Tag Archives: ibu

Dawuh KH. M. Anwar Manshur Untuk Para Perempuan

Zaman jahiliah itu seorang wanita tidak memiliki martabat, diasingkan kesana-kemari, lalu Nabi diutus dan terangkatlah derajat kaum wanita.

الجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ  

“Surga di bawah telapak kaki ibu” Hadis ini diantara bukti bahwa Allah SWT mengagungkan derajat wanita.

Diantara kewajiban orang tua adalah mendidik anaknya agar memahami sariat Islam

مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَةِ تَرْبِيَةُ الْبَنِيْنَ وَ الْبَنَاتِ

“Diantara ibadah yang paling utama adalah mendidik putra-putri”

Mendidik itu menjadikan yang tadinya tidak baik menjadi baik.

Jika orang tua tidak bisa mendidik sendiri anakanya untuk memahami sariat islam, titipkanlah ke pondok pesantren yang benar-benar mengajarkan sariat Islam.

Wanita itu penyangga negara, jika di suatu daerah wanitanya baik-baik, insyaallah daerahnya pun akan baik. Begitu pun sebaliknya.

Pentingnya mengarahkan putri-putri kita untuk belajar sungguh-sunguh adalah agar ia menjadi wanita yang solihah dan paham sariat Islam. Sebab banyak ilmu-ilmu bagi perempuan yang kurang bisa dijelaskan oleh laki-laki atau pun tabu jika laki-laki yang menjabarkannya.

Jangan menyangka bahwa wanita itu ‘Suargo nunut neroko katut’ (baik buruk ikut suami, red.), karena masing-masing manusia dapat beribadah sendiri.

Setelah orang tua wafat, jika anaknya itu menjadi Ahlil khoir (orang solih, baik, red.), Insyaallah orang tua tinggal memetik buah kebaikannya saja.

-disarikan dan ditranskrip dari dawuh beliau pada acara Reuni Akbar V Alumni Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo 20 November 2018 M./ 12 R. Awal 1440 H. Di aula al Mu’tamar PP. Lirboyo.

Pesan Rahasia di Hari Ibu


Dalam kitab Shahih Al-Bukhari termuat sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibn Mas’ud, ia berkata:

 “Apakah amal yang paling dicintai oleh Allah?” aku bertanya kepada Rasulullah saw.

Salat pada waktunya.” jawab Rasulullah saw.

Kemudian apa lagi?”

“Berbakti kepada kedua orang tua.”

 “Kemudian apa lagi?”

“Berjihad (berjuang) di jalan Allah.” pungkas Rasulullah saw. menjelaskan.[1]

Mengapa harus berbakti? Dalam kitab Dalil Al-Falihin disebutkan:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ وَيَعْنِيْ: أَنَّ مَنْ بَرَّ أُمَّهُ وَقَامَ بِحَقِّهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Surga itu dibawah telapak kaki ibu. Artinya barang siapa yang berbakti dan memenuhi hak-hak ibunya niscaya ia akan masuk surga.”[2]

Lebih luas lagi, kitab Faidl Al-Qadir memaparkan:

 اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ يَعْنِي التَّوَاضُعَ لَهُنَّ وَتَرْضِيْهِنَّ سَبَبٌ لِدُخُوْلِ الْجَنَّةِ ….وَقَالَ الْعَامِرِيُّ الْمُرَادُ أَنَّهُ يَكُوْنُ فِيْ بِرِّهَا وَخِدْمَتِهَا كَالتُّرَابِ تَحْتَ قَدَمَيْهَا مُقَدَّمًا لَهَا عَلَى هَوَاهُ مُؤَثِّرًا بِرَّهَا عَلَى بِرِّ كُلِّ عِبَادِ اللهِ لِتَحَمُّلِهَا شَدَائِدَ حَمْلِهِ وَرَضَاعِهِ وَتَرْبِيَّتِهِ

Surga itu di bawah telapak kaki ibu. Artinya rendah hati kepada ibu dan mendapatkan ridanya menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Al-Amiri berkata: Maksudnya, berbakti dan berkhidmah kepada ibu bagaikan debu yang berada di bawah telapak kaki mereka, mendahulukan kepentingan mereka atas kepentingan sendiri dan memilih berbakti pada mereka atas seluruh hamba Allah. Karena merekalah yang rela menanggung beban penderitaan kala mengandung, menyusui, dan mendidik anak-anak mereka.”[3]

Lantas, bagaimanakah bentuk rasa terimakasih kepada seorang ibu? Yaitu dengan bersyukur kepadanya. Allah swt. telah berfirman dalam al-Qur’an:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku lah tempat kembalimu.” (QS. Luqman [31]: 14)

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah mengungkap mengenai implementasi dari rasa syukur tersebut dengan ungkapan demikian:

فَالشُّكْرُ لِلَّهِ عَلَى نِعْمَةِ الإْيمَانِ، وَلِلْوَالِدَيْنِ عَلَى نِعْمَةِ التَّرْبِيَةِ. وَقَال سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ: مَنْ صَلَّى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ فَقَدْ شَكَرَ اللَّهَ تَعَالَى، وَمَنْ دَعَا لِوَالِدَيْهِ فِي أَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ فَقَدْ شَكَرَهُمَا.

Bersyukur pada Allah artinya mensyukuri atas kenikmatan iman, sedangkan bersyukur pada kedua orang tua artinya mensyukuri atas jerih payahnya dalam mendidik.Tsufyan Bin ‘Uyainah berkata: Barangsiapa telah menjalani shalat lima waktu maka ia telah bersyukur kepada Allah, dan barangsiapa mendoakan kedua orang tuanya seusai salat maka ia telah bersyukur pada keduanya”.[4]

[]waAllahu a’lam


[1] Shahih Al-Bukhari, vol. I hal. 112.

[2] Dalil al-Falihin, vol. I hal. 205, cet. Darul Ma’rifah

[3] Faidh Al-Qadir, vol. III hal. 361, cet. Maktabah At-Tijariyah Al-Kubro

[4] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, vol. VIII hal. 64, CD. Maktabah Syamilah

Gosip dan Seluk-beluknya

Di mana saja kita sering dengar gosip. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Mulai dari permasalahan-permasalahan sepele hingga permasalahan yang serius. Bahkan anak kecil pun juga kadang melakukannya. Karena menggosip sering dilakukan banyak orang, maka membahas hukum dan seluk-beluknya sangat penting dilakukan.

Pengertian dan Dampak

Gosip dalam terminologi syariat disebut dengan ghibah. Yakni membicarakan kejelekan orang lain, sekalipun orang yang dibicarakan berada di hadapannya. Allah berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ.

Artinya: “Dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? tentu kamu merasa jijik”. (al-Hujurat:12)

Ghibah (selanjutnya disebut gosip) termasuk kategori akhlaqul mazmumah (akhlak tercela) yang diharamkan oleh Allah, dikarenakan dapat menimbulkan dampak negatif bagi orang yang membicarakan maupun yang dibicarakan. Dampak-dampak tersebut di antaranya:
1. orang yang dibicarakan tersakiti;
2. orang yang membicarakan seakan-akan menganggap bahwa ciptaan Allah penuh kekurangan;
3. membuang-buang waktu;
4. menjadikan dosa.

Delapan (8) Sebab Menggosip
Sementara sebab-sebab gosip ada 8, yaitu:
1. Iri
Berawal dari rasa iri kepada orang lain, terkadang orang terjebak melakukan gosip, membicarakan kejelekannya, meskipun sebenarnya orang tersebut tidak mempunyai kesalahan kepadanya.

2. Sebagai pemuas hati
Memuaskan hati yang dimaksud adalah melampiaskan rasa kesal karena iri. Sehingga ia akan merasa puas dengan membicarakannya, karena beranggapan seakan-akan orang yang diajak bicarapun juga sependapat dengannya.

3. Tidak ingin orang lain sukses

Hal ini biasanya dikarenakan rasa takut seseorang andai saja ada orang lain yang sukses seperti dia maka dia akan tersaingi.

4. Keinginan untuk dianggap
Biasanya orang yang sering menggosip merupakan orang yang ingin dianggap sebagai orang hebat dan mulia. Dengan cara membicarakan kejelekan orang lain dan merendahkannya, ia berharap agar lawan bicara beranggapan sebenarnya dirinya lebih mulia dibanding dengan orang yang dibicarakan.

5. Ingin memiliki banyak teman
Upaya seseorang untuk memperbanyak teman ada kalanya dengan menjelekkan orang lain. Agar orang-orang di sekitarya lebih suka kepadanya, sehingga mempunyai teman banyak.

6. Bercanda
Membicarakan orang lain terkadang hanya untuk bercanda saja, untuk mencairkan suasana. Meskipun pada kenyataannya hal tersebut dapat menyakiti salah satu pihak.

7. Cuci tangan dari kesalahan
Ketika seseorang mempunyai kesalahan, terkadang ia tidak mau mempertanggungjawabkannya. Justru ia memilih untuk membicarakan kesalahan atau kejelekan orang lain, agar terbebas dari kesalahanya sendiri dan justru orang lain yang dituntut untuk mempertanggungjawabkannya.

8. Menertawakan orang lain
Yakni sebagai bahan ledekan atau ejekan. Menyakiti orang lain dengan cara meledek atau menjelek-jelekannya dihadapan orang banyak. Entah teman-temannya, kerabatnya ataupun yang lain.

Nasihat Bukan Termasuk Gosip

Menasehati orang lain sebab kecerobohannya, tidak masuk kategori gosip. Begitu juga ketika menunjukkan suatu kemaslahatan kepada orang yang ceroboh. Karena Allah tidak pernah mencegah hamba-Nya untuk saling menasehati. Dalam konteks ini orang yang diajak bermusyawarah tentang calon suami atau istri boleh menyampaikan kekurangan-kekurangan darinya kepada calon pasangannya. Namun sebatas yang diperlukan, demi kemaslahatan setelah pernikahan, agar tidak terjadi penyesalan di antara keduanya. Dalam hal ini Syekh Zainuddin al-Malibari menjelaskan:

وَمَنِ اسْتُشِيرَ فِي خَاطِبٍ أَوْ نَحْوِ عَالِمٍ يُرِيدُ الْاِجْتِمَاعَ بِهِ ذَكَرَ وُجُوبًا مَسَاوِيهِ.

Artinya: “Orang yang diajak musyawarah tentang laki-laki pelamar seorang wanita, atau semisal tentang guru yang hendak berhubungan dengannya, maka ia wajib menyebutkan keburukan-keburukannya.

Di mana kemudian oleh Syekh Abu Bakr bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi dijelaskan, bahwa menyebut keburukan itu menjadi satu-satunya jalan untuk menghindarkan orang yang meminta nasihat dari keburukan orang yang akan berhubungan dengannya. (Fath al-Mu’in dan I’anah at-Thalibin, III/311).

Doa Pelebur Dosa Gosip
Sehubungan dengan sulitnya menghindarkan diri dari gosip, apabila seseorang terlanjur melakukannya, maka disunnahkan membaca doa:

(سُبْحَانَكَ اللهم وَبِحَمْدِك أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلهَ إلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ. (رواه الترمذي، حديث حسن صحيح

Artinya, “Maha suci engkau ya Allah. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan dan bertobat kepada-Mu.” (HR. At-Tirmidzi. Hasan shahih)
Sumber:
1. Hafizh Hasan al-Mas’udi, Taisir al-Khalaq, (Surabaya: al-Hidayah, tth.),44-45)
2. Abu Zakariya Yahya an-Nawawi, Riyadh as-Shalihin, I/439.
3. Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in, (Bairut: Daral-Fikr, tth.), III/311.
4. Abu Bakr bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anah at-Thalibin, (Bairut: Daral-Fikr, tth.), III/311

Oleh: Arina Robithoh Fuadina, Santri 3 Tsanawiyah MPHM PP. Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo, asal Magelang

Sosok Ibu; Antara Peran dan Simbolisme Tahunan

Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt telah berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu,” (QS. Luqman: 14).

Penetapan 22 desember sebagai Hari Ibu merupakan salah satu momentum bagi umat untuk mengingatkan kembali atas segala perjuangan dan pengorbanan seorang ibu. Meskipun secara formalitas hari Ibu bukan tergolong dalam hari libur nasional, namun esensi yang termuat di dalamnya jauh lebih penting dibandingkan yang lain.

Adapun hal yang terpenting dalam konteks ini adalah penerapan untuk menghargai dan menghormati jasa dan pengorbanan sosok ibu dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kehadiran Hari Ibu benar-benar dapat dirasakan kemanfaatannya, bukan sebatas euforia dan simbolisme tahunan belaka.

Derajat Mulia Bagi Insan Mulia

Sebuah realita yang tak terbantahkan, bahwa jasa dan pengorbanan kedua orang tua sangatlah luar biasa, terutama seorang ibu. Bahkan begitu besar apa yang telah dilakukannya seakan tak mampu dibalas dengan apapun, bahkan dunia dan dan seisinya.

Sebagai agama yang paripurna, Islam sangat mengapresiasi jasa dan pengorbanan seorang ibu. Oleh karena itu, tidak asing lagi keberadaan dalil-dalil nash syariat yang menjelaskan tentang kemuliaan dan keluhuran derajatnya.

Diceritakan dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah Ra:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوكَ

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. Lantas ia bertanya; wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak untuk diperlakukan baik di antara manusia?. Beliau menjawab; Ibumu. Laki-laki itu kembali bertanya; kemudian siapa?. Beliau menjawab; Ibumu. Laki-laki itu kembali bertanya; kemudian siapa?. Beliau menjawab; Ibumu. Laki-laki itu kembali bertanya; kemudian siapa?. Beliau menjawab; Ayahmu”.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang Ibu dalam Islam harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Namun bukan berarti hadis ini merupakan bentuk diskriminatif terhadap sosok ayah, karena dalam penutup hadis tersebut menyebutkan kata “Ayah” yang juga harus diperlakukan sebagaimana terhadap sosok ibu. Hanya saja, hadis ini sebatas menjelaskan keutamaan seorang ibu dalam satu sudut pandang tertentu.

Sahabat Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ

Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu,”.

Dalam kitab Faidh Al-Qodir III/361, dijelaskan mengenai penjelasan hadis sahabat Anas bin malik tersebut. Bahwasanya melayani dan menghormati seorang ibu akan memudahkan seorang anak untuk mendapatkan ridhonya. Dan atas dasar ridho seorang ibulah yang menjadikan sebab keridhoan Allah Swt atas surga bagi anak tersebut.

Kewajiban untuk menghormati sosok ibu tersebut sejalan dengan sebuah hadis yang dikutip oleh argumentator Islam, Al-Ghazali, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin II/217:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حَقِّ الْوَالِدِ عَلَى الْوَلَدِ أَنْ يُحَسِّنَ أَدَبَهُ وَيُحَسِّنَ اِسْمَهُ

Rasulullah Saw bersabda; sebagian dari hak orang tua yang wajib bagi anaknya adalah memperbaiki tata krama kepadanya serta memanggilnya dengan sebutan yang baik,” (HR. Baihaqi).

Bagaimana Menghormati Sosok Ibu?

Sebesar apapun balasan kebaikan yang dapat diberikan seorang anak, tentu tidak akan mampu menyamai jasa pengorbanan seorang ibu. Namun setidaknya, seorang anak senantiasa selalu berusaha dengan berbagai hal. Salah satunya adalah dengan membantu meringankan bebannya, menghormati dan melayaninya, dan membuatnya selalu bahagia. Selain itu yang terpenting adalah mendoakan sosok ibu, untuk yang satu ini diklaim lebih bermanfaat kepadanya, baik yang masih hidup ataupun yang telah tiada. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا   

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya  kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sakali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkatan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil,” (QS. Al-Isra’: 23-24).

Walhasil, Islam sebagai norma dan etika sangat mengapresiasi kehadiran sosok ibu. Karena diakui ataupun tidak, segala jasa dan pengorbanannya telah menjadikan cikal bakal peradaban umat manusia. Tanpa kasih sayang ibu, manusia tak akan ada. Begitu juga tanpa menghormati ibu, manusia tak akan mulia.

[]waAllahu a’lam