Tag Archives: Hikmah

Hakikat Kaya dan Miskin

Pada suatu hari, ada orang kaya hendak memberi hadiah uang senilai lima ratus dinar kepada imam Junaid. Uang itu diletakkan di depan ulama yang terkenal dengan kesufiannya tersebut.

Melihat hal itu, imam Junaid bertanya, “Engkau masih punya uang selain itu?”

Iya, uang saya sangat banyak.” jawab orang kaya tersebut.

“Apakah engkau masih terus bekerja untuk mendapatkan uang?” imam Junaid kembali bertanya.

“Iya.” orang kaya itu menjawabnya singkat.

“Engkau lebih berhak atas uang ini daripada saya. Saya tidak memiliki uang sebanyak ini. Alhamdulillah, aku tidak ingin mencari bahkan mendapatkannya.” terang imam Junaid kepada orang kaya tersebut.

Dari jawabannya memberikan kejelasan bahwa hakikat kaya adalah perasaan cukup dan mensyukuri atas apa yang dimiliki. Begitu pula sebaliknya, hakikat kefakiran adalah perasaan tamak dan tidak cukup dengan apa yang dimilikinya meskipun ia bergelimang harta.[1] []


[1] Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, hlm. 378.

Buah Kerja Keras Iblis dan ‘Kalam Hikmahnya’

Sebuah kisah datang dari kaum legendaris di dunia, yakni Bani Israel, seorang penghamba yang sudah bertahun-tahun lamanya mengabdikan hidupnya kepada Sang Pencipta, Allah Swt. sama sekali ia terlepas dari carut marut urusan dengan manusia, ia jengah dengan semua itu.

Suatu waktu, tempatnya bertapa didatangi oleh sekelompok orang yang sebelumnya sudah tahu riwayat hidup si pengabdi Tuhan ini, mereka hendak melaporkan bahwa ada sebuah daerah yang penduduknya bukannya menyembah Allah, melainkan pohon rindang nan besar yang dijadikan pujaan.

Mendengar tuturan mereka, sang pengabdi ini murka tak terbendung, darahnya memuncak diubun-ubun, segera ia ambil kapak miliknya, ia slempangkan ke bahunya. Benar, ia hendak pergi menebang ‘pohon sesat’ tersebut.

Sesampainya di dekat lokasi pemujaan, ia berjumpa dengan seorang tua, yang ternyata ia adalah Iblis yang sedang mewujudkan dirinya seperti manusia. si Pengabdi tidak tahu menahu.

hendak kemana kau akan pergi? Semoga Tuhan merahmatimu” sapa Kakek Tua sembari menebar doa.

aku akan menebang pohon ini” jawab si penghamba masih terbawa amarahnya.

buat apa kau melakukan kekonyolan ini, sedangkan kau meninggalkan aktifitas ibadah dan rutinitasmu?” si Tua menebar perangkapnya.

ini juga bentuk dari ibadahku” si Pengabdi membela diri bahwa yang ia lakukan dengan menebang pohon tersebut juga merupakan wujud pengabdiannya kepada Tuhan.

tak akan ku biarkan kau melakukannya” sanggah Iblis menantang. Si Pengabdi merasa dilecehkan, belum juga amarahnya reda ia menerjang si Tua, terjadilah pergulatan sengit. Setelah beberapa saat adu kekuatan, si Pengabdi akhirnya mampu menghempaskan tubuh si tua ke tanah. Dengan senang ia menduduki dadanya.

Tahu posisinya sedang tidak beruntung kakek ini mencari jalan negoisasi.

sebentar dulu, lepaskan aku, akan ku beri kau petuah-petuah”  tanpa ada rasa curiga, si Pengabdi bangkit dari ‘tempat duduknya’

hei engkau, sungguh Allah tidaklah menitahkanmu untuk melakukan pekerjaan ini, Ia tidak pula mewajibkanmu. Satu sisi kau tidak juga ikut-ikuan menyembah pohon tersebut. Allah punya banyak Nabi dipenjuru bumi ini, jika Ia mau laksana akan dikirim seorang nabi ke daerah ini lalu Ia perintahkan untuk menebang pohon tersebut”panjang sekali ‘nasihat’ Iblis ini mencoba meyakinkan agar ia mengurungkan niatnya.

namun ternyata sama sekali tidak mampu merobohkan tujuan mulia dari si Pengabdi tersebut, tanpa mau berlama-lama mendebat kakek tua ini, ia lagi-lagi menerjang si kakek. Sama seperti pertarungan pertama, dengan mudah ia menumbangkan si kakek, menghempaskannya lalu duduk di atas dadanya. Si kakek tanpa daya upaya.

apa kau mau menerima sebuah hal yang mungkin saja bisa menjadi penengah masalah kita sekarang ini? Suatu hal yang lebih baik bagimu lagi bermanfaat” untuk yang kedua kalinya kakek menawarkan negoisasi.

apa itu?” si Pengabdi mulai terpancing penasarannya.

lepaskan dulu aku agar lebih nyaman kita bicaranya”  kakek memanfaatkan peluang.

Dengan mudah ia terpedaya, ia bangkit dari atas dada sang kakek. Mulailah lagi kakek menebar perangkapnya.

kau adalah seorang yang melarat tak punya apa-apa, kau gantungkan hidupmu daripada uluran tangan manusia kepadamu. Mungkin saja kau ingin posisimu lebih utama dibanding rekanmu. Tetanggamu. Engkau mungkin juga ingin perutmu terisi sehingga tak lagi kau butuhkan uluran tangan manusia?.”

Entah apa yang menyebabkan si Pengabdi mengiyakan apa yang telah ditebak oleh si kakek.

jika benar maka urungkanlah pekerjaanmu ini, sebagai imbalannya setiap kau membuka matamu dipagi hari kau akan menemukan 2 Dinar disisimu yang bisa kau gunakan untuk memenuhi kebutuhanmu dan keluargamua, bisa juga kau gunakan untuk bersedakah kepada teman-temanmu, bukankah hal ini lebih bermanfaat bagimu juga umat muslim dibandingkan dengan kau tebang pohon tersebut, apalagi pohon itu juga masih bisa dimanfaatkan, menebangnya tidak membawa keburukan juga keuntungan, tidak berimbas baik pula untuk saudara seimanmu.” Sukses. Si Pengabdi mencerna kata perkata yang masuk menjalar ke telinganya. Ia resapi. Mencoba mencari kesimpulan.

Dalam hati ia berguma “benar juga apa yang dikatakan kakek tua ini, aku bukanlah seorang nabi sehingga wajib bagiku menebang pohon ini. Allah juga tidak memerintahkanku sehingga berdosa jika aku tak menebangnya. Semua yang tadi ia sebutkan juga sepertinya lebih banyak manfaatnya bagiku.”  mantap. Ia tegaskan lagi kebenaran dari janji-jani kakek tadi. Setelah dirasa omongannya bisa dipercaya. Mereka sepakat.

Kembali ia ke petapaannya. Semalam berlalu. Di pagi hari, benar, ia dapati 2 dirham di sisi kepalanya. Tanpa sungkan ia mengambinya. Di malam kedua hal yang sama masih terjadi. Setelah malam ke tiga. Ia tak lagi menjumpai 2 dirham tersebut. Serta merta ia murka, merasa ditipu oleh si kakek.

Ia bangkit membawa kapaknya ingin melanjutkan niatnya yang pertama, merobohkan ‘pohon sesat’. Lagi-lagi tanpa diduga ia bertemu Iblis yang menyamar jadi  kakek itu.

mau kemana lagi kau?” tanyanya tanpa beban.

akan ku tebang pohon itu ! “ bara amarah meletup dari sorot matanya.

kau bohong, demi Allah kau tidak akan mampu melakukannya. Tidak pula akan kau temukan caranya.

Kejadian yang sama terulang seperti yang telah lalu, namu kali ini ada yang mengherankan. Si Pengabdi yang tempo hari dengan mudah menumbangkan kakek tanpa keringat mengucur, hari ini dihadapan kakek ia laksana bocah bau kencur. Kekuatannya hilang seketika. Kakek duduk dengan tenang di atas dada si Pengabdi ini, mengulangi perlakuannya yang dulu. Membalas.

Kaget dengan kejadian yang baru menimpanya, tak diduga.  si Pengabdi mencoba melakukan susuatu, tak ada jalan, ia lemah, kakek itu begitu tangguh sekarang.

jika kau urungkan rencanamu akan kulepaskan, jika tidak, tanpa segan kau akan ku sembelih” kakek mengultimatum, membuat nyalinya keder. Penasarannya pun juga masih misteri kenpa kakek ini begitu tanggu sekarang, apa kemarin ia hanya mengalah saja?.

baiklah, lepaskan aku. Lalu ceritakan tentangmu kenapa tempo hari aku mampu dengan mudah mengalahkanmu sedangkan di hari ini kau begitu perkasa

Kakek melepaskannya. Ia bangkit.

Dihari pertama amarahmu membara karena niatmu tulus karena Allah, sengga Ia memudahkanmu untuk mengalahkanmku, namun dihari ini, kau murka karena nafsu juga karena dunia, tak heran kau bagaikan bocah dihadapanku” */[ABNA]

Aisyah dan Rembulan yang Jatuh di Rumahnya

Rumah Sayyidah Aisyah menjadi rumah terakhir yang ditinggali Rasulullah, sebelum beliau wafat. Dan Aisyah pun menjadi satu-satunya tumpahan isi hati Rasulullah menjelang kepergiannya. Di hari-hari akhir itu, Rasulullah berbisik kepada Aisyah. “Tidak ada seorang nabi pun yang dicabut nyawanya, kecuali setelah ia diperlihatkan tempatnya di surga kelak.”

Beberapa waktu kemudian, kala detik terakhir hampir tiba, beliau pingsan di pangkuan Aisyah. Ketika sadar, pandangan mata beliau terangkat. Beliau mendesahkan satu kalimat.

اللهم في الرفيق الأعلى

Duhai tuhanku, kekasih yang luhur…”

Rupanya beliau telah ditunjukkan oleh Allah tempat yang akan dihuninya di surga kelak. Setelah kalimat itu terucap, Aisyah memandangi wajah beliau. Ia menyandarkan kepala beliau di peraduan. Kabar duka kemudian menyebar: Rasulullah, sang manusia sempurna akhlaknya, telah paripurna usianya. Istri-istri beliau berkumpul. Aisyah begitu terpukul.

Di kemudian hari, Aisyah mengenang hari-hari itu. “Sungguh, sebagian dari nikmat nikmat Allah yang diberikan padaku adalah Rasulullah wafat di rumahku, di hariku, dan Allah menyatukan cintaku dan cintanya saat wafatnya.”

Ia bahagia, sekaligus menderita. Dan penderitaan-penderitaan yang berat datang silih berganti di kehidupannya. Apalagi ketika ayahnya dilanda sakit parah.

Kala Abu Bakar berada di titik itu, Aisyah lah yang menjadi teman hidup di detik-detik terakhir sahabat terbaik Rasulullah saw. itu. Abu Bakar menyanjung kebaikan hati putrinya. “Anakku, engkau adalah manusia yang paling kucinta. Aku meninggalkan untukmu tanah di sana dan disana, yang kau pun tahu…” Aisyah terus mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan ayahnya. Hingga Abu Bakar sampai pada kalimat yang menggetarkan hati, “Berapa lapiskah kalian mengkafani Rasulullah?”

Aisyah menjawabnya layaknya cinta anak kepada sang ayah,“Tiga lapis baju putih. Tanpa gamis. Tanpa imamah.” Aisyah menguatkan hatinya. Terutama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ayahnya setelah itu.

“Hari apa Rasulullah wafat?”

Hari Senin.

“Ini hari apa?”

Hari Senin.

“Aku berharap aku wafat antara sekarang hingga nanti petang.”Abu Bakar kemudian memandang bajunya yang beraroma za’faran. “Cuci bajuku ini dan tambah dua baju lagi. Kafani aku dengannya.” Abu Bakar sangat menginginkan hari itu menjadi hari terakhirnya. Sebagaimana menjadi hari terakhir manusia yang dicintainya, Rasulullah saw.

Tetapi Allah lah penentu segala kehendak. Beliau wafat tidak pada hari itu. Beliau wafat besoknya, kala hari beranjak sore. Ia pun dimakamkan di kamar Aisyah, di dekat makam Rasulullah saw. Kepala Abu Bakar disejajarkan dengan pundak Rasulullah saw.

Dua peristiwa mengharukan ini, wafatnya Rasulullah dan Abu Bakar di pangkuan Aisyah, seakan menjadi wujud dari mimpi Aisyah suatu waktu dulu.

Ia bermimpi dalam tidurnya bahwa tiga rembulan jatuh di kamarnya. Ia menanyakan mimpi itu kepada ayahnya, Abu Bakar. “Wahai Aisyah. Jika mimpimu itu benar, akan terkubur di rumahmu tiga manusia terbaik di muka bumi ini.”

Ketika Rasulullah wafat dan dimakamkan di kamar Aisyah, Abu Bakar berkata, “Wahai Aisyah. Inilah salah satu rembulan itu. Ia rembulan yang terbaik.” Selain satu rembulan terbaik itu, dua rembulan lainnya adalah ayahnya dan Umar bin Khattab. Ketiganya dimakamkan bersandingan.

Sepeninggal Rasulullah, Sayyidah Aisyah hidup menjanda. Dan waktunya terlewat –40 tahun—dengan tetap menjanda. Ia menetap di kamarnya sepanjang sisa hidupnya, di samping makam al-mushtafa, kekasihnya. Ia tak pergi dari sana kecuali umrah, haji, dan berkunjung ke sanak saudara.

______________________________

Sirah al-Sayyidah ‘Aisyah Umm al-Mukminin. Sayyid Sulaiman al-Nadwi.  hal. 151-155.

Berbekal Pesan Rasulullah Saw.

Dunia adalah arena kehidupan fana yang bersifat sementara. Agama Islam mengistilahkan kehidupan sebagai Darul ‘Amal, tempat untuk mengerjakan amal kebaikan sebagai persiapan untuk kehidupan selanjutnya, yakni akhirat. Karena kehidupan sejati yang kekal adalah kehidupan setelah kematian itu sendiri. Karena alasan itu, suatu hari Rasulullah saw. pernah berbincang-bincang dengan salah satu sahabatnya, yaitu Abu Dzarrin ra.

Ketika hendak melakukan perjalanan, apakah engkau menyiapkan segala keperluannya?” Rasulullah saw. memulai perbincangannya dengan sahabat Abu Dzarrin ra.

Iya, benar Rasulullah” jawab Abu Dzarrin singkat.

Bagaimana apabila perjalanan itu adalah perjalanan menuju kehidupan akhirat. Bukankah aku pernah memberitahu dirimu mengenai suatu hal yang bermanfaat bagimu di hari (akhirat) tersebut, Wahai Abu Dzarrin” kata Rasulullah saw.

Benar Rasulullah. Demi ayah dan ibuku, kau telah mengajarkan hal itu.” jawab Abu Dzarrin membenarkan.

“(Yaitu) berpuasalah ketika panas di siang hari menyengat untuk bekal di alam kubur, salatlah di antara kegelapan malam untuk menghilangkan kegelisahan di alam kubur, tunaikanlah haji untuk bekal urusan (akhirat) yang begitu agung, bersedekahlah kepada orang miskin, atau dengan mengucapkanlah perkataan yang benar dan menjauhi perkataan yang buruk.” terang Rasulullah saw.

_____________________________

Disarikan dari kitab Salalim Al-Fudhala’ hal. 152, karya Syekh Muhammad Nawawi Banten

Mensyukuri Jodoh

Pada suatu hari, Al-Atabi sedang berjalan di jalanan kota Bashrah, Irak. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang wanita berparas cantik jelita yang sedang bergurau dengan lelaki tua yang berwajah buruk. Ketika lelaki tua itu berbicara sang wanita, wanita tersebut pun lantas tertawa.

Melihat kemesraan tersebut, akhirnya Al-Atabi penasaran. Ia bertanya kepada sang wanita, “Siapakah dan apa hubungan lelaki tua ini denganmu?

“Dia adalah suamiku.” jawab wanita cantik tersebut.

Bagaimana kamu bisa sabar dengan kejelekannya, sementara engkau adalah wanita yang sangat cantik?. Ini bukan hal yang lumrah.” tanya Al-Atabi penasaran.

Ingatlah, ketika mendapatkan istri sepertiku, ia bersyukur. Begitu juga aku ketika mendapatkan suami seperti dia, aku bersabar. Orang-orang yang bersyukur dan bersabar dijamin masuk surga. Apakah engkau tidak ridho dengan pemberian Allah padaku?” pungkas wanita tersebut.


Disarikan dari kitab An-Nawadir, hal. 176, karya Imam Al-Qulyubi.