Tag Archives: bangsa

Mesir, Induk Segala Bangsa

Negeri Mesir, oleh banyak sejarawan Islam disebut-sebut sebagai Umm al-Bilad, induk dari segala bangsa. Disinyalir, statemen ini berangkat dari satu kisah yang terjadi di masa sangat lampau, di kehidupan Nabi Nuh as.

Nabi Nuh as. dikaruniai beberapa putra oleh Allah swt. antara lain; Sam, Ham, Yafits, dan Yahthun. Ia juga dikaruniai cucu yang banyak. Setiap harinya, Nabi Nuh as. selalu berdoa kepada Allah agar mereka diberi berkah yang melimpah.

Allah kemudian memberi wahyu padanya. Ada suatu malam di mana doa yang dipanjatkan pada malam itu pasti terkabul. Ketika malam itu tiba, nabi Nuh membangunkan keluarganya satu per satu.

Mulanya, nabi Nuh menyuruh Sam untuk bergegas membangunkan anak-anaknya. Dari sekian banyak anaknya, hanya Arfakhsyad yang benar-benar bangun dan menuruti perintah ayahnya. Sam kemudian mengajak satu-satunya anaknya yang menurut itu untuk duduk bersama sang kakek.

Nabi Nuh kemudian mulai memanjatkan doa, “Ya Robb, jadikanlah hidup Sam penuh berkah serta berikanlah pangkat kenabian dan para raja kepada keturunan Arfakhsyad.”  Nabi Nuh hanya mendoakan keturunannya yang menuruti perintahnya untuk bangun tidur dan memanjatkan doa bersama-sama di malam itu.

Selepas itu, giliran Ham yang dipanggil oleh nabi Nuh. Tetapi Ham menolak seruan ayahnya tersebut. Sayangnya, juga tidak ada seorang pun dari anak-anak Ham yang bangun dari tidurnya. Nabi Nuh pun berdoa agar keturunan Ham nantinya menjadi pesuruh bagi keturunan dari putra sulungnya, Sam.

Namun, sebelum doa selesai dipanjatkan, ada satu keturunan Ham yang terbangun. Ia mendengar doa sang buyut yang dipanjatkan atas keturunan Ham. Mishr bin Baishar, nama anak itu, tergugah hatinya untuk menghampiri nabi Nuh dan meminta doa kepadanya. “Wahai buyutku, sungguh aku memenuhi seruanmu meskipun ayahku, kakekku dan seluruh keluargaku enggan untuk memenuhi seruanmu. Aku mohon pintakan keberkahan untukku.”

Berbahagia lah hati nabi Nuh. Ia membelai lembut kepala Mishr, seraya berdoa, “Ya Robb, Mishr telah memenuhi seruanku, maka berkahilah keturunannya, tempatkanlah ia dan keturunannya di belahan bumi yang diberkahi, di belahan bumi yang nantinya menjadi Umm al-Bilad, induk dari segala bangsa dan menjadi tempat pertolongan bagi seluruh hambaMu. Jadikan sungainya sebagai sebaik-baik sungai yang mengalir di dunia. Jadikan sebaik-baik berkah bagi keturunannya, serta tundukkanlah seluruh negeri baginya dan bagi keturunannya. Jadikan seluruh bangsa merendah kepadanya dan kepada keturunannya. Berikanlah kekuatan kepada mereka untuk mengatur belahan bumi itu.”

Setelah doa yang panjang itu, nabi Nuh menyeru putranya Yafits untuk ikut berdoa bersamanya. Namun Yafits dan seluruh keluarganya menolak seruan itu. Maka nabi Nuh pun berdoa agar nantinya Yafits menurunkan satu bangsa manusia yang paling buruk.

Setelah mendapat sambutan yang tidak dikehendakinya, Nabi Nuh ganti menyeru putranya yang tersisa, Yahthun. Yahthun pun memenuhi seruan ayahnya. Nabi Nuh lalu mendoakannya agar hidup dengan limpahan keberkahan. Sayangnya, Yahthun tidak mempunyai keturunan.

Di kemudian hari, doa-doa yang dipanjatkan oleh nabi Nuh satu per satu terkabul. Sam, yang langsung bergegas ketika diperintah oleh sang ayah, hidupnya penuh kebahagiaan hingga ia wafat. Arfakhsyad, putranya, hidup penuh keberkahan. Keturunannya menjadi raja-raja dan nabi-nabi. Dari keturunan Sam inilah nantinya bangsa Arab, bangsa Persia, dan bangsa Romawi berasal.

Sementara Ham, yang enggan menuruti perintah sang ayah, hidup dengan penuh kesusahan. Saah satu putranya, Kan’an, diceritakan oleh Alquran enggan untuk masuk ke dalam perahu Nabi Nuh dan memilih berlari ke puncak gunung kala terjadi banjir bandang itu. Putra Ham yang lain, Aswad, menurunkan bangsa Sudan dan Etiopia. Sementara Kusy menurunkan bangsa India. Lalu Futh menurunkan bangsa Barbar. Dan Baishar menurunkan bangsa Koptik.

Mishr, putra Baishar, dan seluruh keluarganya memilih menetap dan mendirikan kerajaan di sebuah daerah yang di kemudian hari dikenal dengan tanah ‘Mesir’. Tanah inilah yang dijuluki dengan Umm al-Bilad, sesuai dengan doa Nabi Nuh. Kerajaan Mesir waktu itu membentang dari Aswan sampai Urbusy, dan dari Burqah sampai Ailah.

Baca juga : KH. Aqib Abu Bakar: Pesan Mbah Manab, Jangan Pernah Meremehkan Kitab Kecil

Di masa setelahnya, Mishr membagi kerajaan menjadi empat bagian bagi empat anaknya: Qifth, Asymun, Atrib dan Sha. Dari salah satu anaknya inilah ribuan tahun kemudian lahir seorang perempuan mulia bernama Hajar. Dia yang menikah dengan Ibrahim, yang juga keturunan nabi Nuh dari Sam.

Sementara itu, Yafits, putra nabi Nuh yang sama sekali tidak menuruti perintah sang ayah, hidup penuh dengan kesulitan. Keturunannya mempunyai watak yang sangat kasar. Nantinya, darinyalah lahir bangsa Turki, bangsa Italia dari kepulauan Sisilia, dan bangsa Ya’juj Ma’juj

*Abu Qashim Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Hakim bin A’yun al-Mishr, Futuh Mishr wa Akhbaruh.

Penulis, M. Tholhah.  Al-Fayyadl, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, sekarang menempuh pendidikan di Unversitas Al-Azhar, Kairo.

Baca juga; Santri Sebagai Cermin Pemimpin Negeri

Lautan Nahdliyin Mengetuk Pintu Langit

LirboyoNet, Sidoarjo — Istighotsah adalah cara terbaik bagi umat Islam untuk berperan dalam menciptakan suasana negara yang damai dan tentram. Para kiai, santri, dan unsur masyarakat Islam lainnya wajib meyakini kekuatan muslim tertinggi: al-du’â silâhul mukmin. Doa adalah senjata masyarakat Islam yang paling ampuh. Maka sudah barang tentu muslim menggunakannya di setiap hajat peperangan apapun, termasuk dalam memerangi kekuatan-kekuatan musuh dâkhiliyyah dan khârijiyyah, musuh dari dalam tubuh, juga supremasi kekuatan di luar kelompok masyarakat Islam dan negara.

KH. Hasan Mutawakkil Alallah, ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, menegaskan ini di sela-sela acara Istighotsah Kubro Hari Lahir ke-94 Nahdlatul Ulama di Sidoarjo, Ahad pagi (09/04). Beliau menilai, doa bersama adalah kesempatan terbaik bagi umat Islam, terutama nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama), untuk memperlihatkan dukungan yang besar bagi keselamatan dan kedamaian bangsa. “Kita beristighotsah untuk menunjukkan bahwa inilah cara Islam mewujudkan kedamaian bangsa. Bukan dengan cara-cara yang anarkis dan keras,” tutur beliau yang juga alumnus pondok pesantren Lirboyo ini. Istighotsah ini juga menunjukkan kepada dunia luar bahwa Islam dalam segala aspeknya, baik ketika berada dalam kondisi nyaman maupun sedang berada dalam tekanan berat seperti akhir-akhir ini, selalu mengedepankan cara berpikir dan cara bertindak yang adem dan menyejukkan.

“Pagi ini, kita berhasil menunjukkan kepada bangsa Indonesia, bahwa nahdliyin berada di garda terdepan untuk turut menyejahterakan bangsa. Di sini, bukan hanya ratusan ribu nahdliyin berada di tengah-tengah Gelora Delta Sidoarjo. Tapi Gelora Delta lah yang berada di tengah lautan nahdliyin,” ungkap beliau diikuti gemuruh sorak sorai peserta istighotsah.

Menilik foto yang beredar di beberapa media, dari acara yang bertemakan “Mengetuk Pintu Langit, Menggapai Nurulloh” ini memang terlihat jamaah istighotsah dengan pakaian serba putih menyemut, ‘mengepung’ stadion kebanggaan warga Sidoarjo. Itupun, ungkap KH. Hasan Mutawakkil, masih hanya sebagian kecil dari warga nahdliyin Jawa Timur secara keseluruhan. Karena berbagai lapisan organisasi Nahdlatul Ulama yang berada dalam naungan PWNU, baik PC (pengurus cabang), MWC (majelis wakil cabang), hingga ranting NU memohon maaf karena tidak bisa mengikuti istighotsah bersama ini. “Para jamaah kami banyak yang tidak bisa berangkat. Mereka telah kehabisan armada kendaraan. Sudah tidak ada perusahaan bis maupun p.o. kendaraan lain yang mampu mengantarkan mereka. Seluruhnya telah habis.” Memang, dari pantauan redaksi LirboyoNet, banyak PAC maupun MWC yang gagal berangkat karena kesulitan mencari armada. Dari MWC Pandaan, Pasuruan saja, mereka membutuhkan sembilan bus untuk mengangkut jamaah mereka. Dari satu pesantren di Mojosari, Mojokerto saja, sudah membutuhkan banyak sekali kendaraan untuk mengantarkan tujuh ratus santrinya.

Bagaimana dengan Lirboyo? Tidak kurang dari tujuh ratus santri mengisi penuh enam bus dan tujuh truk tentara. Mereka ‘hanya’ terdiri dari sebagian siswa tingkat Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. Itupun tidak semuanya. “Setiap angkatan, setidaknya mendapat jatah 240 kursi,” tutur Ade Harits, siswa yang juga menjadi salah satu panitia pemberangkatan.

[ads script=”2″ align=”right”]

Sebelum istighotsah dibaca beramai-ramai, terlebih dahulu dibacakan maklumat PWNU Jawa Timur oleh KH. M. Anwar Iskandar, salah satu wakil Rois Syuriah PWNU Jatim. Salah satunya adalah “Menjaga negara dari hal-hal yang merusak tatanan adalah wajib, karena Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harta terbesar bangsa dan negara ini.” Bagaimana tidak, menjaga kedaulatan negara adalah salah satu bentuk ikhtiar umat Islam yang paling penting untuk menjaga kontinuitas dalam menabur kebaikan dan nilai-nilai Islam di bumi, terutama bumi Nusantara. Umat Islam Indonesia berkewajiban untuk menghindarkan negara dari pudarnya rasa kepercayaan penghuninya terhadap semua unsur negara dan pemerintahannya.

Setiap masyarakat Islam Indonesia hendaknya memaklumi ini. Karena menyebarkan Islam yang damai, teduh, mengayomi, adalah perwujudan dari Islam yang “rahmatan lil alamin”. “Salah satu ikhtiar besar Islam (untuk mewujudkan kondisi itu) adalah hifdz al-daulah, menjaga kedaulatan NKRI. Keutuhan dan persatuan Indonesia adalah tanggungjawab setiap warga NU,” tegas Gus Anwar, yang juga satu almamater dengan KH. Hasan Mutawakkil Alallah.

Turut hadir Rois ‘Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ma’ruf Amin. Dalam amanat yang beliau sampaikan, tugas nahdliyin adalah menjaga bangsa, umat dan negara dari berbagai masalah. “Kita hari ini hadir untuk mengetuk pintu langit. Memohon berkah pada sang Kuasa untuk menyelamatkan bangsa ini dari gangguan-gangguan yang tersebar dari dalam dan luar (tubuh negara dan agama).”

Beberapa hari sebelum hadir di Sidoarjo, beliau bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Beliau memberitahukan bahwa PWNU Jawa Timur akan melaksanakan hajat kubro demi keutuhan negara. “Presiden terharu, dan memang inilah yang harus dilakukan oleh umat Islam. Harus mendukung negara melalui upaya-upaya batiniah,” tutur beliau. Kemerdekaan adalah rahmat, dan mempertahankannya adalah bentuk dari merawat rahmat itu.

Hari itu, tutur beliau, menjadi saksi bahwa kiai adalah sosok yang sangat besar perannya dalam menyelamatkan negara. “Kiai tidak hanya sibuk mencetak santri dan kiai mumpuni, tetapi juga berdoa secara konsisten demi keselamatan bangsa.” Para kiai dan ulama selalu hadir dalam upaya-upaya kebangsaan, dengan mengharap perolehan rahmat dari sang Cahaya di atas Cahaya.

Tidak jauh-jauh, salah satu buktinya adalah apa yang dilakukan pesantren Lirboyo. Beberapa bulan terakhir ini, para santri, terutama kelas Tiga Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, terus dikerahkan untuk membaca aurad-aurad (bacaan wirid) tertentu setiap harinya. “Kami mendapat instruksi ini dari beliau KH. M. Anwar Manshur langsung. Beberapa bulan terakhir ini, setiap malam selepas sekolah kami membaca hizib nawawi dan hizib nashar. Beliau benar-benar mengharap santri untuk ikut ikhtiar dalam mendinginkan situasi negara dengan senjata kami, yakni doa,” tukas Anas Lauhil Mahfudz, salah satu pengurus kelas Tiga Aliyah.

Mari bersama mewujudkan Indonesia yang damai dan berdaulat, dengan terus berupaya dari segala aspek yang kita bisa. Karena dengan ikhtiar yang simultan dari berbagai lapisan masyarakat, sesuai apa yang ditekankan Rois ‘Am PBNU, sekecil apapun amal jika disatukan dengan rahmat Allah, dengan doa yang terus dipanjatkan, akan menjadi besar. Senjata ini akan melipatgandakan impact dan pengaruh ikhtiar lahiriah kita, sehingga bisa berguna bagi kemaslahatan nusa dan bangsa.][

Menyoal Peran Generasi Muda

Sebuah peradaban bangsa merupakan hal yang paling penting dalam tatanan kehidupan manusia. Namun, peradaban yang sudah ada tidak akan bertahan secara konsisten tanpa adanya regenerasi secara signifikan yang akan melanjutkan perjuangan yang telah dibangun oleh para pendahulunya.

Dari sinilah peran generasi muda sebagai generasi penerus sangat dibutuhkan. Kecerdasan intelektual, usia yang masih muda, mobilitas tinggi, serta semangat yang membara merupakan salah satu contoh kekuatan besar yang dimiliki generasi muda sebagai aset penting peradaban suatu bangsa. Maka sudah jelas bahwa mereka menjadi bagian penting dari agama, bangsa, dan negara. Karena di tangan generasi mudalah tonggak perjuangan dan harapan bangsa untuk melanjutkan perjuangan di masa depan.  Syaikh Musthofa Al-Gholayaini berkata:

إِنَّ فِى يَدِ الشُّباَّنِ اَمْرَ اْلاُمَّةْ وَفِى اَقْدَامِهَا حَيَاتَهَا

“Sesungguhnya di tangan para pemudalah urusan umat, dan pada kaki-kaki merekalah terdapat kehidupan umat”. Ini telah membuktikan bahwa para generasi muda menjadi tulang punggung dan harapan dari sebuah peradaban agama dan bangsa.

Dilihat dari konsep kenegaraan, generasi muda diibaratkan sebuah pilar/tiang dan negara itu ibarat bangunannya. Sebuah bangunan dengan pilar yang berasal dari bahan yang bermutu dan berkualitas tinggi akan tetap kokoh dan mampu bertahan walaupun badai, petir, bahkan bencana sekalipun yang menghantam. Begitu juga dengan para pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Dengan modal ilmu dan akhlak yang mereka miliki menjadi hal yang paling penting untuk menjadikan negaranya maju dan tetap kokoh dari berbagai ancaman dan pengaruh pihak luar.

Dalam konteks Islam, peran dan fungsi generasi muda sangat urgen dalam mempertahankan eksistensi kejayaan agama Islam. Karena di tangan merekalah tongkat estafet Islam akan diperjuangkandan ditegakkan. Hal ini dikarenakan seorang pemuda memiliki potensi yang besar dalam mengemban amanah besar tersebut. Maka tidak ada alasan apapun untuk tidak segera menyelamatkan generasi penerus dari berbagai ancaman kerusakan di era globalisasi saat ini.

Sebagai realisasi nyata dari berbagai sudut pandang tersebut, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi generasi muda:

  1. Pendidkan dan Akhlaqul karimah

Generasi muda merupakan akar kekuatan sebuah agama maupun bangsa. Oleh sebab itu, perhatian khusus dalam menjaga aset penting yang menjadi penopang kekuatan tersebut mutlak diperlukan. Terutama dalam sektor pendidikan yang memiliki andil besar dalam mencetak dan mendidik karakter generasi muda yang  berakhlaqul karimah. Bahkan Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak, sesuai dengan hadis yang disampaikan oleh Sahabat Abu Hurairah RA:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. [1]

Ancaman bahaya lain yang menyerang generasi muda adalah ancaman pemikiran. Seperti pemahaman yang ekstrim dalam beragama, paham radikal, sekuler, liberal, dan seterusnya. Sehingga tidak heran kalau generasi muda yang masih memiliki pemahaman yang kurang mendalam namun memiliki jiwa semangat yang tinggi menjadi sasaran utama upaya rekrutmen kelompok-kelompok yang beraliran seberang tersebut.

Dan dalam ranah pendidikan itu sendiri, tidak terbatas sekedar konsep penularan pengetahuan (transfer of knowledge). Namun lebih menitik beratkan dalam konsep tarbiyyah dan upaya pembangunan karakter (character building). Memahami hal demikian, sudah seharusnya orang tua, pihak lembaga pendidkan, maupun pemerintah bersinergi dan bekerjasama dalam mengemban tanggungjawab untuk menjadi garda terdepan dalam mencetak dan memelihara akhlaqul karimah bagi para generasi muda. Boleh para generasi muda mengadopsi atau mengikuti perkembangan zaman, asalkan tetap memegang kuat  prinsip:

اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْدُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ

“Mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”.

Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, sudah saatnya untuk menyingsingkan lengan baju untuk lebih cerdas memahami keadaan dan situasi yang dihadapinya. Generasi muda harus mempunyai kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual yang seimbang. Karena yang dibutuhkan tidak hanya cerdas dalam akademi, tapi kecerdasan yang muncul dari hati dan sifat religiuitaslah yang terpenting. Dan dengan pengamalan ilmu dan penerapannya pada obyek (maudlu’) yang tepat, diharapkan dapat merubah dan memajukan peradaban agama maupun bangsa ini menjadi lebik baik.

Sungguh ironi, terjadi ketidakseimbangan antara dunia pendidikan seperti pesantren ataupun yang lain yang selalu konsisten berusaha mencetak kader-kader bangsa yang berilmu dan bermoral dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang secara perlahan merusak para generasi muda bangsa. Hal tersebut yang membuat para generasi muda harus berpikir kritis dalam memilih jalan hidupnya.

  1. Menggali Potensi Sejak Dini

Usia muda merupakan usia dimana seseorang masih memiliki jiwa semangat yang tinggi, kecerdasan intelektual yang stabil. Dalam masa tersebut, mereka sepatutnya mengerahkan seluruh daya untuk menggali segala potensi yang dimilikinya sebelum urusan dan tanggung jawab bertambah seiring dengan berjalannya waktu.

Pentingnya memanfaatkan usia muda secara maksimal telah tersirat secara implisit dalam hadis Rasulullah SAW:

غْتَنِمْ خَمْساً قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَراغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Pergunakanlah perkara yang lima sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu” (HR. Hakim).[2]

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan betapa pentingnya masa muda untuk digunakan dalam segala hal yang positif. Maka selayaknya para generasi muda untuk benar-benar menyadari betapa pentingnya usia muda untuk menggali segala potensi dirinya dalam mencari ilmu dan pengalaman yang dapat memberi manfaat baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

  1. Pergaulan dan Globalisasi

Diakui ataupun tidak, derasnya arus globalisasi  dan segala bentuk kemajuannya telah berdampak negatif terhadap perkembangan cara berpikir dan gaya hidup generasi muda yang banyak teradopsi dari pemikiran orang-orang luar yang berusaha merusak generasi muda. Tentunya hal tersebut lambat laun akan semakin menyeret mereka menjauhi moral dan karakter positif yang telah tertanam sejak lama.

Lingkungan pergaulan dan pertemananpun sangat berpotensi membentuk pola kehidupan seseorang, konsep seperti ini sudah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ قَالَ «الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ». رواه أبو داود

“Dari Sahabat Abi Hurairah bahwa sesungguhnya Nabi bersabda: seseorang itu berada di atas agama temannya, maka hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya” (HR. Abu Dawud).

Dalam Alqur’an dicontohkan sebuah kisah pemuda Ashabul Kahfi, bagaimana mereka tetap kokoh memegang prinsip keimanan di saat kaum mereka dilanda kerusakana dan kebobrokan moral. Ketika kemampuan untuk memperbaiki tidak lagi mereka miliki, Allah SWT memberikan pertolongan dengan menyelamatkan mereka dari ancaman kaumnya sehingga mereka tertidur di dalam gua selama kurang lebih tiga ratus tahun. Kemudian Allah SWT memuji mereka dalam firmannya:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Sesungguhnya mereka itu adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambahkan mereka petunjuk” (QS. Al-Kahfi: 13).

Redaksi  Al-Fityah ditafsiri dengan arti para pemuda, mereka adalah orang yang lebih mudah menerima kebenaran serta mengikuti petunjuk dibandingkan dengan orang yang telah lanjut usia yang terjerumus ke dalam agama yang batil. Karena itu yang paling banyak menerima seruan Allah dan RasulNya adalah para pemuda. Adapun orang-orang tua dari suku Quraisy kebanyakan tetap kekal dengan agama nenek moyang mereka, tidak ada yang memeluk Islam kecuali sedikit. [3]

Maka melihat dari hal itu, generasi mudalah yang menjadi target sasaran musuh Islam. Genderang perang yang ditabuh yang dikemas dengan bentuk  perang dingin (the cold war) terus dikobarkan dari berbagai celah sudut. Baik melalui media internet, televisi, maupun media yang lain yang tidak mendidik. Lambat laun semuanya akan merusak moral dan kepribadian umat Islam dan generasi penerusnya.

Walhasil, peranan generasi muda dalam menopang eksistensi sebuah peradaban sudah tidak bisa pungkiri. Sebagai generasi yang akan melanjutkan segala perjuangan yang sudah ada sebelumnya, maka diperlukan sebuah jiwa militansi yang tinggi serta kesiapan dan pembekalan yang mumpuni dan berkualitas, baik dari segi intelektual maupun spiritual. Sebagaimana sebuah pepatah  Arab:

شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِّ

“Pemuda hari ini adalah pemimpin-pemimpin hari esok”. [] waAllahu a’lam.

__________

[1] Shahih Al-Jami’ no. 2833, dan diriwayatkan oleh Imam malik Bin Anas dalam kitabnya, Al-Muwattho’.

[2] Al-Mustadrok ‘Ala Al-Shohihain, juz 4 hal 341.

[3] Tafsir Ibnu Katsir, juz 5 hal 127.

Guyuran Satu Miliar Nariyah untuk Bangsa

LirboyoNet, Kediri—Pembacaan Satu Miliar Sholawat Nariyah serempak di seantero Nusantara pada Jumat malam (21/10/16) bukanlah even yang asal muncul, asal rame, atau hanya sebuah cara untuk bergegap gempita. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia sekarang adalah bangsa yang penuh tantangan. Banyak gangguan dan permasalahan berat yang musti diselesaikan dengan segera.

Ketua Tanfidziyah PBNU ini menyimpulkan, setidaknya, ada tiga masalah besar yang sedang menjangkit bangsa Indonesia. Pertama, wabah ekstrimisme dan radikalisme telah demikian menjamur di tengah masyarakat. Indonesia aman, menurut siapa? Meski tak seekstrim yang terjadi di Irak-Suriah, bom bunuh diri masih saja ditemukan kasusnya. Di satu daerah, pelakunya bahkan masih usia belasan tahun. Menurutnya, ini bukan masalah yang main-main, dan harus dituntaskan secepatnya. Rasulullah saw. saat mengelola pemerintahannya, pernah mengalami masalah yang sama. Dalam menyikapi kemunculan para ekstrimis (murjifûn), Rasulullah saw. tak segan-segan mengusir mereka keluar dari Madinah. Merekalah pengganggu stabilitas dan keamanan, bukan saja kepada pemerintah-negara, tapi juga sampai kepada aspek-aspek sempit dalam masyarakat.

Kedua, kemiskinan yang diderita masyarakat tak berkesudahan. Dengan mengutip beberapa data valid, terungkap bahwa kesenjangan antara masyarakat bawah dan atas sangat tinggi. Lebih dari lima puluh persen kekayaan Indonesia dikuasai segelintir orang. Dan sepertinya, masyarakat masih merasa nyaman dengan fakta ini. Padahal, Abu Hasan as-Syadzili, seorang ulama besar, tak pernah menghendaki kemiskinan. Ia telah dikenal sejarah sebagai ulama yang sangat royal. Pakaiannya, parfumnya, kehidupannya, jauh dari kesan kumuh dan miskin. Tentu saja ini mengundang rasa heran sebagaian muridnya. Bagaimana bisa, seorang ulama dengan segala keilmuan agamanya, ternyata tak lepas dari gemerlap dunia? Dengan tenang as-Syadzili mengurai jawabannya, “Pakaianku yang bagus ini seakan berbicara, ‘anâ al-ghaniy, falâ tarhamûnî (‘Aku seorang alim nan hartawan, jangan kasihani diriku!)’. Sementara pakaian lusuh akan memberi kesan, ‘anâ al-faqîr, fatarhamûnî (Aku miskin, maka kasihani diriku).”

Ketiga, korban keganasan narkoba sudah meraja di segala lini. Lebih-lebih, yang menjadi korban paling riskan adalah para remaja. Beruntungnya, Indonesia masih dibentengi oleh pesantren. Kiai dan pesantrennya adalah pertahanan ampuh (fî amnin wa amânin) bagi serangan narkoba. Keduanya bagaikan Asiyah (istri Firaun) yang gigih merawat Musa. Musa yang kemudian menjadi remaja terbuka matanya: ternyata yang mengelilinginya selama ini adalah budaya-budaya buruk: mabuk-mabukan; pelacuran; dan segala hal buruk lain. Namun kenapa Musa kecil samasekali tak terpengaruh budaya itu? Begitulah cara pesantren melindungi santri-santrinya.

Maka diperlukan kekuatan besar untuk melepaskan diri dari berbagai masalah ini. Pembacaan Sholawat Nariyah menjadi salah satu pilihannya. Mengapa? KH. M. Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo yang juga Rais Syuriah PWNU Jawa Timur menegaskan, telah banyak teks sejarah yang memberikan pencerahan bahwa Sholawat Nariyah memiliki faedah-faedah agung. Harapannya, tentu dengan sholawat ini, bangsa akan dibantu oleh satu daya yang super, yang mampu mewujudkan segala kehendak bangsa dan menepikan hal-hal yang tak diinginkan dalam kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Pembacaan Satu Miliar Sholawat Nariyah yang juga dihadiri oleh Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, mantan Menteri Pendidikan, ini dipimpin oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, pengasuh Ponpes Lirboyo. Para santri dan hadirin dengan khidmat mengikuti bacaan yang dilantunkan oleh beliau. Sebelumnya, acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan.

Beberapa tokoh turut hadir di dalam acara. Diantaranya, Prof. Dr. Kacung Maridjan, Rektor Universitas NU Surabaya, H. Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur, Lilik Muhibbah, Wakil Walikota Kediri, aparat pemerintahan, pengurus PCNU, KH. A. Habibulloh Zaini, pengasuh Ponpes Lirboyo, dan segenap dzuriyah Ponpes Lirboyo.][