HomeArtikelTarbiyyah Nabi

Tarbiyyah Nabi

0 1 likes 215 views share

Nabi  Muhammad SAW mengemban tugas berat sebagai nabi dan rasul terakhir. Beliaulah yang akhirnya membawa cahaya islam menyebar ke seantero dunia, menjadi penerang saat gelap gulita. Tidak mudah membawa panji amanat ini. Dan karena itu pulalah, beliau tidak secara “tiba-tiba” dan mendadak langsung menjadi utusan-Nya. Beliau baru diangkat menjadi rasul pada usia yang ke-empat puluh. Usia yang matang dan telah melalui banyak pengalaman.

Sejak kecil beliau telah diasuh oleh kakek beliau, seorang terpandang di kalangan Quraisy, Abdul Muthallib. Abdul Muthallib mengambil alih hak asuh sepeninggal ibu beliau, Aminah. Kakek beliau ini merupakan orang yang sanagat berwibawa dan disegani oleh masyarakat saat itu. Saking memiliki wibawa dan diseganinya, beliau punya tikar khusus di dekat Kakbah. Tempat biasa beliau duduk dan memandang Kakbah, tanpa ada satu orangpun yang berani mendudukinya. Tak seorangpun, selain cucu kesayangan beliau Nabi Muhammad SAW. Abdul Muthalliblah orang yang sedikit banyak juga “membantu” tahap demi tahap perkembangan masa kecil Nabi Muhammad SAW.

Dalam asuhan beliau selama kurang lebih dua tahun, Muhammad kecil benar-benar mendapatkan banyak pengalaman. Menurut cerita, kakek beliau selalu membawa Muhammad kecil ketika memimpin pertemuan dengan para tetua. Cucu kesayangan Abdul Muthallib ini duduk di pangkuan. Sementara Abdul Muthallib berbicara dihadapan banyak orang. Muhammad kecil yang cerdas mengamati hal tersebut, sembari duduk dalam pangkuan kakeknya. Ia jadi tahu, bagaimana caranya kelak bersikap dan menghadapi banyak orang. Bagaimana caranya mengambil keputusan yang dinantikan banyak orang. Dan bagaimana caranya tetap bijaksana ditengah tekanan banyak orang.

Muhammad kecil memang sangat cerdas, pertumbuhannya sangat cepat. Diusia yang ke dua, ia sudah seperti anak usia enam tahun dalam asuhan Halimah di pemukiman Sa’diyah.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga ketika muda pernah menggembalakan kambing. Ini merupakan suatu bentuk tarbiyah dan pendidikan. Bahwa dalam sabdanya, beliau mengatakan

(عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الغَنَمَ»، فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ» (صحيح البخاري

Dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Tidaklah Allah mengutus seorang nabipun kecuali nabi tersebut pernah menggembalakan kambing”.  Maka para sahabatpun bertanya, sedangkan engkau bagaimana? Nabi menjawab, “Ya aku pernah menggembalakan kambing milik penduduk Mekah dengan upah beberapa qirath.” (HR. Bukhari)

Mengomentari hadis ini, Ibn Batthal, salah seorang komentator Shahih Bukhari mengatakan, “Hal tersebut menjadi pondasi dan mukadimah untuk mengenalkan cara mengatur masyarakat. Menjadi contoh teladanlah keadaan-keadaan para penggembala. Ada keharusan-keharusan bagi para penggembala untuk memilihkan tempat menggembala, menggiring ternak ke tempat yang terbaik, memilihkan kandang dan tempat istirahat, ‘membela’ ternak gembala yang teraniaya, lemah lembut terhadap ternak yang lemah, dan tahu kondisi asli dan cara terbaik merawat mereka. Kalau direnungkan semua itu, itu menjadi cermin untuk bagaimana mengatur hamba dan masyarakat. Ini merupakan hikmah yang sangat dalam.”[1]

Senada dengan uraian Ibn Batthal, Syaikh Badruddin Al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari juga menulis, “Apakah hikmah dibalik peristiwa tersebut? Pendahuluan dan pondasi dalam mengenalkan cara mengatur masyarakat. Dan tercapainya ‘latihan’ untuk taklif-taklif yang nantinya akan dibebankan kepada umat beliau.”[2]

Salah satu yang menjadi bukti kebijaksanaan Nabi adalah peristiwa peletakan hajar aswad. Peristiwa bersejarah yang terjadi sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Beliau mampu meredam emosi dan ketegangan diantara para pemuka Quraisy. Beliau juga mampu menenangkan suasana yang panas nyaris timbul pertumpahan darah itu, dengan kebijaksanaan beliau.

Memang, Nabi sejak kecil telah memiliki sikap teladan dan kebijaksanaan. Hal tersebut semakin “matang” hingga tiba di usia beliau ketika menerima wahyu pertama di gua Hira.

 

 

[1] Syarah Ibn Batthal Juz 6 Hal 386 Maktabah Syamilah.

[2] Syarah Umdatul Qari juz 12 Hal 80.