Urgensi Ukhuwah Hadapi Pandemi (Bagian 2)

Baca Sebelumnya: Urgensi Ukhuwah Hadapi Pandemi (Bagian 1)

Pemahaman al-Ghozali disokong oleh hadits lain riwayat Aisyah, yang berbunyi “orang yang lari dari wabah tho’un seperti orang yang lari dari medan pertempuran” (HR. Muslim). Dan maklum, larangan kabur dari medan perang adalah karena melukai hati Muslimin dan membiarkan mereka binasa.

            Padahal, lanjut al-Ghozali, seharusnya Muslimin seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain dan Muslimin seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan merasakan sakit pula. Analisa terakhir al-Ghozali sama persis dengan redaksi dan makna dua hadits Rasulullah Saw. tentang ukhuwah islamiyah yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. Berangkat dari prinsip ukhuwah, al-Ghozali berpendapat, ketika dibutuhkan uluran tangan, relawan dilegalkan bahkan disunnahkan (istihbab) untuk memasuki wilayah wabah. (Al-Ghozali, Ihya Ulumuddin , 2015)

            Dari paradigma ini dapat disimpulkan, sejatinya Muslimin dilarang untuk menyakiti saudaranya, baik saudara seiman, atau saudara non Muslim dalam ranah kemanusiaan dan kebangsaan. Menyakiti tidak dapat dibenarkan secara aksi maupun verbal, seperti; memaksa mudik yang berpotensi menularkan virus wabah pada saudara-saudara di kampung halaman, terlebih sampai menjauhi keluarga dari tim medis atau menolak pemakaman korban wabah. Karena hal tersebut termasuk aniaya (dzalim). Aniaya yang dibicarakan hukum Islam mencangkup nyawa, harta dan harga diri. Mendzolimi non Muslim, hukumnya haram, terlebih sesama Muslim. Karena perspektif ini pula, Islam mewajibkan saling membantu antar umat Islam. (At-Thantowi, 2006)

            Sesuai prinsip saling membantu (tha’awun) dan menjauhi aniaya dalam ruh ukhuwah, tak mengherankan jika satu sama lain antar masyarakat Muslim berkewajiban berkontribusi demi rakyat negerinya. Bahkan Wahbah az-Zuhaily menyatakan;

أن للدولة الحق في فرض الضرائب على الأغنياء في حالة فقر بيت المال، وتهديد المجتمع بأي خطر كالمجاعة والوباء والحرب إذ «يتحمل الضرر الخاص لدفع الضرر العام»

“Negara berhak menetapkan pajak bagi orang-orang kaya ketika keadaan kas negara mengalami kekurangan dan masyarakat terancam oleh berbagai krisis seperti kelaparan, wabah penyakit, dan perang. Sesuai kaidah kerugian personal atau pribadi dapat ditolelir demi menangkal kerugian publik atau umum.” (Az-Zuhaily, 2009)

            Postulat az-Zuhaily sesuai dengan pandangan al-Ghozali, as-Syatibi, dan al-Qurtubi yang menyampaikan disyariatkan (masyru’iah) penerapan pajak baru bagi konglomerat, penghasilan, buah-buahan, dan sebagainya untuk menutupi kebutuhan negara secara umum. Pendapat ini pula telah menuai kesepakatan mujtama al-buhtus al-islami (konferensi riset keislaman) pada muktamar pertama tahun 1964 Masehi yang tertuang dalam butir keputusan kelima. (Az-Zuhaily, Fiqh Al-Islamy Wa-Adalatuha, 2009)

               Selagi masa pandemi Covid-19, andai kas negara tidak mencukupi untuk pelayanan dan sarana  kesehatan atau kebutuhan primer masyarakat, maka orang kaya berkewajiban mengulurkan tangan untuk yang papa dan kurang mampu. Dan jika tidak, maka berdosa. Tuntutan Islam untuk masyarakat tersebut, telah merepresentasikan ukhuwah wathoniyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.