Tag Archives: israel

Khutbah Idul Fitri: Memperkuat Persatuan Umat

(Khutbah Pertama)

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِ لَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَ هُ صَدَقَ وَعْدَ هُ وَ نَصَرَ عَبْدَ هُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَ هُ ، لَا إِ لَهَ إِلَّا اللهُ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُنَافِقُوْنَ ، لَا إِ لَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَالاَحَ هَلاَلٌ وَأَنْوَارٌ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Marilah kita ucapkan syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah SWT. Yang mana atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kita semua bisa berkumpul bersama dalam suasana hari kemenangan yang penuh suka cita ini, yakni hari raya idul fitri.

Tentunya yang menjadi manivestasi utama dari rasa syukur itu ialah meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya kapanpun dan dimanapun kita berada.

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Hari raya idul fitri adalah salah satu bentuk syiar umat Islam. Di hari kemenangan ini, marilah kita pertahankan kerukunan, persatuan dan kesatuan umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih lagi, di zaman yang seperti saat ini. Begitu maraknya berita, kabar, dan bahkan fenomena kebohongan di sekitar kita yang semakin sulit terbendung. Berita hoax, ujaran kebencian, adu domba, dan lain-lain telah menjadi ancaman nyata bagi kita semua, umat Islam, bahkan ancaman bagi seluruh elemen bangsa Indonesia. Tidak ada tujuan lain dari semua itu kecuali untuk memecah belah kerukunan umat dan mengadu domba bangsa kita.

Dengan demikian, formula terbaik dalam menyikapinya adalah dengan mempererat ikatan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wataniyah kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam al-Qur’an Allah SWT telah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai“. (QS. Ali Imran: 103)

Dalam penafsiran ayat tersebut, sahabat Ibnu Mas’ud menafsiri kata hablillah dengan arti jamaah atau perkumpulan. Seperti halnya yang telah Allah SWT firmankan dalam al-Qur’an, Rasulullah SAW pernah menyampaikan sebuah hadis tentang pentingnya sebuah persatuan dan bahaya perpecahan. Diriwayatkan dari al-Qadha’i, Nabi SAW bersabda:

اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

Persatuan adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab”.

Beberapa dalil tersebut telah memberi pemahaman bahwa Allah SWT dan Rasulllah SAW memerintahkan terhadap kita semua untuk menjaga persatuan dan kerukunan umat serta menjauhi permusuhan dan perpecahan. Dan seandainya terjadi sebuah perbedaan, itu adalah sebuah keniscayaan. Karena pada dasarnya perbedaan yang dilarang adalah setiap perbedaan yang berdampak pada kehancuran dan perpecahan di antara umat Islam. Sehingga kita semua diharuskan pandai dan bijak dalam menyikapi perbedaan yang ada.

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Kerukunan dan persatuan harus terus kita pertahankan, terlebih lagi kita sadari bahwa sebentar lagi kita semua akan merasakan atmosfer udara pesta demokrasi. Percaturan dunia politik, permaninan elit, bahkan spekulasi strategi tak lama lagi akan berada di sekeliling kita semua. Apabila tidak disikapi secara bijak, semuanya akan berpotensi besar akan membawa dampak buruk. Silahkan memiliki pilihan yang berbeda. Namun perbedaan pilihan itu jangan sampai mencederai kerukunan dan persatuan di antara kita semua.

Persoalan pemimpin dalam Islam sangat krusial. Ia dibutuhkan dalam masyarakat atau komunitas bahkan dalam lingkup yang sangat kecil sekalipun. Adanya pemimpin mengandaikan adanya sistem secara lebih terarah. Tentu saja pemimpin di sini bukan seseorang dengan otoritas mutlak. Ia dibatasi oleh syarat-syarat tertentu yang membuatnya harus berjalan di atas jalan yang benar. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda:

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

Bila ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya.” (HR Abu Dawud)

Hadits ini memuat pesan bahwa kepemimpinan adalah hal penting dalam sebuah aktivitas bersama. Perjalanan tiga orang bisa dikatakan adalah kegiatan yang dilakukan oleh tim kecil. Artinya, perintah Nabi tersebut tentu lebih relevan lagi bila diterapkan dalam konteks komunitas yang lebih besar, mulai dari tingkat rukun tentangga (RT), rukun warga (RW), desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga negara. Juga ada lingkup-lingkup aktivitas lainnya yang memperlukan kebersamaan. Hadirnya pemimpin membuat kerumunan massa menjadi kelompok (jamaah) yang terorganisasi. Ada tujuan, pembagian peran, dan aturan yang ditegakkan bersama.

Sebagai warga negara, kita harus berpartisipai aktif dalam pemilihan kepala daerah yang tak lama lagi akan digelar dengan menggunakan hak pilih kita. Dengan ikut andil di dalamnya, berarti kita semua turut berperan aktif dalam melancarkan misi untuk menciptakan hubungan timbal balik dan keharmonisan antara agama dan negara.

Namun yang menjadi tugas penting kita adalah bagaimana tetap menjaga kondusivitas selama pesta demokrasi ini berlangsung. Kita semua harus tetap memegang teguh dan memprioritaskan asas persatuan dan kesatuan. Karena kesatuan tidak hanya sebatas menjaga kita semua dari segala ancaman yang telah ada di depan mata. Melainkan kesatuan sangat dibutuhkan demi menciptakan kemaslahatan bersama.

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Pesan kedamaian, persatuan, dan kesatuan ini merupakan salah satu misi jam’iyah Nahdlatu ‘Ulama (NU). Karena di dalam konsep sosial Aswaja An-Nahdliyah, selalu ditekankan akan pentingnya arti kerukunan, terlebih lagi persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bagaimanapun, jami’yah Nahdlatu Ulama menganggap bahwa eksistensi sebuah negara merupakan elemen paling penting dalam mengimplementasikan serta menerapkan ruh syariat islam dalam kehidupan sehari-hari.

Al-Ghazali, sang argumentator islam pernah berkata dalam salah satu karya monumentalnya, Ihya’ Ulumuddin:

اَلمُلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

Kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar. Agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya. Sesuatu yang tidak memiliki landasan pasti akan tumbang. Sedangkan sesuatu yang tidak memiliki pengawal akan tersia-siakan.”

Indonesia itu seperti Negara Madinah yang dibangun atas dasar kesepakatan antar elemen bangsa yang berbeda untuk hidup bersama di bawah bendera NKRI. Maka dari itu, tidak ada alasan lagi untuk terus mempertahankan dan memegang teguh jam’iyah Nahdlatul ‘Ulama (NU).

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Marilah kita jadikan idhul fitri kali ini untuk kembali memahami fitrah dasar manusia. Fitrah yang diciptakan untuk saling mengasihi dan saling menyayangi. Kita jadikan idul fitri sebagai momentum untuk merajut kembali tali kerukunan, kebersamaan, dan persatuan bagi bangsa kita dan Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmatnya serta menjadikanya baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur Amin ya rabbal ‘alamin.

إِنَّ اَحْسَنَ الْكَلاَمِ كَلاَمُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلاَّمِ  وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالىَ يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِى الْمُهْتَدُوْنَ
أَعُوْذُ بِا للهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)
باَ رَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ .إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ

***

(Khutbah Kedua)

   اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ مَنَّ عَلَيْنَا بِهَذِهِ الصَّبِيْحَةِ الْمُبَارَكَةِ اللاَّمِعَةِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ذِي اْلأَنْوَارِ السَّاطِعَةِ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ .أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه . اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وأصْحابِهِ وَمَنْ وَالَاهْ.
أَمَّا بَعْدُ:  فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ تَكُوْنُوْا عِنْدَهُ مِنَ الْمُفْلِحِيْنَ الْفَائِزِيْنَ. وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلىَ خَاتَمِ النَّبِيّيْنَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ ، فَقَدْ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ الرَّبُّ الْكَرِيْمُ فَقَالَ سُبْحَانَهُ قَوْلاً كَرِيْمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا .اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ عَلا بِهِمْ ‏مَنَارُ اْلإِيْمَانِ وَارْتَفَعَ، وَشَيَّدَ اللهُ بِهِمْ مِنْ قَوَاعِدِ الدِّيْنِ ‏الحَنِيفِ مَا شَرَعَ، وَأَخْمَدَ بِهِمْ كَلِمَةَ مَنْ حَادَ عَنِ الْحَقِّ ‏وَمَالَ إِلَى الْبِدَعِ.، اَللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ خُلَفَائِهِ اْلأَرْبَعَةِ سَادَاتِنَا أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ رَسُوْلِكَ أجَمْعَيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا ‏وآمِنْ رَوْعَاتِنَا وَاكْفِنَا مَا أَهَمَّنَا وَقِنَا شَرَّ مَاتَخَوَّفَنَا
عِبَادَ الله. اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ .

 

Teks Khutbah Idul Fitri 1439 H. versi pdf bisa didownload di link ini.

Kematian Tragis Sang Manusia Sadis

Dikisahkan, dulu bangsa Israel memiliki satu orang yang terkenal sebagai ahli ibadah di masanya. Ia bernama Barshisho, ia dikenal sejak lama sebagai ahli ibadah yang masyhur di kalangan umat manusia pada zaman itu.

Suatu hari, lahirlah seorang putri kerajaan di suatu negara. Sebagai pewaris tahta kerajaan, sang raja tak ingin putrinya terkontaminasi pergaulan bebas bersama laki-laki yang ada di lingkungannya. Sebagai pilihan, sang raja akhirnya mengirimkan putrinya yang masih belia di asrama yang diasuh oleh orang yang ahli ibadah di masa itu, yakni Barshishoh. Sehingga sejak saat itu juga tidak ada satu orangpun yang mengetahui keberadaan putrinya.

Waktu terus berjalan, putri raja yang dulu masih kanak-kanak di asrama itu kini tumbuh menjadi seorang remaja cantik. Pada suatu hari datanglah setan dengan menyamar sebagai lelaki tua. Setan itu telah membujuk Barshisho untuk memperkosa putri sang raja. Akhirnya Barshisho kalah akan bujuk rayu tersebut menyetubuhi putri sang raja yang berada di bawah asuhannya.

Ketika kehamilan putri raja semakin membesar, setan datang menghampiri Barshisho. Lantas berkata, “Engkau terkenal sebagai orang yang zuhud. Apabila putri raja sampai melahirkan, maka akan tersebar kasus persetubuhan yang telah kau lakukan. Kasus itu akan mencoreng nama baikmu di mata masyarakat luas”.

Maka bunuhlah putri raja itu sebelum ia melahirkan. Dan katakan pada sang raja bahwa anaknya meninggal dunia seperti biasanya. Dengan begitu raja pasti akan mempercayaimu. Setelah itu kuburlah putri raja itu dan kasusmu tidak akan diketahui oleh siapapun”, setan melanjutkan bujuk rayunya.

Setalah merenung beberapa saat, Barshisho menuruti bujukan setan. Akhirnya  ia nekad membunuh sang putri. Lantas memberitahukan akan kabar meninggalnya sang putri terhadap raja serta meminta izin untuk menguburnya. Dalam keadaan sedih, sang rajapun mengizini Barshisho untuk mengubur putrinya.

Usaha setan untuk menyesatkan umat manusia tak berhenti sampai di situ. Kali ini ia mendatangi raja dengan menyamar menjadi seorang ulama. Dalam penyamarannya itu, setan menceritakan kejadian sebenarnya tentang apa yang telah dilakukan Barshisho terhadap putrinya.

Galilah kuburan putrimu, kemudian bedahlah perutnya. Apabila engkau melihat janin dalam perutnya, maka apa yang kuceritakan benar. Apabila sebaliknya, maka bunuh saja diriku” ujar setan itu dalam penyamarannya.

Atas dasar ujaran setan, sang raja akhirnya benar-benar mencari tempat persemayaman putrinya. Kuburan itu digali, mayatnya dikeluarkan, dan perutnya dibedah. Ternyata, apa yang dikatakan setan benar, terdapat janin di dalam perut sang putri.

Akhirnya sang raja mencari Barshisho atas dugaan kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap putrinya. Barshisho ditangkap dan dibawa ke negaranya untuk dihukum. Barshisho pun akhirnya divonis menjalani hukuman salib.

Setan menghampiri Barshisho yang tak berdaya di tiang salib. Lantas berkata, “Engkau telah berzina atas bujukanku, dan kau telah membunuh nyawa seseorang juga atas perintahku. Maka berimanlah kepadaku, niscaya akan kuselamatkan dirimu dari siksaan raja tersebut”.

Kali ini, Barshisho benar-benar menjadi orang yang celaka. Ia beriman kepada setan itu. Namun setan justru pergi menjauhi Barshisho.

Mengapa kau tak menyelamatkan aku?” tanya Barshisho.

Sesungguhnya aku saja takut kepada Allah, Tuhan sekalian alam” jawab setan seraya meninggalkan Barshisho yang telah kufur dan beriman kepadanya. Naudzubillahi min Dzalika.

[]waAllahu a’alam bis Shawab

 

____________________

Disarikan dari kitab an-Nawadir, karya syekh Ahamd Syihabuddin bin Salamah al-Qulyubi, hlm 50-51, cet. Al-Haromain.

 

Instruksi Qunut Nazilah untuk Palestina

LirboyoNet, Kediri—Dalam Rapat Pleno II Pondok Pesantren Lirboyo tadi malam (18/12), secara resmi ditetapkan instruksi membaca qunut nazilah yang diperuntukkan bagi keselamatan rakyat Palestina.

Dulur kito dicubo kemlaratan, monggo sami dungaaken. Dulur Palestina disikso, arek-arek cilik dipateni. Ayo podo dungo, (Saudara kita sedang sengsara, mari kita Doakan bersama. Saudara kita di Palestina disiksa, anak-anak kecil dibunuh. Mari kita semua berdoa)” perintah KH. M. Anwar Manshur.

Instruksi ini ditujukan kepada seluruh jajaran kepengurusan Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL),  dari Pengurus Wilayah, hingga Pengurus Anak Cabang. Selain itu, instruksi qunut nazilah juga dihimbaukan kepada seluruh muslim, di manapun ia berada.

Semoga rahmat dan keselamatan tak henti menaungi mereka, dan laknat ditimpakan pada musuh-musuh mereka. Amin.

Teks surat perintah dan Qunut Nazilah bisa didownload di sini. Di dalam file ini, ada dua teks Qunut Nazilah. Pertama, Qunut Nazilah yang biasa dibaca oleh KH. Mahrus Aly. Kedua, adalah teks yang diterbitkan oleh PBNU pada tahun 1938 M dahulu.

Al-Aqsha dan Penaklukan Umar ra.

Jerusalem memang telah jadi tempat di mana syak wasangka bertebar dengan mudah, seperti puing dari perang yang belum lama lalu. Barangkali itu memang nasibnya. Seorang firaun dari Mesir pernah menyerbunya, kekuasaan Babilonia pernah melindasnya, kemudian Roma, dan kemudian—di tahun 614—pasukan Persia.

Penduduk Jerusalem hari itu dibantai, dan gereja-gereja dibumihanguskan. Menurut cerita, dalam perang sebelumnya orang Yahudilah yang dihabisi, sedang dalam penyerbuan Persia kali ini justru sebaliknya yang terjadi: orang Yahudi Jerusalemlah yang membantu tentara Persia untuk membunuhi orang Kristen. Maka dengan kemarahan besar, demikianlah menurut sang empunya legenda, orang-orang Kristen menempeli altar yang terkenal sebagai Batu Karang itu (kini Masjid Qubbat ash-Shakhrah/Dome of The Rock) dengan kotoran hewan.

Memang, kebencian sepertinya bukan barang asing di Jerusalem. Tetapi, pada tahun 637 M Khalifah Umar bin Khaṭṭāb ra. berhasil memasukinya. Kota tua itu telah dikalahkannya dengan cara damai. Tak ada pembantaian, tak ada penghancuran. Yang ada hanya seorang khalifah dari Mekah yang berpakaian lusuh dan memandang dengan takzim sebuah kota yang telah direbutnya. Di sana, di Bukit Zaitun, ia merundingkan perdamaian dengan penguasa Jerusalem saat itu, Patriark Sophronius. Setelah perdamaian dicapai, Umar ra. lantas meminta Sophronius untuk menunjukkan lokasi Haikal Sulaiman[1]. Sang Patriark pun mengiyakan, dan ia memandu Umar beserta rombongan 4.000 sahabat yang mengikutinya saat itu menuju tempat di mana Nabi mereka di-miʻrāj-kan. Namun, Sophronius justru membawa rombongan orang-orang Muslim itu ke Gereja Makam Kristus, dan mengabarkan kepada mereka bahwa tempat itulah yang disebut Haikal Sulaiman. Umar, yang dulu pernah diberitahu Nabi tentang ciri-ciri Haikal Sulaiman, melihat-lihat tempat itu dan mulai mencurigai kabar dari sang patriark tersebut. Ia pun berkata kepada Sophronius, “Engkau bohong! Sungguh, Rasulullah menyebutkan sifat-sifat masjid Daud tidak seperti bangunan ini.”

Umar bersama para rombongannya pun, tanpa mempercayai Sophronius lagi, terus menerus mengelilingi Jerusalem, mencari-cari letak Haikal Sulaiman. Ketika kemudian ia secara kebetulan melihatnya, ia berhenti. Pintu bangunan tua itu sudah sesak dengan tahi, hingga Umar bersama para rombongannya harus bersusah payah dan sambil merangkak untuk dapat masuk ke bagian dalam. Begitu tiba, di sana mereka dapat berdiri tegak dan mendapati kenyataan yang miris: betapa tempat suci itu telah menjadi tempat pembuangan sampah dan tahi. Maka dengan selendangnya, sang khalifah menyingkirkan kotoran yang telah mengering itu sehingga membuat yang lain tergerak berbuat hal yang sama. Setelah itu, Umar meminta pendapat kepada Kaʻab al-Aḥbār, “Menurutmu, di mana kita harus mendirikan sebuah masjid?” Kaʻab memberi saran, “Dirikanlah di belakang (utara) ṣakhrah sehingga bisa menghadap ke dua kiblat sekaligus, yaitu kiblat Musa dan kiblat Muhammad.”

Tetapi Umar menolak, karena menurutnya hal itu menyerupai ibadah orang-orang Yahudi. Umar pun tidak membangun sebuah masjid di belakang ṣakhrah, melainkan justru membangunnya di depan (selatan) ṣakhrah sehingga kiblatnya hanya mengarah kepada Kaʻbah dan membelakangi ṣakhrah. Ia pun membangunnya dengan bentuk bangunan yang amat bersahaja. Umar dalam penaklukan itu bahkan menjamin keamanan dan memberikan akses bagi para peziarah, siapa pun dan dari agama apapun, untuk pergi ke Tanah Suci, tak terkecuali orang-orang Yahudi yang bertahun-tahun sebelumnya terusir dari sana …

 

Penulis, Vawrak Tsabat, Pasuruan, mutakharijin MHM PP Lirboyo tahun 2017, sekarang menjadi pengurus Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo.

[1] Haikal Sulaiman adalah sepetak besar Masjid al-Aqsha yang dibangun oleh Nabi Sulaiman as. Oleh Nabi Sulaiman as., komplek Masjid al-Aqsha dibangun dengan masjidnya menjulang megah, dengan dihiasi patung kijang emas dan gemerlap mutiara merah di antara kedua matanya. Selengkapnya baca artikel Gemerlap Al-Aqsha, Dulu

Gemerlap Al-Aqsha, Dulu

Seperti Kaʻbah, Masjid al-Aqsha pertama kali didirikan oleh Nabi Adam as. (6216 SH/+5591 SM). Bapak manusia itu, atas perintah Tuhan, 40 tahun setelah mendirikan Kaʻbah, meletakkan dasar-dasar dan batas-batas Baitul Makdis. Kemudian pada peristiwa Ṭūfān (banjir maha dashsyat pada era Nabi Nuh as. [+3949 SM]) yang menenggelamkan seluruh pemukaan bumi, dasar dan batas kedua masjid itu menjadi kabur. Allah swt. kemudian memperlihatkan dasar dan batas Kaʻbah kepada Nabi Ibrahim as. (2893 SH/2271 SM) sekaligus menitahkannya untuk mendirikan kembali. Dengan dibantu Nabi Ismail as., putranya, Nabi Ibrahim as. pun meletakkan dasar dan batas bangunan kubus itu. Sebelumnya, dasar dan batas Baitul Makdis diletakkan kembali oleh salah seorang putra Nabi Nuh as. yang setelah peristiwa Ṭūfān diperintahnya untuk bermukim di sana, yaitu Sām bin Nuh as.[1]

Kemudian Baitul Makdis terus mengalami pembaruan pembangunan. Dasar dan batas yang semula diletakkan kembali oleh Sām bin Nūh as., bangunannya diperbarui lagi oleh Nabi Ibrahim as. setelah Kaʻbah selesai didirikannya,[2] kemudian diteruskan oleh seorang cucunya yang menjadi kakek moyang Bani Israel, Nabi Yaʻkub as. (+1837 SM). Lalu, bangunan itu diperbarui lagi oleh Nabi Daud as. (+ 1000 SM).[3]

Sebuah riwayat menuturkan, Nabi Daud as. membangun Baitul Makdis sebagai ekspresi rasa syukur kepada Tuhan karena pertaubatannya telah diterima, dan ia melihat Bani Israel telah hidup dalam kesejahteraan lahir dan batin. Untuk itu, Nabi Daud as. ingin membangunnya secara besar-besaran, bahkan ia menyiapkan ratusan ribu emas, jutaan perak, dan 300.000 ribu dinar sebagai anggaran pembangunan. Bani Israel pun, atas perintah pemimpinnya itu, bergotong royong membangun Baitul Makdis.

Tetapi, sebelum pembangunan betul-betul sempurna, Nabi Daud as. dikunjungi ajalnya, dan ia berwasiat kepada sang putra, Nabi Sulaiman as. (+ 962 SM) agar melanjutkan dan merampungkannya. Maka, di bawah tangan seorang nabi yang menjadi raja terbesar sepanjang sejarah manusia itu, Baitul Makdis menjadi bangunan yang luar biasa indah dan megah. Betapa tidak, untuk proyek pembangunan ini Nabi Sulaiman as. mempekerjakan cerdik pandai dari golongan manusia dan jin, ʻIfrīt dan para pembesar setan; kesemuanya dikoordinasikan menjadi beberapa tim kerja, mulai dari tim arsitek, tim pemahat, sampai tim pencari bahan bangunan dan tim penyelam untuk mencari mutiara-mutiara di kedalaman samudera.

Diperkirakan seluruh pekerja proyek pembangunan ini kurang lebih sebanyak 30.000 pekerja, 10.000 pemotong kayu yang harus menyiapkan 10.000 potong kayu setiap bulan, 70.000 pemahat batu dan 300 mandor–hitungan ini pun tanpa menghitung jumlah pekerja dari bangsa jin dan setan. Walhasil, tiada yang kuasa menandingi kemegahan dan keelokan Baitul Makdis, baik dari segi desain dan ornamen-ornamen yang menghiasinya–seperti pagar dan pilar yang berhias emas, perak, intan yaqut, marjan, mutiara, dan lain sebagainya, maupun dari segi teknik bangunan dan gaya arsitekturnya.

Baitul Makdis menjulang megah dengan ketinggian batu altar 12 hasta dan ketinggian kubah 18 mil yang di atasnya dihiasi patung kijang emas dengan gemerlap mutiara merah di antara kedua matanya, sampai-sampai para wanita daerah Balqāʼ saat itu (perjalanan dua hari dari Baitul Makdis) bisa memintal dengan diterangi pantulan mutiara tersebut. Dan, di malam hari bangunan itu saja yang memancarkan cahaya terang benderang menyinari kegelapan, bagai purnama.[4]  Bangunan itulah yang kemudian dikenal dengan Haikal Sulaiman (Temple of Solomon).

Setelah pembangunan Baitul Makdis yang maha megah itu rampung, Nabi Sulaiman ỿ lantas mengumpulkan seluruh kaum Bani Israel. Ia mendeklarasikan bahwa bangunan itu telah menjadi milik Allah swt. Adalah Allah swt. yang memberi titah untuk membangunnya. Maka, setiap benda di dalamnya adalah untuk Allah swt. Barang siapa merusak bangunan itu atau benda di dalamnya, ia betul-betul berkhianat kepada Allah swt.[5]

Dalam sebuah kesempatan Nabi Muhammad saw. berkisah,

“Sesungguhnya Sulaiman ketika membangun Baitul Makdis, ia memohon kepada Tuhannya tiga permohonan. Tuhan mengabulkan dua permohonan Sulaiman itu, dan aku berharap Ia juga mengabulkan permohonannya yang ketiga. Sulaiman memohon kepada Tuhan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, lalu Ia pun mengabulkannya; Sulaiman memohon kepada Tuhan sebuah kerajaan besar yang tak dapat ditandingi oleh seorang pun, lalu Ia pun mengabulkannya. Dan, Sulaiman memohon kepada Tuhan agar setiap orang yang keluar dari rumahnya dan tak bertujuan apapun selain melakukan shalat di Baitul Makdis, dosa-dosanya diampuni seperti ketika ia baru dilahirkan.”[6]

Dikutip dari buku Rihlah Semesta Bersama Jibril as., karya Tim Forum Kajian Ilmiah KASYAF, Purna Siswa III Aliyah 2017 MHM Lirboyo.

[1]        Mujīr ad-Dīn , al-Uns al-Jalīl, vol. 1, h. 30.

[2]        Ibn ʻĀsyūr, atTaḥrīr…., vol. 14, h. 14.

[3]        Ibid., vol. 1, h. 113-116.

[4]        Mujīr ad-Dīn , al-Uns al-Jalīl, vol. 1. h, 118-120.

[5]        Ibid., h. 122.

[6]        Muhammad bin ʻAlawiy, Wahuwa…, h. 170.