Tag Archives: Hijrah

Batas Minimal Usia Pernikahan

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sebenarnya, adakah batasan minimal khusus untuk usia pernikahan? Apabila ada, berapakah batasan minimal usia yang diperbolehkan untuk menikah? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Miftah- Mojokerto)

__________________

Admin- Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Dalam sudut pandang syariat, para ulama berbeda pendapat mengenai usia calon pengantin. Apakah usia tersebut menjadi syarat keabsahan dalam pernikahan ataukah tidak. Sebagaimana penjelasan Dr. Wahbah az-Zuhaily dalam kitabnya, Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu:

يَرَى ابْنُ شَبْرَمَةَ وَأَبُوْ بَكْرِ الأَصَمِّ وَعُثْمَانَ البَتِّيْ رَحِمَهُمُ اللهُ أَنَّهُ لَا يُزَوَّجُ الصَّغِيْرُ وَالصَّغِيْرَةُ حَتَّى يَبْلُغَا لِقَوْلِهِ تَعَالَى:(حَتَى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ) (النساء:6) فَلَوْ جَازَ التَّزْوِيْجُ قَبْلَ الْبُلُوْغِ لَمْ يَكُنْ لِهَذَا فَائِدَةٌ وَلِأَنَّهُ لَا حَاجَةَ بِهِمَا إِلَى النِّكَاحِ وَرَأَى ابْنُ حَزْمِ أَنَّهُ يَجُوْزُ تَزْوِيْجُ الصَّغِيْرَةِ عَمَلاً بِالْآثَارِ الْمَرْوِيَّةِ فِيْ ذَلِكَ – إلى أن قال – وَلَمْ يَشْتَرِطْ جُمْهُوْرُ الْفُقَهَاءِ لِاِنْعِقَادِ الزُّوَاجِ: الْبُلُوْغَ وَالْعَقْلَ وَقَالُوْا بِصِحَّةِ زُوَاجِ الصَّغِيْرِ وَالْمَجْنُوْنِ

Ibn Syabramah, Abu Bakar Al-Ashom dan ‘Utsman Albatty berpendapat bahwa Anak lelaki dan perempuan yang masih kecil tidak boleh dinikahkan sampai keduanya memasuki usia baligh. Berdasarkan firman Allah: Sampai mereka cukup umur untuk menikah. (QS. An-Nisa: 6). Apabila diperbolehkan menikahkan sebelum baligh, maka tidak akan berfaidah, karena keduanya (lelaki dan perempuan yang belum baligh) masih tidak membutuhkannya. Adapun Ibn Hazm berpendapat bahwa diperbolehkan menikahkan perempuan kecil sesuai dasar hadits Atsar yang telah diriwayatkan…. Adapun mayoritas ulama tidak mensyaratkan batas usia baligh dan kesempurnaan akal sebagai syarat keabsahan pernikahan. Bahkan mereka (mayoritas ulama) memperbolehkan pernikahan anak kecil dan pernikahan anak yang gila.”[1]

Secara singkat, dalam penjelasan tersebut mengatakan bahwa mayoritas ulama tidak membatasi secara khusus terhadap usia minimal pernikahan. Namun yang perlu diperhatikan juga adalah adanya aturan hukum positif perundang-undangan negara yang tercantum dalam UU tentang perkawinan pasal 7 ayat 1 yang mengatur batas usia minimal yang diperbolehkan menikah, yaitu 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki. []waAllahu a’lam

 

____________________

[1] Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, IX/171, CD. Maktabah Syamilah

Hukum Memperbarui Nikah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ada satu hal yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukumnya memperbarui nikah? Dan kalau boleh apakah harus membayar mahar lagi? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Faza B- Semarang)

____________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Memperbarui nikah (tajdidun nikah) adalah sebuah istilah yang digunakan oleh masyarakat untuk mengulangi akad nikah sudah sah. Biasanya, praktek tersebut dilakukan ketika usia pernikahan telah berjalan beberapa tahun. Dengan berbagai motif tujuan, seperti nostalgia masa-masa penikahan, sebagian pasangan memilih untuk melakukan tajdidun nikah tersebut.

Dalam pandangan syariat, hal tersebut diperbolehkan. Karena pada umumnya tajdidun nikah dilakukan demi kehati-hatian (ikhtiyat) terhadap akad nikah yang baru saja dilakukan. Atau dengan tujuan untuk memperindah hubungan pernikahan yang telah terjalin sempurna.

Dari tujuan ini sudah sangat jelas bahwa memperbarui nikah (tajdidun nikah) dilakukan bukan dalam rangka pengakuan atas talak. Sehingga tidak ada keharusan membayar mahar untuk yang kedua kalinya. Sebagaimana penjelasan yang dipaparkan imam Ibnu Hajar:

أَنَّ مُجَرَّدَ مُوَافَقَةِ الزَّوْجِ عَلَى صُورَةِ عَقْدٍ ثَانٍ مَثَلًا لَا يَكُونُ اعْتِرَافًا بِانْقِضَاءِ الْعِصْمَةِ الْأُولَى بَلْ وَلَا كِنَايَةَ فِيهِ وَهُوَ ظَاهِرٌ الى ان قال- وَمَا هُنَا فِي مُجَرَّدِ طَلَبٍ مِنْ الزَّوْجِ لِتَحَمُّلٍ أَوْ اِحْتِيَاطٍ فَتَأَمَّلْهُ

Sesungguhnya persetujuan suami atas akad nikah yang kedua (memperbarui nikah) bukan merupakan pengakuan habisnya tanggungjawab atas nikah yang pertama (talak) dan juga bukan merupakan kinayah (kiasan) dari pengakuan tersebut. Dan itu sudah sangat jelas … sedangkan apa yang dilakukan suami di sini (dalam memperbarui nikah) semata-mata untuk memperindah atau berhati-hati.” []waAllahu a’lam

Referensi: Tuhfah al-Muhtaj, juz VII hal 391.

 

99 Bedug Bertalu se-penjuru Kediri

LirboyoNet, Kediri—Bulan Muharram seringkali diartikan sebagai simbol hijrah oleh kaum muslim. Bulan yang menjadi awal dari sebelas bulan yang lain dalam penanggalan hijriyah ini dianggap mewakili istiadat hijrah kaum muslim. Peristiwa-peristiwa agung di dalamnya menguatkan kaum muslim untuk berani melangkahkan kakinya menuju perubahan yang lebih baik.

KH. Abdul Hamid Abdul Qodir, Rois Syuriah PCNU Kota Kediri mengungkapkannya di dalam even Parade 99 Bedug, Kamis (21/09) kemarin. “Hijrah pada dasarnya adalah berpindah dari satu keadaan yang buruk, menuju keadaan yang lebih baik. Maka tahun baru Hijriyah ini harus kita maknai dengan keberanian kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan positif.”

PCNU Kota Kediri, seperti yang diakui Ketua PCNU, KH. Abu Bakar, menyelenggarakan even ini demi  menyongsong tahun baru 1439 Hijriyah. Ini tidak lepas dari konteks awal tahun yang selalu diperingati sebagai pembuka lembaran baru dalam alur kehidupan masyarakat Indonesia kini. Karenanya, perlu diadakan even yang dapat menjadi simbol lembaran baru itu.

Lapangan Barat Aula al-Muktamar siang itu benar-benar padat oleh ratusan kendaraan. Kendaraan itu telah direka sedemikian rupa. Bermacam desain mobil mereka perlihatkan. Ada di antaranya yang berbentuk lonjong dan panjang layaknya perahu. Ada yang menyusun jerami-jerami di atasnya seperti gubug. Ada yang mengusung sound system besar bertumpuk-tumpuk. Ada pula yang memakai minitruk, tanpa atap, tanpa hiasan, dan hanya berisikan anak-anak kecil membawa rebana. Semua memiliki tujuan yang sama, memeriahkan even yang jarang ada di Kota Kediri ini.

Parade ini memilih Pondok Pesantren Lirboyo sebagai titik awal pemberangkatan. Kemudian, rombongan parade diberangkatkan ke arah utara menuju simpang empat Semampir, simpang tiga Kantor Pos, hingga pada akhirnya finish di Balai Kota Kediri.

Even yang dilangsungkan sejak pukul 13.00 WIB ini diikuti oleh kurang lebih 100 kendaraan bak terbuka, dan ribuan masyarakat Kota Kediri.][

Sejarah Peradaban Kalender Arab

Sebelum Peradaban Islam, masyarakat bangsa Arab sudah mengenal kalender yang beracuan bulan-matahari. Kalender di Semenanjung Arab selain sebagai pengingat masa, juga digunakan untuk jadwal peperangan dan kalender yang berlaku saat itu ternyata menimbulkan kekacauan. Sebab masing-masing suku menetapkan tahun kabisatnya sendiri-sendiri. Hal ini menjadi dalih dan pembenaran untuk menyerang suku lain di bulan Muharram. Dengan alasan, bulan itu adalah bulan Nasi’ bukan bulan Muharram, yang menurut perhitungan mereka adalah bulan gencatan senjata.

Dalam kalender ini, pergantian tahun selalu terjadi di penghujung musim panas (sekitar bulan September, ketika matahari melewati semenanjung Arab dari utara ke selatan). Bulan pertama dinamai Muharram, karena di bulan ini seluruh suku di semenanjung Arab bersepakat mengharamkan peperangan. Pada bulan kedua, sekitar bulan Oktober, daun-daun mulai menguning. Karenanya, bulan ini diberi nama Shafar, yang berarti kuning. Di bulan ketiga dan keempat, bertepatan dengan musim gugur (rabi). Keduanya diberi nama bulan Rabi’ul Awwal dan Rabi’ul Akhir.

Januari dan Februari adalah musim dingin atau musim beku (jumad), sehingga dinamai dengan Jumadil Awwal dan Jumadil Akhir. Di bulan berikutnya, matahari kembali melintasi semenanjung Arab. Kali ini, matahari bergerak dari selatan ke utara. Salju di Arab mulai mencair. Karenanya, bulan ini dinamai dengan bulan Rajab. Setelah sabu mencair, lahan pertanian kembali bisa ditanami. Masyarakat Arab mulai turun ke lembah (syi’b) untuk menanam atau menggembala ternak. Bulan ini disebut bulan Sya’ban. Bulan berikutnya, matahari bersinar terik hingga membakar kulit. Bulan ini disebut dengan bulan Ramadhan (dari kata ramdhan, yang berarti sangat panas).

Cuaca makin panas di bulan berikutnya, hingga disebut dengan bulan Syawwal (peningkatan). Puncak musim panas terjadi di bulan Juli. Di waktu-waktu ini masyarakat Arab lebih senang duduk-duduk (qa’id), tinggal di rumah daripada bepergian. Bulan ini diberi nama Dzulqa’dah. Di bulan keduabelas, masyarakat Arab berbondong-bondong pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah Haji, sehingga bulan ini disebut dengan bulan haji atau Dzulhijjah. Sedangkan bulan ketigabelas, yang ditambahkan di setiap penghujung tahun kabisat disebut dengan bulan Nasi’.

Setelah muncul peradaban Islam, kalender bulan-matahari diubah menjadi kalender bulan. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ada 12 bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah sewaktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (At-Taubah: 36)

Walaupun demikian, nama-nama bulan tetap tak berubah. Lagipula, nama-nama ini tidak mengandung unsur kemusyrikan. Dengan diberlakukannya kalender bulan, Ramadhan tak lagi selalu jatuh di musim panas. Setiap tahun akan terus bergeser. Di kalender masehi, kita merasakan perayaan Idul Fitri akan lebih cepat sepuluh atau sebelas hari dibanding dengan tahun sebelumnya. Meski merepotkan (tanggalnya selalu berganti-ganti), namun hal ini menguntungkan bagi saudara-saudara kita yang tinggal di daerah dengan empat musim. Pergeseran waktu di kalender masehi membuat Ramadhan bisa terjadi di musim dingin, musim gugur, musim semi maupun musim panas.

Pada saat Rasulullah SAW hidup, kalender yang digunakan tidakberangka tahun. Jika seseorang menuliskan waktu transaksi, hanya ditulis: 14 Rajab. Tentu saja, hal ini menimbulkan kerancuan, apakah dimaksud adalah 14 Rajab tahun ini atau lima tahun yang lalu? Enam tahun setelah wafatnya Rasulullah Saw, Gubernur Irak, Abu Musa al-Asy’ari mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Khatthab. Sebagian surat itu berisi saran agar kalender Hijriah diberi angka tahun. Usul ini pun disetujui. Umar segera membentuk panitia yang beranggotakan Umar, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Talhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam. Panitia kecil ini bermusyawarah untuk menentukan kapankah dimulainya tahun pertama. Ada yang mengusulkan tahun kelahiran Nabi Saw (‘Am fîl, 571 M), seperti kalender masehi yang merujuk pada kelahiran Isa AS. Ada pula yang mengusulkan tahun turunnya firman Allah yang pertama (‘Am al-bi’tsah, 610 M). Pada akhirnya, yang disetujui adalah pendapat Ali yang menggunakan tahun hijrah dari Mekah ke Madinah (‘Am al Hijrah, 622 M). Alasannya:

1. Dalam Al Quran, Allah SWT memberi banyak penghargaan pada orang-orang yang berhijrah.

2. Masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terbentuk setelah hijrah ke Madinah.

3. Umat Islam diharapkan selalu memiliki semangat hijrah, tidak terpaku pada satu keadaan dan senantiasa ingin berhijrah menuju keadaan yang lebih baik.

 

Karena tahun pertama dimulai sejak peristiwa hijrah ke Madinah, kalender ini kemudian populer disebut kalender hijriah. Meski tidak mendetail, aturan kalender hijriah telah tercantum dalam Alquran dan hadits. Aturan tersebut kemudian menjadi pedoman dalam pembuatan kalender Hijriah.

1. Satu tahun Hijriah terdiri dari 12 bulan. Dalilnya adalah QS. At-Taubah, ayat 36: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ada 12 bulan…”

2. Pergantian bulan terjadi saat terlihatnya hilal. Dari sekian banyak hadits shahih yang ada, penulis ambil salah satu hadits: “Berpuasalah kamu setelah melihat hilal dan berbukalah setelah melihat hilal. Maka, bila pandanganmu terhalang (oleh mendung atau hujan) sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” (HR. An-Nasai no. 2116.)

3. Satu bulan terdiri dari 29 hari. Namun, bisa juga menjadi 30 hari jika hilal masih belum tampak. Dalilnya adalah hadis di nomor dua.

4. Pergantian hari terjadi pada waktu Maghrib (setelah matahari terbenam). Dalilnya adalah hadis nomor dua.

 

 

Penulis, Ust. Reza Zakariya, Alumnus Ponpes Lirboyo angkatan 1999 M., anggota pelaksana rukyah PBNU.

Khutbah Jumat: Meneladani Rasa Syukur Nabi Nuh

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ شَهْرَ الْمُحَرَّمِ أَوَّلَ السِّنِيْنَ وَالشُّهُوْرِ, أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَمْدَ عَبْدِ شَكُوْرٍ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّاالله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَه شَهَادَةً تَكُوْنُ لَنَا ذُخْرًا عِنْدَ عَزِيْزِ الْغَفُوْرِ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَعَلَى جَمِيْعِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَاَتْبَعَهُمْ اَجْمَعِيْنَ عَدَدَ مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ – أما بعد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita bersama-sama tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Bersyukurlah bahwa kita semua masih diberi umur panjang menikmati tahun baru Islam. Tak terasa tahun telah berganti, umur telah bertambah. Sudahkah semua itu kita sertai dengan tambahnya iman dan taqwa? Bukankah Allah telah menambahkan umur dalam hidup kita? Mengapa kita tidak menambah keta’atan kepadanya?

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia
Ingatkah kita pada suatu hari di Empat Belas Abad yang lalu ketika Rasulullah saw melakukan perjalanan berat dari Makkah menuju Madinah. Di atas punggung onta, mendaki gunung berbatu, menuruni lembah dipanggang di bawah ganasnya terik matahari padang pasir. Medan yang berat menjadi tambah berat ketika harus menghindar kejaran kaum kafir Quraisy. Berjalan dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian. Hanya dengan niat dan keyakinan yang teguhlah Rasulullah saw. akhirnya berhasil sampai di kota Madinah. Madinah menjadi pelabuhan dakwah Rasulullah saw. yang menghantarkan kejayaan Islam. Dari Madinahlah Islam melebarkan sayapnya hingga ke pelosok-penjuru bumi. Menembus lautan, mengarungi benua dan menaklukkan alam. Semua itu Rasulullah saw lakukan demi syiar Islam, hingga kita manusia Nusantara dapat menikmati manisnya iman kepada-Nya. itulah salah satu hikmah hijrahnya Rasulullah saw. Begitu agungnya hikmah di balik hijrah Rasulullah saw, sehingga Umar bin Khattab ra. bersama-bersepakat dengan para sahabat me’monumen’kan hijirah Rasulullah saw dalam bentuk penanggalan dalam Islam.

Jama’ah yang dimulikan Allah
Marilah kita bersama-sama berhijrah, berpindah dan berusaha berubah menuju kebaikan, atau menuju yang lebih baik. Karena sesungguhnya umur kita semakin menipis, jatah umur kita semakin menyempit. Alangkah baiknya jika kita segera melangkah meninggalkan segala yang buruk dan menggantinya dengan hal yang lebih bermakna. Sudahkah kita memenuhi tabungan amal kita dengan amal yang shaleh. Padahal umur kita semakin hari semakin berkurang. Seperti yang termaktub dalam hadits:

(طُوْبَى لِمَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ (رواه الطبرانى عن عبدالله بن يسر

Artinya: Sungguh berbahagia bagi orang yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya (HR. Thabrani)

Memang dalam sejarah tercatat bahwa secara fisik Rasulullah saw hanya sekali melaksanakan hijrah. Akan tetapi hijrah itu harus kita maknai secara dinamis. Bahwa pergerakan dan perubahan tidak cukup dilaksanakan sekali seumur hidup. Jikalau dalam taraf tertentu kita telah merasa sudah baik, maka hendaklah terus berubah menuju ke yang lebih baik. Dan begitulah seterusnya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bulan Muharram dalam tradisi Islam memiliki makna yang dalam dan sejarah yang panjang. Di antara kelebihan bulam Muharram terletak pada hari ‘Asyura atau hari kesepuluh pada bulan Muharram. Karena pada hari ‘Asyura itulah Allah untuk pertama kali menciptakan dunia, dan pada hari yang sama pula Allah akan mengakhiri kehidupan di dunia (qiyamat). Pada hari ‘Asyura pula Allah menciptakan Lauh Mahfudh dan Qalam, menurunkan hujan untuk pertama kalinya, menurunkan rahmat di atas bumi. Dan pada hari ‘Asyura itu Allah mengangkat Nabi Isa as. ke atas langit.

Dan pada hari ‘Asyura itulah Nabi Nuh as. turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang. Di hari itu, ketika kapal Nabi Nuh sampai di daratan, Nabi Nuh as. bertanya kepada pada umatnya, “Masihkah ada bekal pelayaran yang tersisa untuk dimakan?” kemudian mereka menjawab “Masih ya Nabi.” Kemudian Nabi Nuh memerintahkan untuk mengaduk sisa-sisa makanan itu menjadi adonan bubur, dan disedekahkan ke semua orang.

Peristiwa itu kemudian mengilhami para pendakwah di Indonesia. Mereka mengikuti apa yang dilakukan Nabi Nuh as., itu dengan membuat bubur di hari ‘Asyura. Kita mengenalnya dengan bubur suro.

Bubur suro merupakan pengejawentahan rasa syukur manusia atas keselamatan yang selama ini diberikan oleh Allah swt. Namun di balik itu bubur suro (jawa) selain simbol dari keselamatan juga pengabadian atas kemenangan Nabi Musa as, dan hancurnya bala Fir’aun. Oleh karena itu barang siapa berpuasa di hari ‘Asyura seperti berpuasa selama satu tahun penuh, karena puasa di hari ‘Asyura seperti puasanya para Nabi. Intinya hari ‘Asyura adalah hari istimewa. Banyak keistimewaan yang diberikan oleh Allah pada hari ini. Di antaranya adalah pelipatgandaan pahala bagi yang melaksanakan ibadah pada hari itu. Hari ‘Asyura adalah hari kasih sayang, dianjurkan kepada semua muslim untuk melaksanakan kebaikan, menambah pundi-pundi pahala dengan bersilaturrahim, beribadah, dan banyak sedekah terutama bersedekah kepada anak yatim-piatu.

Hadirin Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Bubur suro, baik yang dituangkan oleh Nabi Nuh as. maupun yang dimasak oleh para nenek dan ibu kita, bukanlah satu-satunya bentuk sedekah yang harus kita laksanakan pada bulan ini. Bubur itu hanyalah perlambang bahwa bulan Muharram, awal tahun baru Hijrah merupakan momentum untuk memperkokoh persaudaraan. Karena sejatinya bubur suro yang telah dimasak tak mungkin disembunyikan, dan pastilah untuk dihidangkan. Ada baiknya hidangan itu kita bagikan kepada tetangga dan sanak keluarga, sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Nikmat umur terutama.

Akhirnya, saya ucapkan selamat tahun baru, semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan pastikanlah esok lebih baik dari hari ini. Amien.

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِيْنَ الْاَمِنِيْنَ, وَأَدْخَلَنَاوَاِيَّاكُمْ فِى عِبَادِهِ الصَّالِحِيْن. أَعُوْذُ بَاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم. وَإِذَ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ إِلَّا اللهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنَ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيْمُوْا الصَّلَاةَ وَآَتُوْا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيْلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُوْنَ.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم