1,966 views

Penertiban Toa Wewenang Pemerintah

Sebagai bangsa yang multi kultural dan keyakinan seperti NKRI ini jelas ujian dan tantangan akan berlangsungnya kehidupan harmonis selalu mengintai, seperti yang kita ketahui beberapa tahun belakangan ini. Belum lagi adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja memprofokasi dan mengambil keuntungan. Bagaimanapun itu, selebat apapun guyuran yang mencoba memecah belah keutuhan bangsa, tugas semua warga negara untuk menyamakan dan mempertahankan kesatuan.

Dengan kebhinekaan yang ada dalam bumi pertiwi ini, sikap saling menghargai  dan memahami terhadap orang lain mutlak dibutuhkan. Kita mulai dari ruang lingkup sosial terkecil setelah keluarga, yakni tetangga. Yang dalam syariat kita, tetangga memiliki hak atas diri kita. Syariat mengatur kita sangat ketat agar tetangga mendapatkan hak-haknya.

Terkait dengan rencana penertiban toa masjid oleh menteri agama yang sedang ramai diperbincangkan, dalam ceramahnya, KH. Azizi Hasbullah menuturkan bahwa hal tersebut menjadi wewenang pemerintah dan memang sudah seharusnya.

“(Dalam rangka) tidak boleh menyakiti tetangga baik tetangga muslim maupun non-muslim, menteri agama mengatur toa. Tujuannya apa? Supaya tidak mengganggu terhadap orang lain. Bukan melarang penggunaan toa. Memang tindakan ini dilematis.” Karena, satu sisi kita sebagai pemilik suatu barang atau apapun itu, memiliki hak untuk menggunakannya semau kita, namun tetap dengan catatan, dalam konsep fikih kita memiliki aturan bahwa ;

للمالك تصرف ملكه حيث شاء مالم يؤذ غيره إذاء غير محتمل عادة

“Seseorang yang memiliki sesuatu, punya hak untuk menggunakannya sesuka hati. Dengan catatan (pengggunaannya) tidak mengganggu orang lain dengan gangguan yang tidak bisa ditolerir.”

Lalu sebatas mana penggunaan barang pribadi yang masih dianggap wajar? Beliau melanjutkan, dalam hal ini penggunaan pengeras suara untuk acara pernikahan, yang dalam pelaksanaannya hanya beberapa waktu saja. Tetangga kita yang mendengar suara sound system dari acara tersebut akan bisa memaklumi. Tetapi jika setiap hari demikian jelas tidak bisa ditoleransi, haram hukumnya. Kita bisa menganalogikan penggunaan hak milik lainnya dengan ini.

Tidak cukup itu, bahkan hal-hal yang berupa ritus agama sekalipun, namun jika di dalamnya terdapat unsur yang menyakiti dan menyinggung orang lain juga tidak diperkenankan.

Pondok Pesantren Putri Al-Mahrusiyyah

“Perkara yang baik, akan tetapi jika cara kita menyampaikannya buruk ya akan menjadi buruk. (baca) al-Quran itu baik, tetapi jika bacaannya salah semua, jadi buruk. ” Tutur beliau.

Dari sini juga kenapa salat di siang hari bacaannya lirih dan keras di malam hari, menurut beliau karena pada waktu itu orang-orang kafir di siang hari tengah beraktifitas, jika bacaan salat dikeraskan dan sampai terdengar oleh mereka, kaum muslimin akan mereka datangi dan pastinya akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

“Nah, kalau kita melakukan kebajikan namun tidak pas sehingga menimbulkan celaan orang lain, itu juga haram.”

Memang semua harus sesuai pada porsinya, jika kita memaksakan diri karena hanya berpedoman bahwa perkara yang kita lakukan itu jelas-jelas baik, tanpa memandang baik-buruknya dampak setelahnya, itu justru malah menghinakan agama. Padahal firman Allah SWT.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.”

Sehingga bukannya dakwah maupun menampakkan syiar namun justru malah mendatangkan cacian dari orang lain.

“Makanya penertiban toa masjid itu tidak masalah. Kenapa? Supaya tidak mengganggu orang lain. Sebab keberadaan masjid dan mushalla itu berjejer-jejer. Yang sini baru selesai azan disusul mushalla yang lain, begitu seterusnya.”

Namun seperti yang lazimnya terjadi pada masyarakat kita, mereka akan pergi ke masjid di dekat rumahnya jika mendengar adzan dari masjid tersebut, boleh dikata mereka tidak akan pergi ke masjid sebelum masjid dekat rumahnya melantunkan azan, meski toh masjid dan mushalla di tempat lain sudah adzan.

Jika demikian kenyataannya, maka alangkah baiknya kalau volume toa tidak berlebihan, atau apabila selama ini yang datang ke masjid hanya orang-orang itu saja yang rumahnya dekat dengan masjid dan cukup bagi mereka untuk mendengarkan azan menggunakan suara toa atau sound system bagian dalam saja, maka itu lebih baik.

“Lho berarti tidak senang dengan azan dong? Bukan masalah senang atau tidaknya, tapi ibadah itu ada tempatnya (melihat kondisi dan situasi) masing-masing.”

Azan Jangan Terlalu Panjang

“Kalau azan jangan panjang-panjang, meski di situ ada ceweknya,” Lanjut beliau sambil bercanda, Jangan sampai panjang yang ada dalam kalimat azan melebihi 14 (empat belas) harakat, hukumnya haram jika lebih. Kenapa empat belas harakat atau ketukan? karena ini panjang bacaan yang paling maksimal dari pendapat-pendapat imam ahli qiraah tentang bacaan mad. Karena itu saran beliau agar azan itu singkat saja. Sekian. Allahu a’lam.[]

Lebih lengkap tentang ceramah beliau klik di sini, jangan lupa untuk mendukung channel Youtube beliau,

Penertiban Toa Wewenang Pemerintah
1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.