HomeArtikelMencari Malam Lailatul Qadar

Mencari Malam Lailatul Qadar

0 2 likes 908 views share

Datangnya bulan mulia Ramadan tahun ini tentu membawa sejuta keberkahan. Bulan Ramadan tentu selalu menjadi bulan yang sangat dinantikan oleh jutaan umat muslim diseluruh belahan dunia. Selain karena di bulan ini amal-amal ibadah dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT, setanpun dikurung sehingga tidak dapat bebas menggoda umat manusia.

Di bulan Ramadan ini pulalah, terdapat satu hadiah bagi seluruh umat muslim; datangnya malam Lailatul Qadar, malam seribu bulan. Mari simak apa sebenarnya malam Lailatul Qadar dan apakah keutamaannya jika dibandingkan dengan malam-malam yang lain?

 

Apakah Malam Lailatul Qadar?

Bahasa “Lailatul Qadar” diabadikan dalam kitab suci Al-Quran, di surat Al-Qadar tertera, “Aku turunkan Al-Quran pada malam Lailatul Qadar, dan apakah itu malam Lailatul Qadar? Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan.” Dari sahabat Mujahid RA. diceritakan tentang sejarah diturunkannya surat ini. Ketika itu, sampailah kepada para sahabat tentang berita bahwa dahulu kala pernah ada seorang dari kalangan Bani Israel yang berperang di jalan Allahterus menerus selama seribu bulan. Selama itu pulalah konon ia tak pernah sekalipun meletakkan pedangnya. Para sahabat terkagum-kagum betapa kuatnya orang itu. Hal inipun lantas disampaikan kepada Rasulullah SAW, lalu menyusul kemudian turunlah surat Al-Qodar. Allah berfirman dalam hadis qudsi-Nya, “Malam Lailatul Qadar masihlah lebih baik daripada seribu bulan yang dilakukan lelaki Bani Israil tersebut. Dimana ia tak pernah meletakkan senjatanya.”[1]

Banyak versi mengapa dinamakan sebagai malam Lailatul Qodar. Dari dua kalimat, Lailah (Dalam bahasa Indonesia berarti malam) dan Qodr (Dalam bahasa Indonesia memiliki arti kedudukan atau derajat), menurut sebagian pendapat, dinamakan malam Lailatul Qodar kerena siapapun yang menghidupkan malamnya, akan mendapatkan Qadr (kedudukan atau derajat) yang agung.[2]

 

Kapan Jatuhnya Malam Lailatul Qadar?

Para ulama silang pendapat mengenai kapan tepatnya malam Lailatul Qadar jatuh. Pendapat mayoritas ulama, malam Lailatul Qadar jatuh setiap tahun. Dan ada yang mengatakan malam Lailatul Qadar jatuh pada satu hari diantara sepuluh tanggal terakhir bulan Ramadan, ada pendapat lain yang mengatakan satu hari diantara sepuluh awal bulan ramadan, ada yang mengatakan hanya jatuh malam-malam yang ganjil saja, dan bahkan ada yang persis mengatakan akan jatuh setiap tanggal tujuh belas, seperti pendapat yang diungkapkan oleh Al-Hasan, Ibn Ishaq dan Abd Ibn Zubair RA.[3] sementara pendapat ‘Aly, ‘Aisyah, Muawiyah, dan Ubay bin Ka’ab RA, malam Lailatul Qadar adalah malam ke dua puluh tujuh[4]. Lalu ada pula yang mengatakan bila malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke dua puluh satu. Juga ada yang berpendapat di malam ke dua puluh tiga. Akan tetapi pendapat yang paling masyhur dan sahih, seperti diutarakan oleh Syaikh Ibn Jarir Al-Thabari dalam tafsirnya, malam Lailatul Qadar biasanya jatuh pada salah satu dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.[5]

Satu hal dari silang pendapat ini, terserah kita mau mengikuti pendapat siapapun. Setiap pendapat memiliki dalil dan tendensinya masing-masing. Namun  alangkah baiknya bila yang pertama kali kita lakukan adalah tetap berusaha mencari malam Lailatul Qadar sejak hari pertama bulan Ramadan. Namun jika tidak memungkinkan karena suatu alasan, barulah kita mengikuti pendapat salah satu diantara pendapat para ulama diatas.

وفي الجملة، أخفى الله علم هذه الليلة على الأمّة ليجتهدوا في العبادة ليالي رمضان طمعا في إدراكها كما أخفى الصلاة الوسطى في الصلوات، واسمه الأعظم في الأسماء، وساعة الإجابة في ساعات الجمعة، وغضبه في المعاصي، ورضاه في الطاعات، وقيام الساعة في الأوقات، رحمة منه وحكمة، والله أعلم[6].

Kesimpulannya, Allah SWT telah merahasiakan tentang malam Lailatul Qadar kepada umat manusia agar mereka senantiasa bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam-malam Ramadan berharap agar bisa menemukannya. Seperti halnya Allah SWT merahasiakan ‘salat al-wustha’, merahasiakan ismul a’dham, merahasiakan waktu mustajab di hari jum’at, merahasiakan kemarahan-Nya dalam entah bentuk kemaksiatan apa, merahasiakan keridha-Nya entah dalam bentuk ketaatan apa, dan seperti halnya pula Allah SWT merahasiakan kapankah jatuhnya hari kiamat. Semua itu semata karena rahmat-Nya dan hikmah-Nya.” (Imam Al-Tsa’laby)

 

Apa Keutamaan Malam Lailatul Qadar?

Seperti yang kita tahu, Allah SWT hanya menyebut beberapa keutamaan saja dalam Alquran mengenai malam Lailatul Qodar ini. Dikatakan, “Allah merahasiakan -keutamaan malam itu- agar para hambanya tidak terpaku hanya pada keutamaannya saja, dan cenderung lebih bersungguh-sungguh dalam beramal.” Banyak keutamaan malam tersebut. Beberapa diantaranya, malam Lailatul Qodar adalah malam yang apabila kita beribadah tepat di malam itu, pahalanya akan “Lebih baik daripada seribu bulan”. Jika melihat secara tekstual kalimat, seribu bulan yang dimaksud adalah delapan puluh tiga tahun. Namun kebanyakan kalangan ahli tafsir memiliki pandangan lain, jika yang dimaksud dengan “lebih baik dari seribu bulan” adalah lebih utama seribu bulan daripada tanpa adanya malam Lailatul Qodar. Adapula yang mengatakan jikalau “seribu bulan” dalam surat Al-Qadr adalah sebuah bahasa majaz untuk menyampaikan waktu yang tak terbatas, sesuai kebiasaan dalam literatur Arab.[7] Orang Arab biasa menggunakan kata seribu, namun maksudnya adalah bilangan yang sangat banyak hingga tak mampu dihitung.

Tidak berhenti sampai disitu, keutamaan lain malam Lailatul Qadar adalah, pada malam itu para malaikat turun ke dunia atas kehendak Allah SWT. Malaikat akan mendoakan dan mengamini siapa saja orang mukmin yang ditemui tengah berdoa atau beribadah kepada-Nya.

Masih banyak lagi keutamaan malam Lailatul Qadar yang masih belum diketahui. Seperti, konon setan tidak dapat keluar sampai datangnya fajar, dan sihir tidak akan bisa dikirimkan di malam itu. Tentu sangat rugi bagi kita apabila melewatkan malam sejuta berkah ini di saat kita masih memiliki kesempatan.

 

Tanda Datangnya Malam Lailatul Qodar

Ada satu hadis yang menerangkan tentang tanda kedatangan malam Lailatul Qodar,

أخبرنا أبو عمر الفراتي قال: أخبرنا أبو نصر السرخسي قال: حدّثنا محمد بن الفضل قال: حدّثنا إبراهيم بن يوسف قال: حدّثنا النضر عن أشعث عن الحسين أن النبي صلى الله عليه وسلم قال في لَيْلَةِ الْقَدْرِ: «من أماراتها أنها ليلة بلجة سمحة، لا حارة ولا باردة، تطلع الشمس صبيحتها ليس لها شعاع»[8]

Nabi SAW pernah bersabda tentang malam Lailatul Qadr: ‘malam Lailatul Qadr adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu sejuk. Pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan’” (HR. Ibn Khuzaimah)

 

Apa Yang Sebaiknya Diamalkan?

عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ يُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِالنَّاسِ وَسَاقَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ قَالَتْ فَكَانَ يُرَغِّبُهُمْ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ بِعَزِيمَةٍ وَيَقُولُ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ قَالَ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

Dari Zuhri berkata, ‘Urwah bin Zubair RA Mengabarkan kepadaku, bahwasanya ‘Aisyah RA memberinya kabar jikalau Rasulallah SAW keluar rumah ditengah malam. Beliau salat di dalam masjid, beliau mengimami para sahabat. Lalu beliau meneruskan hadisnya dan disalam hadisnya ‘Aisyah RA berkata, nabi menyemangati agar mereka senantiasa mendirikan ibadah di bulan Ramadan tanpa mengharuskan mereka. Beliau nabi bersanda, ‘Barang siapa yang mendirikan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.’ Sampai ketika nabi meninggal, perkaranya belum berubah, tetap seperti itu.” (HR. An-Nasai)

Amalan apapun yang dilakukan di malam Lailatul Qodar ini, akan dilipat gandakan pahalanya. Sesuai yang disampaikan Imam Sufyan Al-Sauri, “Sampai padaku dari Mujahid RA. bahwa malam Lailatul Qodar lebih baik dari seribu bulan. Yaitu, amalan-amalan, puasa, dan ibadah yang dilakukan pada malam iu lebih baik daripada seribu bulan.”[9] Artinya mulai dari salat tarawih yang kita lakukan, salat tahajud, witir, hajat, dan bacaan Alqurannya, semua lebih baik daripada seribu bulan.

قَالَ الثَّوْرِيُّ , وَقَالَ مُجَاهِدٌ: «صِيَامُهَا وَقِيَامُهَا أَفْضَلُ مِنْ صِيَامِ أَلْفِ شَهْرٍ , وَقِيَامِهِ لَيْسَ فِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ

Berpuasa dan beribadah di hari Lailatul Qadr lebih baik dari pada berpuasa selama seribu bulan, dan beribadah selama seribu bulan yang tanpa adanya Lailatul Qadr.

Sahabat ‘Aisyah RA pernah bertanya kepada nabi SAW, “Wahai Rasulallah, jikalau aku menemui malam Lailatul Qadar, bacaan apakah yang sebaiknya aku baca? Rasulullah SAW pun menjawab, ‘Bacalah, Allahumma innaka ‘afwun, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annî’

وروى شريح بن هانئ عن عائشة قالت: لو عرفت أيّ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ما سألت الله فيها إلّا العافية

Sayyidah ‘Aisyah RA. berkata, ‘Andaikan saja aku tahu dimana malam Lailatul Qadr, aku tak akan meminta selain kesentosaan (dari bala’, penyakit, dan keburukan.)’

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ – أَيْ الْعَشْرُ الْأَخِيرَةُ مِنْ رَمَضَانَ – شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ (متفق عليه)

Nabi SAW apabila sudah memasuki sepuluh –maksudnya sepuluh hari terakhir Ramadhan- beliau ‘mengencangkan ikat pinggangnya’, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

 

Demikian, semoga bisa menambah semangat kita dalam menghidupkan malam-malam di bulan Ramadan tahun ini. Wallâhu A’lam. []

 

[1]Tafsir Mujahid. Hal 740

[2]  Pendapat Imam Abu Bakr Al-Warraq dalam tafsir Bahrul Muhith hal. 514/10.

[3] Tafsir Al-Qurthuby 135/20

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Al-Kasyf Wal Bayan ‘An Tafsiril Quran/Tafsir Imam Al-Tsa’laby. hal 254/10

[7]  Tafsir Bahrul Muhith. hal. 514/10

[8]  Kanzul ‘Ummal hadis 24052

[9]  Tafsir Ibn Katsir. hal 427/8

وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: بَلَغَنِي عَنْ مُجَاهِدٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ قَالَ: عَمَلُهَا وصيامها وَقِيَامُهَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، رَوَاهُ ابْنُ جَرِيرٍ