HomeDawuh MasyayikhKH. Abdul Karim: Sosoknya Yang Pendiam

KH. Abdul Karim: Sosoknya Yang Pendiam

0 19 likes 3.2K views share

Banyak saksi sejarah alumni-alumni sepuh yang pernah nyantri di Ponpes Lirboyo di era masa sugeng KH. Abdul Karim menuturkan kesan-kesannya tentang beliau. Menurut para alumni-alumni sepuh, memang KH. Abdul Karim adalah sosok yang sangat pendiam. Beliau jarang dawuh dan jarang sekali berkomentar apapun. Menegur santripun tidak dilakukan secara langsung, sesuai cerita yang sering dituturkan oleh KH. M. Abdul Aziz Manshur, beliau menegur seorang santri yang sering keluar malam cukup dengan menempelkan sebuah tulisan dibawah beduk. Beliau menulis, “Kulo mboten remen santri ingkang remen miyos”. Kurang lebih bila diterjemahkan, “Saya tidak suka santri yang senang keluar malam.” Dan terbukti cara tersebut efektif.

Prof. Dr. KH. Rofi’i, seorang alumni sepuh yang menjadi guru besar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menuturkan bahwa sosok beliau, KH. Abdul Karim memang sangat pendiam. “Boleh dikata, hidup beliau itu hanya untuk dzikrullah dan ngaji. Selama dua puluh empat jam hidup beliau itu kalau tidak ngaji ya hanya ‘Allah.. Alhamdulillah… Alhamdulillah..’ (Untuk berdzikir. Red). Tidak pernah bicara yang lainnya.” Hal tersebut juga dibuktikan dari pengalaman para tamu-tamu yang sowan hendak menemui beliau, “Jadi misalnya sekarang ada tamu, lalu pingin ketemu. Setelah diterima ya ndak pernah diajak ngomong apa-apa. Beliau hanya ‘Alhamdulillah.. Alhamdulillah… Alhamdulillah…’(Berdzikir. Red). Yang bertanya paling-paling justru santri yang mendampingi beliau pada saat menerima tamu.”. Keterangan yang senada juga diungkapkan oleh KH. Sama’il dari Tulungagung, seorang alumni sepuh yang sempat menangi KH. Abdul Karim selama sembilan tahun. Sebagai catatan, KH. Sama’il mulai mondok di Ponpes Lirboyo sekitar tahun 1945 M. Menurut beliau, KH. Abdul Karim ketika mengaji jarang memberikan keterangan. Hanya cukup dimaknai saja. Pernah beliau ketika sowan kepada KH. Abdul Karim waktu itu, setelah beliau matur , KH. Abdul Karim hanya menjawab seperlunya. “Kiai, saya baru pulang dari rumah, KH. Abdul Karim hanya menaggapi dengan Nggeh lalu kembali diam” kenang beliau.

Di hari haul KH. Abdul Karim ini, semoga kita selalu mendapat percikan berkah dari beliau. Amin….[]