Tag Archives: Radikal

Larangan Memberontak Pemerintah

Telah menjadi konsensus Ulama bahwa tindakan makar dan memberontak terhadap pemerintahan yang sah adalah haram, meskipun pemerintan fasik dan zalim. Sebagaimana penjelasan imam An-Nawawi berikut:

وَأَمَّا الْخُرُوْجُ عَلَيْهِمْ وَقِتَالُهُمْ فَحَرَامٌ بِالْإِجْمَاعِ وَإِنْ كَانُوْا فَسَقَةً ظَالِمِيْنَ

Adapun keluar dari ketaatan terhadap penyelenggara negara dan memeranginya maka hukumnya haram, berdasarkan konsensus ulama, meskipun mereka fasik dan zalim.”[1]

Dengan bahasa lain yang menyejukkan, Dr. Wahbah az-Zuhaily menegaskan dalam kitabnya yang berjudul al-Fiqh al-islami Wa Adillatuhu:

وَلَا يَجُوْزُ الْخُرُوْجُ عَنِ الطَّاعَةِ بِسَبَبِ أَخْطَاءٍ غَيْرِ أَسَاسِيَّةٍ لَاتُصَادِمُ نَصًّا قَطْعِيًّا سَوَاءٌ أَكَانَتْ بِاجْتِهَادٍ أَمْ بِغَيْرِ اجْتِهَادٍ حِفَاظًا عَلَى وِحْدَةِ الْأُمَّةِ وَعَدَمِ تَمْزِيْقِ كِيَانِهَا أَوْ تَفْرِيْقِ كَلِمَاتِهَا

Tidak diperbolehkan memberontak pemerintah sebab kesalahan yang tidak mendasar yang tidak menabrak nash qath’i, baik dihasilkan dengan ijtihad atau tidak, demi menjaga persatuan umat dan menghindari perpecahan dan pertikaian di antara mereka.”[2]

Alasannya sederhana, masuk akal, dan dapat dilihat dalam bukti sejarah. Sesuai penjelasan dalam kitab Ghayah al-Bayan bahwa pemberontakan akan mengobarkan fitnah yang lebih besar, pertumpahan darah, perselisihan antar golongan, dan seterusnya.[3]

Tidak ditemukan satu pun istilah memberontak dalam ajaran dan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah. Bahkan pelaku pemberontakan disebut dengan istilah Khawarij, meskipun istilah ini mulanya hanya mengarah kepada kelompok yang membelot dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib ra., namun secara dinamis juga digunakan untuk setiap kelompok yang melakukan tindakan makar terhadap pemerintah yang sah. Sebagaimana keteranganAbu Fadhl as-Senori dalam kitab Syarh al-kawakib al-Lamma’ah:

فَكُلُّ مَنْ خَرَجَ عَلَى الْإِمَامِ الْحَقِّ الَّذِي اتَّفَقَتِ الْجَمَاعَةُ عَلَيْهِ يُسَمَّى خَارِجِيًّا سَوَاءٌ كَانَ الْخُرُوْجُ فِيْ أَيَّامِ الصَّحَابَةِ عَلَى الْأَئِمَّةِ الرَّاشِدِيْنَ اَوْ كَانَ بَعْدَهُمْ عَلَى التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ وَالْأَئِمَّةِ فِيْ كُلِّ زَمَانٍ

Setiap orang yang berbuat makar terhadap pemimpin yang sah yang menjadi kesepakatan golongan dinamakan Khawarij, baik yang berbuat makar di zaman sahabat terhadap Khulafaur Rasyidin atau para Tabi’in serta setiap pemimpin di setiap zaman seterusnya.[4]

Salah satu ulama Ahlussunnah wal Jama’ah kontemporer, Syaikh Abdul Fatah Qudaisy Al-Yafi’i, menceritakan dalam kitab Al-Manhajiyyah Al-‘Ammah Al-‘Aqidah, bahwa dalam rekam sejarah, pada saat pemerintah Islam dipimpin oleh rezim Muktazilah Jahmiyyah seperti Khalifah Al-Makmun, Al-Watsiq, dan Al-Mu’tashim, tidak satupun ulama Ahlussunnah wal Jama’ah memberontak. Mereka juga tidak pernah memfatwakan haram berjamaah di belakang para pemimpin yang bukan Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut. Tidak pula mengharamkan agresi militer bersama mereka. Padahal pada saat itu banyak ulama seperti imam Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan ulama besar lainnya. Demikian teladan etika ulama Ahlussunnah wal Jama’ah terhadap pemerintah.[5]

[]waAllahu a’lam


[1] Al-Minhaj Syarh Shahih al-Muslim, XII/229.

[2] al-Fiqh al-islami Wa Adillatuhu, VI/705.

[3] Ghayah al-Bayan, I/27.

[4] Syarh al-kawakib al-Lamma’ah, hal. 13.

[5] Al-Manhajiyyah Al-‘Ammah Al-‘Aqidah, 32-33

Implementasi Kerukunan Beragama Berdasarkan Status Sosial (Bag. 2-Habis)

(Baca sebelumnya, Bagian 1)

Pelaksanaan prinsip-prinsip di atas diklasifikasi berdasarkan status sosial seorang muslim di tengah masyarakatnya:

  1. 1. Sebagai anggota dan warga masyarakat

Pemeluk agama Islam sebagai anggota dan warga masyarakat di manapun mereka berada, tidak lepas dari bertetangga, berteman dan bermitra dengan pemeluk agama lain, di samping juga bergaul dengan warga masyarakat yang seagama. Ketenteraman, ketertiban, keamanan dan kemakmuran hidup adalah merupakan kebutuhan yang mesti dicitakan, walaupun suatu saat kita harus betetangga, berteman dan bermitra dengan pemeluk agama lain dengan tidak melanggar batas batas syariat.[1]

  1. 2. Sebagai pimpinan ormas keagamaan dan tokoh agama

Seorang muslim yang dipercaya sebagai pimpinan ormas atau dijadikan sebagai tokoh agama/masyarakat, memiliki kewajiban dan tugas lebih besar dibanding orang muslim yang bukan pemimpin/tokoh. Sebagai pemimpin dan tokoh mereka harus menjadi yang terbaik dalam menjalankan ketentuan dan prinsip menjalin kerukunan antar umat beragama di atas, karena mereka adalah tauladan sekaligus pelindung dan pembimbing anggota masyarakatnya.

Oleh karena itu, mereka berkewajiban memberi penjelasan dan pembinaan yang cukup kepada umat yang dipimpinya agar kualitas umat Islam dalam beragama semakin mantap serta militan dan dalam saat yang sama umat Islam juga sadar akan perlunya kerukunan antar umat beragama secara benar. Nabi Ibrahim diperintahkan Allah Swt untuk berbuat baik kepada seluruh manusia tanpa mempermasalahkan perbedaan agama.

  1. 3. Sebagai pejabat pemerintah/negara

Seorang muslim yang berketepatan sebagai pejabat pemerintahan atau negara, wajib melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik dan bertanggung jawab. Sudah menjadi keniscayaan, pejabat muslim harus melindungi, melayani, menyediakan berbagai kebutuhan hidup, sarana prasarana publik dan seterusnya terhadap seluruh warga negara secara merata.

Pada dasarnya ketentuan dan kewajiban yang berlaku bagi individu umat Islam dalam berinteraksi sosial dengan umat agama lain, juga berlaku bagi pejabat muslim dalam menjalankan tugas-tugas sebagai pejabat. Oleh karena itu, bagi pejabat muslim dalam menjalankan tugas pemerintahan harus bertujuan untuk menjaga keutuhan negara, menjaga persatuan bangsa, menghindarkan kerusakan dan membangun kemaslahatan umum guna meraih ketenteraman dan kemakmuran yang berkeadilan.

Jadi umat Islam yang sedang dipercaya sebagai pejabat pemerintah, wajib berupaya membangun dan menciptakan kehidupan yang rukun, damai dan bersatu bagi seluruh rakyat tanpa memebedakan agama dan keyakinanya.[2] Upaya tersebut harus terus menerus digelorakan guna menuju cita-cita luhur dalam berbangsa dan bernegara serta menjaga persatuan nasional. Pejabat muslim juga berkewajiban membangun umat Islam menuju umat yang berkualitas dalam beragama dan memiliki nasionalisme yang tinggi. Teladan seorang pemimpin pemerintahan dalam membangun toleransi dan kerukunan antar umat beragama tercermin dari sikap Umar bin Khattab Ra saat beliau menolak tawaran Patriak untuk Sholat di gereja, sebab beliau khawatir jika umat islam setelahnya akan menjadikan gereja tersebut sebagai masjid.[3]

Batas-batas Toleransi dan Menjalin Kerukunan dengan Pemeluk Agama Lain

Prinsip-prinsip di atas dalam penerapannya tidak boleh melampaui batas-batas sebagai berikut:

  1. 1. Tidak melampaui batas akidah sehingga terjerumus dalam kekufuran, seperti ikut ritual agama lain[4] dengan tujuan mensyi’arkan kekufuran.[5]
  2. 2. Tidak melampaui batas syariat sehingga terjerumus dalam keharaman, seperti memakai simbol-simbol yang identitas bagi agama lain dengan tujuan meramaikan hari raya agama lain.

Adapun berinteraksi dengan mereka di luar dua ketentuan di atas seperti umat Islam ikut membantu pelaksanaan hari raya umat agama lain,[6] menjaga dan mengamankan rumah ibadah mereka dari gangguan dan ancaman teror,[7] datang ke tempat peribadatan mereka tanpa mengikuti ritual keagamaannya,[8] maka diperbolehkan, terlebih jika hal tersebut didasari untuk menunjukkan keindahan, toleransi, dan kerahmatan agama Islam.

Begitu juga berkunjung ke rumah mereka saat tertimpa musibah atau berbela sungkawa atas kematian keluarganya,[9] menjenguknya saat sakit,[10] bermuamalat dengan mereka di tempat-tempat belanja, mencari penghidupan di tempat-tempat kerja, bersama-sama dalam tugas negara dan layanan publik, maka boleh dan bahkan dianjurkan bersikap baik terhadap mereka, terlebih jika masih ada hubungan kerabat, tetangga dan atau terdapat kemaslahatan, seperti ada harapan mereka masuk agama Islam.

 

(Dirangkum dari Keputusan Bahtsul Masail Maudlu’iyah Konferwil PWNU Jatim 2018)

_____________________

[1] Al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, VI/720.

[2] Al-Jihad fi Islam (Dr. Said Ramdhan al-Buthi), hlm 120-121.

[3] Al-Ghuluwu wa at-Tharattuf (Dr. Said Ramdhan al-Buthi), 108-109

[4] Al-I’lam bi Qawati’ al-Islam, hlm 237.

[5] Al-Fatawi al-Fiqhiyah al-Kubro, IV/239.

[6] Al-Bahr ar-Raiq, VIII/231.

[7] Ahkamu Ahli ad-Dzimmah, III/1168. dan Qawaid al-Ahkam, I/156.

[8] Al-Inshof fi Ma’rifat ar-Rajih min al-Khilaf, IV/234.

[9] Mughni al-Muhtaj, I/355.

[10] ‘Umdah al-Qari’ Syarh Shahih al-Bukhari, XIII/34.

Kerukunan Antar Umat Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (Bag. 1)

Kerukunan antar umat beragama berarti harmonisasi kehidupan umat beragama tanpa mengurangi hak dasar pemeluknya untuk melaksanakan kewajiban agamanya masing-masing. Dalam konteks berbangsa dan bernegara, kerukunan antar umat beragama adalah suatu keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dan bekerjasama saling bahu membahu dalam membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tanpa adanya kesepakatan bersama, kerukunan antara umat beragama tidak mungkin terwujud, oleh karenanya empat pilar bangsa (NKRI, Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika) merupakan kesepakatan mengikat (Mu’ahadah) yang menjadi payung bersama bagi seluruh warga negara dalam menjalin kerukunan antar umat beragama.

Di tengah pluralitas Indonesia, kerukunan antar umat beragama merupakan aset berharga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, demi terciptanya kehidupan masyarakat yang damai, harmonis dan bebas dari ancaman, ketakutan dan kekerasan terutama yang ditimbulkan dari konflik agama, sehingga stabilitas, persatuan dan pembangunan nasional dapat terwujud dan membawa kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran dunia akhirat. Realitas kemajemukan bagi bangsa Indonesia bukan menjadi sumber pertikaian dan konflik yang berdampak kemunduruan dan kerugian bersama, namun justru kemajemukan dapat dikelola menjadi sumber kekuatan yang membangun, menguatkan dan membawa kemajuan.

Kerukunan umat Islam dengan umat agama lain juga tidak bertentangan dengan firman Allah Swt:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang kepada sesama mereka.”

Sebab, tuntutan bersikap keras dalam ayat di atas adalah kepada orang-orang non muslim yang memusuhi dan memerangi umat Islam, bukan orang-orang non muslim yang hidup dalam keharmonisan, kerukunan dan kedamaian bersama umat Islam. Kepada non muslim yang terakhir ini, umat Islam diperintahkan untuk menjalin hubungan yang damai dan harmonis dengan menjaga prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh syariat.[1]

Prinsip Menjalin Kerukunan bagi Umat Islam terhadap Pemeluk Agama Lain

  1. 1. Dasar hubungan antara umat Islam dan pemeluk agama lain

Realitas keberagaman manusia dalam agama dan keyakinannya merupakan sunatullah yang tidak bisa dihilangkan. Andaikan Allah Swt mempersatukan manusia dalam satu agama misalnya tentu Dia kuasa, namun realitanya tidak demikian,

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ . إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Dan jika Tuhan-mu Menghendaki, tentu Dia Jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang Diberi rahmat oleh Tuhan-mu. Dan untuk itulah Allah Menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhan-mu telah tetap, Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud: 118– 119)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dinyatakan bahwa perbedaan agama, keyakinan dan pendapat di kalangan umat manusia akan selalu ada.[2] Perbedaan agama tidak bisa dijadikan alasan untuk berperilaku buruk, memusuhi dan memerangi pemeluk agama lain. Dengan demikian asas hubungan antara umat Islam dengan non muslim bukanlah peperangan dan konflik, melainkan hubungan tersebut didasari dengan perdamaian dan hidup berdampingan secara harmonis.[3] Islam memandang seluruh manusia, apapun agama dan latar belakangnya, terikat dalam persaudaraan kemanusian (Ukhuwwah Insaniyyah) yang mengharuskan mereka saling menjaga hak-hak masing, mengasihi, tolongmenolong, berbuat adil dan tidak menzalimi yang lain.[4] Allah Swt. berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampong halamanmu. Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

  1. 2. Mengedepankan budi pekerti yang baik

Di manapun berada, terlebih di lingkungan yang plural, seorang muslim tidak dapat melepaskan dirinya dari hubungan sosial dengan pemeluk agama lain. Islam mengajarkan, dalam setiap menjalin hubungan dan interaksi sosial dengan siapapun baik muslim maupun non muslim, setiap muslim harus tampil dengan budi pekerti yang baik, tutur kata yang lembut, dan sikap yang penuh kesantunan dan kasih sayang.[5] Sebagaimana perintah Allah Swt Kepada Nabi Musa As dan nabi Harun As. Untuk bertutur kata lembut kepada Fir’aun:

قُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

 

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44)

  1. 3. Internalisasi semangat persaudaraan nasional (Ukhuwwah Wathaniyyah)

Kerukunan antar umat beragama tidak dapat terjalin sempurna hanya dengan sikap saling toleransi saja, namun diperlukan adanya keterbukaan diri untuk terlibat dalam kerjasama demi meraih kebaikan bersama. Bangsa Indonesia disatukan oleh kehendak, citacita, atau tekad yang kuat untuk membangun masa depan dan hidup bersama sebagai warga negara di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seluruh elemen bangsa Indonesia disatukan dan meleburkan diri dalam satu ikatan kebangsaan atau persaudaraan sebangsa setanah air (Ukhuwwah Wathaniyyah), terlepas dari perbedaan agama dan latar belakang primordial lainnya.[6] Sebagaimana Nabi Saw Menyatukan seluruh penduduk Madinah dalam satu ikatan kebangsaan:

Kaum Yahudi dari Bani ‘Auf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri. Kecuali bagi yang zalim dan jahat, maka hal demikian akan merusak diri dan keluarganya. Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu, bukan dari komunitas yang lain.

  1. 4. Kebebasan beragama, beribadah dan mendirikan rumah ibadah

Agama Islam menjamin kebebasan beragama bagi setiap pemeluk agama lain, dalam arti memaksakan non muslim untuk memeluk agama Islam merupakan sebuah larangan.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (QS. Al-Baqoroh: 256)

Di sisi lain, problematika pendirian rumah ibadah di tengah-tengah masyarakat yang plural merupakan persoalan yang sensitif. Setiap peristiwa pengerusakan, atau gangguan terhadap rumah ibadah ataupun aktifitas peribadatan selalu menimbulkan dampak kerenggangan antar pemeluk agama yang dapat merusak kerukunan di antara mereka, bahkan rawan menyulut konflik. Islam memberikan toleransi dan menjamin kebebasan terhadap pemeluk agama lain untuk melakukan kegiatan keagamaan dan beribadah sesuai keyakinannya.[7] Begitu pula terhadap pendirian tempat ibadah, namun kebebasan tersebut tetap harus mempertimbangkan kebutuhan terhadap rumah ibadah serta harus sesuai perundang-undang dan peraturan pemerintah yang berlaku.[8]

  1. 5. Tidak mengganggu, merendahkan, menistakan atau menghina simbol-simbol agama lain.[9] Allah Swt. berfirman:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Alloh, karenamereka nanti akan memaki Alloh dengan melampaui batas dasar pengetahuan.Demikianlah kami jadikan setiap ummat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada tuhan tempat kembali mereka, lalu dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-An’am: 108)

  1. 6. Menghormati hak-hak mereka sebagai warga negara Indonesia, seperti hak memilih pekerjaan, memeluk agama dan beribadah sesuai keyakinannya, berpolitik, keadilan hukum dan sebagainya.[10]

 

(Dirangkum dari Keputusan Bahtsul Masail Maudlu’iyah Konferwil PWNU Jatim 2018)

___________________

[1] Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiah, XIV/223.

[2] Tafsir Ibnu Katsir, II/565.

[3] Atsar al-Harbi fii al-Islam, hlm 136.

[4] Tafsir at-Thabari, VII/512.

[5] Nawadir al-Ushul, III/97.

[6] Al-Hawi al-kabir, XVIII/855.

[7] Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiah, VII/128.

[8] Ahkam ad-Dzimmiyin wa al-Musta’manin fi Dar al-Islam, hlm 85.

[9] Al-Fatawi al-Haditsiyah, hlm 566.

[10] Muhammad al-Insan al-Kamil, hlm 227.

Urgensi Itba’u Man Salaf dalam Krisis Radikalisme

 

Lagi,topik Islam Nusantara menjadi trending topik di banyak kalangan belakangan ini. Ide Islam Nusantara digadang-gadang menjadi produk yang bisa menjadi potret Islam yang ramah dan rahmatan lil ‘alamin. Ungkapan tersebut tidak berlebihan, melihat kenyataan bahwa gagasan-gagasan yang termuat dalam ide Islam Nusantara disarikan dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para Wali Songo yang notabene merupakan pembawa ajaran Islam ke Indonesia.

Dan jika ditelaah lebih dalam lagi, ternyata paham Islam Nusantara tidak bertentangan sama sekali dengan ajaran serta syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kendati demikian, ide Islam Nusantara tetap menuai kontroversi dan hujatan dari beberapa kalangan, utamanya dari kalangan radikal dan liberal yang merasa cukup terusik dengan kehadiran paham moderat semacam ini.

Hal Ini merupakan sesuatu yang sangat wajar. Karena kemunculan paham moderat seperti Islam Nusantara memang merupakan jawaban atas keprihatinan maraknya paham radikal dan liberal yang dikhawatirkan akan merusak ideologi serta citra baik umat Islam.

Dan harus diakui bahwa sejak kemunculan ide Islam Nusantara, kalangan radikal dan liberal semakin getol dan gigih menyebarkan paham-paham mereka, entah itu melalui situs sosial media ataupun melalui kegiatan lapangan yang bertopeng kegiatan sosial kemasyarakatan.

Lalu, yang jadi pertanyaan, tindakan apa yang harus dilakukan untuk meneguhkan paham Islam Nulantara di saat seperti ini? Karena harus diakui jika tidak ada tindakan nyata untuk meneguhkannya, maka paham moderat semacam Islam Nusantara hanya akan menjadi sebatas wacana hampa yang tidak memiliki kontribusi apapun pada dunia Islam.

Salah satu langkah yang perlu diwacanakan dalam keadaan seperti ini adalah itba ‘uman salaf, yakni pembiasaan untuk melestarikan budaya luhur para ‘Ulama’ terdahulu serta mengikuti kebiasaan mereka, mulai dari tahlilan, yasinan, bahtsul masa ‘il hingga pengajian kitab kuning di pesantren.

Bukan hal aneh jika hal semacam ini perlu diwacanakan, karena diakui atau tidak, sebenarnya Islam Nusantara merupakan produk ijtihad yang dihasilkan dari kebiasaan dan budaya para ‘Ulama’ terdahulu. Sehingga salah satu cara ampuh dan kompatibel untuk meneguhkannya adalah dengan mengikuti budaya mereka.

Dan bagaimana mungkin kita bisa memisahkan Islam Nusantara dari budaya para ‘Ulama’ terdahulu? Dan jika tidak mengikuti ‘Ulama’ terdahulu, lalu siapa yang lebih layak untuk kita ikuti?

Alasan lain yang menjadi dasar kuat dari urgensi itba’u man salaf (mengikuti jejak pendahulu) dalam peneguhan Islam Nusantara adalah fakta bahwa Islam dikenalkan dan diajarkan melalui sesuatu yang praktis bukan teoritis.

Sahabat pada masa itu diperintah untuk mengikuti perilaku dan cara hidup (sunnah) Rasulullah SAW. bukan diperintah untuk belajar teori, karena pada dasarnya ajaran Islam memang bersifat aplikatif.

Begitupun Rasulullah, dalam mengajarkan Islam beliau lebih mengedepankan uswah hasanah. Hal ini tampak dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban, Imam Al-Baihaqi serta Imam Ad-Daruquthni, yang artinya “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat”. Jika para sahabat meneguhkan Islam dengan mengikuti Rasulullah SAW.

 

maka tidaklah berlebihan jika cara untuk meneguhkan Islam Nusantara adalah dengan mengikuti serta melestarikan kebiasaan ‘Ulama’ terdahulu. Jika kita berkaca pada sejarah Islam di bangsa kita sendiri, kita akan menemukan hal serupa yang dilakukan oleh Wali Songo. Para Wali Songo mengenalkan dan menyebarkan Islam di Indonesia dengan sesuatu yang praktis bukan teoritis.

Dan dengan cara seperti ini, jika kita jujur secara sejarah, Islam telah sukses dibumikan di Indonesia. Sehingga jika Islam telah sukses dikenalkan dengan cara seperti ini, maka sangat layak cara ini digunakan untuk meneguhkannya kembali.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Al-Mahally “Jika mampu untuk memulai maka lebih mampu untuk mengulangi ” Selain itu, langkah-langkah dzohiriyah semacam ini merupakan hal praktis yang bisa diterima semua kalangan, bahkan kalangan awam.

Melalui kegiatan lahiriyyah ini pula kita bisa menggiring umat Islam secara perlahan untuk mengenali Islam Nusantara lebih dalam. Sebab jika ditekankan pada aspek teoritis, dan mengesampingkan aspek praktis, belum tentu hal tersebut bisa langsung siap diterima semua kalangan.

Sehingga hanya akan menjadi hal prematur, Apalagi dengan tindakan yang perlahan semacam ini, meski butuh waktu yang cukup lama untuk terlihat hasilnya, respon penolakan bisa lebih diminimalisir dan jauh lebih mudah diterima oleh khalayak umum.

Dan sudah menjadi hal yang maklum, sesuatu yang ditancapkan sedikit demi sedikit akan lebih sulit untuk dicabut. Konklusinya, itba ‘u man salaf merupakan jawaban sekaligus solusi yang kompatibel untuk mengatasi krisis radikalisme yang mengancam Islam Nusantara.

 

 

 

Ditulis Oleh: Muhammad Fajrul Falah FA.

Mengurai Radikalisme Agama

Judul Asli : Mengurai Radikalisme Agama dengan Mengaplikasikan Keaswajaan dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam waktu yang singkat dan keterbatasan penulis, tidak mudah untuk mengurai radikalisme agama secara tuntas dan komprehensif. Namun demikian, setidaknya tulisan berikut cukup untuk pengantar mengenali radikalisme agama.  Yang dengan memahaminya kita akan mampu melihat  radikalisme agama, sehingga kita bisa menghindari dan membendungnya.

Sekilas Tentang Agama Islam

Islam adalah agama kedamaian, keselamatan dan kasih sayang. Bukti paling konkrit mengenai hal ini adalah, bahwa Allah Swt menamakan agama ini dengan sebutan Islam. Secara literal, kata Islam diambil dari bahasa arab yang berasal dari akar kata salima yaslamu salaman, sebuah kata-kata indah yang menunjukkan arti kedamaian, keselamatan, keamanan, kenyamanan dan perlindungan. Jika kita merenungkan dengan mendalam makna-makna tersebut, kita akan mendapati bahwa semua prinsip dasar dalam agama Islam (sebagaimana diceritakan dalam hadis Jibril ) yaitu, Islam, iman dan ihsan semuanya merupakan manifestasi dari makna tersebut.

Islam. Suatu ketika Nabi Saw ditanya, “Siapakah muslim sejati?”  Beliau menjawab, “Al-muslimu man salima an-nasu min lisanihi wa yadihi (seorang  dikatakan muslim sejati  jika ucapan dan perbuatanya tidak merugikan orang lain)”.

Iman. Secara literal kata iman berasal dari akar kata amina ya’manu amnan yang menunjukkan arti kedamaian dan perlindungan. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan sebuah hadits dari Abi Hurairah, bahwa Nabi pernah bersabda, “Al-mu’minu man aminahu an-nasu ala dima’ihim wa amwalihim (mukmin sejati adalah seseorang yang orang lain merasa nyawa dan hartanya aman darinya)”.

Ihsan. Kata ihsan berasal dari trilateral (tsulasi mujarrod) berupa hasuna yahsunu husnan yang berarti kebaikan, kebajikan dan keindahan. Dari kata inilah Nabi Saw mengatur segala persoalan yang berkaitan dengan bersosial dan bermasyarakat, sebagaimana hadis beliau, “Ittaqillah haitsu ma kuntum wa atbi’issayyi’ata al-hasanata wa khaliqi an-nas bi khuluqin hasanin (bertakwalah kepada Allah dimana pun kalian berada, hapus perbuatan jelek dengan kebaikan, dan bergaulah dengan manusia dengan pergaulan yang baik/ akhlaq yang baik”.

Islam adalah agama yang moderat, dalam hal akidah meyakini Tuhan hanya ada satu, tidak anti Tuhan juga tidak meyakini Tuhan banyak. Dalam berbagai persoalan juga demikian, sebagaimana Firman Allah Swt:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا 

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. QS. Al-Baqoroh: 143

 وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا 

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”. QS. Al-Isro`: 143

وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا 

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. Qs. Al-Isro`: 110

 وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ 

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah swt kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. QS. Al-Qoshosh: 77

Ayat –Ayat di atas menjelaskan bahwa ajaran Islam selalu moderat. Orang tidak boleh berlebihan dalam mengalokasikan harta, atau boros, di saat yang sama tidak boleh kikir. Waktu salat tidak boleh terlalu keras, agar tidak mengganggu, juga tidak boleh pelan, sehingga tak terdengar. Sehingga kita bisa menilai, jika ada yang berlebih-lebihan, seperti salat dengan suara dengan speaker yang sangat keras dan mengganggu, meski dengan alasan syiar Islam, meramaikan masjid, atau alasan lain atas nama agama, hal tersebut bukan ajaran Islam.

Apa itu radikal?

Kata radikal berasal dari bahasa latin “radix”  yang bermakna akar. Secara bahasa, radikalisme adalah suatu paham atau aliran yang menghendaki adanya perubahan atau pergantian sistem di masyarakat dengan cara kekerasan atau drastis.

Sebenarnya, keinginan adanya perubahan  masih dianggap wajar dan positif jika disalurkan melalui jalur perubahan yang benar, dan terutama tidak beresiko terjadi pertumpahan darah dan tidak merusk stabilitas politik dan keamanan, namun jika dilakukan dengan cara-cara kekerasan dan pertumpahan darah tentunya hal ini tidak dibenarkan. Dr. Said Ramadlan al-Buthi dalam kitabnya al-Islam Maldzu Kulli al-Mujtama’at al-Insaniyat manyatakan, “Kita perlu bertanya, apakah subtansi Islam sesuai dengan sistem revolusi (mewujudkan perubahan dengan kekerasan)?” Pertanyaan tersebut langsung kami jawab, masyarakat Islami tidak mungkin bisa berdiri kokoh jika mengandalkan kekerasan dan pertumpahan darah, karena masyarakat Islami sejak dulu sampai sekarang tidak pernah terwujud dengan cara seperti itu.

Sebuah tindakan radikal, sebenarnya bisa terjadi dalam setiap aspek kehidupan, baik agama, politik maupun yang lain, tidak hanya terfokus pada satu agama tertentu, seperti kasus teror pada kaum muslim  di Palestina, Pakistan, Irlandia, Bosnia, Chechnya, Pattani, Khasmir dan Rohingya yang dilakukan oleh ekstrimis Hindu, Buddha, Yahudi dan Katolik. Namun pasca runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) pada 11 september 2001 lalu, radikalisme seperti mengalami penyempitan makna dan hanya digunakan sebuah istilah untuk suatu tindak kekerasan atas nama agama, dan jika lebih kita sempitkan lagi, agama Islam. Dan inilah fokus pembahasan kita.

Radikalisme dalam sikap keagamaan bisa ditandai dengan hal berikut:

  • Sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain.
  • Bersikap revolusioner, cenderung menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan.
  • Umumnya radikalisme muncul dari pemahaman agama yang konservatif dan tekstual.
  • Kelompok radikal selalu merasa sebagai pihak yang memahami ajaran Tuhan. Karenanya mereka suka menganggap kelompok selain mereka adalah sesat

Benih-benih radikalisme dalam Islam sebenarnya sudah muncul sejak abad pertama Hijriyyah, benih ini ditunjukkan dengan sikap intoleran dan eksklusif oleh kaum Khawarij. Kaum Khawarij pada mulanya merupakan pengikut Sayyidina Ali Ra. Munculnya gerakan ini berawal dari perang Shiffin yang terjadi antara kelompok Sayyidina Ali Ra dan Mu’awiyyah Ra, ketika perang berlangsung dan kelompok Sayyidina Ali Ra hampir memenangkan peperangan, kubu Mu’awiyyah menawarkan perundingan sebagai penyelesaian permusuhan, dan Sayyidina Ali Ra menerima tawaran tersebut. Kesediaan Sayyidina Ali Ra untuk berunding menyebabkan kurang lebih 4000 pengikutnya memisahkan diri dan membentuk kelompok baru yang dikenal dengan nama Khawarij. Kelompok ini sangat menolak perundingan yang dilakukan Sayyidina Ali. Bagi mereka permusuhan hanya bisa diselesaikan dengan hukum Tuhan, bukan dengan perundingan, sehingga muncul jargon mereka la hukma illa lillah. Karena kelompok Sayyidina Ali bersedia menyelesaikan persoalan dengan perundingan, maka mereka dianggap kafir dan dituduh sebagai pengecut oleh Khawarij. Hal ini yang menyebabkan Khawarij melegitimasi tindakan teror mereka terhadap umat Islam yang tidak sependapat, bahkan salah satu anggota mereka Abdurrahman bin Muljam berhasil membunuh Ali Ra.

Faktor Munculnya Radikalisme Islam

Banyak sekali faktor penyebab tumbuhnya ideologi ini, butuh pengkajian lebih serius untuk mengidentifikasinya, karena memang hampir semua penyebabnya  tidak tunggal dan butuh terhadap hal-hal atau kepentingan yang lain untuk menjadi faktor tindakan  radikal.

  1. Faktor Keagamaan

Tidak semua kesalahan dalam memahami agama dapat mengantarkan pada tindakan radikal, tentu kesalahan dalam memahami rukun-rukun sholat dan wudlu’ tidak akan menyebabkan radikalisme, namun dalam beberapa persoalan keagamaan, kesalahan dalam memahaminya akan berakibat fatal. Diantaranya sebagai berikut:

  • Takfir

Sikap serampangan dalam mengkafirkan tentu ujung-ujungnya akan menganggap nyawa dan harta seseorang yang dianggap kafir halal. Beberapa kelompok radikal membenarkan  aksi terornya  karena menganggap bahwa setiap negara yang tidak menerapkan syariat Islam, dan tidak mendukung mereka dalam upaya mendirikan khilafah atau bahkan tidak sependapat dengan mereka adalah kafir, sehingga layak menjadi sasaran jihad. Tentu sikap seperti ini sangat tidak sesuai dengan karakteristik Ahlusunnah wal Jama’ah. Imam ahlusunnah wal jama’ah, imam Asy’ari menjelang akhir hayatnya berkata pada murid-murid beliau, “Bersaksilah untukku, bahwa aku tidak mengkafirkan siapapun dari ahlul qiblat (mereka yang shalatnya menghadap qiblat), sebab mereka semua (pada hakikatnya) menunjuk pada Tuhan yang satu”.

  • Jihad dan Hubungan dengan Non Muslim

Mengartikan jihad hanya sebagai bentuk perang fisik saja memang salah, namun harus kita akui bahwa memang salah satu aplikasi jihad berupa perang fisik melawan non muslim. Akan tetapi inti letak kesalahan dalam memahaminya adalah mengenai manathul hukmi (alasan munculnya hukum) dalam jihad. Dalam sebuah kaidah dinyatakan “wujudnya sebuah hukum tergantung wujudnya illat”. Dalam persoalan ini, hukum wajib berjihad tentu jika wujud illatnya. Banyak kelompok radikal yang mengklaim  bahwa alasan/illat dalam jihad adalah bentuk kekufuran seseorang. Ini tidak sesuai dengan firman Allah swt ‏:

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ 

“Allah Swt tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah Swt menyukai orang-orang yang berlaku adil”. QS. Al-Mumtahanah: 8 

Harus diakui bahwa Islam membenarkan peperangan dalam rangka membela diri dari peperangan, serta menolak penganiyaan, atau dengan kata lain untuk meraih rasa aman dan damai bagi semua pihak. Tetapi yang pertama harus digarisbawahi adalah bahwa sifat dasar kaum  beriman adalah tidak menyukai perang.  Ini ditegaskan oleh Alquran ketika berbicara tentang kewajiban berperang demi tegaknya keadilan perdamaian. Allah Swt berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ 

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Swt mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. QS. Al-Baqoroh: 165

Sekali lagi, peperangan dibenarkan bila tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarkan penganiyaan dan memantapkan keamanan kecuali dengan perang. Karena itu, bila peperangan terjadi, maka semua yang tidak terlibat harus dipelihara. Anak-anak dan perempuan harus dilindungi, pepohonan jangan ditebang, lingkunagan jangan dirusak.

Perang juga harus dihentikan, ketika penindasan sudah tidak dijumpai. Allah swt berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ 

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah Swt. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim”. QS. Al-Baqoroh: 193 

  • Kesadaran Pluralitas

Kesadaran bahwa kita hidup bersama-sama dengan berbagai macam aliran dan agama, juga ikut ambil bagian munculnya agama. Sebab jika tidak menyadari demikian, niscaya akan memaksa orang lain untuk mengikutinya, bahkan dengan cacian dan celaan. Hal inilah yang menjadi akar munculnya radikalisme. Allah Swt dengan tegas menyatakan tidak ada paksaan dan larangan pada agama lain:

 لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Bagisiapapun yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. QS. Al-Baqoroh: 256 

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ 

“Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” QS. Yunus. 99 

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah Swt dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. QS. Al-An’am: 108 

Larangan memaki tuhan-tuhan dan kepercayaan pihak lain merupakan tuntunan agama guna memelihara kesucian agama-agama dan guna menciptakan rasa aman, serta hubungan harmonis antar umat beragama. Manusia sangat mudah terpancing emosinya bila agama dan kepercayaannya disinggung. Ini merupakan tabiat manusia, apapun kedudukan sosial atau tingkat pengetahuannya, karena agama bersemi di dalam hati penganutnya, sedang hati adalah sumber emosi. Berbeda dengan pengetahuan, yang mengandalkan akal dan pikiran. Karena itu dengan mudah seseorang mengubah pendapat ilmiahnya, tetapi sangat sulit mengubah kepercayaannya walau bukti-bukti kekeliruan kepercayaan telah terhidang kepadanya.

Di sisi lain, memaki tidak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Agama Islam datang membuktikan kebenaran, sedang makian biasanya ditempuh oleh mereka yang lemah. Sebaliknya, dengan makian boleh jadi kebatilan dapat tampak di hadapan orang-orang awam sebagai pemenang. Karena itu, suara keras si pemaki  dan kekotoran lidahnya tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim yang harus memelihara lidah dan tingkah lakunya. Makian juga dapat menimbulkan antipati terhadap yang memaki. Sehingga jika hal itu dilakukan oleh seorang muslim, maka yang dimaki akan semakin menjauh.

  1. Faktor Sosial-Politik

Berabad-abad lamanya Islam mengalami masa keemasan, kemajuan teknologi, militer dan kebudayaan serta luasnya wilayah kekuasaan Islam pada masa lalu, kini hanya tinggal sejarah saja. Dimulai sejak abad pertengahan, kebangkitan eropa-amerika mulai terasa, ditandai dengan kebangkitan renaisans, mereka mengembangkan teknologi-teknologi yang memudahkan mereka menuju kehidupan yang lebih maju, hingga akhirnya kekuatan militer luar biasa yang mereka miliki satu-persatu mulai mengekspansi wilayah Islam, sejak runtuhnya khilafah terakhir umat Islam, dinasti Ottoman, hampir semua negara Timur Tengah yang menjadi pusat sentral umat Islam dan negara-negara berpenduduk muslim di Asia dijajah oleh barat. Meski setelah negara -negara berpenduduk Islam sudah mulai merdeka, penjajahan  barat dalam waktu lama menyebabkan kebudayaan dan pemikiran mereka mulai mempengaruhi umat Islam, banyak anak-anak muda umat Islam menimba ilmu dari mereka. Namun di sisi lain banyak kalangan masyarakat muslim yang masih memperjuangkan kebudayaan mereka dan sangat menolak dengan hal-hal berbau barat. Tidak terima umat Islam dianggap kalah dan tidak ‘sudi’ mengakui superioritas barat, mereka menggunakan segala cara termasuk kekerasan dalam perjuangannya. Mereka menganggap bahwa realitas dunia saat ini adalah realitas konflik. Mulai dari memperjuangkan pendirian khilafah baru, jihad sporadis, dan aksi-aksi radikal lain. Hingga pada puncaknya mereka mengkafirkan saudara seimannya yang tidak sependapat.

Sebagai penutup, perlu kita sadari bahwa kebersamaan dan berpedaan adalah realitas yang tidak dapat dipungkiri. Mungkin bagi kita, mereka berada di pihak yang salah atau bahkan sesat. Namun, keyakinan kebenaran kita, jangan sampai memicu tindak kekerasan. Cukup sudah sejarah kelam kita jadikan pelajaran. Membangun bangsa dengan persatuan yang kuat, kita jadikan cita-cita bersama. Allah Swt berfirman:

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ 

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. QS. Ali Imron: 105

 وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ 

“Sekiranya Allah Swt menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”. QS. Al-Maidah: 48

Sekian. Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis : Muhamammad Hamim HR.