HomeAngkringMaulid Sebagai Ekspresi Kegembiraan

Maulid Sebagai Ekspresi Kegembiraan

Angkring 0 4 likes 584 views share

Perintah bergembira atas kehadiran Rasullulah Saw di muka bumi ini datang langsung dari Allah Swt, melalui firmannya:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.(QS. Yunus:58)

Menurut sahabat Ibnu Abbas Ra, pakar tafsir kenamaan dari kalangan sahabat, maksud dari rahmat Allah Swt dalam ayat di atas ialah sosok Rasulullah saw. Jadi, perintah bergembira di atas adalah perintah bergembira akan kelahiran sosok Rasulullah Saw yang menjadi rahmat bagi semesta alam, termasuk kita umat manusia.

Kegembiraan atas Rasulullah Saw sudah mentradisi di kalangan para sahabat. Dikisahkan, bahwa pada hari-hari mendekati kedatangan Rasulullah di Madinah, banyak penduduk Madinah setiap hari keluar bersama dari rumahnya dan menunggu kedatangan Rasulullah hijrah dari Mekah, mereka keluar rumah setelah waktu Shubuh, sampai tengah hari. Jika tidak ada tanda-tanda kemunculan Rasulullah, maka mereka kembali pulang kerumah masing-masing. Hal itu dilakukan beberapa hari.

Sampai akhirnya suatu hari, Rasulullah Saw dan sahabat Abu Bakar ra sampai di Madinah pada siang hari, saat para penduduk sudah kembali ke rumah masing-masing. Yang melihat pertama kali kedatangan Rasulullah justru seorang lelaki Yahudi yang biasa melihat para kaum Anshor setiap hari menunggu kedatangan Rasulullah saat ia naik ke atas loteng rumahnya untuk suatu keperluan. Lantas, ia berteriak: “Wahai bani Qailah, ini pemimpin kalian, sungguh telah datang.”

Akhirnya, ada sekitar 500 orang dari kaum Anshor yang menyambut kedatangan Rasulullah. Saat itu, penduduk kota Madinah bersama-sama keluar rumah, sampai para gadis-gadis perawan pun nak ke atas rumah-rumah mereka seraya bertanya satu sama lain: “Yang manakah Rasulullah? Yang manakah Rasulullah?” Saking gemparnya kota Madinah saat itu, sahabat Anas bin Malik sampai berkata:”Saya tidak pernah melihat pemandangan kota Madinah segempar hari kedatangan Rasulullah dan hari wafatnya Rasulullah.

Kita yang hidup di akhir zaman ini juga butuh wadah untuk megekspresikan kebahagiaan atas Rasulullah. Oleh para Guru dan Ulama, kita diberikan wadah berupa acara Maulid untuk ekspresi kebahagiaan ini. Di dalam acara Maulid, kita sering mendendangkan qashidah  dan puji-pujian kepada Rasulullah dengan disertai pukulan rebana yang serasi, sehingga membuat rindu di hati semakin bergejolak, bahan banyak diantara jamaah Maulid yang akhirnya meneteskan air mata kerinduan kepada Rasulullah. Sungguh, sebuah acara yang sangat indah dan hanya orang-orang yang bersedia memasukinya yang akan merasakan dahsyat-nya aura Maulid ini. Sungguh sangat rugi, orang-orang yang selama hidupnya tidak pernah merasakan kedahsyatan sensasi acara Maulid.()

*Disarikan dari buku Bahagia Mencintai Rasulullah (M. Saifuddin Masykuri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.