Tag Archives: pelatihan

Santri Belajar Seni Fotografi

LirboyoNet, Kediri- Santri dan dunia seni fotografi memang terkesan berlainan, berbeda dimensi. Namun itulah yang coba dibantah oleh para punggawa komunitas Fotografi Kediri Raya, atau yang lebih akrab dengan akronim FOKER. Mereka mencoba mengenalkan teori-teori dasar dunia fotografi, berikut beberapa seni fotografi pada santri.

Berbekal kamera DSLR, siang tadi (01/12), santri Nampak antusias menyimak apakah itu Aperture, apakah itu rule of Third, Framing, Angle of View dan istilah-istilah fotografi lain yang tak asing bagi para fotografer professional.

Dalam pelatihan selama sehari ini, ada sekitar dua puluhan santri yang ikut serta. Mereka merupakan peserta yang sama dengan pelatihan Wirausaha dan Internet Marketing kemarin. Mengapa? Karena pelatihan kemarin masih merupakan satu rangkaian dengan pelatihan wirausaha. Penanggung jawabnyapun masih sama, Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri. Hanya saja, mereka menggaet komunitas FOKER yang memang terjun dan akrab dengan seni fotografi.

Sebagai pemateri, adalah Ahmad Saifullah. Salah seorang anggota komunitas FOKER. ia menjelaskan, bahwa seni fotografi itu sebenarnya mudah. Sangat mudah. Hanya saja kita cukup perlu untuk terus membiasakan diri. “Seni fotografi itu mudah, kita hanya harus terus membiasakan untuk memotret, dan memotret”.

Belajar memotretpun, tambah saifullah, ibarat kita naik sepeda motor. Jika terbiasa, kita akan tahu saat-saat yang tepat untuk menambah kecepatan, mengerem, atau memindah gigi. Begitupun jika kita lama bersinggungan dengan dunia fotografi. Kita akan tahu kapan saat-saat yang tepat untuk menambah pengaturan ISO, mengurangi lebar diafragma, dan mempercepat atau memperlambat kinerja rana.

Setelah materi dasar dan beberapa jenis seni fotografi selesai dipaparkan, santri diajak untuk terjun langsung praktik memotret diluar ruangan. Beberapa objek yang terlihat bagus dibidik. Tentu saja tidak asal bidik, tapi menggunakan teori seni fotografi, seperti pattern dan refleksi cahaya.

Selain teori umum seni fotografi, santri juga diajari sedikit tips dan trik belajar memotret produk UMKM secara mandiri. Tak perlu mendatangkan fotografer profesional yang agak menguras biaya. Dengan bahan seadanya seperti kardus bekas, kertas manila, dan lampu belajar, bahan-bahan dapat diolah menjadi studio mini. “Kalau kita mendatangkan fotografer, biayanya bisa 500.000. Bahkan hingga satu juta, untuk fotografer profesional” terang Saifullah. Namun jika menggunakan tips sederhana ini, tak akan sampai keluar biaya puluhan ribu.

Sekitar jam 14:30 WIB, setelah seluruh penjelasan disampaikan, acara resmi ditutup. Short Curse fotografi siang kemarin mengakhiri rangkaian pelatihan singkat yang digelar Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri tahun ini. Ahmad Saifuddin, perwakilan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri menyampaikan, untuk tahun mendatang akan kembali digelar pelatihan-pelatihan serupa. “Insyaallah, kita akan bertemu dan sambung lagi di tahun 2017” katanya.[]

Pelatihan Kader TBC Pesantren Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Program CEPAT-LKNU (Community Empowerment of People Against Tuberculosis – Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama) pada Jum’at pagi (22/01) mengadakan kegiatan Pelatihan Motivator & Kader Pesantren di Kantor PCNU (Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama) Kediri, Jl. Dr. Sahardjo, belakang lapangan Campurejo, Kediri.

Kegiatan ini dihadiri oleh Ibu Yuni Alifah, SKM dari Dinas Kesehatan Kediri dan juga Ibu Esti, tim CEPAT-LKNU yang sudah terlatih. Untuk kali ini, program CEPAT-LKNU yang memfokuskan diri dalam pengendalian Tuber Kolosis (TB), menyasar para santri Lirboyo sebagai peserta pelatihannya, khususnya Pondok Induk.

Acara yang dimulai dari pukul 09.00 WIB ini dihadiri oleh 30an peserta dari santri Lirboyo. Kegiatan ini diadakan dalam rangka melatih kader santri agar cepat dan tanggap terhadap segala sesuatu tentang TB, mulai dari gejala sampai penanggulangannya, terutama yang terjadi dalam kawasan pesantren. Kader juga diharapkan bisa menjadi fasilitator untuk santri yang sudah terkena TB sebagai PMO (Pengawas Minum Obat), ataupun bagi yang belum terjangkit untuk mencegah menularnya TB. Karena berdasarkan survei, santri di Pesantren Lirboyo banyak yang terkena TB, demikian ungkap Ibu Sundari, fasilitator CEPAT-LKNU Kediri.

Acara yang rencananya akan berlangsung selama dua hari (jumat-sabtu) ini juga dihadiri oleh Bapak Hartono Rakiman sebagai perwakilan CEPAT-LKNU Pusat. “Ini merupakan yang ketiga kalinya diadakan oleh CEPAT-LKNU Kediri. Pertama kalinya, program ini direalisasikan pada bulan Mei 2014 yang lalu dengan beberapa pondok pesantren di Kediri sebagai pesertanya,” tambah Ibu Sundari.

Untuk pesantren Lirboyo sendiri, menurut keterangan dari Ibu Himah dari bagian Keuangan CEPAT-LKNU, kegiatan ini dilaksanakan dalam dua tahap. Rencananya, kegiatan ini akan dilaksanakan untuk kedua kalinya pada bulan Maret 2016 mendatang. “Peserta untuk tahap kedua nanti akan menimbang dari sikap tanggap dan perkembangan dari kader yang sekarang melakukan pelatihan. Jika dibutuhkan, bukan tidak mungkin untuk melakukan tambal sulam peserta,” imbuh beliau.][

Pelatihan Membuat Sabun dan Shampo

LirboyoNet, Kediri – Selasa pagi hingga Rabu sore (17-18/10) kemarin, puluhan santri Pondok Pesantren Lirboyo menikmati hari yang wangi. Ini karena mereka sedang mengikuti “Short Course Cara Membuat Sabun dan Shampoo”. Penyelenggaranya adalah Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri. Pelaksanaannya dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama, yakni pukul 10.30-12.00 WIs diperuntukkan bagi santri putri. Sementara santri putra mendapat jatah waktu pukul 13.30 WIs-15.00 WIs.

Pada hari pertama, setelah beberapa materi disampaikan, Bapak Agus Tri Widodo selaku pemateri mengajak semua peserta untuk menjalankan proses pembuatan sabun bersama-sama. Mulai dari pencampuran bahan, pemberian warna, hingga penuangan sabun pada cetakan.

Di sela-sela penjelasan, banyak istilah-istilah yang digunakan nampak asing di telinga para santri. Wajar saja, karena memang di kurikulum pesantren jarang ditemukan pelajaran-pelajaran sains semacam kimia maupun fisika. Karena itu, kegiatan ini dapat menjadi penambah wawasan santri akan ilmu-ilmu di luar pesantren.

Di hari kedua, para santri giliran mendapat pengetahuan tentang cara memproduksi shampoo. Caranya pun relatif mudah, sama ketika mereka mempraktekkan pembuatan sabun di hari sebelumnya.

Bapak Teguh Suwito S. Sos, perwakilan dari Dinas Koperasi menegaskan, Dinas Koperasi berusaha untuk memberikan pelatihan skill kepada masyarakat Kota Kediri, termasuk para santri Lirboyo. “Paling tidak, jika mereka sudah mempunyai skill dan bekal, kesempatan untuk berwirausaha semakin lebar,” kata beliau.

Keinginan pemerintah ini diamini oleh jajaran pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo. Sumbangan berupa alat produksi sabun dan shampo dari Dinas Koperasi dan UMKM ini akan dimanfaatkan oleh para santri dalam waktu segera. ][