Diasuh Jibril Jadi Kafir, Dibesarkan Fir’aun Jadi Nabi: Belajar dari Kisah Dua Musa

Kisah Dua Musa: Nabi Musa dan Musa Samiri

Masyarakat sering kali mengadopsi pandangan fatalisme sosial, sebuah kerangka berpikir yang menilai kapabilitas moral dan intelektual individu secara apriori berdasarkan silsilah serta ekosistem pertumbuhannya. Ada asumsi keliru yang telanjur kita yakini bersama. Kalau lahir di lingkungan rusak, masa depannya pasti hancur. Kalau seorang dibesarkan di lingkungan suci, jalannya pasti lurus.

Menyimpulkan bahwa seseorang yang tumbuh di lingkungan rusak pasti berujung gagal—atau sebaliknya—adalah sebuah penyederhanaan yang keliru. Pandangan ini mengabaikan hal terpenting dalam diri manusia, yakni kemampuan untuk beradaptasi, mengendalikan diri, dan bangkit melawan situasi sulit di sekitarnya.

Baca juga: Rakaat Pertama dan Kedua Membaca Surat yang Sama, Bagaimana Hukumnya dalam Fikih?

Kisah Dua Musa

Semua ini sejatinya telah terlukiskan dalam dua manusia dengan nama depan yang sama, yakni Musa.

Musa yang pertama adalah Musa bin Imran—sang Nabi, salah satu rasul Ulul ‘Azmi. Di mana dia dibesarkan? Di istana Fir’aun. Pusat dari segala kekafiran, kesombongan, dan kebejatan moral pada zamannya. Namun, dari tempat yang paling rusak itu, lahir seorang manusia yang paling suci di zamannya.

Musa yang kedua adalah Musa as-Samiri—orang yang kelak menyesatkan bani Israil dengan membuat patung anak sapi dari emas. Tahukah kita siapa yang mengasuhnya menurut sebuah riwayat? Malaikat Jibril. Makhluk suci yang tidak pernah bermaksiat. Namun, dari asuhan sedekat itu dengan kesucian, dia justru berakhir menjadi seorang kafir yang terlaknat.

Sampai-sampai seorang penyair menggubah untaian bait yang sangat menyentuh yang telah dikutip dalam beberapa kitab tafsir:

فموسى الذي ربّاه جبريل كافر … وموسى الذي رباه فرعون مرسل

“Musa yang diasuh oleh Jibril berakhir menjadi kafir… sementara Musa yang dibesarkan oleh Fir’aun terpilih menjadi seorang rasul.”

Lihatlah betapa indahnya skenario ilahi menjungkirbalikkan logika manusia. Ini adalah tamparan keras bagi kita yang sering menyalahkan keadaan. Hidayah dan taufik itu mutlak di tangan Allah, bukan hasil otomatis dari sebuah lingkungan atau pengasuh. Di balik pengasuhan manusia, ada yang disebut oleh Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi sebagai “Inayatul Murabbi al-A’la”—penjagaan langsung dari Pengasuh Tertinggi, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca juga: Ini 6 Waktu Saktah (Diam) yang Sunah Kita Lakukan dalam Salat

Jangan Pahami Mentah Cerita di Atas

Namun, jangan sampai kita membalik logika ini secara keliru. Jangan sampai kita berkata, “Kalau begitu, buat apa mendidik anak? Buat apa memilih lingkungan yang baik?” Ini adalah bentuk keputusasaan yang keliru.

Syaikh Wahbah az-Zuhaili menegaskan bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar. Kasih sayang, menjaga kehormatan anak, dan mencarikan teman yang baik adalah sebab-sebab datangnya kebaikan moral. Sebaliknya, kekerasan dan penghinaan di rumah justru akan melahirkan kebohongan, ketakutan, dan penyimpangan. Nabi kita yang mulia juga sudah mengingatkan bahwa setiap anak lahir di atas fitrah, dan orang tuanyalah yang mewarnainya.

Ulama terdahulu bahkan memiliki pepatah indah:

لولا المربي، ما عرفت ربي

“Jika bukan karena didikan sang guru, aku tak akan mengenal Tuhanku.”

Pendidikan baik tetaplah sebuah ikhtiar yang harus kita perhatikan.

Hanya saja, tulisan ini ingin mengingatkan satu hal: pendidikan dan lingkungan adalah sebab, tetapi mereka tidak bisa berdiri sendiri menciptakan hidayah. Kita sering melihat anak seorang ulama besar menyimpang, atau anak orang saleh yang tergelincir. Itu terjadi karena di atas segala ikhtiar manusia, ada Kehendak Ilahi yang melampaui segalanya.

Penutup

Maka, ambillah jalan tengah. Bekerjalah dan berusahalah mendidik seolah-olah pendidikan itulah yang mengubah segalanya, namun bertawakkallah kepada Allah karena hasil akhir dan hidayah sepenuhnya ada di tangan-Nya.

Bagi Anda yang hari ini merasa tumbuh di lingkungan yang salah, atau memiliki masa lalu yang kelam, ingatlah kisah Musa bin Imran. Istana Fir’aun tidak mampu merusak kesucian hatinya. Jangan biarkan masa lalumu mendikte siapa dirimu di masa depan. Berlarilah menuju Allah, karena Dia adalah sebaik-baik Penjaga.

Wallahu a’lam.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses