Tag Archives: KH. Abdul Karim

Kiai yang Tak Pernah Tidur

Saat masih kecil, almaghfurlah KH. Abdul Aziz Manshur, cucu dari almaghfurlah KH. Abdul Karim, heran dengan kehidupan simbahnya yang tidak biasa. Pasalnya, yai Aziz kecil tidak pernah melihat simbahnya istirahat dari aktivitas ibadah.

Sejak subuh, KH. Abdul Karim terus saja disibukkan dengan mengaji, entah sendiri ataupun di depan santri. Aktivitas bahkan terus berlangsung hingga tengah malam. Padahal, waktu itu desa Lirboyo belumlah teraliri listrik. Penerangan hanya mengandalkan lampu teplok (lentera).

Sesudah itu, beliau tidak langsung kembali ke kamar. Beliau terlebih dahulu shalat malam, hingga hampir subuh.
Di satu kesempatan, yai Aziz kecil memberanikan diri bertanya kepada ibundanya, almaghfurlah Ibu Nyai Hj. Salamah, “Mak, simbah kok ora tau turu to mak? (Bu, simbah kok tidak pernah tidur?)”

Le, simbahmu iku ora wani-wani turu nek durung ndungakno santri-santrine. (Nak, simbah itu tidak berani tidur sebelum mendoakan santri-santrinya.)”

Karenanya, patutlah kita bersyukur, kiai kita berjuang begitu keras demi keberhasilan para santrinya. Sangat beruntung kita dapat nyantri di sini, sehingga mendapat berkah doa dan tirakat beliau yang maha susah itu.

Teruntuk KH. Abdul Karim, putra-putri dan segenap dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo, al-Fatihah.

Saat Haji, Mbah Manab Umrah 70 Kali

Kisah ini terjadi sekitar tahun 1920-an. Di masa itu, Mbah Manab berangkat haji ditemani sahabat karibnya, KH. Hasyim Asy’ari. Ada yang membuat kagum KH. Hasyim Asy’ari kepada beliau. Tiada lain adalah kezuhudan beliau.

Mbah Hasyim heran, Mbah Manab yang kemampuan duniawinya biasa saja, mampu melaksanakan haji. Mbah Hasyim lantas bertanya kepada beliau, apakah sudah siap segalanya. Ternyata memang sudah semuanya. Cuma yang bikin beliau semakin heran adalah ketika ditanya berapa jumlah uang beliau, Mbah Manab hanya menjawab pendek, “Mboten ngertos (tidak tahu).”

Kontan Mbah Hasyim meminta uang itu untuk beliau hitung. Ternyata, malah lebih dari cukup untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian, Mbah Manab dan Mbah Hasyim berangkat bersama ke tanah suci. Beliau berdua berada dalam satu kapal. Di tanah suci, Mbah Manab mampu melakukan umrah sampai 70 kali. Itu pun beliau lakukan dengan berjalan kaki dari Tan’im (tempat miqat umrah).

Untuk beliau berdua, Lahumal Fatihah.

 

*Dikutip secara ringkas dari buku Pesantren Lirboyo, Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda.

Tak Punya Bekal, Mbah Manab Tetap Bisa Berangkat Haji

Beberapa bulan sebelum musim haji, KH. Abdul Karim berkeinginan menunaikan ibadah haji. Keinginannya begitu menggebu-gebu. Apadaya, beliau terhalang oleh belum mencukupinya bekal untuk berangkat ke baitullah.

Berita beliau akan berangkat haji ini rupanya didengar oleh tetangga dan sahabat-sahabat beliau. Perlahan, mereka satu per satu mengunjungi beliau. Banyak diantara mereka yang menyatakan kegembiraannya karena KH. Abdul Karim dapat menunaikan ibadah haji di tahun itu. Padahal, pihak keluarga sendiri masih ragu, apakah beliau benar-benar akan berangkat, mengingat bekal yang ada sangat kurang. Sementara itu, tamu terus saja berdatangan. Semakin lama, semakin banyak saja.

Sebagaimana adatnya, selain memohon doa, para tamu itu menyertakan ‘salam tempel’ kepada beliau. Maka seiring dengan banyaknya tamu yang datang, amplop sowanan itu terus menumpuk. Beberapa waktu sebelum jamaah haji diberangkatkan, terkumpullah uang yang tidak sedikit. Bahkan lebih dari cukup untuk biaya pergi-pulang dan bekal selama di tanah Haram. Beliaupun akhirnya dapat mewujudkan keinginan beliau untuk menunaikan ibadah haji, dengan biaya dan bekal yang tidak disangka-sangka datangnya.][

Haul KH. Marzuqi Dahlan

LirboyoNet, Kediri – Cuaca sejuk dan udara dingin menyelimuti suasana khidmat haul KH. Marzuqi Dahlan kamis malam jumat kemarin (10/08). Bertempat di ndalem timur KH. A. Idris Marzuqi, acara ini dihadiri ratusan tamu undangan. Tamu-tamu yang datang termasuk ulama dan kiai di sekitar kota Kediri, dzurriyah KH. Abdul Karim, masyarakat desa Lirboyo, dan pengurus pondok.

Ini merupakan haul beliau yang ke-42 tahun. Beliau wafat pada 18 Nopember tahun 1985 M, atau bertepatan dengan 14 Dzulqa’dah 1395 H. Selain memperingati haul KH. Marzuqi Dahlan, malam kemarin juga sekaligus menjadi peringatan haul Hj. Maryam binti KH. Abdul Karim yang merupakan istri beliau, dan segenap dzurriyah KH. Marzuqi Dahlan yang telah wafat.

Seperti umumnya peringatan haul, acara dibuka dengan pembacaan wasilah dan tawassul kepada nama-nama yang hendak di hauli. Dilanjutkan dengan bacaan surat yasin, tahlil, dam ditutup doa.

Seperti kita ketahui, KH. Marzuqi Dahlan merupakan penerus Ponpes Lirboyo sepeninggal KH. Abdul Karim. Beliau merupakan putra dari KH. Dahlan Jampes, dan masih terikat hubungan saudara dengan Syaikh Ihsan, penulis kitab Sirajut Thalibin. Salah satu petuah beliau yang masih dikenang hingga hari ini adalah amanat untuk terus menyebarkan ilmu, bagaimanapun dan apapun kondisinya. “Nek ting griyo, senajano iku opo wae, kitab cilik, kitab gede, senajan onten santrine nopo mboten, senajano mung loro, tetep sampean ngaji mawon, ojo lali ngaji.” (kalau di rumah, meski bagaimanapun, kitab yang kecil, kitab yang besar, meskipun ada santrinya atau tidak, tetaplah kamu mengaji, jangan lupa mengaji.)

Semoga berkah dari beliau dapat kita rasakan terus sampai kapanpun.

Kisah Dua Karung Beras Ditukar Daun Mengkudu

“Tirakate Mbah Abdul Karim luar biasa. Kulo, kiai Kafabih (KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus) niku mboten wonten nopo-nopone. Mboten saget tirakat kados Mbah Abdul Karim,” kenang KH. M. Anwar Manshur dalam peringatan Haul KH. Abdul Karim, Kamis (15/06).

Salah satu yang beliau kisahkan, adalah bagaimana simbah Abdul Karim menyambung hidup semasa mesantren di Bangkalan. Setelah nderep (mengumpulkan beras) dari berbagai tempat, beliau berhasil mengumpulkan dua karung beras. Beliau sudah ditunggu temannya di satu tempat sebelum berangkat ke pesantren.

Kebetulan, ketika beliau sampai di pesantren, Kiai Kholil keluar rumah dan melihat seorang santrinya membawa karung penuh beras. “Peneran, iki pitikku luwe.” Beras dua karung hasil upaya keras beliau ditebar seketika itu. Entah, tebaran beras itu ludes bersih dalam beberapa saat saja. “Iku berasmu tak ijoli godong bentis (mengkudu),” perintah Kiai Kholil. Simbah Abdul Karim hanya diam. Di hari-hari kemudian perut beliau hanya berisikan daun mengkudu. “Mboten kados santri-santri sakniki. Mangane enak-enak,” sambung Kiai Anwar.

Di sela-sela kisah ini, beliau berpesan kepada hadirin, “Masio gak 50 persen, sepuluh-sepuluh persen ibadahe Mbah Abdul Karim ayo dicontoh. Dilakoni. (Meski tidak bisa 50 persen, paling tidak sepuluh persen ibadah Mbah Abdul Karim mari kita contoh, kita lakukan).”

Untuk simbah KH. Abdul Karim, Al-Fatihah.