HomeSantri MenulisKopyah: yang Khas di Pesantren Kita

Kopyah: yang Khas di Pesantren Kita

0 1 likes 383 views share

Seorang muslim di Indonesia pastinya sangat tidak asing lagi dengan benda yang sering digunakan oleh kaum laki-laki ketika sedang ibadah sholat ataupun untuk acara-acara tertentu yang  masih berbau religi. Ya, itu adalah kopyah. Peci hitam yang umumnya dari bahan beludru. Apalagi di kalangan pesantren.

Tapi coba kita cermati keseharian kita di pesantren. Ada sedikit perbedaan antara kopyah para dzuriyah dengan kopyah para santri. Mungkin di sinilah titik temu mengapa kopyah di pesantren kita menjadi khas. Karena cara mudah mengetahui beliau dzuriyah atau santri biasa lebih mudah dilihat dari kopyah yang dikenakannya.

Biasanya untuk kopyah yang bermotif, kopyah putih atau kopyah haji dikenakan para dzuriyah. Sedangkan untuk peci hitam dikenakan oleh para santri biasa. Namun diperkenankan pula santri memakai kopyah putih dengan ketentuan santri tersebut telah menunaikan ibadah haji.

Coba kita bayangkan. Seumpama ada seorang santri biasa ketika berangkat sekolah, sengaja atau tidak, santri tersebut mengenakan kopyah ala dzuriyah. Tak ayal santri itu akan menjadi pusat perhatian dan tak jarang mendapat gojlokan (komentar pedas). Jangankan waktu sekolah. Waktu sholat saja mungkin semua santri tidak berani memakai kopyah ala dzuriyah. Padahal di dalam syarat-syarat sholat tidak ada pembahasan larangan memakai kopyah selain kopyah hitam.

Sejarah dan Filosofi Kopyah

Satu pendapat mengatakan bahwa laksamana Ceng Ho lah yang berjasa membawa peci ke Indonesia. Peci berasal dari kata Pe yang berarti delapan, dan Chi yang berarti energi. Sehingga arti peci itu sendiri adalah penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru mata angin.

Lalu “songkok” yang berarti “kosongnya mangkok”. Artinya, hidup ini seperti mangkok yang kosong. Harus diisi dengan ilmu dan berkah. Sementara “kopyah” berasal dari “kosong karena di-pyah”. Maknanya, kosong karena di buang (di-pyah). Apa yang dibuang? Kebodohan dan rasa iri hati serta dengki yang merupakan penyakit bawaan syaitan.

Bukan hanya kalangan santri saja. Banyak petinggi negara, seperti presiden, wakil presiden, jajaran kementrian yang mengenakan kopyah hitam. Juga para ulama banyak yang berkenan memakai kopyah hitam, semisal KH. Said Aqil Siraj, Gus Mus dan Gus Dur.

Kopyah sangat kental sejarahnya dengan pergerakan nasional bangsa Indonesia. Kita tengok masa penjajahan. Di mana presiden kita, Sang Proklamator Ir. Soekarno yang merupakan presiden pertama di Indonesia, dengan bangga mengenakan kopyah hitam.

Mengenai Kopyah Soekarno

Dalam buku biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, Bung Karno bercerita bagaimana ia bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan. Di masa itu, kaum cendekiawan pro-pergerakan nasional enggan memakai blangkon, misalnya, tutup kepala tradisi Jawa. Jika kita lihat foto pahlawan Wahidin Sudiro Husodo ataupun Dr. Cipto Mangunkusumo, mereka berdua memakai blangkon sebelum 1920-an.

Ada sejarah politik dalam tutup kepala ini. Sekolah dokter pribumi, STOVIA, yang dibangun oleh pemerintah kolonial mempunyai aturan: siswa inlander (pribumi) tidak boleh memakai baju Eropa. Maka para siswa memakai blangkon dan sarung batik jika dari Jawa. Bagi yang datang dari Manado atau Maluku, misalnya, lain lagi. Bagi mereka yang beragama Kristen, boleh memakai pakaian eropa: pantalon, jas, dasi, mungkin topi. Dari sejarah ini, tampak usaha pemerintah kolonial untuk membagi penduduk dari segi asal-usul, etnis dan agama.

Maka banyak aktivis pergerakan nasional yang menolak memakai blangkon. Apalagi mereka pada umumnya bersemangat kemajuan, modernisasi. Jadi penolakan pada kostum tradisi mengandung penolakan terhadap politik kolonial ‘devide et impera’. Dan penolakan terhadap adat lama.

Lalu apa gantinya? Untuk memakai topi seperti kolonial itu akan terasa menjauhkan diri dari rakyat. Pada Juni 1921, Bung Karno menemukan solusi. Ia memilih memakai peci.

Waktu itu ada pertemuan Jong Java di Surabaya. Bung Karno datang dan ia memakai kopyah meskipun sebenarnya ia takut ditertawakan. Maka ia pun berkata pada dirinya sendiri, “kalau mau jadi pemimpin, bukan pengikut, harus berani memulai sesuatu yang baru.”

Waktu itu, menjelang rapat mulai, hari sudah agak gelap.  Bung Karno berhenti sebentar. Ia bersembunyi di balik tukang sate.  Setelah ragu sebentar, dia berkata lagi pada diri sendiri, “Ayo, maju! Pakailah pecimu! Tariklah nafas yang dalam dan masuklah sekarang!” Lalu ia masuk ke ruang rapat. Membuat semua orang memandangnya tanpa kata-kata.

Untuk mengatasi kekikukan, Bung Karno bicara, “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia.”  “Peci,” kata Bung Karno setelahnya, “dipakai oleh pekerja-pekerja dari bangsa Melayu. Dan itu asli kepunyaan rakyat kita.”

Menurut Bung Karno, peci berawal dari kata Pet, dan Je, istilah Belanda untuk mengesankan sifat kecil. Baik dalam sejarap pemakaian dan penyebutan namanya. Peci mencerminkan Indonesia, satu bangunan ‘interkultur’.

Keterangan ini membawa kita pada kesimpulan bahwa sesunggunya peci, songkok maupun kopyah bukanlah sebuah simbol agama. Ia merupakan simbol budaya dari bangsa Indonesia khususnya dan bangsa Melayu pada umumnya. Dalam hal ibadah, mengapa kebanyak orang Islam mengenakan peci, tak lebih agar dapat tertutupnya rambut di saat sujud. Beberapa negara selain Indonesia memiliki penutup kepala sendiri yang dikenakan dalam solat, seperti kain surban orang arab, peci tinggi orang Turki, dan lain sebagainya.

Memang keabsahan keterangan di atas, masih perlu dikaji ulang. Tapi yang pasti, peci merupakan pemandangan umum di tanah melayu sejak abad 13, saat Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, dan membawa oleh-oleh berupa peci saat ke kampung halaman.

Jean German Taylor, yang meneliti interaksi antara kostum Jawa dan kostum Belanda periode 1800-1940, menemukan bahwa sejak pertemuan abad ke-19, pengaruh itu tercermin dalam pengadopsian bagian-bagian tertentu dari pakaian Barat. Pria-pria jawa yang dekat dengan orang Belanda, mulai memakai pakaian gaya Barat. Menariknya, blangkon/peci tak pernah lepas dari kepala mereka.

Walhasil, memakai peci seharusnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi para santri. Bukan malah ditinggal dan lebih memilih topi.][

 

Penulis, Ibrahim,  santri kamar K 3.