122 views

Menggabung Puasa Syawal Dengan Puasa Ramadhan

Niat merupakan bagian terpenting dari ibadah. Bahkan dengan niat yang benar orang dapat memperoleh banyak pahala dari satu ibadah, atau sebaliknya dengan niat yang salah sekian banyak ibadah akan percuma dan bahkan tidak sah.

Contoh saja puasa di bulan Syawal. Bahwa setiap ibadah yang tujuan utamanya adalah terlaksananya ibadah tersebut tanpa niat tertentu, seperti puasa bulan Syawal, maka kita dapat menggabung ibadah tersebut dengan ibadah lain baik sunah maupun wajib.

Sehingga orang yang memiliki tanggungan puasa di bulan Ramadhan dapat meng-qodlo’-nya di bulan Syawal sekaligus menjalankan kesunahan puasa bulan Syawal, dengan catatan tidak ada niatan untuk menunda puasa Syawal setelah melaksanakan puasa qodlo’. Jika demikian maka puasa Syawal dapat dilaksanakan pada bulan setelahnya yakni Dzul Qo’dah.

Baca juga: KH. Abdullah Kafabihi Mahrus : Rahasia sukses Kiai Mahrus

Sampai disini muncul kemusykilan, bukankah hadist mengenai kesunahan puasa bulan Syawal mengatakan:  

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa selama-lamanya.” (HR. Muslim)

Yang dengan jelas mengatakan bahwa kesunahan bulan Syawal hanya bagi mereka yang menjalankan puasa Ramadhan. Maka bagaimana mungkin orang yang memiliki tanggungan qodlo’ puasa Ramadhan diperbolehkan melaksanakan puasa Syawal sebelum mereka melunasi tanggungannya?

Larangan puasa Syawal adalah bagi mereka yang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa ada halangan dan berkeinginan untuk menunda melaksanakan puasa Syawal. Dengan demikian orang yang meninggalkan puasa Ramadhan karena halangan seperti bepergian dan sakit, tetap sunah baginya melaksanakan puasa Syawal sebelum meng-qodlo’ puasa Ramadhan. Begitu juga orang yang tidak puasa Ramadhan tanpa uzur namun tidak terbesit dalam hatinya untuk menunda melaksanakan puasa syawal.

Baca juga: Halaqoh dan Halal bi Halal Majelis Muwasholah di Lirboyo

Syekh sulaiman al-Bujairomi dalam hasyiyahnya menjelaskan:

قَوْلُهُ: (وَصَوْمُ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ) أَيْ وُجُودُ صَوْمِ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ أَوْ نَفَاهَا، أَوْ صَامَهَا عَنْ نَذْرٍ أَوْ نَفْلٍ آخَرَ أَوْ قَضَاءٍ عَنْ رَمَضَانَ أَوْ غَيْرِهِ؛ نَعَمْ لَوْ صَامَ شَوَّالًا قَضَاءً عَنْ رَمَضَانَ وَقَصَدَ تَأْخِيرَهَا عَنْهُ لَمْ تَحْصُلْ مَعَهُ فَيَصُومُهَا مِنْ الْقَعْدَةِ،

Artinya: (puasa enam Hari bulan syawal), yaitu terlaksananya puasa enam hari pada bulan syawal, walau dia tidak mengetahui, atau mengabaikannya, atau puasa nazar, puasa sunah yang lain, qodlo’ Ramadhan atau yang lain. Namun bila puasa qodlo’ Ramadhan dan menghendaki menunda puasa syawal maka ia tidak dapat kesunahan. Sehingga dapat melakukan puasa syawal pada bulan Dzul Qo’dah.” (Sulaiman ibn Muhammad al-Bujairomi, Tuhfah al-Habib ‘Ala Syarh al-Khotib)

قَوْلُهُ «ثُمَّ أَتْبَعَهُ» إلَخْ يُفِيدُ أَنَّ مَنْ أَفْطَرَ رَمَضَانَ لَمْ يَصُمْهَا وَأَنَّهَا لَا تَحْصُلُ قَبْلَ قَضَائِهِ، وَقَدْ يُقَالُ التَّبَعِيَّةُ تَشْمَلُ التَّقْدِيرِيَّةَ لِأَنَّهُ إذَا صَامَ رَمَضَانَ بَعْدَهَا وَقَعَ عَمَّا قَبْلَهَا تَقْدِيرًا، – الى ان قال –. فَيُسَنُّ صَوْمُهَا وَإِنْ أَفْطَرَ رَمَضَانَ، أَيْ بِعُذْرٍ؛ فَإِنْ تَعَدَّى بِفِطْرِهِ حَرُمَ عَلَيْهِ صَوْمُهَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَأْخِيرِ الْقَضَاءِ الْفَوْرِيِّ

“Dawuh rosul “kemudian mengikutinya” memberi pemahaman bahwa orang yang tidak puasa Ramadhan maka tidak bisa puasa syawal dan bahwa puasa syawal tidak hasil sebelum mengqodlo’ puasa Ramadhan. Dijawab, bahwa mengikuti adakalnya secara kira-kira, sebab ketika mengqodlo’ puasa Ramadhan setelah puasa syawal maka secara kira-kira dianggap melaksanakan qodlo’ sebelum puasa syawal. Maka puasa syawal tetep sunah walaupun tidak puasa Ramadhan, Dengan catatan tidak puasa Ramadhan sebab uzur. Apa bila sengaja tidak puasa Ramadhan tanpa alasan maka haram baginya puasa syawal, sebab mengakhirkan qodlo’ puasa yang dituntut untuk segera dilaksanakan.” (Sulaiman ibn Muhammad al-Bujairomi, Tuhfah al-Habib ‘Ala Syarh al-Khotib)

Sekian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi as-shawab.

Imam Nafi’ Al-Madani (Ahli Qira’at yang Memiliki Banyak Keistimewaan)

Untuk informasi silahkan kunjungi akun instagram kami: Pondok Lirboyo

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.