HomeAngkringKapan Kita Diam, Kapan Kita Bicara

Kapan Kita Diam, Kapan Kita Bicara

0 4 likes 301 views share

Diceritakan dari seorang tokoh sufi besar, Dzinun al-Misri. Beliau berkata:

Suatu hari, aku berjalan menyusuri sebuah perkebunan yang sangat hijau. Di tengah perjalanan, aku melihat seorang laki-laki yang yang berada di bawah sebuah pohon yang begitu rindang. Tanpa pikir panjang aku menghampirinya dan mengucapkan salam kepadanya. Ia tak menjawab. Sudah beberapa kali aku mengulangi salamku, namun tak kunjung ada jawaban. Kuamati sekali lagi, aku baru sadar bahwa ia sedang salat.

Usai menunaikan salatnya, tanpa berkata sepatah katapun ia menulis sesuatu di tanah menggunakan jarinya:

مَنْعُ اللِّسَانِ مِنَ الْكَلَامِ فَإِنَّهُ # سَبَبُ الرَّدَى بَلْ جَالِبُ الْآفَاتِ
فَإِذَا نَطَقْتَ فَكُنْ لِرَبِّكَ ذَاكِراً # لَا تَنْسَهُ وَاحْمَدْهٌ فِي الْحَالَاتِ

Mencegah lidah untuk berbicara terkadang menjadi penyebab jatuh, bahkan akan menimbulkan bencana.

 Namun sekali kau bicara, ingatlah pada Tuhanmu. Dan jangan lupakan Dia. Serta pujilah Tuhanmu di setiap keadaan”.

Setelah aku membaca tulisan itu, aku membalas tulisan serupa yang kutulis di tanah menggunakan jari tanganku:

وَمَا مِنْ كَاتِبٍ إِلَّا سَبِيْلِيْ # وَيَبْقَى الدَّهْرُ مَا كَتَبَتْ يَدَاهُ
فَلَا تَكْتُبْ بِكَفِّكَ غَيْرَ شَيْئٍ # يَسُرُّكَ فِي الْقِيَامَةِ أَنْ تَرَاهُ

Tidak ada seseorang yang menulis kecuali akan menjadi jalan bagiku. Masa akan menjadi kekal selama tangannya masih menulis. Dan jangan sampai telapak tanganmu menulis sesuatu yang tidak membuatmu bahagia di hari kiamat nanti”.

Ketika lelaki itu membaca tulisanku, sontak ia berteriak dan meninggal dunia saat itu juga. Kejadian itu membuat diriku terdiam seribu bahasa.

Melihat jenazah yang terbaring lemas di hadapanku, aku bermaksud untuk mengurus jenazah tersebut. Namun di saat aku mendekatinya, terdengar sebuah suara yang tidak diketahui dari mana sumbernya, “Biarkanlah malaikat yang mengurus jenazah itu”.

Kemudian aku menepi di bawah pohon. Aku menundukkan kepalaku beberapa kali sebagai tanda penghormatan. Setalah itu jenazah lelaki itu sudah tidak ada di hadapanku lagi. []waAllahu a’lam

 

_______________________

Disarikan dari hikayat ke seratus delapan belas, kitab An-Nawadir, karya syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyubi, hlm 99, cet. Al-Haromain.