Mengenal Tiga Macam Darah: Haid, Nifas, dan Istihadah

Mengenal Tiga Macam Darah yang Keluar dari Wanita Mengenal Tiga Macam Darah yang Keluar dari Wanita

Memahami hukum darah yang keluar dari farji wanita merupakan bagian penting dalam fikih ibadah. Sebab, jenis darah yang keluar akan menentukan bagaimana nanti hukum salat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan ibadah lainnya. Oleh karena itu, bagi kita perlu mengenali perbedaan antara tiga macam darah, yakni haid, nifas, dan istihadah agar dapat menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat.

Dalam fikih Mazhab Syafi’i, darah yang keluar dari farji wanita terbagi menjadi tiga macam, yaitu haid, nifas, dan istihadah. Masing-masing memiliki pengertian dan ketentuan yang berbeda.

Darah Haid

Haid adalah darah yang keluar dari farji wanita yang telah mencapai usia minimal haid. Keluarnya darah tersebut terjadi sebagai tabiat alami perempuan, bukan karena proses melahirkan dan bukan pula akibat penyakit.

Keterangan dalam kitab Fath al-Qarib menyatakan:

وَيَخْرُجُ مِنَ الْفَرْجِ ثَلَاثَةُ دِمَاءٍ دَمِ الْحَيْضِ وَالسَّقَاسِ وَالْاِسْتِحَاضَةِ فَالْخَيْضُ هُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ فِي سِيِّ الْحَيْضِ وَهُوَ تِسْعُ سِنِينَ فَأَكْثَرَ مِنْ فَرْجِ الْمَرْأَةِ عَلَى سَبِيلِ الصَّحَةِ) أَيْ لَا لِعِلَّةٍ بَلْ لِلْجِبِلَّةِ ( مِنْ غَيْرِ سَبَبِ الْوِلَادَةِ)

Darah yang keluar dari alat kelamin wanita terbagi menjadi tiga: darah haid, nifas, dan istihādhah. Haid adalah darah yang secara alami keluar dari wanita yang berumur sembilan tahun bukan disebabkan melahirkan.

Baca juga: Kisah Syaikhona Kholil Nyantri ke Mbah Hasyim Asy’ari

Usia Minimal Haid

Menurut ulama Mazhab Syafi’i, usia minimal seorang perempuan mengalami haid adalah 9 tahun Hijriyah kurang 16 hari kurang sedikit.

Sementara itu, tidak terdapat batas maksimal usia haid dalam Mazhab Syafi’i. Selama darah masih memenuhi syarat-syarat haid, maka darah tersebut hukumnya tetap sebagai haid meskipun usia perempuan telah lanjut.

Syarat Darah Dengan Hukum Haid

Agar darah yang keluar dapat terhukumi sebagai haid, beberapa syarat berikut harus terpenuhi.

1. Keluar dari perempuan yang telah mencapai usia minimal haid.

2. Keluar sekurang-kurangnya selama sehari semalam apabila terus-menerus, atau mencapai total 24 jam apabila keluarnya terputus-putus.

3. Masa keluarnya darah tidak melebihi 15 hari 15 malam.

4. Masa suci yang memisahkan dua haid sekurang-kurangnya 15 hari 15 malam.

Apabila salah satu ketentuan tersebut tidak terpenuhi, maka darah yang keluar tidak serta-merta berstatus sebagai haid, tetapi perlu mendapat tinjauan sesuai ketentuan fikih lainnya.

Baca juga: Badan Pembina Kesejahteraan Pondok Pesantren Lirboyo (BPK-P2L) Berganti Nama Majelis Pembina Pondok Pesantren Lirboyo (MP-P2L).

Darah Nifas

Nifas ialah darah yang keluar setelah seorang wanita melahirkan.

Meskipun sama-sama menghalangi beberapa ibadah sebagaimana haid, nifas memiliki ketentuan yang berbeda sehingga perlu mendapat pemahaman secara khusus.

(وَالنِّفَاسُ هُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ عَقِبَ الْوِلَادَةِ فَالْخَارِجُ مَعَ الْوَلَدِ أَوْ قَبْلَهُ لَا يُسَمَّى نِفَاسًا

Nifas adalah darah yang keluar melahirkan. Sedangkan setelah darah yang keluar saat atau sebelum melahirkan, maka tidak termasuk nifas.

Ketentuan Darah Nifas

Dalam fikih Mazhab Syafi’i, darah nifas memiliki beberapa ketentuan sebagai berikut.

1. Masa nifas paling sedikit adalah sesaat, meskipun hanya sekejap.

2. Masa nifas paling lama adalah 60 hari 60 malam.

3. Umumnya, masa nifas berlangsung selama 40 hari 40 malam.

4. Perhitungan masa nifas itu mulai sejak seluruh anggota tubuh bayi telah keluar dari rahim atau proses persalinan telah sempurna.

Seluruh darah yang keluar sejak awal setelah persalinan memperoleh hukum nifas selama kemunculannya masih dalam rentang sebelum 15 hari setelah kelahiran.

Sebagai contoh, seorang ibu melahirkan pada tanggal 1, kemudian darah baru keluar pada tanggal 6. Dalam kondisi ini, batas maksimal masa nifas tetap dihitung sejak tanggal 1, yaitu hari kelahiran bayi, bukan sejak darah mulai keluar.

Baca juga: Mendoakan Orang Bersin

Darah Istihadah

Istihadah adalah darah yang keluar dari farji wanita, tetapi tidak memenuhi ketentuan darah haid maupun darah nifas.

Dengan kata lain, setiap darah yang keluar di luar batas dan syarat haid atau nifas termasuk darah istihadah. Karena itu, seorang wanita perlu mengetahui ketentuan haid dan nifas terlebih dahulu agar dapat membedakan keduanya dengan istihadah.

(وَالْاِسْتِحَاضَةُ) أَيْ دَمُهَا (هُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ فِي غَيْرِ أَيَّامِ الْحَيْضِ وَالتِّفَاسِ) لَا عَلَى سَبِيلِ الصَّحَةِ

Istihādhah adalah darah yang keluar di selain waktu haid dan nifas saat kondisi tubuh kurang sehat.

Pentingnya Memahami Perbedaan Haid, Nifas, dan Istihadah

Mengetahui perbedaan antara haid, nifas, dan istihadah akan membantu kita menentukan hukum ibadah. Selain itu, pemahaman ini juga menghindarkan kita dari kekeliruan dalam meninggalkan atau melaksanakan ibadah.

Oleh sebab itu, mempelajari fikih wanita, terutama pembahasan mengenai tiga macam darah yang keluar dari farji wanita, menjadi bekal penting bagi kita agar dapat beribadah dengan benar sesuai tuntunan syariat Islam.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses