Tag Archives: Idul Fitri

Hukum Salat Idul Fitri di Rumah

Di tengah pandemi corona, di beberapa wilayah di Indonesia telah menetapkan untuk melaksanakan salat Idul Fitri di rumah demi menghindari kerumunan massa sebagai antisipasi memutus rantai virus covid-19.

Dalam sudut pandang syariat, salat Idul Fitri adalah shalat sunah yang dapat dilaksanakan secara mandiri (tidak berjamaah). Syekh Zakaria al-Anshori menuturkan:

صَلَاةُ الْعِيْدَيْنِ سُنَّةٌ وَلَوْ لِمُنْفَرِدٍ وَمُسَافِرٍ

“Salat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) disunahkan meskipun bagi orang yang salat sendirian dan musafir.” (Fath al-Wahhab, I/97)

Salat Idul Fitri juga dapat dilakukan dengan berjamaah namun dalam lingkup kecil, baik di rumah bersama anggota keluarga atau di musholla bersama anggota masyarakat dengan jumlah yang relatif sedikit. Bahkan hal ini dianjurkan ketika ada sebuah uzur atau halangan tertentu yang tidak memungkinkan untuk salat di masjid. Imam an-Nawawi mencontohkan:

وَالسُّنَّةُ أَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةَ الْعِيْدِ فِي الْمُصَلَّي إِذَا كَانَ مَسْجِدُ الْبَلَدِ ضَيِّقًا

“Dan sunah mendirikan salat Ied di musholla apabila masjid di sebuah desa sempit.” (Al-Majmu’Syarh al-Muhadzdzab, V/4)

Untuk itu, seluruh tata cara salat Idul Fitri tetaplah sama, yakni salat dua rakaat dan dua khutbah setelahnya. Hanya saja untuk salat Idul Fitri yang dilakukan sendiri (tidak berjamaah) cukup melakukan salat tanpa dianjurkan khutbah. Syekh Ibrahim al-Baijuri menjelaskan:

وَلِمُنْفَرِدٍ) فَلَا تُشْتَرَطُ لَهَا الْجَمَاعَةُ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ وَلَا تُسَنُّ الٰخُطْبَةُ لِلْمُنْفَرِدِ)

“Dan bagi yang salat Ied sendiri maka tidak diharuskan berjamaah, hal ini sudah jelas. Dan juga tidak disunahkan khutbah bagi yang salat sendirian.” []waAllahu a’lam

Khutbah Idul Fitri: Memperkuat Persatuan Umat

(Khutbah Pertama)

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِ لَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَ هُ صَدَقَ وَعْدَ هُ وَ نَصَرَ عَبْدَ هُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَ هُ ، لَا إِ لَهَ إِلَّا اللهُ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُنَافِقُوْنَ ، لَا إِ لَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَالاَحَ هَلاَلٌ وَأَنْوَارٌ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Marilah kita ucapkan syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah SWT. Yang mana atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kita semua bisa berkumpul bersama dalam suasana hari kemenangan yang penuh suka cita ini, yakni hari raya idul fitri.

Tentunya yang menjadi manivestasi utama dari rasa syukur itu ialah meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya kapanpun dan dimanapun kita berada.

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Hari raya idul fitri adalah salah satu bentuk syiar umat Islam. Di hari kemenangan ini, marilah kita pertahankan kerukunan, persatuan dan kesatuan umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih lagi, di zaman yang seperti saat ini. Begitu maraknya berita, kabar, dan bahkan fenomena kebohongan di sekitar kita yang semakin sulit terbendung. Berita hoax, ujaran kebencian, adu domba, dan lain-lain telah menjadi ancaman nyata bagi kita semua, umat Islam, bahkan ancaman bagi seluruh elemen bangsa Indonesia. Tidak ada tujuan lain dari semua itu kecuali untuk memecah belah kerukunan umat dan mengadu domba bangsa kita.

Dengan demikian, formula terbaik dalam menyikapinya adalah dengan mempererat ikatan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wataniyah kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam al-Qur’an Allah SWT telah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai“. (QS. Ali Imran: 103)

Dalam penafsiran ayat tersebut, sahabat Ibnu Mas’ud menafsiri kata hablillah dengan arti jamaah atau perkumpulan. Seperti halnya yang telah Allah SWT firmankan dalam al-Qur’an, Rasulullah SAW pernah menyampaikan sebuah hadis tentang pentingnya sebuah persatuan dan bahaya perpecahan. Diriwayatkan dari al-Qadha’i, Nabi SAW bersabda:

اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

Persatuan adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab”.

Beberapa dalil tersebut telah memberi pemahaman bahwa Allah SWT dan Rasulllah SAW memerintahkan terhadap kita semua untuk menjaga persatuan dan kerukunan umat serta menjauhi permusuhan dan perpecahan. Dan seandainya terjadi sebuah perbedaan, itu adalah sebuah keniscayaan. Karena pada dasarnya perbedaan yang dilarang adalah setiap perbedaan yang berdampak pada kehancuran dan perpecahan di antara umat Islam. Sehingga kita semua diharuskan pandai dan bijak dalam menyikapi perbedaan yang ada.

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Kerukunan dan persatuan harus terus kita pertahankan, terlebih lagi kita sadari bahwa sebentar lagi kita semua akan merasakan atmosfer udara pesta demokrasi. Percaturan dunia politik, permaninan elit, bahkan spekulasi strategi tak lama lagi akan berada di sekeliling kita semua. Apabila tidak disikapi secara bijak, semuanya akan berpotensi besar akan membawa dampak buruk. Silahkan memiliki pilihan yang berbeda. Namun perbedaan pilihan itu jangan sampai mencederai kerukunan dan persatuan di antara kita semua.

Persoalan pemimpin dalam Islam sangat krusial. Ia dibutuhkan dalam masyarakat atau komunitas bahkan dalam lingkup yang sangat kecil sekalipun. Adanya pemimpin mengandaikan adanya sistem secara lebih terarah. Tentu saja pemimpin di sini bukan seseorang dengan otoritas mutlak. Ia dibatasi oleh syarat-syarat tertentu yang membuatnya harus berjalan di atas jalan yang benar. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda:

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

Bila ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya.” (HR Abu Dawud)

Hadits ini memuat pesan bahwa kepemimpinan adalah hal penting dalam sebuah aktivitas bersama. Perjalanan tiga orang bisa dikatakan adalah kegiatan yang dilakukan oleh tim kecil. Artinya, perintah Nabi tersebut tentu lebih relevan lagi bila diterapkan dalam konteks komunitas yang lebih besar, mulai dari tingkat rukun tentangga (RT), rukun warga (RW), desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga negara. Juga ada lingkup-lingkup aktivitas lainnya yang memperlukan kebersamaan. Hadirnya pemimpin membuat kerumunan massa menjadi kelompok (jamaah) yang terorganisasi. Ada tujuan, pembagian peran, dan aturan yang ditegakkan bersama.

Sebagai warga negara, kita harus berpartisipai aktif dalam pemilihan kepala daerah yang tak lama lagi akan digelar dengan menggunakan hak pilih kita. Dengan ikut andil di dalamnya, berarti kita semua turut berperan aktif dalam melancarkan misi untuk menciptakan hubungan timbal balik dan keharmonisan antara agama dan negara.

Namun yang menjadi tugas penting kita adalah bagaimana tetap menjaga kondusivitas selama pesta demokrasi ini berlangsung. Kita semua harus tetap memegang teguh dan memprioritaskan asas persatuan dan kesatuan. Karena kesatuan tidak hanya sebatas menjaga kita semua dari segala ancaman yang telah ada di depan mata. Melainkan kesatuan sangat dibutuhkan demi menciptakan kemaslahatan bersama.

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Pesan kedamaian, persatuan, dan kesatuan ini merupakan salah satu misi jam’iyah Nahdlatu ‘Ulama (NU). Karena di dalam konsep sosial Aswaja An-Nahdliyah, selalu ditekankan akan pentingnya arti kerukunan, terlebih lagi persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bagaimanapun, jami’yah Nahdlatu Ulama menganggap bahwa eksistensi sebuah negara merupakan elemen paling penting dalam mengimplementasikan serta menerapkan ruh syariat islam dalam kehidupan sehari-hari.

Al-Ghazali, sang argumentator islam pernah berkata dalam salah satu karya monumentalnya, Ihya’ Ulumuddin:

اَلمُلْكُ وَالدِّيْنُ تَوْأَمَانِ فَالدِّيْنُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

Kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar. Agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya. Sesuatu yang tidak memiliki landasan pasti akan tumbang. Sedangkan sesuatu yang tidak memiliki pengawal akan tersia-siakan.”

Indonesia itu seperti Negara Madinah yang dibangun atas dasar kesepakatan antar elemen bangsa yang berbeda untuk hidup bersama di bawah bendera NKRI. Maka dari itu, tidak ada alasan lagi untuk terus mempertahankan dan memegang teguh jam’iyah Nahdlatul ‘Ulama (NU).

Jama’ah sholat Idul Fitri rahimakumullah

Marilah kita jadikan idhul fitri kali ini untuk kembali memahami fitrah dasar manusia. Fitrah yang diciptakan untuk saling mengasihi dan saling menyayangi. Kita jadikan idul fitri sebagai momentum untuk merajut kembali tali kerukunan, kebersamaan, dan persatuan bagi bangsa kita dan Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmatnya serta menjadikanya baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur Amin ya rabbal ‘alamin.

إِنَّ اَحْسَنَ الْكَلاَمِ كَلاَمُ اللهِ الْمَلِكِ الْعَلاَّمِ  وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالىَ يَقُوْلُ وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِى الْمُهْتَدُوْنَ
أَعُوْذُ بِا للهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(3)
باَ رَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ .إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ

***

(Khutbah Kedua)

   اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اَللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ مَنَّ عَلَيْنَا بِهَذِهِ الصَّبِيْحَةِ الْمُبَارَكَةِ اللاَّمِعَةِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ذِي اْلأَنْوَارِ السَّاطِعَةِ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ .أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه . اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وأصْحابِهِ وَمَنْ وَالَاهْ.
أَمَّا بَعْدُ:  فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ تَكُوْنُوْا عِنْدَهُ مِنَ الْمُفْلِحِيْنَ الْفَائِزِيْنَ. وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلىَ خَاتَمِ النَّبِيّيْنَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِيْنَ ، فَقَدْ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ الرَّبُّ الْكَرِيْمُ فَقَالَ سُبْحَانَهُ قَوْلاً كَرِيْمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا .اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ عَلا بِهِمْ ‏مَنَارُ اْلإِيْمَانِ وَارْتَفَعَ، وَشَيَّدَ اللهُ بِهِمْ مِنْ قَوَاعِدِ الدِّيْنِ ‏الحَنِيفِ مَا شَرَعَ، وَأَخْمَدَ بِهِمْ كَلِمَةَ مَنْ حَادَ عَنِ الْحَقِّ ‏وَمَالَ إِلَى الْبِدَعِ.، اَللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ خُلَفَائِهِ اْلأَرْبَعَةِ سَادَاتِنَا أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ رَسُوْلِكَ أجَمْعَيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا ‏وآمِنْ رَوْعَاتِنَا وَاكْفِنَا مَا أَهَمَّنَا وَقِنَا شَرَّ مَاتَخَوَّفَنَا
عِبَادَ الله. اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ .

 

Teks Khutbah Idul Fitri 1439 H. versi pdf bisa didownload di link ini.

Idul Fitri Momentum Silaturrohim

LirboyoNet, Kediri – Sebagai umat Islam, hari raya Idul fitri merupakan momentum yang sangat tepat untuk silaturrohim saling memaafkan diantara sesama. Setelah sebulan penuh kita melaksanakan ibadah puasa sebagai ujian untuk melatih diri menahan hawanafsu dan ma’siyat di bulan suci Ramadlan.

Dengan berakhirnya bulan suci Ramadlan dan mulainya lembaran baru bulan Syawal mudah-mudahan kita kembali  Fitri/suci laksana bayi yang baru lahir. Momentum anjangsana ini benar-benar di manfaatkan oleh para pejabat teras sewilayah kota Kediri guna bersilaturrohim kepada Masyayikh pondok pesantren lirboyo Kota Kediri.

Pagi tadi hari Selasa (28/08/12) sekitar pukul 09.00 WIB rombongan Pejabat sewilayah Kota Kediri sowan di Kediaman beberapa Masyayikh pondok pesantren Lirboyo. Diantaranya kediaman KH. Ahmad Idris Marzuqi, KH.M. Anwar Manshur, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dan terakhir kediaman Almarhum Al-Maghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus yang sekarang dihuni Ibu Nyai dan putranya Yaitu KH. Reza Ahmad Zahid Lc.

Beberapa pejabat yang ikut rombongan diantaranya: Bapak Walikota sekalian, Wawali, Kapolresta Kediri, Ketua DPR Kota, DanBrigif 16, DanYonif 521 dan pejabat lainnya. Rombongan disamping silaturrohim juga memohon do’a kepada para Masyayikh agar amanat-amanat yang mereka emban senantiasa mendapatkan kelancaran dan kota kediri mudah-mudahan menjadi daerah yang aman, tentram, subur dan makmur. Nang

Lirboyo menetapkan 31 Agustus Hari Raya Idul Fitri 1432 H

LirboyoNet, Kediri – Terjawab sudah teka-teki awal dari bulan Syawal 1432 H (Hari Raya Idul Fitri 1432 H), setelah menunggu hasil Ru’yah dari beberapa titik lokasi pencarian hilal yang dikirim oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan hasil Sidang Istbat menetukan Idul Fitri yang dilaksanakan Pemerintah Republik Indonesia di Gedung Kementrian Agama, maka pondok pesantren lirboyo kota kediri jawa timur memutuskan bawa Idul Fitri 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Rabu 31 Agustus 2011 M.

Lebih lanjut Masyayikh berpesan, hendaknya para Alumni Pon. Pes. Lirboyo di seluruh Indonesia menginstruksikan kepada jama’ahnya agar berlebaran pada hari Rabu. feed