Tag Archives: nasihat

Dawuh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus: Keagungan Orang Tua

Ridho Allah dihubungkan dengan ridho orang tua, begitu pun murkanya, itu menandakan betapa agungnya kedua orang tua.

Sangat rugi bila mana orang yang mempunyai kedua orang tua namun tidak birrul walidain dan tidak berbakti kepada kedua orang tuanya.

Jangan sampai kita berkata yang menyakiti orang tua.

Hendaknya, kita berbicara dengan suara yang lebih pelan dari pada orang tua.

Secara fikih tidak apa-apa berpendapat dihadapan orang tua, Namun sahabat Abdullah bin Umar ra. karena saking wira’inya, beliau sampai tidak berani menyampaikan pendapat kepada ayahnya yakni, sayyidina Umar bin Khottob, saat sang ayah mengajak ia dan adiknya, Ubaidillah bin Umar, untuk bermusyawarah. Sahabat Abdullah bin Umar ra. menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada sang ayah.

Wali Uwais al Qorni (Pembesar Tabi’in) ini hidup pada zaman Rasulillah, namun saat akan sowan Rasulillah ini tidak jadi sebab khidmahnya kepada sang ibu. Beliau khidmah luar biasa kepada ibunya sehingga beliau menjadi wali besar.

Makan yang hati-hati, sebab apa yang kita makan akan berdampak pada perilaku kita serta anak turun kita.

Walaupun orang itu sukses, walaupun orang itu alim, namun bila mana tidak menghargai orang tua, tidak ngabekti (berbaktipada orang tua ini percuma, sebab ridho Allah di situ

ُمَا تَ الْإِنْسَانُ عَلَى مَا يَعِيْش

“Manusia mati itu biasanya sesuai dengan kehidupannya”

-Disampaikan saat Majelis Sholawat Kubro, 27 Desember 2018, di aula Al Mu’tamar.(IM)

Al Fatihah Untuk Saudara-Saudara Kita dan Para Relawan

Al Fatihah kita kirimkan untuk saudara-saudara kita yang tengah mengalami ujian, dengan harapan segera bisa melaluinya dengan sabar dan penuh kepasrahan kepada Allah swt. karena secara naluriah pun kita tentunya pasti merasa iba jika melihat saudara yang tengah mengalami kesusahan, lebih-lebih hal ini sangat dianjurkan di dalam Islam.  Maka tidak ada salahnya bila kita yang jauh, yang mungkin belum bisa membantu dengan materi untuk membacakan al Fatihah sebagai doa untuk kekuatan dan kebaikan bagi mereka. Sebagaimana disampaikan malaikat Jibril kepada Rasululah saw bersabda:

قَالَ: أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ، أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةُ الْكِتَابِ، وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلاَّ أُعْطِيتَهُ

“Jibril berkata: Sampaikan kabar gembira atas dua cahaya yang dianugerahkan kepadamu, yang tidak diberikan kepada nabi sebelum kamu, yaitu surat al-Fatihah dan ayat-ayat akhir surat al-Baqarah. Engkau tidak membaca satu huruf darinya, kecuali akan dikabulkan.” (HR. Muslim)

Dianjurkan Takziah, Walau pun Korbannya Nonmuslim

Didalam Islam kita dianjurkan untuk melakukan takziahterhadap saudara-saudara kita yang tengah mengalami cobaan. Jangan tanya apa agamanya, karena kita pun diperbolehkan bertakziah kepada saudara-saudara kita yang nonmuslim dan bahkan sunnah jika ada harapan ia memeluk Islam. Hal ini sebagaimana penjabaran Syekh Sulaiman al-Jamal dalam kitabnya:

قوله و للمسلم تعزية كافر إلخ..) أي جوازا لا ندبا ما لم يرجى إسلامه و إلا فندبا)

“(Bagi muslim boleh takziah kepada orang kafir) hukum kebolehannya itu jika tidak diharapkan keislamannya. Namun jika ada harapan ia akan masuk Islam, maka sunnah hukumnya”

dan ada baiknya kita resapi apa yang dinasihatkan oleh Imam Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah al Asfihani dalam kitabnya, Hilyatul Awliya’:

لاتنظرو إلى إلى ذنوب الناس كأنكم أربابا ولكنكم أنظرو في ذنوبكم كأنكم عبيد, والناس رجلان معافي و مبتلى فارحموا أهل البلاء في بليتهم واحمدوا الله على العافية

“Jangan memandang dosa-dosa orang lain seakan engkau adalah tuhan, lihatlah dosa-dosamu sendiri seakan engkau seorang hamba. Manusia ada yang diberi kesehatan dan ada yang diberi cobaan, tunjukkanlah kasih sayang kepada mereka yang sedang terkena cobaan dan bersyukurlah kepada Allah atas kesehatan”

Akhiran, semoga saudara-saudara kita di Banten dan Lampung yang tengah mengalami ujian semoga senantiasa diberi kesabaran dan ketabahan yang penuh hingga bisa melewatinya dengan lapang dada. Dan doa kebaikan senantiasa mengalir untuk para relawan-relawan yang bergerak di sana.(IM)

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertakhta*

Lahum al fatihah..

*Puisi ‘Nisan’ karya Chairil Anwar

Khutbah Jumat: Tipe Amalan Yang Paling Dicintai Allah Swt.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أما بعد:
فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَفَوْزًا عَظِيْمًا

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt, dengan menjauhi  tiap-tiap larangannya dan menjalankan sekuat mungkin segala perintahnya. Karena tidak lain dari tujuan hidup dan penciptaan kita hanyalah semat-mata untuk beribadat. Allah swt. berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

Oleh karenanya, penting bagi kita untuk memiliki pendirian yang teguh dan sikap istikamah dalam beribadat. Sebagaimana kita rasakan bersama, bahwa kondisi dan tantangan hidup begitu bermacam-macam dan beragam. Mungkin Hari ini kita dalam keadaan lapang, namun esok mungkin pula keadaan sebaliknya yang terjadi.

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Ibadat merupakan hal yang amat pokok dalam hidup kita. Banyak sekali hal-hal kecil atau pun besar yang tampaknya biasa saja, namun sebenarnya bisa kita jadikan sarana untuk beribadat semisal; menyapu, makan, minum, tidur dsb. Lebih-lebih ibadat yang telah jelas bentuknya. Namun dari itu, ada satu hal penting yang hendaknya kita jadikan jalan dalam ibadat kita kepada Allah swt. Istikamah. Ya, hendaknya ada ibadat-ibadat tertentu yang kita jadikan kebiasaan dalam sehari-hari. Sekecil apa pun, hendaknya ada amalan-amalan yang kita lakukan secara istikamah. Baginda Nabi bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit”(HR. Bukhari Muslim)

Demikian baginda Nabi telah membocorkan pada kita bahwa termasuk kategori amal yang dicintai Allah adalah amalan-amalan yang rutin dilakukan. Meskipun hal itu terkesan kecil atau pun ringan. Maka mulai saat ini, mari kita cari dan lakukan amalan apa yang kira-kira bisa kita lakukan dengan rutin.

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Selain dicintai oleh Allah, amalan yang rutin juga bisa sekaligus melatih diri kita agar bisa istikamah dalam berbagai hal lainnya. Karena sebagaimana kita sadari, istikamah bukan hanya penting dalam kaitannya beribadah saja, melainkan menyeluruh dalam berbagai hal dan kegiatan lainnya.

Dan yang terpenting, semoga kita diberi keistikamahan dalam beriman dan beribadat kepada Allah swt. dan termasuk dalam golongan yang Allah swt. firmankan dalam surat fusshilat ayat 30-32:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ  نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ  نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istikamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan balasan surga yang telah dijanjikan kepadamu’. Kami lah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalam surga itu kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ  آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. أَقُوْ لُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Mengkaji Hadis “Ḥubbul Waṭan Minal Īmān”


Ada sebuah “hadis” yang sering dikutip oleh beberapa orang sebagai dalil untuk meningkatkan rasa nasionalisme. Hadis tersebut berbunyi:

حُبُّ الْوطنِ مِنَ الإيمان

“Cinta tanah air sebagian dari iman.”

Sejauh ini memang belum ada ulama yang menjelaskan kesahihannya. Bahkan Syekh Ash Shaghani mengatakan hadis ini adalah hadis mauḍū’ (palsu); tidak boleh dinisbatkan pada Rasulullah saw. Maka tidak keliru bila ada ulama yang mengatakan itu bukan sabda Nabi.

Lalu, ketika hadis tersebut mauḍū’, apakah lantas rasa cinta tanah air (ḥubbul waṭan) tidak dapat dibenarkan? Jawabannya jelas tidak, karena meskipun dinyatakan mauḍū’, banyak ulama menjelaskan bahwa maknanya sah-sah saja.

Untuk penafsiran maknanya sendiri ada dua. Pertama seperti dijelaskan Ibn Allan dalam Dalīl Al Fāliḥīn:

والإنسان في الدنيا غريب على الحقيقة لأن الوطن الحقيقي هو الجنة كما حمل عليه كثير «حب الوطن من الإيمان» على الجنة وهي التي أنزل الله بها الأبوين ابتداء وإليها المرجع إن شاء الله تعالى

“Manusia di dunia hakikatnya hanyalah pengembara, karena tanah air yang hakiki adalah surga, seperti penafsiran banyak ulama terhadap ‘Ḥubbul waṭan minal īmān’. Surga adalah tempat Allah Swt. menurunkan bapak dan ibu kita pertama kali. Dan ke sanalah tempat (kita) kembali, insyaallah.”

Kedua, tanah air yang dimaksud adalah tanah yang kita kenal dan kita tempati, sebagaimana penjelasan Al‘Ajluni dalam Kasyf Al Khafā`:

أو المراد به الوطن المتعارف ولكن بشرط أن يكون سبب حبه صلة أرحامه، أو إحسانه إلى أهل بلده من فقرائه وأيتامه

“Atau yang dimaksud adalah tanah air yang kita kenal, tapi dengan syarat sebab cintanya adalah menyambung tali silaturahim, berbuat baik kepada penduduknya, lebih-lebih kaum fakir sertaanak-anak yatim.”

Kedua referensi di atas tidak terlalu meributkan soal kesahihan lafal “hadis” tersebut. Sebab, meski dinyatakan maudū’, tidak ada yangsalah dengan maknanya. Hal ini dikuatkan dengan hadis riwayat Imam Bukhari, bahwa ketika Rasulullah saw. datang dari bepergian dan memandang tembok kota Madinah, beliau mempercepat laju untanya; dan bila mengendarai tunggangan(seperti kuda), beliau gerak-gerakkan karena cintanya pada Madinah.

Dalam mengomentari riwayat ini, Ibn Hajar Al ‘Asqalani berkata, “Dari hadis ini ada petunjuk atas keutamaan Madinah serta atas disyariatkannya cinta tanah air.”

Karena maknanya yang sahih sebagaimana telah sedikit dijelaskan penulis, tak heran jika salah satu pahlawan nasional, K.H. M. Hasyim Asy’ari juga pernah mengutip kalimat ini dalam salah satu karyanya. Tentu sebagai ulama hadis yang diakui pada zamannya, beliau tahu ini bukan hadis sahih; beliau tidak menisbatkannya pada Rasulullahsaw.

Walhasil, nasionalisme tak usah dipertentangkan dengan Islam, karena justru dapat menjadi media pengamalan ajaran Islam secara kāffah. Dan, sebagai penutup, penulis akan mengutip pernyataan Sayyidina Umar r.a. terkait pentingnya ḥubbul waṭan:

لولا حب الوطن لخرب بلد السوء، فبحب الأوطان عمرت البلدان

“Tanpa cinta tanah air, niscaya akan hancur suatu negeri yang terpuruk. Maka dengan cinta tanah air, negeri-negeri termakmurkan.”

Penulis: M. Abdul Rozzaaq, Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Semester VIII. Mengabdi di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat.

kontak twitter @mad_rojak

Khutbah Jumat: Sabar Pada Ujian

أَلْحَمْدُ ِللهِ أَهْلِ الْحَمْدِ وَالثَّنَاءِ, أَلْمُنْفَرِدِ بِرِدَاءِ الْكِبْرِيَاءِ, أَلْمُتَوَحِّدِ بِصِفَاتِ الْمَجْدِ وَالْعَلَاءِ , أَلْمُؤَيَّدِ صَفْوَةَ الْأَوْلِيَاءِ بِقُوَّةِ الصَّبْرِ عَلَى السَّرَّاءِ وَ الضَّرَّاءِ وَالشُّكْرِ عَلَى الْبَلاَءِ وَالنَّعْمَاءِ, وَالصَّلَاةُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْأَنْبِيَاءِ وَعَلَى أَصْحَابِهِ سَادَةِ الْأَصْفِيَاءِ وَعَلَى أَلِهِ قَادَةِ الْبَرَارَةِ الْأَتْقِيَاءِ صَلَاةً مَحْرُوْسَةً بِالدَّوَامِ عَلَى الْفَنَاءِ وَمَصُوْنَةً بِالتَّعَاقُبِ عَنِ التَّصَرُّمِ وَ الْإِنْقِضَاءِ. وَقَالَ تَعَالَى لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَقَالَ أَيْضًا إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Tak henti-hentinya, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan menjauhi segala larangannya dan berusaha melaksanakan perintah-perintahnya. Ketakwaan adalah kunci. Kunci untukmenjalani kehidupan yang singkat ini. Berbagai gelombang dan suasana kehidupan yang silih berganti menghampiri kita ini, hendaknya takwa selalu menjadi panduan utama kita dalam menghadapinya. Jika kenikmatan yang sedang kita peroleh, maka bersyukur adalah sikap yang pantas bagi kita sebagai seorang hamba dan jika yang terjadi adalah hal-hal yang tidak mengenakkan kita, maka insyafilah bahwa itu adalah tangga-tangga dari Allah untuk menaikkan derajat kita.

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Selain itu, saat menyikapi ujian yang tengah menimpa, hendaknya kita tidak lupa dengan firman Allah Ta’ala dalam surat al-Baqarah ayat 286,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: “Allah tidak akan membebani seseorang diluar kemampuannya”

Dengan berpijak pada ayat ini, setidaknya agar kita tetap memiliki semangat dan tekad untuk melalui tangga ujian yang tengah Allah berikan kepada kita. Dengan mengingat ayat ini pula kita disadarakan bahwasebenarnya kita mampu untuk menghadapi berbagai ujian yang datang silihberganti, lebih-lebih Allah ta’ala telah memberikan kabar gembira bagi hamba-hambanyayang sedia untuk bersabar. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS.az-Zumar: 10)

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Ada baiknya pula dalam menyikapi ujian yang tengah menimpa kita,kita meraba-raba pikiran dan menelusuri nikmat-nikmat yang masih Allah anugerahkan untuk tetap mensyukurinya. agar nantinya hal ini menjadi penyeimbang kesedihan ataupun kesusahan yang tengah kita alami;

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Maka sungguh ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan, sungguh pada kesulitan ada kemudahan” (QS.As-Sarh :5-6)

Demikian janji Allah terhadap segala kesulitan yang menimpa kita.Dengan ini semoga saja kita diakui sebagai hamba-Nya yang tetap bisa bersyukur dalam berbagai keadaan.

Dan yang terpenting dalam mencari ketentraman hati di tengah ujian yang melanda adalah dengan selalu ingat kepada Allah. Firman Allah Ta’ala:

أَلَابِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”(QS. ar-Ra’du:28)

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم