Tag Archives: Hikmah Ibadah Haji

Khutbah Jumat : Haji dan Keutamaannya

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الّذِيْ فَرَّضَ الْحَجَّ بِقَوْلِهِ: وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا.
أشْهَدُ أَن لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَه. وَأَشهَدُ أنَّ محمدًا عَبدُهُ وَرَسُولُه.
اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا محمدٍ, وَعلى الِهِ وَأَصْحَابِهِ. أمَّا بَعْدُ.
فَياَ عِبَادَ الله, أُوْصِيكُم وَإِيَّايَ بِتَقْوَالله. وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
.

Kaum Muslimin Jama’ah Jum’ah rohimakumulloh,

Siapakah yang tidak ingin doanya dikabulkan?
Siapakah yang tidak ingin balasan pahala berlipat ganda dari Alloh S.W.T.?

Pasti semua dari Kita mengingninkan setiap doanya dikabulkan dan pahala yang didapatkannya berlipat-lipat ganda.

Oleh karena itu, sebagai wujud rasa syukur Kita marilah Kita meningkatkan ketaqwaan Kita kepada Alloh S.W.T. yang telah mewajibkan kita untuk menunaikan Ibadah Haji bagi kita yang sudah memenuhi syarat wajibnya haji.

Dalama bulan dzulqo’dah ini, banyak sekali saudara-saudara Kita yang akan segera menunaikan ibadah haji. Alangkah mulianya jika seorang hamba bisa memenuhi panggilan Tuhannya ke Baitulloh itu.

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Alloh,
ada banyak sekali keutamaan-keutamaan yang akan Kita dapatkan ketika Kita menunaikan Ibadah haji. Di antaranya:

Pertama, dengan haji yang mabrur, maka ibadaha haji adalah salah satu di antara ibadah yang paling utama.
Dalam riwayatnya, Abu Hurairoh   berkata:

سُئِلَ رَسُوْلُ الله : “أيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟”  قَالَ: إِيْمَانٌ بِالله وَ رَسُولِهِ. قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟  قَالَ: الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ الله, قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ : قَالَ : حَجٌّ مَبْرُورٌ

Rosululloh S.A.W. ditanya: “Amal ibadah apakah yang paling utama?”
Beliau bersabda: “Beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya.” Dikatakan kepadnya: “Kemudian apa?” Beliau bersabda: “Jihad di jalan Alloh.” Dikatakan kepadnya: “Kemudian apa?” Beliau bersabda: “Haji yang mabrur.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kedua, Surga adalah balasan bagi haji yang mabrur. Rosululloh bersabda:

اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمرَةِ كَفّارَةٌ لِمَا بَينَهُمَا, وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلّا الْجَنَّةُ.

“Umroh yang pertama sampai umroh berikutnya adalah kaffarot (pelebur) dosa yang dilakukan di antara keduanya, dan haji mabrur tiada balasan baginya melainkan syurga.”
(H.R. Bukhori, Muslim)

Ketiga, Ibadah haji bisa menghapus dosa, bahkan keseluruhan dosa bisa terhapus dengan ibadah haji. Rosululloh bersabda:

مَنْ حَجَّ, فَلَمْ يَرْفُثْ, وَلَمْ يَفْسُقْ, رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.  مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

“Barangsiapa berhaji dan dia tidak melakukan jima’ dan tidak pula melakukan perbuatan dosa, maka dia kembali seperti hari ia dilahirka ibunya.” (H.R. Bukhori, Muslim)

Keempat, Orang yang menunaikan haji dan umroh doanya dikabulkan. Dari ‘Abdulloh ibnu ‘Umar, Rosululloh bersabda:

الغَازِي فِي سَبِيلِ الله, وَالحَاجُّ وَالمُعتَمِر, وَفْدُالله, دَعَاهُم, فَأَجَابُوهُ, وَسَأَلُوهُ, فَأَعْطَاهُمْ.

“Orang yang berperang di jalan Alloh, orang yang menunaikan haji dan yang menunaikan umroh adalah tamu Alloh. Alloh memanggil mereka, maka merekapun menjawab panggilan-Nya. Dan mereka memohon kepada-Nya, Alloh-pun memberikan permohonan mereka.”

Hadirin sidang Jum’ah rohimakumulloh,

Ibadah haji merupakan rukun penyempurna bagi umat Islam. Bagi Anda yang sudah memenuhi syarat wajibnya haji, hendaknya tidak menunda-nunda kesempatan yang ada. Rosululloh S.A.W. bersabda:

تَعَجَّلوا إِلَى الحَجّ فَإِنَّ أَحَدَكُم لَا يَدرِي مَا يَعرِضُ لَهُ

“Bersegeralah Kalian menunaikan ibadah haji, karena sesungguhnya salah satu dari kalian tidak mengetahui akan keberadaan halangan yang merintang.” (H.R. Ahmad)

Mudah-mudahan Alloh memberikan kita kesempatan untuk dapat berkunjung ke Baitulloh.

اللهم اجعلنا وإيّاكم من أهل السعادات. ووفّقنا لما تحب وترضى في جميع الأوقات.
واغفر لنا بجودك يا ذا الجود جميع الزلات. برحمتك يا أرحم الراحمين.
 وإذا قرأ القرآن فاستمعوا له وانصتوا لعلكم ترحمون.
 وقل ربّ اغفر وارحم وأنت خير الراحمين.

Khutbah ke II

اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَ كَفَرَ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ حَبِيْبُهُ وَ خَلِيْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَ الْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَ سَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله اِتَّقُوْا الله وَ اعْلَمُوْا اَنَّ الله يُحِبُّ مَكَارِمَ الْأُمُوْرِ وَ يَكْرَهُ سَفَاسِفَهَا يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ اَنْ يَّكُوْنُوْا فِى تَكْمِيْلِ اِسْلَامِهِ وَ اِيْمَانِهِ وَ اِنَّهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبَنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ الله! اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ  .

Tak Punya Bekal, Mbah Manab Tetap Bisa Berangkat Haji

Beberapa bulan sebelum musim haji, KH. Abdul Karim berkeinginan menunaikan ibadah haji. Keinginannya begitu menggebu-gebu. Apadaya, beliau terhalang oleh belum mencukupinya bekal untuk berangkat ke baitullah.

Berita beliau akan berangkat haji ini rupanya didengar oleh tetangga dan sahabat-sahabat beliau. Perlahan, mereka satu per satu mengunjungi beliau. Banyak diantara mereka yang menyatakan kegembiraannya karena KH. Abdul Karim dapat menunaikan ibadah haji di tahun itu. Padahal, pihak keluarga sendiri masih ragu, apakah beliau benar-benar akan berangkat, mengingat bekal yang ada sangat kurang. Sementara itu, tamu terus saja berdatangan. Semakin lama, semakin banyak saja.

Sebagaimana adatnya, selain memohon doa, para tamu itu menyertakan ‘salam tempel’ kepada beliau. Maka seiring dengan banyaknya tamu yang datang, amplop sowanan itu terus menumpuk. Beberapa waktu sebelum jamaah haji diberangkatkan, terkumpullah uang yang tidak sedikit. Bahkan lebih dari cukup untuk biaya pergi-pulang dan bekal selama di tanah Haram. Beliaupun akhirnya dapat mewujudkan keinginan beliau untuk menunaikan ibadah haji, dengan biaya dan bekal yang tidak disangka-sangka datangnya.][

Renungan Hikmah Haji

Islam selalu menarik untuk digali. Banyak hikmah-hikmah tersembunyi dibalik disyari’atkannya berbagai macam ibadah oleh Allah SWT lewat perantara nabi besar Muhammad SAW. Salah satunya adalah ibadah haji, ibadah tahunan yang rutin dilakukan umat islam dari seluruh dunia ini telah menjadi identitas agama islam. Dialah salah satu pilar dan rukun islam, dan dengan ditunaikannya akan menjadi benar-benar sempurna islam seseorang.

Haji ternyata bukan ritus ibadah biasa yang manfaatnya hanya kembali kepada hamba masing-masing. Sama seperti ibadah yang lain, haji memiliki rahasia sendiri, yang sedikit banyak telah disitir dalam alquran.

Haji juga momen istimewa berkumpulnya umat muslim dari seluruh penjuru dunia. Kearifan agama islam yang secara tidak langsung mengajarkan umatnya agar memiliki jiwa sosial disalurkan lewat salat jamaah lima waktu. Aktifitas ini menjadi pemersatu, tidak ada istilah tuan yang terhormat dan budak, karena setiap orang berdiri berdampingan lurus dalam satu barisan. Dalam intensitas yang lebih besar, setiap muslim dari suatu daerah dikumpulkan dalam satu majlis salat jumat. Aktifitas sosial perlahan terbentuk, dan semakin kuat karena setidaknya dalam setahun dua kali mereka juga dikumpulkan dalam salat hari raya.

Hal tersebut seolah belum cukup, dalam ritus haji, tidak hanya umat muslim yang berasal dari satu daerah yang berkumpul. Umat muslim dari seluruh dunia dikumpulkan dalam satu kalimat yang sama. Mereka menuju baitullah yang sama, dan mereka menyerukan doa yang sama.

Manusia saling mengenal, mereka bisa bertukar beragam hal yang bermanfaat dan akhirnya berguna bagi kehidupan. Karena saling mengenal merupakaan salah satu sebab timbulnya rasa saling menyayangi. Dari sinilah Allah SWT mensyari’atkan salat berjamaah, salat jumat, salat hari raya, dan pada akhirnya wuquf di Padang Arafah. Wukuf di Padang Arafah merupakan perkumpulan umat islam yang terbesar. Berkumpulnya umat islam di Padang Arafah yang agung ibarat kata menjadi kongres besar agama islam. Orang-orang islam berkumpul dari berbagai penjuru dunia setiap tahun sekali untuk menyatukan tujuan dan sebagai bentuk persatuan umat muslim. Hanya saja, kita umat muslim hari ini telah kehilangan salah satu tujuan penting ini. Banyak dari kita hanya menilai kalau menunaikan ibadah haji tujuannya untuk sekedar menggugurkan kewajiban, dan agar bisa mendapat gelar Al-Hâj (yang telah berhaji).” Kurang lebih tulis pengarang kitab Hikmatul Hajj, Wa Tharîqati A’mâlihi ‘alâ Al-Madzâhib Al-Arba’ah.

Alkisah, ketika Allah SWT mewahyukan kepada nabi Ibrahim AS untuk membangun Kakbah, bahu membahu beliau beserta putra kesayangannya, nabi Isma’il AS membangun pondasi Kakbah hingga utuh berdiri. Sebagai salah satu amal jariyah yang tak pernah putus-putus pahalanya. Allah SWT kemudian berfirman,
{وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ } [الحج: 27]
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. Al-Hajj; 27)Nabi Ibrahim AS kemudian berdiri diatas maqam Ibrahim dan berseru, “Wahai para hamba Allah! Penuhilah panggilan Allah.” Kemudian secara ajaib, atas kuasa Allah SWT, orang-orang dari berbagai penjuru dunia, bahkan mereka yang hidup dan tinggal di daerah pedalaman sekalipun mulai berdatangan menuju Kakbah untuk memenuhi seruan nabi Ibrahim AS. Hingga kini, para jamaah haji selalu disunahkan membaca talbiyyah, bacaan “Labbaikallahumma labbaik”. Yang kurang lebih jika diartikan, “Kami memenuhi panggilan-Mu ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu”.Hikmah Ibadah HajiHaji adalah momen yang tepat untk saling tukar informasi. Tentu zaman dahulu ketika belum datang era digital dan globalisasi, orang memanfaatkan musim haji untuk berkirim kabar. Jikapun terjadi sesuatu dengan komunitas muslim di negri asal masing-masing, maka jamaah bisa minta bantuan pada jamaah lain yang memiliki komunitas yang jauh lebih kuat memanfaatkan momen haji. Itu salah satu contoh yang dikemukakan oleh Syaikh ‘Ali Ahmad Al-Jurjawi dalam kitab Hikmah Al-Tasyri’nya. Ketika semua umat muslim dari beragam etnis berkumpul, haji juga bisa menjadi pusat akulturasi budaya. Mekah seolah menjadi “pusat kebudayaan sementara” karena berbagai peziarah yang datang punya latar belakang adat istiadat yang berbeda-beda tumpah menyatu. Bisa disatukan kala bangsa Turki, misalkan dengan budayanya bertemu dengan bangsa China dengan budayanya. Cara hidup yang berbeda di suatu negri  muslim mungkin akan cocok diterapkan di negri muslim yang lain. Para jamaah bisa saling berbagi pengetahuan dan bertukar pengalaman.

Haji juga merupakan ibadah yang bisa menjadi cara untuk mensyukuri nikmat. Seperti tertera dalam kutub al-salaf, segala ibadah yang kita lakukan ada yang dipenuhi dalam rangka memenuhi hak sebagai seorang hamba, dan adakalanya dilaksanakan dalam rangka mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya. Yang istimewa, ibadah haji mencakup kedua-duanya. Jelaslah dalam haji kita menampakkan kehambaan kita, tidak boleh berhias, memakai minyak wangi bahkan menyisir rambut saja dilarang. Muhrim juga diwajibkan memakai baju yang sangat sederhana tanpa jahitan. Yang dengan keadaan apa adanya ini, sang hamba mengharap akan kasih sayang tuhannya. Sedangkan menampakkan rasa syukur, adalah dengan menginfaqkan harta dan kesehatan yang kita miliki guna menunaikan ibadah haji. Sesuai makna dan hakikat syukur yang benar.

Zaman dahulu, muslim haji adalah musim yang amat ditunggu-tunggu bagi penduduk tanah haram. Berkahnya terasa karena jutaan jamaah haji tidak mungkin rasanya pulang tanpa menyempatkan diri untuk sekedar membeli sesuatu. Sektor perekonomian bisa membaik dengan datangnya tamu-tamu dari berbagai belahan dunia ini. Seperti kita tahu, tanah haram, terutama Mekah adalah negri yang amat mengandalkan perdagangan untuk menunjang kelangsunan hidup. Di Mekah, orang tidak mungkin bercocok tanam karena tanahnya yang gersang dan jarang turun hujan. Dengan datangnya musim haji, berkah bagi para penduduk Mekah yang umumnya pedagang sangat dirasakan.

Syaikh ‘Ali Ahmad Al-Jurjawi juga menambahkan, jikalau ibadah haji adalah pelajaran memurnikan akhlak. “Orang yang tengah menunaikan ibadah haji adalah orang yang tengah berpidah dari satu keadaan menuju keadaan yang lain.” Dalam tanda kutip, kita tentu mengetahui akan jauh berbeda rasanya orang yang telah menyelesaikan ritus hajinya. “Dan menjadi orang yang telah diberikan kenikmatan akhlak.” Kita bisa gambarkan, tatkala seorang hamba hendak melangkahkan kaki keluar rumah, ia telah mengakui kesalahan dan bertaubat atas segala dosa-dosa yang ia perbuat. Seraya yakin akan ampunan-Nya. Ia punya gambaran niatan yang baik untuk tak pernah sekalipun mengulangi lagi kesalahan yang telah lewat dimasa lalu.

Maka mari kita syukuri datangnya musim haji tahun ini, kita selalu berdoa, semoga ada di antara kita yang nantinya bisa segera menyusul saudara muslim kita, untuk menziarahi tanah haram. Atau bagi yang sudah pernah, tak ada salahnya berdoa semoga bisa kembali mengulang masa-masa indah itu.[]