Peringatan haul ke-15 Al-Maghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus digelar di Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah III, Ngampel, Mojoroto, Kota Kediri, pada Jumat malam, 7 Agustus 2026 M bertepatan dengan 24 Shafar 1448 H. Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut dihadiri ribuan jamaah dari santri, alumni, keluarga besar Pondok Lirboyo, serta sejumlah ulama dan pejabat pemerintahan.
Rangkaian Acara
Sebagai pembuka, tim Rebana PP Al Mahrusiyah membawakan pembacaan Sholawat Nabi. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Ummul Quran oleh Agus Melvin Zainul Asyiqin, disusul pembacaan Tawasul dan Surat Yasin yang dipimpin oleh KH Abdul Hamid Abdul Qodir, Pengasuh PP Tahfidzul Quran Maunah Sari Bandar Kidul.
Baca juga: Ikonik: Menilik Wajah Baru Langgar Angkring, Cikal Bakal Ponpes Lirboyo yang Selesai Direvitalisasi
Rangkaian dilanjutkan dengan pembacaan Tahlil dan doa oleh KH Nurul Huda Ahmad. Kemudian pembacaan Maulid Nabi yang dibawakan oleh Habib Ahmad bin Idrus Al Habsy.
Sambutan Masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo
Dalam sambutannya, KH Abdulloh Kafabihi Mahrus mewakili Masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo menyampaikan kisah perjalanan pendiri Pondok Lirboyo, KH Abdul Karim, yang berasal dari Magelang.
Beliau menceritakan bagaimana KH Abdul Karim menempuh masa mondok dengan penuh perjuangan (masyaqoh). KH. Abdul Karim hanya memiliki satu pakaian, sehingga ketika dicuci, beliau berendam di air sambil menghafalkan kitab Alfiyah menunggu pakaiannya kering.
Baca juga: Ikonik: Menilik Wajah Baru Langgar Angkring, Cikal Bakal Ponpes Lirboyo yang Selesai Direvitalisasi
Diceritakan pula, sebelum berangkat mondok kepada Kiai Kholil Bangkalan, KH Abdul Karim mencari bekal dengan ikut nderep (memanen padi) di sawah. Namun sesampainya di kediaman Kiai Kholil, bekal berupa gabah tersebut justru diminta untuk dijadikan pakan ayam. Sehingga, beliau akhirnya bertahan hidup dengan memakan daun pace.
KH Abdulloh Kafabihi Mahrus juga menyampaikan bahwa KH Abdul Karim mondok selama 27 tahun, namun koleksi kitab peninggalannya tidak banyak. Hal ini disebabkan oleh kondisi yang serba kekurangan; ketika hendak mengaji kitab Fathul Muin, kitab Fathul Qarib miliknya terpaksa dijual untuk membeli kitab tersebut.
Sambutan Pemerintah Kota dan Provinsi Jawa Timur
Wakil Wali Kota Kediri, KH. Qowimuddin Thoha, hadir mewakili Pemerintah Kota Kediri sekaligus menyampaikan salam dari Wali Kota Kediri, Vinanda. Dalam sambutannya, ia memohon doa restu agar Kota Kediri dapat menjadi kota yang mapan, maju, agamis, produktif, dan aman, serta pada puncaknya menjadi kota yang “ngangeni”.
Baca juga: Tam-Taman Lirboyo: MHM dan Ma’had Aly Gelar Koreksian Kitab Semester Ganjil
Sementara itu, KH Jazuli, M.Si., mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Timur, memberikan motivasi kepada para santri melalui kisah pribadinya. Ia bercerita bahwa dahulu, saat hendak dipondokkan, ibunya sempat ditanya oleh orang mengenai masa depan anaknya yang mondok. Apakah bisa menjadi pegawai negeri. Namun pada akhirnya, ia justru menjadi pegawai negeri. Bahkan, sempat menjadi asisten pribadi (Aspri) bupati sebelum diangkat menjadi Kepala Dinas Pendidikan pada 2006.
Sambutan Alumni dan Keluarga Besar PP. HM Al Mahrusiyah
Mewakili alumni PP HM Al Mahrusiyah, Prof. Jaenal Effendi menekankan pentingnya santri memiliki mentalite agar mampu membawa perubahan di tengah dinamika zaman.
Baca juga: Tam-Taman Lirboyo: MHM dan Ma’had Aly Gelar Koreksian Kitab Semester Ganjil
Sementara itu, KH Reza Ahmad Zahid, yang menyampaikan sambutan atas nama keluarga besar KH Imam Yahya Mahrus, mengutip pepatah “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Beliau menekankan bahwa manusia akan dikenang lewat namanya, dan jika yang dikenang adalah kebaikan, maka doa-doa akan terus dipanjatkan untuknya.
Mauidzotul Hasanah Haul KH. Imam Yahya Mahrus
Puncak acara Haul adalah Mauidzotul Hasanah oleh KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). Dalam tausiahnya, beliau menyampaikan bahwa KH Imam Yahya Mahrus termasuk salah satu tokoh yang berjasa dalam pendirian Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang.
Gus Baha juga menyampaikan penjelasan keilmuan mengenai konsep dlomir (kata ganti) yang bersifat dinamis, dengan mencontohkan kesunahan shalat tahajud. Menurut beliau, meski secara redaksional perintah (khitob) tersebut awalnya ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, umatnya turut mendapatkan bagian dari kesunahan tersebut.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
