Tag Archives: ibadah

Wudlu Batin Hatim al-Ashom

Diceritakan bahwa suatu ketika ‘Ishom bin Yusuf hendak menghadiri suatu majlis yang diasuh oleh Hatim al-Ashom. Kedatangan ‘Ishom bin Yusuf dalam majlis tersebut tak lain hanya bertujuan ingin membantah dan beradu argumen dengan Hatim al-Ashom dalam majlisnya.

Wahai Aba Abdir Rahman, bagaimanakah engkau melalukukan salat?” pancing ‘Ishom bin Yusuf memulai pembicaraan.

Mendengar pertanyaan itu, Hatim al-Ashom menolehkan wajahnya ke arah ‘Ishom bin Yusuf sambil berkata, “Ketika datang waktu salat, aku berdiri untuk melaksanakan wudlu dhohir dan wudlu batin”.

Bagaimana wudlu batin itu?” ‘Ishom bin Yusuf mulai penasaran.

Wudlu dhohir yang kulakukan adalah dengan membasuh anggota wudlu menggunakan air. Adapun wudlu batin yang aku lakukan adalah dengan membasuh menggunakan tujuh perkara, yakni taubat, penyesalan, meninggalkan cinta dunia, tidak memuji makhluk dan jabatan, meninggalkan sifat dengki dan hasud.”

Hatim menjelaskan dengan lebih rinci. “Kemudian aku berjalan menuju masjid, aku menggerakkan anggota tubuhku. Kemudian aku melihat Ka’bah dan aku berdiri di antara kebutuhan dan kewaspadaanku. Allah melihatku, surga berada di sisi kananku, neraka berada di sisi kiriku, dan malaikat pencabut nyawa berada di belakang punggungku. Seakan-akan aku menapakkan telapak kakiku di jembatan Shirat al-Mustaqim dan aku menduga ini adalah salat terakhir dari sekian banyak salat yang telah aku lakukan.

Setelahnya, ia menjelaskan bagaimana ia melaksanakan shalatnya. “Kemudian aku membaca niat dan mengucapkan takbiratul ihram dengan sebaik mungkin, aku membaca bacaan dalam salat dengan merenungi artinya, aku ruku’ dengan penuh rasa rendah hati, aku sujud dengan penuh doa, aku melakukan duduk tasyahud dengan penuh harapan, serta aku mengucapkan salam dengan penuh keikhlasan.”

“Dan seperti itulah salatku sejak 30 tahun yang lalu,” pungkas Hatim al-Ashom.

Mendengar kisah itu, ‘Ishom bin Yusuf tak kuasa menyembunyikan kekagumannya kepada Hatim, “Hal seperti itu tidak ada yang mampu kecuali engkau.” ‘Ishom bin Yusuf menangis sejadi-jadinya. []waAllahu a’lam

 

_________

Judul asli “Ibadatus Shalihin“, disarikan dari kitab an-Nawadir, karya syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qulyubi, hlm. 15, cet. Al-Haromain.

 

Legalitas Umroh Sebelum Haji

Dalam kitab Al-Jami’ As-Shaghir, Imam As-Suyuti mengutip sebuah hadis Ralulullah Saw:

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga,” (HR. An-Nasai, Ahmad, dan At-Turmudzi).

Hadis tersebut menjelaskan begitu besar pahala yang dijanjikan oleh Allah Swt bagi mereka yang menunaikan ibadah haji dan umroh. Sebagai muslim yang hakiki, sangat mustahil apabila tidak terbesit keinginan dalam hati untuk menunaikan kedua ibadah tersebut.

Namun, apa daya ketika realita berbicara lain. Kebutuhan finansial yang lumayan mahal menjadikan kedua ibadah ini tidak bisa dijangkau oleh semua orang. Andaipun kebutuhan biaya dan finansial telah mampu, tak jarang mereka harus menanti beberapa tahun untuk menunggu giliran keberangkatannya (Waiting List).

Akhirnya, demi mengobati kerinduan beribadah di tanah Suci Makah dan Madinah, sebagian orang memilih menunaikan ibadah umroh meskipun mereka belum sempat menunaikan ibadah haji. Alternatif umroh sebelum haji ini masih ada yang mempertanyakan keabsahannya, apakah praktek demikian dapat dibenarkan dalam pandangan kaca mata syariat?.

Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam kitabnya, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, memaparkan legalitas ibadah umroh sebelum haji dengan ungkapan seperti ini:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الْعُمْرَةِ قَبْلَ الْحَجِّ سَوَاءٌ حَجَّ فِي سَنَتِهِ أَمْ لَا وَكَذَا الْحَجُّ قَبْلَ الْعُمْرَةِ وَاحْتَجُّوا لَهُ بِحَدِيثِ ابْنُ عُمَرَ (أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَبِالْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الْمَشْهُورَةِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ ثَلَاثَ عُمَرٍ قَبْلَ حَجَّتِهِ

Para ulama sepakat atas kebolehan melakukan umroh sebelum menunaikan ibadah haji, baik haji di tahun itu ataupun tidak, begitu juga kebolehan haji sebelum umroh. Pendapat ini berargumen dengan hadis sahabat Ibnu Umar; Sesungguhnya Nabi Saw pernah melakukan umroh sebelum haji, diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Selain itu, para ulama juga berargumen dengan hadis-hadis shahih yang lain, yaitu Rasulullah Saw pernah melakukan umroh sebanyak tiga kali sebelum beliau menunaikan ibadah haji,” (Lihat: Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab, VII/170, Maktabah Syamilah).

Dalam kitab Syarah Az-Zarqoni ‘ala Al-Muwattho’ juga dijelaskan:

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ، فَقَالَ: أَعْتَمِرُ – بِتَقْدِيرِ هَمْزَةِ الِاسْتِفْهَامِ – قَبْلَ أَنْ أَحُجَّ؟ فَقَالَ سَعِيدٌ: نَعَمْ، قَدِ «اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ»  ثَلَاثَ عُمَرٍ. قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ: يَتَّصِلُ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ وُجُوهٍ صِحَاحٍ، وَهُوَ أَمْرٌ مُجْمَعٌ عَلَيْهِ لَا خِلَافَ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ فِي جَوَازِ الْعُمْرَةِ قَبْلَ الْحَجِّ لِمَنْ شَاءَ

Seorang laki-laki bertanya kepada Said bin Musayyab; Bolehkah aku umroh sebelum haji?. Said menjawab; Boleh, karena Sesungguhnya Rasulullah Saw pernah melakukan umroh sebelum haji, yaitu sebanyak 3 kali. Ibnu Abdi Al-Bar berkata; Hadis ini bersambung dari periwayatan yang shahih. Telah menjadi kesepakatan dan tidak ada pertentangan di antara para ulama bahwa boleh melaksanakan umroh sebelum haji bagi yang menghendakinya,” (Lihat: Syarah Az-Zarqoni ‘ala Al-Muwattho’, II/393, Maktabah Syamilah).

Dari penjelasan referensi tersebut sudah dapat ditarik pemahaman bahwa menjalankan ibadah umroh sebelum menunaikan ibadah haji dapat dibenarkan menurut kacamata syariat. Bahkan yang demikian itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw sendiri sebanyak tiga kali, sebagaimana keterangan dari hadis sahabat Ibnu Umar yang diriwayatkan dengan periwayatan yang shahih.

[]waAllahu a’lam

 

 

Memenuhi Hak Ibadah

Ibadah merupakan puncak penghambaan seseorang kepada Tuhannya. Dalam beribadah, keikhlasan kebersihan hati dari hal-hal yang berbau duniawi menjadi hal yang paling penting di dalamnya. Sebagaimana sebuah kisah yang diceritakan oleh Imam Al-Qulyubi dalam kitabnya, An-Nawadir:

حُكِيَ :اَنَّ عَابِدًا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ , فَلَمَّا وَصَلَ اِلَى قَوْلِهِ ” اِيَّاكَ نَعْبُدُ ” خَطَرَ بِبَالِهِ اَنَّهُ عَابِدٌ حَقِيْقَةً , فَنُوْدِيَ فِي سِرِّهِ كَذَبْتَ اِنَّمَا تَعْبُدُ الْخَلْقَ فَتَابَ وَاعْتَزَلَ عَنِ النَّاسِ , ثُمَّ شَرَعَ فِي الصَّلَاةِ , فَلَمَّا انْتَهَى اِلَى ” اِيَّاكَ نَعْبُدُ ” نُوْدِيَ كَذَبْتَ اِنَّمَا تَعْبُدُ زَوْجَتَكَ فَطَلَّقَ امْرَاَتَهُ , ثُمَّ شَرَعَ فِي الصَّلَاةِ , فَلَمَّا انْتَهَى اِلَى ” اِيَّاكَ نَعْبُدُ ” نُوْدِيَ كَذَبْتَ اِنَّمَا تَعْبُدُ مَالَكَ فَتَصَدَّقَ بِجَمِيْعِهِ , ثُمَّ شَرَعَ فِي الصَّلَاةِ , فَلَمَّا وَصَلَ اِلَى ” اِيَّاكَ نَعْبُدُ ” نُوْدِيَ كَذَبْتَ اِنَّمَا تَعْبُدُ ثِيَابَكَ فَتَصَدَّقَ بِهَا اِلَّا مَالَا بُدَّ مِنْهُ , ثُمَّ شَرَعَ فِي الصَّلَاةِ , فَلَمَّا وَصَلَ اِلَى ” اِيَّاكَ نَعْبُدُ ” نُوْدِيَ اَنْ صَدَقْتَ فَاَنْتَ مِنَ الْعَابِدِيْنَ حَقِيْقَةً

Diceritakan, ada seorang ahli ibadah yang sedang melaksanakan shalat. Ketika ia membaca Fatihah dan sampai pada kalimat “Iyyaaka Na’budu”, tiba-tiba tersirat dalam benaknya bahwa sesungguhnya dia adalah seorang hamba Allah yang sejati.

Setelah itu kemudian dia mendengar sebuah suara, “Kamu berbohong, karena sesungguhnya kamu masih mempertuhankan makhluk.” Maka dia pun bertaubat dan melakukan uzlah (menjauh dari keramaian manusia).

Kemudian dia melaksanakan shalat lagi. Ketika selesai membaca kalimat “Iyyaaka Na’budu”, dia mendengar sebuah suara yang berkata, “Kamu berbohong, sesungguhnya kamu masih takluk kepada istrimu.”. Maka dia pun menceraikan istrinya.

Saat dia melakukan shalat lagi dan telah selesai membaca “Iyyaaka Na’budu”, kemudian ia mendengar sebuah suara untuk yang ke sekian kalinya, “Kamu berbohong, sesungguhnya kamu masih memberatkan harta bendamu.”. Maka dia pun mensedekahkan seluruh harta bendanya.

Kemudian dia melaksanakan shalat lagi. Ketika telah selesai membaca kalimat “Iyyaaka Na’budu”, dia mendengar sebuah suara yang sama yang berkata, “Kamu berbohong, sesungguhnya kamu masih menyukai pakaianmu.”. Dia pun mensedekahkan seluruh pakaiannya, kecuali hanya sepotong pakaian yang digunakannya.

Akhirnya dia melaksanakan shalat lagi dan ketika telah selesai membaca kalimat “Iyyaaka Na’budu”, mendengar suara yang terakhir, “Sekarang kamu benar, dan kamu benar-benar telah menjadi seorang hamba yang sejati.”. waAllahu a’lam[]

Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban

Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan mulia yang terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Dari beberapa malam di dalamnya, malam Nisfu Sya’ban memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam. Pada malam yang bertepatan dengan tanggal 15 Sya’ban tersebut, Allah SWT menetapkan segala keputusan yang berhubungan dengan urusan manusia, baik yang berhubungan dengan kematian, rizki, perbuatan baik maupun buruk. Semua urusan tersebut merupakan ketentuan Allah SWT hingga datangnya bulan Sya’ban di tahun berikutnya.

Allah SWT sudah berfirman dalam Alqur’an;

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,”(QS. Ad-Dukhon: 3-4).

Yang dimaksud ‘malam yang diberkahi’ dalam redaksi ayat tersebut masih terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang berpendapat bahwa malam yang dimaksud adalah malam Lailatul Qodar dan sebagian yang lain berpendapat bahwa malam itu adalah malam Nisfu Sya’ban.

Dalam kitab Tafsir Al-Baghowi, sahabat ‘Ikrimah berkata, “Malam yang diberkahi tersebut adalah malam Nisfu Sya’ban. Pada malam tersebut ditetapkanlah segala urusan untuk masa satu tahun dan orang-orang yang hidup dihapus (daftarnya) dari orang-orang yang meninggal,”. [1]

Mengenai hal tersebut, Rasulullah SAW pernah menyinggung dalam sebuah hadis;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” تُقْطَعُ الآجَالُ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ يَنْكَحُ وَيُولَدُ لَهُ، وَلَقَدْ خَرَجَ اسْمُهُ فِي الْمَوْتَى

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; ajal seseorang ditentukan dari bulan Sya’ban ke bulan Sya’ban berikutnya, sehingga ada seseorang bisa menikah dan melahirkan, padahal namanya sudah tercantum dalam daftar orang-orang yang meninggal,”.[2]

Selain kaitannya yang sangat erat dengan proses penentuan segala urusan umat manusia. Malam Nisfu Sya’ban juga berkaitan dengan penutupan catatan amal di tahun tersebut. Segala amal yang diperbuat oleh manusia dilaporkan tanpa terkecuali, baik yang dalam periode harian, mingguan, bahkan tahunan. Laporan harian dilakukan oleh malaikat pada siang dan malam hari. Laporan amal mingguan dilakukan malaikat setiap hari Senin dan Kamis. Adapun periode tahunan dilakukan pada malam Lailatul Qodar dan malam Nisfu Sya’ban.[3]  Rasulullah SAW bersabda;

أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سُئِلَ عَنْ إكْثَارِهِ الصَّوْمَ فِي شَعْبَانَ فَقَالَ: إنَّهُ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Sesungguhnya rasulullah SAW ditanyai ketika Beliau memperbanyak melakukan puasa di bulan Sya’ban. Beliau menjawab; Sesungguhnya bulan sya’ban adalah bulan diangkatnya amal. Maka Aku senang amalku diangkat sementara Aku dalam keadaan berpuasa,”. 

Sebagai salah satu malam yang memiliki peran urgen dalam keberlangsungan umat manusia, Allah SWT juga menjanjikan besarnya ampunan yang diberikan-Nya pada malam itu. Muadz bin Jabal, sahabat Nabi, pernah mengatakan;

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Allah memperhatikan kepada semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Maka Dia memberi ampunan kepada semua makhluk-Nya, kecuali kepada orang musyrik dan orang yang bermusuhan” (HR. At-Thobroni dan Ibnu Hibban).[4]

Amalan di Malam Nisfu Sya’ban

Dalam rangka menggapai seluruh keutamaan yang ada pada malam Nisfu Sya’ban, banyak sekali dari umat Islam tidak melewatkan kesempatan emas itu dengan menghidupkan malam tersebut melalui berbagai macam akitvitas ibadah kepada Allah SWT.

Adapun yang sering dilakukan masyarakat tradisioanlis adalah dengan cara berkumpul di musholla atau masjid setelah waktu maghrib. Secara berkelompok mereka membaca surat Yasin sebanyak tiga kali dan diiringi dengan doa Nisfu Sya’ban di setiap akhir bacaan surat. Mengenai tata cara masalah ini sudah dijelaskan secara gamblang dalam kitab Kanzunnajah Was Surur. Dan dalam Kitab tersebut dipaparkan, hendaknya bacaan surat Yasin pertama diniati agar diberikan umur panjang, bacaan surat Yasin kedua diniati agar terhindar dari mara bahaya, bacaan surat Yasin ketiga diniati agar tidak memiliki ketergantungan terhadap orang lain.[5]

Adapun salah satu tendensi hukum tradisi tersebut adalah ketika sayyidah ‘Aisyah pada suatu malam kehilangan Rasulullah SAW. Ia pun bergegas mencarinya, ‘Aisyah menemukan suami tercintanya di Baqi’, nama komplek pemakaman bagi para sahabat Nabi dan para pejuang. Di tempat itu, Rasulullah SAW sedang menengadahkan wajahnya ke langit dengan mata sendu, terkadang pula meneteskan air mata. Mengetahui istrinya datang, Rasulullah SAW berkata;

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَنْزِلُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ مِنَ الذُّنُوبِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban, Tuhan menurunkan (rahmatnya) ke langit dunia. Dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang jauh lebih banyak dari jumlah bulu domba bani Kalb,” (HR. Turmudzi, Ahmad, dan Ibnu Majah).[6]

Menurut sumber informasi yang lain mengatakan;

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ

“Sesungguhnya Allah menampakkan diri pada malam Nisfu Sya’ban, dan mengampuni mereka yang meminta ampun dan menyayangi mereka yang ingin disayang, dan mengacuhkan mereka yang mendengki,”.

Dalam menyikapi salat-salat malam Nisfu Sya’ban para ulama masih berbeda pendapat. Adapun Imam An-Nawawi dalam al-Majmu’ berkomentar bahwa hal tersebut termasuk Bid’ah Qobihah. Namun berbeda lagi dengan Al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin dan beberapa ulama lain yang mengatakan hal tersebut justru merupakan sebuah kesunnahan.

Dalam silang pendapat ulama yang mengemuka ini, Al-Kurdi hadir dengan statemennya yang mengatakan bahwa perbedaan pendapat ini dipengaruhi atas dasar penilaian atas status hadis dari sisi sanad dan macam ritual yang disyariatkan pada malam Nisfu Sya’ban tersebut.[7]

Diakui ataupun tidak, selalu saja ada pengingkaran atas tradisi yang sudah menjamur di masyarakat. Namun, dengan menggunakan konsep dalil secara umum saja sudah mampu merobohkan pengingkaran tersebut. Sedangkan, terkait dengan berbagai aktifitas ibadah seperti membaca Alqur’an, salat sunah, istighfar dan semacamnya sudah dijelaskan oleh berbagai redaksi dalil yang masyhur baik itu dari Alqur’an ataupun Hadis. Semuanya berlaku secara mutlak terkecuali pada waktu yang telah ada nash-nash pelarangannya.

Dan pada akhirnya dapat dipahami bahwa kegiatan keagamaan untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dan berbagai kegiatan lain yang bernilai ibadah merupakan perkara yang selaras dengan syariat.[]. waAllahu a’lam.


[1] Tafsir Al-Baghowi, juz 7 hal 228.

[2] Fath Al-Mun’in Syarh Shahih Muslim, juz 5 hal 41.

[3] Hasyiyah Al-Jamal, juz 2 hal 350.

[4] Tuhfah Al-Ahwadzi, juz  3 hal 366.

[5] Kanzunnajah Was Surur, hal 48, Maktabah Dar Al-Hawi.

[6] Faid Al-Qodir, juz 2 hal 316.

[7] I’anah At-Thalibin, juz 1 hal 312, Maktabah Darul Fikr.

Keutamaan Salat Malam

Syahdan. Ada seorang laki-laki yang membeli budak. Setelah budak itu dia miliki, si budak berkata: “Wahai tuanku, izinkan saya meminta tiga persyaratan: Pertama, janganlah tuan melarang saya untuk melaksanakan salat ketika sudah masuk waktunya. Kedua, pekerjakanlah aku siang hari dan janganlah tuan mempekerjakan atau menyibukkanku saat malam hari. Ketiga, buatkanlah rumah untukku yang tidak boleh dimasuki siapapun kecuali diriku”. Sang majikan menjawab: “Akan aku kabulkan permintaanmu. Lihatlah rumah-rumah itu, silahkan kamu memilihnya”.

Budak itu mengelilingi dari satu rumah ke rumah lainnya. Akhirnya dia memilih sebuah rumah yang rusak, sebuah gubug yang tidak layak huni.

Mengetahui pilihan si budak, sang majikan bertanya: “Kenapa kamu memilih gubug itu?” Budak itu menjawab: “Wahai tuanku, apakah anda tidak mengerti bahwa sebuah rumah rusak ketika ada Allah SWT maka akan ramai dan akan menjadi taman?”. Sang majikan akhirnya mengiyakan pilihan si budak dan diapun lantas menempatinya.

Hingga suatu malam, laki-laki itu mengajak teman-temannya untuk sekedar minum dan bermain. Setelah jamuannya sudah habis dan teman-temannya pulang, ia pun pergi mengelilingi rumahnya dan tanpa disengaja ia melihat kamar budaknya yang bersinar dimana cahaya itu turun dari langit. Ia melihat budaknya sedang bersujud dan bermunajat kepada Tuhannya. Dia mendengar si budak berdoa: “Ya Allah, telah Engkau wajibkan atas diri hamba untuk untuk melayani majikan hamba di siang hari. Seandainya tidak seperti itu, hamba tidak akan menyibukkan diri ini dengan siapapun kecuali hamba sibukkan diri ini hanya kepadaMu di waktu siang dan malam hari. Untuk itu, ampunilah hamba”. Tanpa sadar, sang majikan tidak berhenti melihat budaknya yang sedang bermunajat itu hingga fajar muncul. Kilau cahaya dari langitpun kembali naik, hilang, tanpa merusak atap gubug tempat si budak bermunajat.

Sang majikan lantas menceritakan peristiwa malam itu pada istrinya. Pada malam selanjutnya, sang majikan beserta istrinya berdiri di pinggir kamar budaknya, mereka melihat kembali cahaya turun dari langit, sementara budaknya dalam keadaan bersujud, bermunajat kepada Allah hingga terbitnya fajar. Setelah itu mereka berdua memanggil budaknya dan mereka berkata: “Sesungguhnya kamu telah merdeka di hadapan Allah, sehingga kamu melayani orang yang sudah merepotkanmu.” Sang majikan menceritakan apa yang ia lihat bersama istrinya akan karomah yang si budak miliki. Ketika si budak mendengar cerita itu, ia lantas langsung mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah, bukankah hamba sudah berdoa kepadaMu agar menutup rahasia dan keadaan hamba. Maka ketika Engkau sudah membuka rahasia hamba ini, cabutlah nyawa hamba ini.” Dan seketika itu juga, budak itu terjatuh. Meninggal dunia.