Category Archives: Uncategorized

Khutbah Jum’at: Sholat kunci Hidup Sukses

اَلْحَمْدُ للهِ العظِيمِ شَأْنُهُ الدَّائِمْ سُلْطانُهُ الْحَمِيْمْ إِحْسانُهُ الْجَزِيْل اِمْتِنَانُه. فَسُبْحانَ مَنْ أَطلَعَ شَمْسَ مَعْرِفَتِه فِي قُلُوْبِ أَهْلِ مَحَبَّتِه. وَأَكْمَلَ عَلَيْهِمْ فَضْلَهُ وَإِحْسَانَه.وَأَرْسَلَ غَيْثَ إِعانَتِهِ إِلَى قُلُوْبِ أَهْلِ وِلَاَيتِه.أَحَمَدُهُ سُبْحانَهُ على مَا أَوْلَاهُ مِنْ عَمِيْمِ كَرَمِه  وَوَاسِعِ إِحْسانِه.وَأَشْكُرُ شُكْرِيْ مِنْ مَنِّهِ فَكَيْفَ أَبْلُغُ شُكْرَانَه. وأشهدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ شَهادَةً شاهِدَةً بِصِدْقِ شاهِدِها وإِيْقانِه. وأشهدُ أَنَّ سَيِّدَنا محمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُوْلُه الْمُطَهَّرُ سِرُّهُ وإِعْلَانُه نَبيٌّ أَظْهَرَ اللهُ بهِ الْحَقَّ وأَبانَه. اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على عَبدِك ورَسُولِك مُحَّمدٍ وعَلى آلِهِ وأَصْحَابِه  بُدُوْرِ الدُّجَى ونُجُوْمِ الاِهْتِدْاء  وَلُيُوْثِ الْعِدا وسَحائِبِ النَّدَى الْهَتَّانَه .أمّا بعدُ. يآأَيُّهاالَّذِيْنَ آمنُوا اتَّقُوا اللهَ وقُوْلُوا قَوْلًا شَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ ويَغْفِرْ لَكُمْ دُنُوْبَكُمْ ومَنْ يُطِعِ اللهَ ورَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Jama’ah Jum’at Yang berbahagia …

            Memasuki tahun baru ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt., dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Marilah kita segarkan kembali nilai-nilai keimanan dan keislaman dalam hati, dan wujudkan dalam perilaku sehari-hari.

 Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah Swt. …

            Salah satu wujud nyata kesempurnaan iman seseorang dapat tergambar dalam pelaksanaan sholat. Sholat merupakan salah satu komponen bangunan agama Islam. Ia bagaikan pendirinya agama ini. Jika sholat tidak ditegakkan, bisa dipastikan agama ini akan roboh. Suatu waktu Rasulullah Saw. ditanya oleh seorang laki-laki perihal sesuatu apakah yang paling di cintai Allah dalam agama Islam. Rasulullah menjawab :

الصَّلاةُ لِوَقْتِها ومَنْ تَرَكَ الصَّلاةَ فَلَا دِيْنَ لَهُ والصَّلاةُ عِمادُ الدَّيْنِ

Artinya : ” ( Yang paling dicintai disisi Allah) adalah sholat pada waktunya. Barang siapa yang meniggalkan sholat, maka tidak ada agama baginya, dan sholat adalah tiang agama. “ ( H.R. al-Baihaqi ).

            Sholat juga merupakan kunci segala pintu kebaikan. Sebab, dengan sholat seseorang akan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Allah Swt. berfirman dalam al-Qur’an :

وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Artinya : “ Dan dirikanlah sholat, sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain). ( Q.S. Al-‘Ankabut: 45).

Jama’ah Sholat Jum’at yang berbahagia …

            Alhamdulillah di Indonesia khusunya, syiar Islam bisa bergema hampir di seluruh cakrawala. Sholat berjama’ah ditegakkan di masjid dan surau-surau, baik di perkotaan ataupun di pedesaan. Akan tetapi, ada hal yang perlu kita renungkan, mengapa perbuatan maksiat dan mungkar masih sering kita dengar dan kita lihat ?, mengapa tindak kejahatan dan kriminalitas masih memenuhi kabar berita setiap hari ? Bukankah sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar?.

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah Swt. …

            Satu hal yang perlu kita garis bawahi adalah, sholat dapat berfungsi sebagaimana dalam firman Allah Swt. tersebut jika dilaksanakan dengan khusu’. Sholat bukan hanya ibadah lahiriyah dengan gerakan anggota tubuh saja. Shalat adalah ibadah hati dan fikiran untuk mengingat Allah Sang Pencipta. Menyadari kelemahan diri sebagai hamba yang tak berdaya. Allah Swt. berfirman dalam al-Qur’an :

إِنَّنِي أَنا اللهُ لاإِلَهَ إِلَّا أَنا فَاعْبُدْنِيْ وأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

Artinya : “ Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada  Tuhan (yang hak) Selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat unutk mengingatku “ ( Q.S Thaha : 14 ).

Jama’ah Sholat Jum’at yang budiman …

            Istilah Khusu’ dalam sholat ada dua macam, khusu’ lahiriyah dan khusu’ batiniyah. Khusu’ lahiriyah  artinya melaksanakan sholat  sesuai syarat dan rukun sholat yang sempurna, sesuai tata cara yang telah di ajarkan Rasulullah. Mulai dari bersuci, menutup aurat, hingga pelaksanaan rukun-rukun sholat. Sedangkan khusu’ batiniyah adalah mengkonsentrasikan hati dan fikiran untuk selalu mengingat Allah. Sholat yang demikian inilah yang bisa menghantarkan seorang mukmin kepada keberuntungan, dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. Allah Swt. berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ .

Artinya : “ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya “ ( Q.S. al-Mukminun : 1-2 ).

            Sholat adalah gambaran akhlak seseorang, sholat adalah miniatur dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya, jika seseorang melaksanakan sholat dengan khusu’, niscaya perilaku kesehariannya akan tertata dengan disiplin dan rapi. Setidaknya, ada beberapa hikmah sholat khusu’ yang secara langsung dapat berpengaruh pada keseharian seseorang, di antaranya :

            Pertama, pelaksanaan sholat secara disiplin mengajarkan seseorang untuk membagi waktunya secara teratur. Terbiasa memperhatikan waktu sholat akan mempengaruhi disiplin waktu dalam segala aktifitas.

            Kedua, sholat dengan khusu’ juga membuat seseorang terbiasa hidup bersih dan rapi. Sebab sholat harus dilaksanakan dalam keadaan suci dari hadast dan najis. Setiap kali hendak melaksanakan sholat maka harus bersuci terlebih dahulu, membersihkan baju dan tempat yang di buat ritual sholat terhindar dari kotoran dan najis. Dengan demikian, akan terciptalah kepribadian yang bersih dan mecintai kebersihan.

            Ketiga, sholat khusu’ juga memberikan pelajaran untuk melakukan pekerjaan dengan penuh konsentrasi. Tidak memikirkan hal-hal yang lain sebelum pekerjaan itu terselesaikan. Dengan demikian, setiap pekerjaan akan terselesaikan dengan cepat dan maksimal.

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang di rahmati Allah …

            Marilah kita introspeksi diri, sudahkah kita laksanakn sholat dengan khusu’ dan benar ? mari kita rubah hal-hal yang salah dan kita perbaiki untuk mencapai kepada kesempurnaan. Sholat yang kita lakukan agar benar-benar menjadi  media pedekatan kita kepada Allah. Bukan menjadi penyebab kita semakin jauh dari Allah. Sebab, lalai dalam sholat merupakan penyebab seseorang mejadi celaka. Allah Swt. berfirman dalam al-Qur’anul Karim :

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Artinya : “ Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya.”. ( Q.S al-Ma’un : 4-5 ).

            Marilah kita perbaiki sholat kita agar benar-benar mencegah perbuatan keji dan mungkar. Menjauhkan kita dari murka Allah dan mendekatkan kita pada ridha-Nya. Rasulullah bersabda :

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاتُهُ  عَنِ الْفَحْشَاءِ والْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إلَّا بُعْدًا

Artinya : “ Barang siapa yang sholatnya tidak bisa mencegah dari perbutan keji dan mungkar, maka ia tidak akan bertambah kecuali semakin jauh dari Allah. (H.R. ath-Thobroni ).

Jama’ah Jum’at yang berbahagia …

            Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu memperbaiki perilaku kita dan meningkatkan ketakwaan. Menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan esok lebih baik dari sekarang.

أَعُوذُ بِاالله مِنَ الشَّيطانِ الرَّجِيمِ. وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُقَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ,الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ .بارَكَ اللهُ لِي ولَكُمْ فِي الْقُرْءانِ الْعَظِيمِ  ونَفَعَنَا وإِيَّاكُمْ مِنَ الْآياتِ  وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ إِنَّه تعالى جَوادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ.وأَشْهدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ.اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنا على عَبْدِكَ  ورَسُولِك محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَااتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أمّا بعدُ ) فيَآايُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ تعالى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وما بَطَنَ وحافَظُوا على الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والجَماعَةِ .

وَاعْلَمُوا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ  فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ. فَقالَ تعالى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ  كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبراهِيمَ وعلى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ و عُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ.

اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَة ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ. اللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسلمينَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ. ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ. اللَّهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنا وأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا. وَاجْعَلِ اللَّهمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ. اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِمينَ والمُسلماتِ والمُؤْمنينَ والمُؤْمِناتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الآخرة حَسَنَةً  وقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى  ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ       وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.

Baca juga:
PUASA AKHIR & AWAL HIJRIYAH, BID’AH?

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

Kupas Tuntas Pandangan Ulama Kontemporer tentang Penggunaan Alkohol sebagai Komposisi Hand Sanitizer

Di tengah pandemi Covid-19, membiasakan pola hidup sehat secara disiplin dinilai efektif dalam mencegah dan mengantisipasi penyebaran virus Corona. Untuk itu, himbauan kepada masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan dilakukan secara masif.

Salah satu cara menerapkan pola hidup sehat di tengah pandemi Covid-19 ialah penggunaan cairan antiseptik pembersih tangan atau dikenal dengan nama hand sanitizer. Kendati hand sanitizer dapat dibuat dengan berbagai macam jenis bahan dasar, namun zat alkohol menjadi komposisi utama dengan kadar di atas 60 persen. Realita tersebut masih menyisakan pertanyaan, khususnya terkait hukum penggunaan zat alkohol serta status kesuciannya sebagai bahan baku utama pembuatan hand sanitizer.

Dalam sudut pandang syariat, pada dasarnya tidak ada keterangan definitif nash Alquran, Sunnah, dan fikih klasik yang secara jelas (shorih) mengenai status alkohol. Dalam fikih klasik, persoalan semacam ini diklasifikasikan ke dalam pembahasan arak (khamr), yaitu zat cair yang dapat memabukkan (muskir) serta dihasilkan dari ekstrak anggur basah. Sebagaimana penjelasan Sayyid Abi Bakr Syato ad-Dimyati dalam kitab I’anah at-Thalibin berikut:

إِنَّ الْخَمْرَ هِيَ الْمُتَّخَذَةُ مِنْ عَصِيْرِ الْعِنَبِ، وَهَذَا بِاعْتِبَارِ حَقِيْقَتِهَا اللُّغَوِيَّةِ. وَأَمَّا بِاعْتِبَارِ حَقِيْقَتِهَا الشَّرْعِيَّةِ فَهِيَ كُلُّ مُسْكِرٍ وَلَوْ مِنْ نَبِيْذِ التَّمْر أَوِ الْقَصْبِ أَوِ الْعَسَلِ أَوْ غَيْرِهَا، لِخَبَرٍ كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ

Sesungguhnya khamr merupakan sesuatu yang diambil dari perasan anggur basah. Pengertian ini menimbang sudut pandang kata. Adapun apabila menimbang sudut pandang syariat, khamr merupakan setiap sesuatu yang memabukkan walau berasal dari perasan kurma, tebu, madu atau selainnya. Berdasarkan hadis: setiap perkara yang memabukkan termasuk khamr dan setiap khamr hukumnya haram.” (Al-Bakri, I’anah at-Thalibin, vol. I hlm. 110)

Pada titik ini, ketika zat alkohol dianalogikan dengan khamr dengan illat (alasan) hukum berupa kemampuannya yang dapat memabukkan, maka menurut teori ini alkohol dihukumi najis menurut madzhab Syafi’i. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Fiqh al-Manhaji:

اَلْخَمْرُ وَكُلُّ مَائِعٍ مُسْكِرٍ نَجِسٌ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيَّةِ وَدَلِيْلُ ذَلِكَ قَوْلُ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلّ: [إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ]

Khamr dan setiap benda cair yang memabukkan statusnya najis dalam madzhab Syafi’i. Dalilnya ialah firman Allah, sesungguhnya (minum) khamr, judi, (berkorban untuk) berhala dan mengadu nasib dengan panah adalah dosa.” (Tim, Al-Fiqh al-Manhaji, vol. III hlm. 77)

Keterangan mengenai pembahasan alkohol secara langsung baru ditemukan dalam beberapa literatur fikih kontemporer yang mana keberadaan zat alkohol sudah ditemukan. Dan tentu saja para ulama masih berbeda pendapat dalam kasus ini. Sebagian ulama memasukkannya dalam kategori zat yang memabukkan (muskir) karena digolongkan khamr yang haram dikonsumsi serta berstatus najis. Tetapi sebagian ulama lain tidak menggolongkannya sebagai khamr memandang khamr hanya tertentu untuk ekstrak anggur basah, sebagaimana pandangan Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu:

مَادَةُ الْكُحُوْلِ غَيْرُ نَجِسَةٍ شَرْعًا بِنَاءً عَلَى مَا سَبَقَ تَقْرِيْرُهُ مِنْ أَنَّ الْأَصْلَ فِي الأَشْيَاءِ الطَّهَارَة، سَوَاءٌ كَانَ الْكُحُوْلُ صَرْفًا أَمْ مُخَفَّفًا بِالْمَاءِ تَرْجِيْحًا لِلْقَوْلِ بِأَنَّ نَجَاسَةَ الْخَمْرِ وَسَائِرِ الْمُسْكِرَاتِ مَعْنَوِيَّةٌ غَيْرُ حِسِّيَّةٍ لِاِعْتِبَارِهَا رِجْسًا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ. وَعَلَيْهِ فَلَا حَرَجَ شَرْعًا مِنِ اسْتِخْدَامِ الْكُحُوْلِ طِبِّيًّا كَمُطَهِّرٍ لِلْجِلْدِ وَالْجُرُوْحِ وَالْأَدَوَاتِ وَقَاتِلٍ لِلْجَرَاثِيْمِ

Zat alkohol tidak najis menurut syariat dengan pertimbangan ketetapan yang telah lewat, yaitu segala hal yang asalnya suci baik berupa alkohol murni atau alkohol yang dikurangi kadar kandungannya menggunakan campuran air dengan mengunggulkan pendapat yang mengatakan bahwa najis khamr dan semua yang memabukkan bersifat maknawi, bukan yang terlihat secara kasat mata, dengan memperhatikan bahwa khamr itu kotor serta sebagian dari perbuatan setan. Maka tidak ada kesalahan menurut syariat atas pemanfaatan alkohol dalam dunia medis, seperti pembersih kulit, luka, obat-obatan, dan pembunuh kuman.” (Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, vol. VII hlm. 2564)

Bahkan apabila penggunaan alkohol menjadi kebutuhan seperti campuran obat-obatan dan kebutuhan medis lain, maka hukumnya najis namun ditolerir (ma’fu). Secara tegas, Dr. Wahbah Az-Zuhaili menegaskan dalam keterangan lain:

لِلْمَرِيْضِ الْمُسْلِمِ تَنَاوُلُ الْأَدْوِيَّةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى نِسْبَةٍ مِنَ الْكُحُوْلِ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ دَوَاءٌ خَالٍ مِنْهَا، وَوَصَفَ ذَلِكَ الدَّوَاءَ طَبِيْبٌ ثِقَّةٌ أَمِيْنٌ فِيْ مِهْنَتِهِ

Diperbolehkan bagi orang muslim yang sakit untuk menggunakan obat medis (antiseptik) yang mengandung alkohol apabila sulit menemukan obat nonalkohol. Dan obat (antiseptik) tersebut merupakan rekomendasi dokter ahli yang berkompeten di bidangnya.” (Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, vol. VII hlm. 5111)

Senada dengan apa yang disampaikan di atas, dalam kitab Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, Syekh Abdurrahman al-Jaziri juga menjelaskan:

وَمِنْهَا الْمَائِعَاتُ النَّجَسَةُ الَّتِي تُضَافُ إِلَى الْأَدْوِيَّةِ وَالرَّوَائِحِ الْعَطَرِيَّةِ لِإِصْلَاحِهَا فَإِنَّهُ يُعْفَى عَنْ الْقَدْرِ الَّذِي بِهِ الْإِصْلَاحُ

Termasuk bagian barang najis yang ditolerir adalah cairan najis yang terdapat pada obat-obatan dan wewangian harum dengan tujuan menjaga kelayakannya. Maka (keberadaan barang najis) itu ditolerir cukup sesuai kadar yang dipakai untuk menjaga kelayakannya.” (Abdurrahman al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, I/21)

Dengan demikian, sudah jelas bahwa penggunaan hand sanitizer yang mengandung alkohol untuk menjaga kebersihan serta upaya mencegah dan mengantisipasi penularan virus Corona atau Covid-19 dapat dibenarkan (tidak haram) serta status kenajisannya ditolerir (ma’fu).
[]waAllahu a’lam

Penulis : Nasikhun Amin, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

Hukum Menjual Sisa Kulit Hewan Kurban

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukum menjual kulit hewan kurban dengan tujuan tertentu, misalkan untuk dimasukkan ke dalam kas masjid? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ali M., Sragen Jawa Tengah


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Pasca penyembelihan hewan kurban, permasalahan yang sering muncul ialah pengalokasian kulit hewan kurban, salah satu permasalahannya ialah hukum menjualnya. Pada dasarnya, menjual kulit hewan kurban dengan alasan apapun tidak diperbolehkan. Sebagaimana penjelasan Syekh Khatib as-Syirbini dalam kitab Iqna’:

وَلاَ يَبِيْعُ مِنَ اْلأُضْحِيَّةِ شَيْئًا وَلَوْ جِلْدَهَا أَيْ يَحْرُمُ عَلَيْهِ ذَلِكَ وَلاَ يَصِحُّ سَوَاءٌ أَكَانَتْ مَنْذُورَةً أَمْ لاَ

“Tidak boleh menjual bagian apapun dari hewan kurban, bahkan kulitnya sekalipun. Artinya haram dan tidak sah menjualnya bagi orang yang berkurban, baik kurban nadzar atau kurban sunah.” (Al-Iqna’, II/592)

Namun di masyarakat, seringkali kulit hewan kurban tersebut dijual oleh panitia kurban dengan berbagai alasan. Untuk itu, solusi yang bisa dilakukan ialah dengan memberikan kulit tersebut kepada salah satu panitia yang terbilang fakir miskin atas nama sedekah. Lalu baginya boleh menjual kulit hewan tersebut kemudian mengalokasikan hasil penjualannya sesuai kehendaknya, misalkan untuk biaya operasional atau dimasukkan dalam kas masjid atau mushalla.

Imam asy-Syarqawi menjelaskan dalam kitabnya,

Hasyiyah asy-Syarqawi’ala at-Tahrir berikut:

(قَوْلُهُ وَلَا بَيْعُ لَحْمِ اُضْحِيَّةِ الخ) وَمِثْلُ اللَّحْمِ الْجِلْدُ وَالشَّعْرُ وَالصُّوْفُ وَمَحَلُّ امْتِنَاعِ ذَلِكَ فِى حَقِّ الْمُضَحِّى اَمَّا مَنِ انْتَقَلَ اِلَيْهِ اللَّحْمُ اَوْ نَحْوُهُ فَاِنْ كَانَ فَقِيْرًا جَازَ لَهُ الْبَيْعُ اَوْ غَنِيًّا فَلَا … وَلَا فَرْقَ فِى الْاُضْحِيَّةِ بَيْنَ الْوَاجِبَةِ وَالْمَنْدُوْبَةِ

“(Tidak boleh menjual daging kurban) disamakan dengan daging tersebut ialah kulit, bulu, dan rambutnya. Larangan ini berlaku bagi orang yang berkurban. Adapun orang yang menerima pemberian daging atau sesamanya, apabila ia tergolong fakir maka boleh menjualnya dan apabila tergolong kaya maka tidak boleh menjualnya… Dalam hal ini tidak perbedaan antara kurban wajib kurban sunah.” (Hasyiyah asy-Syarqawi ‘ala at-Tahrir, II/21)

Bahkan menurut salah satu pendapat yang lemah, seandainya kulit diberikan kepada panitia yang terbilang kaya, baginya boleh untuk menjual dan mengalokasikan hasil penjualannya sesuai tujuan di atas. (Sayyid Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 423) []waAllahu a’lam

Baca juga:
RINGKASAN SALAT IDUL ADHA

Tonton juga:
Hari Raya Idul Adha | Seputar Kurban

Bolehkah Berkurban untuk Orang yang Sudah Meninggal Dunia?

Salah satu kebiasaan yang banyak dilakukan masyarakat menjelang Idul Adha ialah mempersiapkan hewan kurban atas nama orang yang sudah meninggal. Biasanya ini dilakukan oleh pihak keluarga untuk salah satu anggota keluarga atau kerabat yang meninggal dunia. Sementara sewaktu masih hidup belum pernah berkurban.

Imam Ibn Hajar al-Haitami menegaskan dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj demikian:

(وَلَا) تَجُوزُ وَلَا تَقَعُ أُضْحِيَّةٌ (عَنْ مَيِّتٍ إنْ لَمْ يُوصِ بِهَا)

“Tidak boleh dan tidak sah berkurban atas nama orang meninggal apabila ia tidak berwasiat untuk dikurbani.” (Tuhfah al-Muhtaj, IX/368)

Alasan yang mendukung pendapat ini adalah kurban adalah ibadah yang membutuhkan izin. Karenanya, izin orang yang berkurban mutlak diperlukan untuk menjadikan kurbannya sah. (Nihayah al-Muhtaj, VIII/144)

Namun terdapat pendapat yang mengatakan diperbolehkan kurban untuk orang yang sudah meninggal meski belum pernah berwasiat untuk dikurbani. Imam al-Qulyubi juga mengungkapkan:

وَقَالَ الرَّافِعِيُّ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقَعَ لَهُ وَإِنْ لَمْ يُوصِ لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ

“Imam ar-Rafi’i berpendapat: hendaklah (kurban untuk orang meninggal) tetap sah untuknya meskipun ia tidak berwasiat akan hal tersebut. Karena pada dasarnya kurban merupakan bagian dari sedekah.” (Hasyiah al-Qulyubi ‘ala Al-Mahalli, IV/256)

Bahkan imam an-Nawawi menegaskan dalam karyanya, Al-Majmu’Syarh al-Muhadzdzab:

وَأَمَّا التَّضْحِيَةُ عَنْ الْمَيِّتِ فَقَدْ أَطْلَقَ أَبُوالْحَسَنِ الْعَبَّادِيُّ جَوَازَهَا لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ وَالصَّدَقَةُ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُ هُوَتَصِلُ إلَيْهِ بِالْإِجْمَاعِ

“Adapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia, maka Abu al-Hasan al-Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah, sedang sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana konsensus para ulama” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, VIII/406)

Dengan demikian, berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia apabila ia pernah berwasiat untuk dikurbani maka semua ulama berpendapat sah. Namun apabila tidak berwasiat demikian, maka terdapat perbedaan pendapat. Menurut sebagian ulama tidak sah dan menurut sebagian ulama lain sah. []waAllahu a’lam.

Baca juga:
HUKUM BERKURBAN HASIL PATUNGAN BERSAMA