HomeArtikelMengurai Radikalisme Agama

Mengurai Radikalisme Agama

0 2 likes 1.3K views share

Judul Asli : Mengurai Radikalisme Agama dengan Mengaplikasikan Keaswajaan dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam waktu yang singkat dan keterbatasan penulis, tidak mudah untuk mengurai radikalisme agama secara tuntas dan komprehensif. Namun demikian, setidaknya tulisan berikut cukup untuk pengantar mengenali radikalisme agama.  Yang dengan memahaminya kita akan mampu melihat  radikalisme agama, sehingga kita bisa menghindari dan membendungnya.

Sekilas Tentang Agama Islam

Islam adalah agama kedamaian, keselamatan dan kasih sayang. Bukti paling konkrit mengenai hal ini adalah, bahwa Allah Swt menamakan agama ini dengan sebutan Islam. Secara literal, kata Islam diambil dari bahasa arab yang berasal dari akar kata salima yaslamu salaman, sebuah kata-kata indah yang menunjukkan arti kedamaian, keselamatan, keamanan, kenyamanan dan perlindungan. Jika kita merenungkan dengan mendalam makna-makna tersebut, kita akan mendapati bahwa semua prinsip dasar dalam agama Islam (sebagaimana diceritakan dalam hadis Jibril ) yaitu, Islam, iman dan ihsan semuanya merupakan manifestasi dari makna tersebut.

Islam. Suatu ketika Nabi Saw ditanya, “Siapakah muslim sejati?”  Beliau menjawab, “Al-muslimu man salima an-nasu min lisanihi wa yadihi (seorang  dikatakan muslim sejati  jika ucapan dan perbuatanya tidak merugikan orang lain)”.

Iman. Secara literal kata iman berasal dari akar kata amina ya’manu amnan yang menunjukkan arti kedamaian dan perlindungan. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan sebuah hadits dari Abi Hurairah, bahwa Nabi pernah bersabda, “Al-mu’minu man aminahu an-nasu ala dima’ihim wa amwalihim (mukmin sejati adalah seseorang yang orang lain merasa nyawa dan hartanya aman darinya)”.

Ihsan. Kata ihsan berasal dari trilateral (tsulasi mujarrod) berupa hasuna yahsunu husnan yang berarti kebaikan, kebajikan dan keindahan. Dari kata inilah Nabi Saw mengatur segala persoalan yang berkaitan dengan bersosial dan bermasyarakat, sebagaimana hadis beliau, “Ittaqillah haitsu ma kuntum wa atbi’issayyi’ata al-hasanata wa khaliqi an-nas bi khuluqin hasanin (bertakwalah kepada Allah dimana pun kalian berada, hapus perbuatan jelek dengan kebaikan, dan bergaulah dengan manusia dengan pergaulan yang baik/ akhlaq yang baik”.

Islam adalah agama yang moderat, dalam hal akidah meyakini Tuhan hanya ada satu, tidak anti Tuhan juga tidak meyakini Tuhan banyak. Dalam berbagai persoalan juga demikian, sebagaimana Firman Allah Swt:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا 

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. QS. Al-Baqoroh: 143

 وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا 

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”. QS. Al-Isro`: 143

وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا 

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. Qs. Al-Isro`: 110

 وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ 

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah swt kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. QS. Al-Qoshosh: 77

Ayat –Ayat di atas menjelaskan bahwa ajaran Islam selalu moderat. Orang tidak boleh berlebihan dalam mengalokasikan harta, atau boros, di saat yang sama tidak boleh kikir. Waktu salat tidak boleh terlalu keras, agar tidak mengganggu, juga tidak boleh pelan, sehingga tak terdengar. Sehingga kita bisa menilai, jika ada yang berlebih-lebihan, seperti salat dengan suara dengan speaker yang sangat keras dan mengganggu, meski dengan alasan syiar Islam, meramaikan masjid, atau alasan lain atas nama agama, hal tersebut bukan ajaran Islam.

Apa itu radikal?

Kata radikal berasal dari bahasa latin “radix”  yang bermakna akar. Secara bahasa, radikalisme adalah suatu paham atau aliran yang menghendaki adanya perubahan atau pergantian sistem di masyarakat dengan cara kekerasan atau drastis.

Sebenarnya, keinginan adanya perubahan  masih dianggap wajar dan positif jika disalurkan melalui jalur perubahan yang benar, dan terutama tidak beresiko terjadi pertumpahan darah dan tidak merusk stabilitas politik dan keamanan, namun jika dilakukan dengan cara-cara kekerasan dan pertumpahan darah tentunya hal ini tidak dibenarkan. Dr. Said Ramadlan al-Buthi dalam kitabnya al-Islam Maldzu Kulli al-Mujtama’at al-Insaniyat manyatakan, “Kita perlu bertanya, apakah subtansi Islam sesuai dengan sistem revolusi (mewujudkan perubahan dengan kekerasan)?” Pertanyaan tersebut langsung kami jawab, masyarakat Islami tidak mungkin bisa berdiri kokoh jika mengandalkan kekerasan dan pertumpahan darah, karena masyarakat Islami sejak dulu sampai sekarang tidak pernah terwujud dengan cara seperti itu.

Sebuah tindakan radikal, sebenarnya bisa terjadi dalam setiap aspek kehidupan, baik agama, politik maupun yang lain, tidak hanya terfokus pada satu agama tertentu, seperti kasus teror pada kaum muslim  di Palestina, Pakistan, Irlandia, Bosnia, Chechnya, Pattani, Khasmir dan Rohingya yang dilakukan oleh ekstrimis Hindu, Buddha, Yahudi dan Katolik. Namun pasca runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) pada 11 september 2001 lalu, radikalisme seperti mengalami penyempitan makna dan hanya digunakan sebuah istilah untuk suatu tindak kekerasan atas nama agama, dan jika lebih kita sempitkan lagi, agama Islam. Dan inilah fokus pembahasan kita.

Radikalisme dalam sikap keagamaan bisa ditandai dengan hal berikut:

  • Sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain.
  • Bersikap revolusioner, cenderung menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan.
  • Umumnya radikalisme muncul dari pemahaman agama yang konservatif dan tekstual.
  • Kelompok radikal selalu merasa sebagai pihak yang memahami ajaran Tuhan. Karenanya mereka suka menganggap kelompok selain mereka adalah sesat

Benih-benih radikalisme dalam Islam sebenarnya sudah muncul sejak abad pertama Hijriyyah, benih ini ditunjukkan dengan sikap intoleran dan eksklusif oleh kaum Khawarij. Kaum Khawarij pada mulanya merupakan pengikut Sayyidina Ali Ra. Munculnya gerakan ini berawal dari perang Shiffin yang terjadi antara kelompok Sayyidina Ali Ra dan Mu’awiyyah Ra, ketika perang berlangsung dan kelompok Sayyidina Ali Ra hampir memenangkan peperangan, kubu Mu’awiyyah menawarkan perundingan sebagai penyelesaian permusuhan, dan Sayyidina Ali Ra menerima tawaran tersebut. Kesediaan Sayyidina Ali Ra untuk berunding menyebabkan kurang lebih 4000 pengikutnya memisahkan diri dan membentuk kelompok baru yang dikenal dengan nama Khawarij. Kelompok ini sangat menolak perundingan yang dilakukan Sayyidina Ali. Bagi mereka permusuhan hanya bisa diselesaikan dengan hukum Tuhan, bukan dengan perundingan, sehingga muncul jargon mereka la hukma illa lillah. Karena kelompok Sayyidina Ali bersedia menyelesaikan persoalan dengan perundingan, maka mereka dianggap kafir dan dituduh sebagai pengecut oleh Khawarij. Hal ini yang menyebabkan Khawarij melegitimasi tindakan teror mereka terhadap umat Islam yang tidak sependapat, bahkan salah satu anggota mereka Abdurrahman bin Muljam berhasil membunuh Ali Ra.

Faktor Munculnya Radikalisme Islam

Banyak sekali faktor penyebab tumbuhnya ideologi ini, butuh pengkajian lebih serius untuk mengidentifikasinya, karena memang hampir semua penyebabnya  tidak tunggal dan butuh terhadap hal-hal atau kepentingan yang lain untuk menjadi faktor tindakan  radikal.

  1. Faktor Keagamaan

Tidak semua kesalahan dalam memahami agama dapat mengantarkan pada tindakan radikal, tentu kesalahan dalam memahami rukun-rukun sholat dan wudlu’ tidak akan menyebabkan radikalisme, namun dalam beberapa persoalan keagamaan, kesalahan dalam memahaminya akan berakibat fatal. Diantaranya sebagai berikut:

  • Takfir

Sikap serampangan dalam mengkafirkan tentu ujung-ujungnya akan menganggap nyawa dan harta seseorang yang dianggap kafir halal. Beberapa kelompok radikal membenarkan  aksi terornya  karena menganggap bahwa setiap negara yang tidak menerapkan syariat Islam, dan tidak mendukung mereka dalam upaya mendirikan khilafah atau bahkan tidak sependapat dengan mereka adalah kafir, sehingga layak menjadi sasaran jihad. Tentu sikap seperti ini sangat tidak sesuai dengan karakteristik Ahlusunnah wal Jama’ah. Imam ahlusunnah wal jama’ah, imam Asy’ari menjelang akhir hayatnya berkata pada murid-murid beliau, “Bersaksilah untukku, bahwa aku tidak mengkafirkan siapapun dari ahlul qiblat (mereka yang shalatnya menghadap qiblat), sebab mereka semua (pada hakikatnya) menunjuk pada Tuhan yang satu”.

  • Jihad dan Hubungan dengan Non Muslim

Mengartikan jihad hanya sebagai bentuk perang fisik saja memang salah, namun harus kita akui bahwa memang salah satu aplikasi jihad berupa perang fisik melawan non muslim. Akan tetapi inti letak kesalahan dalam memahaminya adalah mengenai manathul hukmi (alasan munculnya hukum) dalam jihad. Dalam sebuah kaidah dinyatakan “wujudnya sebuah hukum tergantung wujudnya illat”. Dalam persoalan ini, hukum wajib berjihad tentu jika wujud illatnya. Banyak kelompok radikal yang mengklaim  bahwa alasan/illat dalam jihad adalah bentuk kekufuran seseorang. Ini tidak sesuai dengan firman Allah swt ‏:

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ 

“Allah Swt tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah Swt menyukai orang-orang yang berlaku adil”. QS. Al-Mumtahanah: 8 

Harus diakui bahwa Islam membenarkan peperangan dalam rangka membela diri dari peperangan, serta menolak penganiyaan, atau dengan kata lain untuk meraih rasa aman dan damai bagi semua pihak. Tetapi yang pertama harus digarisbawahi adalah bahwa sifat dasar kaum  beriman adalah tidak menyukai perang.  Ini ditegaskan oleh Alquran ketika berbicara tentang kewajiban berperang demi tegaknya keadilan perdamaian. Allah Swt berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ 

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Swt mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. QS. Al-Baqoroh: 165

Sekali lagi, peperangan dibenarkan bila tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarkan penganiyaan dan memantapkan keamanan kecuali dengan perang. Karena itu, bila peperangan terjadi, maka semua yang tidak terlibat harus dipelihara. Anak-anak dan perempuan harus dilindungi, pepohonan jangan ditebang, lingkunagan jangan dirusak.

Perang juga harus dihentikan, ketika penindasan sudah tidak dijumpai. Allah swt berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ 

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah Swt. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim”. QS. Al-Baqoroh: 193 

  • Kesadaran Pluralitas

Kesadaran bahwa kita hidup bersama-sama dengan berbagai macam aliran dan agama, juga ikut ambil bagian munculnya agama. Sebab jika tidak menyadari demikian, niscaya akan memaksa orang lain untuk mengikutinya, bahkan dengan cacian dan celaan. Hal inilah yang menjadi akar munculnya radikalisme. Allah Swt dengan tegas menyatakan tidak ada paksaan dan larangan pada agama lain:

 لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Bagisiapapun yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. QS. Al-Baqoroh: 256 

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ 

“Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” QS. Yunus. 99 

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah Swt dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. QS. Al-An’am: 108 

Larangan memaki tuhan-tuhan dan kepercayaan pihak lain merupakan tuntunan agama guna memelihara kesucian agama-agama dan guna menciptakan rasa aman, serta hubungan harmonis antar umat beragama. Manusia sangat mudah terpancing emosinya bila agama dan kepercayaannya disinggung. Ini merupakan tabiat manusia, apapun kedudukan sosial atau tingkat pengetahuannya, karena agama bersemi di dalam hati penganutnya, sedang hati adalah sumber emosi. Berbeda dengan pengetahuan, yang mengandalkan akal dan pikiran. Karena itu dengan mudah seseorang mengubah pendapat ilmiahnya, tetapi sangat sulit mengubah kepercayaannya walau bukti-bukti kekeliruan kepercayaan telah terhidang kepadanya.

Di sisi lain, memaki tidak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Agama Islam datang membuktikan kebenaran, sedang makian biasanya ditempuh oleh mereka yang lemah. Sebaliknya, dengan makian boleh jadi kebatilan dapat tampak di hadapan orang-orang awam sebagai pemenang. Karena itu, suara keras si pemaki  dan kekotoran lidahnya tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim yang harus memelihara lidah dan tingkah lakunya. Makian juga dapat menimbulkan antipati terhadap yang memaki. Sehingga jika hal itu dilakukan oleh seorang muslim, maka yang dimaki akan semakin menjauh.

  1. Faktor Sosial-Politik

Berabad-abad lamanya Islam mengalami masa keemasan, kemajuan teknologi, militer dan kebudayaan serta luasnya wilayah kekuasaan Islam pada masa lalu, kini hanya tinggal sejarah saja. Dimulai sejak abad pertengahan, kebangkitan eropa-amerika mulai terasa, ditandai dengan kebangkitan renaisans, mereka mengembangkan teknologi-teknologi yang memudahkan mereka menuju kehidupan yang lebih maju, hingga akhirnya kekuatan militer luar biasa yang mereka miliki satu-persatu mulai mengekspansi wilayah Islam, sejak runtuhnya khilafah terakhir umat Islam, dinasti Ottoman, hampir semua negara Timur Tengah yang menjadi pusat sentral umat Islam dan negara-negara berpenduduk muslim di Asia dijajah oleh barat. Meski setelah negara -negara berpenduduk Islam sudah mulai merdeka, penjajahan  barat dalam waktu lama menyebabkan kebudayaan dan pemikiran mereka mulai mempengaruhi umat Islam, banyak anak-anak muda umat Islam menimba ilmu dari mereka. Namun di sisi lain banyak kalangan masyarakat muslim yang masih memperjuangkan kebudayaan mereka dan sangat menolak dengan hal-hal berbau barat. Tidak terima umat Islam dianggap kalah dan tidak ‘sudi’ mengakui superioritas barat, mereka menggunakan segala cara termasuk kekerasan dalam perjuangannya. Mereka menganggap bahwa realitas dunia saat ini adalah realitas konflik. Mulai dari memperjuangkan pendirian khilafah baru, jihad sporadis, dan aksi-aksi radikal lain. Hingga pada puncaknya mereka mengkafirkan saudara seimannya yang tidak sependapat.

Sebagai penutup, perlu kita sadari bahwa kebersamaan dan berpedaan adalah realitas yang tidak dapat dipungkiri. Mungkin bagi kita, mereka berada di pihak yang salah atau bahkan sesat. Namun, keyakinan kebenaran kita, jangan sampai memicu tindak kekerasan. Cukup sudah sejarah kelam kita jadikan pelajaran. Membangun bangsa dengan persatuan yang kuat, kita jadikan cita-cita bersama. Allah Swt berfirman:

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ 

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. QS. Ali Imron: 105

 وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ 

“Sekiranya Allah Swt menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”. QS. Al-Maidah: 48

Sekian. Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis : Muhamammad Hamim HR.