Tag Archives: santri nasionalisme

Mentalitas Berpikir

Pada umumnya seni berpikir sangatlah kental dengan nilai filosofis yang ada dalam jagat raya ini. Setidaknya kita bisa lebih bijak menggunakan kemampuan otak untuk berpikir lebih peka dan praktis dari lini setiap persoalan yang ada. Hal ini sebagai manifestasi rasa syukur atas anugerah yang diberikan Allah kepada manusia sebagai pembeda dengan mahluk yang lainya.

Pernahkah kita memikirkan bahwa kita tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini dan kita telah diciptakan dari sebuah ketiadaan? Pernahkan kita berpikir bagaimana bunga yang setiap hari kita lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni? Pernahkan kita memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya? Pernahkan kita berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika kita sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja kita pun kehilangan segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini? Pernahkan kita berpikir bahwa kehidupan kita berlalu dengan sangat cepat, kita pun menjadi semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau kecantikan, kesehatan dan kekuatan?

Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan dari kita tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir. Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.

Kemalasan mental

Kemalasan adalah sebuah faktor yang menghalangi kebanyakan manusia dari berpikir.Akibat kemalasan mental, manusia melakukan segala sesuatu sebagaimana yang pernah mereka saksikan dan terbiasa mereka lakukan. Seperti cara yang digunakan para ibu rumah tangga dalam membersihkan rumah adalah sebagaimana yang telah mereka lihat dari ibu-ibu mereka dahulu. Pada umumnya tidak ada yang berpikir, “Bagaimana membersihkan rumah dengan cara yang lebih praktis dan hasil yang lebih bersih” dengan kata lain, berusaha menemukan cara baru. Demikian juga, ketika ada yang perlu diperbaiki, manusia biasanya menggunakan cara yang telah diajarkan ketika mereka masih kanak-kanak.

Umumnya mereka enggan berusaha menemukan cara baru yang mungkin lebih praktis dan berdaya guna. Cara berbicara orang-orang ini juga sama. Cara bagaimana seorang akuntan berbicara, misalnya, sama seperti akuntan-akuntan yang lain yang pernah ia lihat selama hidupnya. Para dokter, banker, penjual dan orang-orang dari latar belakang apapun mempunyai cara bicara yang khas. Mereka tidak berusaha mencari yang paling tepat, paling baik dan paling menguntungkan dengan berpikir. Mereka sekedar meniru dari apa yang telah mereka lihat. Cara pemecahan masalah yang dipakai juga menunjukkan kemalasan dalam berpikir. Sebagai contoh dalam menangani masalah sampah, seorang manajer sebuah gedung menerapkan metode yang sama sebagaimana yang telah dipakai oleh manajer sebelumnya. Atau seorang walikota berusaha mencari jalan keluar tentang masalah jalan raya dengan meniru cara yang digunakan oleh walikota-walikota sebelumnya. Dalam banyak hal, ia tidak dapat mencari pemecahan yang baru dikarenakan tidak mau berpikir.

Sudah pasti, contoh-contoh di atas dapat berakibat fatal bagi kehidupan manusia jika tidak ditangani secara benar. Padahal masih banyak masalah yang lebih penting dari itu semua. Bahkan jika tidak dipikirkan, akan mendatangkan kerugian yang besar dan kekal bagi manusia. Penyebab kerugian tersebut adalah kegagalan seseorang dalam berpikir tentang tujuan keberadaannya di dunia.

Ketidakmampuan dalam mengendalikan pikiran ke arah yang baik akan mengakibatkan seseorang seringkali merasa khawatir atau mengalami peristiwa-peristiwa yang sebenarnya belum terjadi seolah-olah telah terjadi dalam benaknya, dan terseret dalam kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan. Misalnya, orang tua yang mempunyai anak yang tengah belajar untuk menghadapi ujian kadangkala membuat sebuah skenario sebelum ujian tersebut berlangsung dalam benaknya: “Apa yang akan terjadi jika anaknya tidak lulus ujian? Jika anak laki-lakinya tidak memperoleh pekerjaan yang layak di masa depan, mendapatkan penghasilan yang cukup, maka ia tidak dapat menikah. Kalaulah ia menikah, bagaimana ia dapat membiayai pernikahannya? Jika ia tidak lulus ujian, semua uang yang dikeluarkan untuk persiapan ujian tersebut akan terbuang percuma. Tambahan lagi, ia akan terhina di mata orang-orang. Apalagi jika anak laki-laki teman dekatnya ternyata lulus sedang anaknya sendiri gagal. Khayalan-khayalan tersebut terus berkembang, padahal anaknya belum melaksanakan ujian. Seseorang yang jauh dari agama akan mudah terbawa oleh khayalan sia-sia yang serupa sepanjang hidupnya.[]

Penulis Luthfi Hakim santri asal Kendal Jawa Tengah, Mahad Aly Lirboyo

Kelahiran Nabi Saw

Sayyidah Aminah mengandung Nabi Saw. selama 9 bulan. Nabi Saw. dilahirkan melalui garis yang terdapat pada bagian di bawah pusar. Ketika kelahiran Nabi Muhammad Saw. terjadi peristiwa yang sangat besar yaitu terguncangnya Arsy, padamnya api abadi Majusi dan terbelahnya gedung kebanggan Persia menjadi dua bagian. Ketika kelahiran Nabi Saw. tidak hanya Persia saja yang mengalami pecahnya singgasana, tetapi kerajaan Romawi juga mengalami hal yang sama. Romawi bukanlah kerajaan Roma Italia saat ini, tetapi kerajaan yang terdapat di negara Turki.

Kelahiran Nabi Muhammad Saw. juga dihadiri oleh perempuan surga, Sayidah Maryam dan Sayidah Asiah. Kelak keduanya akan menjadi Isteri Nabi di surga. Keduanya masih dalam keadaan perawan. Al-Syifa’ adalah seorang  dukun bayi yang saat kelahiran Nabi Saw. tempat kelahiran Nabi Saw. adalah rumah Abdul Muthalib.

Ketika kelahiran Nabi Saw., juga ada seorang pedagang Yahudi yang memastikan pada malam itu seorang nabi akan dilahirkan. Orang Yahudi sangat menguasai ilmu hisab, sehingga dapat mengetahui kepaastian kelahirannya Nabi Saw., setelah mereka mengacu pada informasi pada kita suci mereka, yang berkenaan dengan kelahiran Nabi Saw. seperti halnya Ka’ab al-Ahbar pernah menyimpan surat milik ayahnya. Surat itu berisi tentang berita kelahiran Nabi akhir zaman. Nabi Saw. disusui oleh Halimah Al-Sa’diyyah. Halimah pernah menyusui beberapa orang sebelum Nabi Saw. Nabi Saw. disusui bersamaan dengan Sayid Hamzah dan Abu Salamah. Wallahu A’lam()

Disarikan dari Buku Secercah Tinta KH. Al-Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya.

Kebodohan yang Memisahkan

Kita hidup kini di dalam jaringan dunia virtual (yang sesungguhnya), dan kehidupan seperti ini membuat kita menjadi sering frustrasi. Jika kita ingin sadar, begitu banyak orang-orang menghabiskan waktunya untuk hidup di beragam situs jaringan sosial: Facebook, Instagram, Whatsapp, Path, dan lain sebagainya. Orang-orang cenderung beranggapan mereka akan bahagia dan menemukan banyak hal pengetahuan hanya dengan mengerak-gerakkan jari-jari mereka. Lebih dari itu, situs-situs di media sosial kini menjadi media pendidikan utama yang paling banyak diminati bagi orang yang malas dalam belajar.

Dengan bantuan situs-situs di dunia virtual ini, orang-orang juga merasa didekatkan satu sama lain. Mereka merasa  dekat dengan teman dan keluarga, walaupun sebenarnya mereka dipisahkan oleh jarak dan waktu. Kita juga sering melihat orang-orang berkumpul di suatu tempat  namun mereka sibuk dan asyik dengan teleponnya masing-masing. Itu pemandangan yang sangat menjengkelkan bagi kita. Mereka dekat, sekaligus jauh. Badan mereka di tempat yang sama. Namun, pikiran mereka terpisah ratusan, bahkan ribuan kilo meter.

Komunitas di dunia sehari-hari terpisah, ketika justru komunitas di dunia virtual tumbuh. Orang lebih nyaman dengan layar ponsel dan komputer dari pada dengan wajah temannya, atau keluarganya sendiri. Komunikasi pun semakin menjadi dangkal, karena terbatas pada beberapa potong kalimat di layar komputer ataupun telepon genggam yang kerap kali justru menciptakan kesalahpahaman. Gerak tubuh dan ekspresi wajah  yang merupakan bagian penting dari komunikasi di antara manusia, kini sudah tidak menarik lagi.

Situs-situs di dunia virtual ini, yang juga kita sebut sebagai jaringan sosial, adalah bentuk hubungan yang memisahkan. Orang akan menciptakan hubungan semu yang justru menghancurkan hubungan dengan sesama manusia, juga acapkali menjadikan hubungan antar manusia menjadi sedemikian dangkal dan sering sekali dipenuhi dengan kepalsuan dan kebohongan-kebohongan.

Yang tercipta kemudian adalah keterputusan koneksi antar manusia. Koneksi yang seharusnya terjalin dengna komunikasi verbal dan tatap muka digantikan dengan komunikasi palsu dan semu. Kadang-kadang ketidakpedulian tercipta. Orang akan lebih sibuk mengejar gosip terbaru daripada memikirkan tantangan-tantangan kehidupan bersama. Orang-orang bergeser dari hal-hal prinsipil dalam kehidupan bersama. Mereka menggiring diri mereka sendiri ke dalam ranah pembodohan dan pendangkalan dalam bentuk konsumsi tanpa batas. Dan pada akhirnya mereka akan mati dalam fikiran mereka sendiri.

Kita harus tahu, jika hal-hal tersebut terus berlanjut, masalah-masalah baru akan terus tercipta. Kesenjangan sosial antara orang kaya dan miskin di berbagai belahan kota akan menjadi semakin besar. Gerak korporasi rakus terhadap diri sendiri di negara kini solah tanpa kontrol. Tak terasa, umat manusia kini bergerak dengan gembira sekaligus bodoh menuju kehancurannya sendiri, tanpa mereka mau menyadari.

Ketika pola komunikasi antar manusia menjadi dangkal dan palsu, maka manusia-manusia yang berkembang dalam pola komunikasi semacam itu akan menjadi dangkal dan palsu juga. Maka dari itu, pola komunikasi yang ada pun harus diubah. Dalam konteks ramainya situs-situs jaringan sosial dengan pendangkalan serta pemalsuan informasi, kita perlu memutuskan diri dari semua itu, agar kita bisa membangun komunikasi yang sejati. Kita perlu memutus jaringan justru untuk membangun  jaringan yang sebenarnya.

Melepaskan diri dari jaringan sosial yang menipu dan mendangkalkan membuat kita berjarak dari keadaan. Jarak akan mendorong refleksi dan analisis yang lebih mendalam. Dari sini akan tercipta kebijaksanaan, dan kebijaksanaan membantu kita secara kritis memilah beragam informasi yang ada. Dengan begitu, kita akan mampu mengambil keputusan terbaik dari segala kemungkinan yang ada.

Pada akhirnya, bukankah hidup akan menjadi begitu hampa dan dangkal, jika kita isi dengan konsumsi tanpa batas dari berbagai berita-berita penuh kebohongan belaka yang membuat kita akan terjebak pada kebodohan didalam benak kepala kita sendiri.[]

Penulis: Ahmad Marzuqi, siswa kelas III Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadiin, asal Madura.

Pentingnya Pengakuan dari Guru

Pada saat tiga atau empat hari sebelum wafat, KH. Abdul Karim terbaring sakit di tempat tidur ditunggui oleh putri-putrinya.

Sambil menangis beliau mengeluarkan kata-kata.

Dongakno yo! Mugo-mugo aku mbesuk neng kono diakoni dadi santrine Mbah Kholil.” (Doakan ya! Semoga saya kelak di sana diakui menjadi santrinya Mbah Kholil).

Permintaan doa ini sangat mengherankan. Biasanya permintaan seseorang sebelum meninggal adalah minta didoakan agar husnul khotimah, diampuni dosanya atau masuk surga. Tapi ini tidak. Kiai Abdul Karim justru meminta didoakan supaya diakui sebagai santri dari guru beliau, Kiai Kholil Bangkalan. Itupun disampaikan sambil menangis. Bukti bahwa hal itu adalah sesuatu yang tidak main-main dan sangat penting untuk diungkapkan. Apa sebenarnya maksud dari permintaan doa itu? Jawabanya adalah dhawuh beliau setelahnya.

Tanpo aku diakoni santrine Mbah Kholil, aku gak iso mlebu swargo.” (Tanpa saya diakui santrinya Mbah Kholil, saya tidak bisa masuk surga).

Ini adalah sikap tawadlu yang luar biasa. Kiai Abdul Karim tidak merasa dirinya mempunyai amal yang bisa mengantarkan beliau masuk surga. Beliau tidak percaya diri dengan amal ibadah yang dilakukan semasa hidup. Harapan masuk surga hanya dengan mendapatkan pengakuan santri dari gurunya yang masyhur sebagai wali Allah. Sehingga diharapkan Kiai Kholil memberikan syafaat kepada beliau agar bisa masuk surga.()

*Disarikan dari ceramah KH. Abdul Aziz Manshur saat khataman kitab Jauharul Maknun tahun 2014.

KH. Muhsin Ghozali: Tiga Tipologi Orang Mondok dan Kesan Mendalam Terhadap KH. Mahrus Aly

Menurut analisa saya ketika ngaji tafsir kepada Mbah Juki (KH. Marzuqi Dahlan) bahwa orang mondok itu ada tiga komponen: terdiri dari akal, pikiran, dan jasad. Jika yang mondok hanya jasadnya, sedangkang akalnya tidak, maka dia taat dengan peraturan tetapi malas belajar. Jika yang mondok akalnya, maka dia selalu belajar, tetapi suka melanggar peraturan dan malas berjamaah. Jika yang mondok hatinya, maka dia selalu taat kepada peraturan tetapi tidak mau berpikir. Jadi, yang paling benar adalah orang yang mondok secara akal, jasad, dan hati.

Ngaji kepada Mbah Mahrus (KH. Mahrus Aly) selesainya tidak dengan khatam. Kalau mengaji kadang-kadang cerita tentang kemasyarakatan. Selain itu, beliau juga sangat simpati dengan kehidupan yang serba kekurangan. Ketika punya santri yang ngaji pakai sepeda jelek justru dia dihormati. Dan ketika ada orang menikah dan Mbah Mahrus diundang di rumah reyotnya, beliau itu malah senang datang kesana. Jadi, selain dekat dengan para pejabat, beliau juga dekat dengan masyaraka melarat.

Saya di Lirboyo mulai dikenal Kiai Mahrus setelah tamat sekolah. Ketika menjadi sekertaris imtihan, saya yang dipatenkan untuk sowan ke beliau. Sering bolak-balik menghadap beliau, karena memang redaksi yang diajukan masih kurang sempurna. Apabila ada yang kurang beliau memberikan masukan, seperti misalnya bahasa yang digunakan harus diganti karena masih kurang bagus.()

Disarikan dari buku “Kesan Mendalam Para Tokoh Alumni Terhadap Tiga Tokoh Lirboyo”