidak mengaji sama sekali, mengaji sajalah). tutur beliau kepada putranya.

Kiyai Anwar menuruti dawuh ayahanda beliau dengan mengaji sambil nyambi membuka toko kecil-kecilan yang dibuatkan oleh mertua beliau KH. Mahrus Aly di depan ndalem beliau (kiyai Anwar).

Kalimah atau nasehat yang  sering diuntaikan kiyai Anwar kepada santri-santri adalah mengaji. “Bagaimanapun keadaan di rumah, seorang santri harus mengaji. Bekerja hanyalah sebagai perantara.”

 

Penulis  Agus Ahmad Bihar Isyqi, keponakan KH. M. Anwar Manshur, tinggal di Paculgowang Jombang.

Cerita Lucu dari Perang 10 Nopember

Saat perang 10 Nopember berlangsung, ada peristiwa-peristiwa jenaka yang masyhur di telinga masyarakat Surabaya. Salah satunya, adalah ketika prajurit bangsa hendak mempertahankan batas daerah perjuangannya. Sebagaimana perang gerilya, mereka bersembunyi di balik bukit. Bagai sahabat Nabi saw. saat perang Uhud, dari bukit itu mereka bebas menembaki tentara musuh.

Akan tetapi, strategi ini dengan mudah dipatahkan oleh musuh. Baru sebentar berada di bukit, pesawat tempur terbang di atas mereka dan menghamburkan tembakan. Para prajurit segera turun menyelamatkan diri. Dirasa aman, mereka naik beberapa saat kemudian. Tak berapa lama, pesawat tempur datang lagi. Mereka pun sekonyong-konyong turun bukit kembali. Begitu yang terjadi hingga berulang berkali-kali.

Salah satu dari mereka kemudian nyeletuk, “Wah, nek koyo ngene iki, awake dewe iki mati ga mergo dipateni Inggris. Tapi mati goro goro munggah mudun menggah-menggeh. (Wah, kalau begini, kita bisa mati bukan Karena ditembaki tentara inggris. Kita mati karena kehabisan napas naik turun bukit).

Sontak seluruh kawannya tertawa tergelak-gelak, meskipun mereka sadar masih berada di tengah kecamuk perang.][

 

*Diceritakan KH. Agus Sunyoto saat bedah buku Fatwa & Resolusi Jihad di Pondok Pesantren Lirboyo, Jumat 03 Nopember 2017.