Tag Archives: Tasawuf

Tentang Thoriqoh dan Tasawuf

Thoriqoh adalah suatu jalan atau wadah dimana setiap orang yang mengikuti jalan tersebut diharuskan mengamalkan segala kewajiban, kesunahan, meminimalisir perkara mubah serta menjauhi perkara haram. Sedang legalitas Thoriqoh banyak  disebutkan dalam al-Qur’an, hadits dan qoul ulama’, yang diantaranya adalah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ


“ Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

Menurut Imam Ash-Showi, di dalam ayat tersebut terdapat isyarat syari’at, dengan firmannya “Mua’izhah min rabbikum”. Karena dengannya tersucikan hal-hal lahir. Allah Swt. memberikan isyarat tarekat dengan firmannya: “Wa syifa’un fish shudur”, karena dengannya perkara-perkara bathin tersucikan dari ketidaklayakan. Dan juga memberikan isyarat hakikat dengan firmannya “ Wa huda wa rahmah lil mu’minin”, karena dengan hakikat diperoleh kejelasan cahaya yang bersinar di hati, yang dengannya seseorang melihat sesuatu pada hakikatnya.

ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهّل الله له به طريقا إلى الجنة (رواه مسلم

Artinya: Dan barang siapa yang suluk (menempuh) jalan yang didalamnya ia mencari lmu, maka Allah Swt. mudahkan baginya jalan menuju surga (HR. Muslim)

قال الإمام الجنيد رحمه الله تعالى : مذهبنا مقيد بأصول الكتاب والسنة (الموسوعة اليو سفية لبيان أدلة الصوفية_يوسف خطار147

Artinya: Imam Al- Junaid Rahimallah ta’ala berkata: Madzhab kita (Thoriqoh dan tasawuf) berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah.

قال الشيخ سهل بن عبدالله التستري رحمه الله تعالى: أصولنا سبعة أشياء التمسك بكتاب الله تعالى والاقتداء بسنة رسوله صلّى الله عليه واله وسلم وأكل الحلال وكف الأذى واجتناب الآثام والتوبة وأداء الحقوق (طبقات الصوفية للسلمى210

Artinya: Syaikh Sahl Bin ‘Abdillah At-Tusturi rahimahulah ta’ala berkata: “Dasar kita (tasawuf) ada tujuh perkara, berpegang pada Rasullulah Saw. memakan barang halal, tidak menyakiti, menjauhi dosa, bertaubat dan melaksanakan segala hak”.()

________________

Tafsir Ash-Showi vol 2, Hal 241

Kamis Legi bersama Kang Said

LirboyoNet, Kediri—Suasana Kamis Legi kali ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya.Tempat parkir lebih penuh. Kamar-kamar lebih riuh. Pasalnya, para alumni yang ingin hadir dalam pengajian rutin kitab Al-Hikam lebih banyak dari biasanya. Ada beberapa dari mereka sebelumnya jarang ikut.Kebanyakan karena jarak yang jauh. Tapi Kamis pagi itu, mereka seperti telah menyiapkan diri jauh-jauh hari. Bisa karena rasa rindu yang memuncak. Atau sambang kepada sanak saudara yang baru mesantren di sini. Atau barangkali, ada satu peristiwa, yang jarang terjadi, yang tak ingin mereka lewatkan.

Beberapa hari lalu, telah tersiar kabar bahwa Kamis Legi edisi ini, (26/01) akan dihadiri Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA, ketua umum Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). “Mungkin ini yang membuat ramai Kamis Legi sekarang,” kira salah satu pengurus pondok. Hal ini kemudian diamini oleh beberapa alumni yang sengaja hadir demi bertemu dengan sosok yang juga salah satu alumni itu. Serambi masjid pun penuh sesak. Masjid Lawang Songo, yang biasanya ditutup, dibuka dan segera diisi oleh para alumni yang ingin mengaji dari dekat.

Setelah kitab Al-Hikam dibacakan oleh KH. M. Anwar Manshur, Kang Said, sapaan akrab beliau, diberi waktu untuk memberikan petuah. “Kita patut bersyukur, kitab Al-Hikam ini masih dibaca oleh para ulama. Ini berarti pondasi Islam kita masih kuat.” Kuat, karena kajian tasawuf, yang menjadi ruh dari kitab yang ditulis oleh Syaikh Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Atha’illah as-Sakandari ini, adalah kajian yang sangat penting dalam beragama.

“Tasawuf itu tsaurah ruhaniyah. Revolusi spiritual,” ungkap beliau. Dan dalam sebuah revolusi, tidak pernah ada kata kompromi. Jika ingin mendalami tasawuf, menjadi sufi, maka harus ada perubahan total dalam sikap spiritual seseorang.

“Tasawuf bukanlah tentang banyaknya ibadah. Rajin, disiplin dan salat fi awali waqtiha. Mereka yang salat dhuha, tahajud, belum tentu sufi.” Dimensi tasawuf dan syariat berbeda. Hakikat, ilmu yang dipelajari dalam tasawuf, bagaikan pondasi dalam agama. “Syariat adalah genteng, dan temboknya akhlakul karimah,” lanjut beliau. Tasawuf juga bukan akhlakul karimah. Hormat guru, tetangga, ifsya’us salam (menebar salam), birrul walidain (bakti orangtua) adalah hal yang penting. Sangat penting. Namun dalam tasawuf bukanlah hal-hal itu yang dibicarakan. “Yang dinilai (dalam tasawuf) bukan berapa rakaat salatnya, berapa bulan puasanya, berapa kali hajinya, tapi keadaan batinnya. Yang diikhtiarkan oleh seorang sufi adalah mendapatkan kedudukan di depan Allah.” Kedudukan itu adalah seberapa dekat dengan Allah. Lurus atau bengkok, berhadap-hadapan atau bertolak belakang. Dengan tasawuf, hati berusaha diarahkan lurus dan dekat menghadap Allah swt.

Dalam kesempatan itu, beliau juga memberikan pencerahan atas beberapa perkara urgen dalam kajian tasawuf, seperti moral (dlamir). Ia adalah satu dari lima tingkatan hati. “Apa dlamir itu? Moral. Apa fungsinya? Akan mengeluarkan salah satu dari dua kata, if’al atau la taf’al. Do it, atau don’t do that. Kerjakan, atau jangan. Setelah seseorang (dengan bashirah/mata hati) tahu ini baik, maka moral mengatakan ‘lakukan’. Jika bashirah tahu ini jahat, ini salah, korupsi salah, melanggar hukum salah, maka dlamir mengatakan ‘la taf’al’.”

Tingkatan moral, sebut Kang Said, ada tiga level. Pertama, dlamir ijtima’i, atau moral lingkungan. Seseorang akan berprilaku baik hanya karena pengaruh orang-orang sekitarnya. Ketika tidak ada, ia akan diam-diam meninggalkan prilaku itu. Kedua, dlamir qanuniy. Moral pada level ini dipengaruhi oleh seberapa besar timbal-balik yang didapatnya. Mau kerja jika ada diberi gaji. Akan kerja dengan sangat baik jika memang telah ada kontrak yang mengikatnya. Kalau ada rumah kebakaran, misalnya, seseorang pada tingkat moral ini akan bersikap, ‘saya bukan pemadam kebakaran, ngapain saya ikut memadamkan. Kalau saya petugas pemadam, akan saya tangani dengan baik.’

Moral pada tingkatan tertinggi tentu dapat dilihat sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Suatu ketika, Abu Thalib menghampiri beliau dan memberi tawaran Nabi saw. untuk berhenti berdakwah. ‘Supaya kamu selamat, tenang.’ Nabi saw. dengan teguh menjawab, ‘Demi Allah, kalaupun matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, aku tak akan meninggalkannya, hatta ahlik, sekalipun aku binasa.’ Moral diniy, moral yang ditakar dengan agama ini, kapanpun, tanpa imbalan, tanpa gaji, tak peduli pengaruh sekitar, ia akan tetap menjalankan yang baik dan meninggalkan yang tidak baik. “(kalau kita) Ada amplop alhamdulillah, kalau ga ada innalillah,” canda beliau diiringi tawa hadirin.

Pengajian Al-Hikam kali itu diakhiri dengan mushafahah, bersalaman antara masyayikh, dan para alumni, termasuk Kang Said. Meski berakhir lebih siang, para alumni tetap meneruskan tradisi yang telah lama mereka lakukan, yakni sowan masyayikh. Mereka dengan sabar mengantri di depan ndalem KH. M. Anwar Manshur untuk sekedar berjumpa dan mendengarkan nasehat singkat dari beliau. Sementara Kang Said, yang pada malam harinya mampir di warung pasar Bandar untuk menikmati penganan malam, pulang bersama rombongan setelah sowan.][

Pembukaan Bahtsul Masail Akhir Tahun

LirboyoNet, Kediri – Para sahabat adalah golongan yang hidup pada sebaik-baik kurun. Mereka mendapat ilmu langsung dari Rasulullah SAW. Meski begitu, mereka tetap bermusyawarah ketika akan memutuskan suatu hal.

Maka tak heran, jika musyawarah menjadi bagian penting dalam perjalanan Islam dari generasi ke generasi. Apalagi generasi pesantren. Bagi mereka, terutama Ponpes Lirboyo, musyawarah sudah menjadi motor dalam gerak-gerik sehari-hari.

Hal ini disampaikan oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus dalam pembukaan Bahtsul Masail Penutupan di Serambi Kuning Masjid Lawang Songo, Rabu (06/04). Jika permasalahan diputuskan tanpa melalui musyawarah, keputusan akan cenderung subyektif dan kurang relevan. “Dengan bermusyawarah, akan teradopsi keputusan-keputusan yang lebih mashlahah (bijak),” ujar beliau.

Menurut KH. Ma’ruf Amin (Rois Am PBNU) banyak dari nahdliyin, –sebutan bagi para pengikut Nahdlatul Ulama- yang berkemampuan tinggi dalam bermusyawarah dan bahtsul masail. Mereka sering menghasilkan keputusan-keputusan sulit. Yang masih disayangkan adalah, kecerdasan ini tidak diimbangi dengan kemampuan mereka berorganisasi. Walhasil, sangat sedikit diantara mereka yang dapat masuk dalam kepengurusan PBNU. Harapan Yai Kafa -panggilan akrab KH. Abdullah Kafabihi Mahrus-, dalam masa-masa selanjutnya para mubahitsin juga wajib pandai berorganisasi.

Yang perlu dicatat adalah, kepandaian hanya akan menjadi fitnah jika tidak diiringi dengan tashawwuf. Satu ulama mengatakan, “man tafaqqah bila tashawwufin, takabbara”. Mereka yang bekerja keras dalam mencari ilmu agama, akan cenderung sombong jika mereka menafikan tasawuf dari kehidupannya.

Ketika sudah seperti itu, kehancuran hanya menunggu waktu. “Sebab al kibr minal muhlikaat, kesombongan adalah salah satu hal yang merusak,” lanjut beliau. Padahal, kepandaian dan kecerdasan adalah alat untuk mensyukuri nikmat. Sementara kesombongan hanya akan mewujudkan penghinaan dan pelecehan kepada orang lain. Dan musyawarah sangat jauh dari hal-hal rendah seperti itu.

Dalam sambutan sebelumnya, KH. Athoi’llah S. Anwar menyebut bahwa musyawarah adalah ajang bagi para santri untuk mendapatkan manfaat dan barokah dari ilmu-ilmu yang mereka pelajari. Di samping itu, bahtsu kali ini adalah kesempatan bagi para mubahitsin untuk bertemu dengan senior-senior mereka yang sudah berumah dan bermasyarakat. “Ini adalah jalan pembuka bagi keinginan pengurus LBM selanjutnya. Karena pada tahun depan, insyaallah akan ada sinergi antara LBM P2L dengan LBM Himasal.”

Bentuk kerjasamanya masih dipertimbangkan. Namun tentu hal ini dinilai positif. Selain menghubungkan antara santri dengan alumni, juga demi memperluas lahan dakwah dan cakupan hukum yang lebih beragam.][

Pemenjaraan Nafsu

Oleh: Radhi Radliyuddin

Perilaku kehidupan dari segala macam bentuk anarkisme, seks, kriminal, dan lain sebagainya adalah wujud konkret yang serta merta bisa menghancurkan nilai-nilai etis manusia. Keadaan yang kian bergerak ke arah “Penghancuran diri sendiri” semakin jelas. Tindakan-tindakan manusia menjadi sebuah menu wajib informasi setiap hari. Di lain hal, perilaku alam yang semakin lincah terus memporakporandakan tempat kehidupan manusia, bencana merajalela tanpa mengenal siapa dan kepada siapa.

Kejadian semacam itu, memang tidak bisa dipungkiri lagi oleh siapa pun. Namun bagaimanapun fakta normatif selalu ada. Bahwa manusia adalah makhluk Allah Swt. yang butuh pembuktian. Siklus waktu telah mengundang dan mengajak kita pada perwujudan bagaimana wahana spiritual paling berharga bagi setiap muslim dapat melakukan pembongkaran atas penjara-penjara nafsu yang mengungkung dirinya menuju manusia yang tercerahkan dalam kesejatian diri untuk mengalahkan dominasi nafsu keduniaan yang secara representatif (gambaran) dilambangkan dalam aktivitas sehari-hari, semisal makan, minum, melihat, ucapan, dan pemenuhan nafsu biologis, adalah merupakan suatu proses jihad yang akbar.

Perjuangan besar muslim untuk bertempur melawan nafsu yang bercokol dalam dirinya akan terus tercampuri oleh sikap normatif (umum) yang dapat digambarkan pada seekor kuda. Jangan terlalu dikekang, jangan pula dilepaskan. Nafsu hanya perlu dikendalikan dengan dorongan keimanan yang kuat. Dengan begitu akan lebih leluasa untuk melatih kembali ‘kuda’ nafsu kita, sehingga bergerak harmonis sesuai dengan qudrah- iradah Allah SWT.

Kini, ketika dunia keislaman tercabik-cabik oleh mega proyek rehumanisasi (ketidak harmonisan) global, terlebih lagi dalam beberapa kasus yang belum lama ini terjadi, seluruh umat Islam telah menjadi korbannya. Langsung atau tidak langsung telah terjadi skenario atau rekayasa global penjerumusan umat muslim dari moral keimanan.

Menyikapi kedaan demikian itu, selayaknya umat Islam dapat menjadikan insitusi kepekaannya, sebagai upaya melakukan rehumanisasi kehidupan dari hiruk pikuk modernitas. Yakni, bagaimana mengembahkan jati diri manusia modern menuju watak dasar dirinya (fitrah) sebagai insan kamil, insan yang mengenali kesejahteraan dirinya tanpa terpancing dari penyudutan rumor yang ada. Mengenali Tuhan yangmenciptakannya, memahami semesta alam tempat dirinya bergumul dalam tata kehidupannya merupakan pemecahan jalan terbaik.

Entrypoint melakukan rehumanisasi inilah bisa dimulai dari diri seorang muslim, baik secara individual ataupun kolektif. Sehingga terjadi proses transformasi (kemurnian), dalam berbagai dimensi kehidupan, sebagai upaya untuk melakukan harmoni kemanusiaan. Maka dengan sendirinya pemenuhan nafsu dapat terkendali.

Tidakm munutup kemungkinan pemaknaan dan pengekangan nafsu dalam proses rehumanisasi ini akan terwujud ketakwaan yang harmoni terhadap manusia. Dengan begitu, bisa dijadikan wahana bagi usaha membangun solidaritas kemanusiaan yang harmoni dan damai tanpa ada sekat-sekat yang dapat meruntuhkan persaudaraan serta hubungan seorang insan dihadapan Tuhannya.

Manusia adalah makhluk Allah SWT. yang paling mulia, juga sarat kontradiksi dalam dirinya, ketimbang makhluk Allah yang lain. Sebab, dalam diri seorang manusia terdapat dua ‘kutub’ yang saling berlawanan, yakni ‘kutub’ suci dan ‘kutub’ kehinaan. Alquran menunjuk dua ‘kutub’ itu dalam potensi ‘futur’ yang cenderung pada kejahatan, atau potensi takwa yang cenderung pada kebaikan dan kesucian (QS. As Syams: 7-8)

‘Kutub’ kesucian secara historis dilambangkan oleh kehadiran Habil, putra Adam yang kemudian menjadi korban ‘kutub’ kehinaan yang dilambangkan oleh saudaranya, Qabil dan generasi Qabil lainnya. Sedangkan pada ‘kutub’ kehinaan, manusia secara destruktif memiliki naluri untuk menumpahkan darah, permusuhan, dan anarkisme.

Nafsu merebut, memburu, merampas, serta membunuh. Belakangan ternyata bukan sekedar usaha bertahan dan menjadi pemenang dalam persaingan hidup dari semua kepuasan dirinya, sehingga manusia tidak akan pernah berhenti saling berebut sampai ajal memisahkan dirinya. (QS. At-Takasur i 1-2)

Karena itu, manusia berada di antara empat penjara yang mengungkung dirinya, yakni alam, sejarah, masyarakat, dan egonya. Dan perjuangan melawan ego inilah yang paling berat dalam perjuangan seorang anak manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dari kungkungan alam, sejarah, dan masyarakat. Namun, acap kali gagal dalam menaklukan dirinya sendiri. Akibatnya, timbul malapetaka kemanusiaan, di mana manusia modern sebagai generasi selanjutnya kini berada dalam situasi penindasan, pemusnahan, dan menjadi korban tangannya sendiri. Sebaliknya, kemampuan untuk memerangi egonya, yang berarti mampu meredam potensi kesucian yang terpendam dalam dirinya, dia adalah manusia dalam wujud sebagai insan.

Sedangkan secara ekstrinsik (keunsuran), harmoni manusia dapat diaktualisasikan oleh muslim yang mampu mengendalikan hawa nafsu dalam wujud keshalihan sosial dari hubungan kemasyarakatan di berbagai aspek kehidupan. Sikap toleran, welas-asih, empati, senasib sepenanggungan, pemaaf, suka damai, dan adil, merupakan wujud dari makna fungsional pengekangan nafsu dalam kehidupan bermuamalah (sosialisasi).

Maka hubungan sosial yang kebablasan itu, telah masuk dalam koridor pengadatan sikap dalam diri seorang manusia dan tidak menutup kemungkinan kebejatan moral akan terpampang, sehingga tidak akan ada pengendali yang bisa mengerem laju keinginan diantar manusia.

Jika pemenjaran nafsu ini menjadi sebuah suplemen hidup seorang manusia, maka dalam diri seorang insan benar-benar telah terpancar media vertikal antara sang abid & Sang Khaliq, Allah SWT. melalui pembuktian perubahan hidup.[