Tag Archives: Kitab Kuning

Fikih Siwak

Siwak (السواك) atau miswak secara etimologi adalah menggosok atau bisa bermakna alat yang digunakan untuk bersiwak. Adapun Siwak menurut istilah fikih adalah menggunakan alat-alat siwak pada bagian gigi atau di sekitarnya dengat niat tertentu.

Siwak ini termasuk dari sebagian syariat umat sebelum Nabi Muhammad SAW, yaitu syariat Nabi Ibrahim AS seperti yang telah Beliau tegaskan dalam sebuah hadits :

نِعْمَ السِّوَاكِ الزَّيْتُوْنُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ يُطَيِّبُ الْفَمَ وَيُذْهِبُ بِالْحَفْرِهُوَ سِوَاكِيْ وَسِوَاكِ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِيْ… رواه الطبرانيِ

“Sebaik-baiknya alat siwak yaitu kayu Zaitun, berasal dari pohon yang diberkahi, dapat menyegarkan aroma mulut, dan menghilangkan warna kuning pada gigi, ini adalah siwakku dan siwak para nabi sebelumku” (HR. ath-Thobroni).

Yang beliau maksud dalam hadits tersebut adalah zaman Nabi Ibrahim AS. Karena menurut catatan sejarah, Nabi Ibrahim AS lah yang pertama kali menggunakan siwak. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa syariat Siwak ini hanya tertentu pada umat Nabi Muhammad SAW. Pendapat tersebut bertendensi bahwa pada masa Nabi Ibrahim AS siwak ini hanya dilakukan oleh beliau, bukan umatnya.[1]

Dalil

Ada beberapa redaksi hadits yang menjadi dasar hukum disyari’atkannya bersiwak, salah satunya adalah:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ .رواه مسلم

“Seandainya aku tidak khawatir memberatkan kaum mukminin, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak melakukan salat.” (HR. Muslim).

Hukum Bersiwak

  1. Wajib, jika menjadi alternatif terakhir untuk menghilangkan najis, menjadi alternatif terakhir untuk menghilangkan bau mulut tak sedap bagi seseorang yang hendak menghadiri jamaah Salat Jum’at, dan dinadzari.
  2. Sunnah, ini adalah hukum asal dalam bersiwak dalam setiap kondisi.
  3. Makruh, bagi orang yang berpuasa setelah tergelincirnya matahari. Namun menurut Imam al-Nawawi hukumnya tetap sunnah (tidak makruh).

Bagi yang berpuasa, para ulama membedakan hukum bersiwak sebelum dan setelah tergelincirnya matahari. Dikarenakan bau mulut pada saat setelah tergelincirnya matahari, disebabkan oleh kosongnya lambung dari makanan. Dan bau mulut tersebut adalah sisa-sisa ibadah yang tidak patut untuk dihilangkan, sebagaimana darah orang-orang yang mati syahid dalam peperangan[2].

Meskipun terdapat sebuah hadits yang menjelaskan bahwa bersiwak bagi orang yang berpuasa setelah tergelincirnya matahari hukumnya makruh dan hadits lain dengan tegas menyatakan bahwa disunnahkan bersiwak setiap hendak melaksanakan sholat, tidak terkecuali Salat Dhuhur dan Ashar. Maka yang lebih didahulukan adalah hukum makruh bersiwak. Karena mencegah kerusakan dalam hal ini adalah menghilangkan bau mulut itu lebih diutamakan daripada menarik pahala sebagimana dalam konsep kaidah fikih.[3]

  1. Khilaf al-aula, yakni bersiwak menggunakan siwak milik orang lain dengan seizin pemiliknya atas tujuan selain tabarruk (mencari keberkahan). Jika bertujuan tabarruk, maka hukumnya tetap sunnah.
  2. Haram, yakni bersiwak menggunakan siwak orang lain dengan tanpa seizin dari pemiliknya atau tanpa diketahui kerelaannya[4].

Struktur Bersiwak

  1. Mustak, yaitu orang yang bersiwak.
  2. Mustak bih, yaitu alat untuk bersiwak.

Bahwa alat yang dapat digunakan bersiwak ialah setiap benda kasar yang suci dan dapat menghilangkan kerak kuning pada gigi, meskipun sehelai kain, atau jari tangan orang lain yang kasar dan tidak terpotong. Bukan jari milik diri sendiri meskipun kasar, karena anggota badan diri sendiri tidak dianggap sebagai alat bersiwak. Bukan pula jari orang lain yang telah terpotong, karena anggota tubuh yang telah terpotong harus dikuburkan[5]. Dengan memandang syarat-syarat tersebut, hukum bersiwak dengan menggunakan obat kumur dianggap tidak mencukupi.[6]

Adapun alat siwak yang paling utama adalah kayu Arok, karena jenis kayu ini memiliki rasa dan bau yang sedap serta serabut-serabut kecil yang mampu membersihkan cela-cela gigi [7], kemudian dahan pohon kurma, pohon zaitun, pohon yang berbau wangi, dan urutan terakhir ialah semua jenis pohon kayu dan benda lain yang memiliki tekstur yang kasar.

Panjang siwak yang disunnahkan adalah sejengkal dan yang paling pendek berukuran tidak kurang dari 4 jari selain ibu jari (ada pendapat yang mengatakan 12 cm). Dan besar siwak yang ideal adalah tidak lebih besar dari ibu jari dan tidak lebih kecil dari jari kelingking, tidak terlalu lembut dan juga tidak terlalu keras.

  1. Mustak fih, yaitu bagian tubuh yang disiwaki, yakni bagian mulut. Mencakup gigi, langit-langit mulut, dan lidah.
  2. Niat sunnah.

Dalam permasalahan siwak ini, imam ar-Ramli mengharuskan niat dalam bersiwak kecuali jika pelaksanaan siwak tersebut berada dalam tengah-tengah rangkaian ibadah yang lain. Namun menurut imam Barmawi, niat itu hanya sebatas penyempurna ibadah. Sehingga bersiwak tanpa disertai niatpun dianggap sudah menggugurkan kesunnahan siwak.[8]

Tata Cara Bersiwak

Dalam prakteknya, tata cara menggunakan siwak masih terjadi khilaf diantara para ulama. Adapun pendapat yang diklaim sebagai pendapat yang shahih yaitu dengan menjalankan kayu siwak pada gigi secara horizontal (menyamping). Menurut pendapat ini, dimakruhkan bersiwak secara vertikal (keatas-kebawah) karena akan berpotensi mengakibatkan gigi berdarah. Adapun untuk anggota lidah, cara bersiwaknya dengan cara vertikal. Imam al-Haromain dan al-Ghozali mengatakan bahwa cara bersiwak yang utama adalah dengan menjalankan kayu siwak pada gigi, baik secara horizontal maupun vertikal. Namun, para ash-habus syafi’iyyah menentang pendapat tersebut dan berkomentar bahwa pendapat kedua ulama ini telah keluar dari konteks dalil dalam siwak itu sendiri.[9]

Adapun cara bersiwak secara detail sebagai berikut:

  1. Berdoa sebelum bersiwak. Salah satu do’a yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah:
اَللَّهُمَّ طَهِّرْ بِالسِّوَاكِ اَسْنَانِيْ وَقَوِّيْ بِهِ لَثَاتِيْ وَأَفْصِحْ بِهِ لِسَانِيْ

 “Wahai Allah sucikanlah gigi dan mulutku dengan siwak, dan kuatkanlah gusi-gusiku, dan fashihkanlah lidahku”.

Bisa juga dengan doa berikut:[10]

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ بِهِ أَسْنَانِيْ وَشَدِّدْ بِهِ لَثَاتِيْ وَثَبِّتْ بِهِ لِهَاتِيْ وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
  1. Memegang siwak dengan tangan kanan atau tangan kiri (ada perbedaan pendapat ulama tentang hal ini) dan meletakkan jari kelingking dan ibu jari di bawah siwak, sedangkan jari manis, jari tengah, dan jari telunjuk diletakkan di atas siwak.
  2. Niat bersiwak.
  3. Bersiwak dimulai dari jajaran gigi atas-tengah, lalu atas-kanan, lalu bawah-kanan, lalu bawah-tengah, lalu atas-tengah, lalu atas-kiri, lalu bawah-kiri. Jadi seperti angka 8 yang ditulis rebah. Baik gigi bagian dalam maupun gigi bagian luar.
  4. Langkah ke-4 di atas dilakukan 3x putaran.[11]

Catatan : menurut syaikh Wahbah Zuhaily dalam kitabnya al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, gosok gigi menggunakan sikat dan pasta gigi hukumnya disamakan dengan bersiwak.[12]

Waktu Disunnahkannya Bersiwak

Sebenarnya melakukan siwak ini disunnahkan pada setiap keadaan, namun ada tiga tempat dimana hukum bersiwak ini lebih dianjurkan (muakkad), yaitu:

  1. Saat berubahnya warna ataupun bau dalam mulut dikarenakan diam dalam waktu yang lama atau perkara lain seperti memakan makanan yang memiliki bau tak sedap.

Hukum ini tetap berlaku meskipun pada seseorang yang tidak memiliki gigi sekalipun.

  1. Ketika bangun dari tidur, meskipun tidak ada perubahan apapun pada mulut. Karena keadaan tersebut telah madzinnah (berpotensi) akan berubahnya keadaan mulut. Hukum ini bertendensi pada perbuatan Nabi yang selalu bersiwak setiap bangun dari tidur.
  2. Ketika hendak mendirikan salat, baik salat fardhu ataupun sunnah. Meskipun salatnya dilakukan secara berulang-ulang. Disamakan dengan hukum salat yaitu thowaf, sujud tilawah, sujud syukur, khutbah Jum’at, membaca Alqur’an dan rangkaian ibadah yang lain.[13]

Hukum bersiwak di tiga tempat tersebut adalah sunnah muakkad. Adapun kesunnahan siwak juga berlaku ketika seseorang hendak tidur, hendak wudlu, membaca kitab hadits, dzikir, belajar ilmu agama, memasuki ka’bah, berkumpul dengan orang lain, ngantuk, lapar, sakaratul maut, saat waktu sahur tiba, akan makan, setelah Salat Witir, hendak bepergian, pulang dari perjalanan, dan ibadah-ibadah yang lain. Apabila seseorang tidak mampu atau merasa keberatan untuk bersiwak di waktu-waktu yang disunnahkan, maka hendaklah ia bersiwak satu kali dalam waktu sehari semalam.[14]

Keutamaan Bersiwak

Banyak sekali keutamaan dan faedah yang tersembunyi dibalik kesunnahan hukum bersiwak. Salah satu referensi menyebutkan, keutamaan-keutamaan bersiwak adalah : 1) Mendapatkan ridha Allah SWT; 2) Menambah kecerdasan akal; 3) Menguatkan Hafalan; 4) Menerangkan mata; 5) Menyehatkan pencernaan makan dan munguatkannya;  6) Menjauhkan musuh; 7) Melipat gandakan pahala; 8) Memperlambat penuaan dini; 9) Mengharumkan bau mulut; 10) Menghilangkan lendir dan warna kekuningan pada gigi; 11) Menguatkan gusi; 12) Melonggarkan tenggorokan; 13) Menambah kefashihan membaca; 14) Memutihkan gigi; 15) Mewariskan kekayaan dan kemudahan; 16) Membersihkan hati. Dan paling utama yaitu, mengingatkan bacaan syahadat disaat sakaratul maut.[15] [] waAllahu A’lam bi ash-shawab.

 _________________________

[1]Hasyiyah Al-Bajuri, juz 1 hal. 42, al-haromain.

[2]Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 1 hal 341,Dar al-Fikr.

[3]Hasyiyah Al-Jamal, juz 1 hal 119-120, Dar al-Fikr.

[4]Al-Taqrirot Al-Sadidah, hal.75-76, Dar al-‘Ulum al-Islamiyyah.

[5]Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 1 hal 348, Dar al-Fikr.

[6]Nihayah Al-Muhtaj, juz 1 hal 179, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah

[7]ibid, hal 95

[8]Hasyiyah Al-Jamal, juz 1 hal 117, Dar al-Fikr.

[9]Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 1 hal 347, Dar al-Fikr.

[10]Al-Bujairomi ‘Ala Al-Khotib, juz 1 hal 123, Dar al-Fikr.

[11]Hasyiyah Al-Bajuri, juz 1 hal. 45, al-haromain.

[12]Al-Fiqhu al-Islamy Wa Adillatuhu. Juz 1 hal 454. Dar al-Fikr.

[13]Hasyiyah Al-Bajuri, juz 1 hal. 45, al-haromain.

[14] Ibid, hal 44.

[15]Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 31, Dar al-Fikr.

Lirboyo Mengirim Delegasi di MQK Kota Kediri

LirboyoNet, Kediri- Pemahaman atas warisan literatur salaf (kitab kuning) merupakan sesuatu yang sangat urgen dalam pelestarian khazanah keilmuan Islam. Hal tersebut sangat disadari oleh Kementrian Agama Kota Kediri dengan menggelar seleksi Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) sebagai wujud nyata dalam menumbuhkan gairah keilmuan santri dalam bidang kecakapan dalam memahami kitab kuning.

Ajang perhelatan Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK) untuk tingkat Kota Kediri resmi digelar pada rabu kemarin (05/04) bertempat di Pondok Pesantren Salafiyyah, kelurahan Bandar Kidul, Kota Kediri.

Kegiatan  tersebut diikuti sebanyak 233 peserta yang berasal dari santri berbagai pesantren yang tersebar di Kota kediri. Dari angka tersebut, mereka digolongkan ke dalam 3 tingkatan (Marhalah) yakni Marhalah Ula, Marhalah Wustho, dan Marhalah ‘Ulya. Adapun materi yang dilombakan disesuaikan dengan masing-masing tingkatan yang mencakup fan Tafsir, Hadits, Balaghoh, Nahwu, Fiqih, Ushul Fiqih, Tarikh, Akhlaq, dan lain-lain.

Menurut Abdul Aziz, kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementrian Agama Kota Kediri, diharapkan dengan adanya acara yang menjadi agenda dalam menyongsong Musabaqah Qiroatil Kutub Nasional (MQKN) yang akan digelar di Rembang, Jawa Tengah beberapa waktu mendatang tersebut menjadi pemacu kesemangatan santri dalam meningkatan pemahaman keagamaan terutama dalam bidang penguasaan kitab kuning, “Musabaqah Qiroatil Kutub (MQK) yang diselenggarakan Kemenag kota Kediri ini diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan gairah keilmuan, agar generasi muda lebih semangat lagi dalam mengaji” tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Pondok Pesantren Lirboyo mengirimkan sekitar 190 delegasi yang berasal dari utusan Pondok Induk dan seluruh Pondok Unit, baik putra maupun putri di bawah naungan Ponpes Lirboyo. Semuanya akan mengisi seluruh lini perlombaan yang diadakan.

Dan apapun hasilnya nanti, dengan didasari dengan niat yang tulus dan ikhlas maka akan menghasilkan sesuatu yang lebih dari sekedar juara.][

 

 

 

 

 

 

Epistemologi Ushul Fiqih (Bag-3 Habis)

Baca dulu Bagian II

Dasar Pengambilan Ushul Fiqih

Istimdad (dasar pengambilan) ushul fiqih diambil dari beberapa produk keilmuan, diantaranya:

  1. Ilmu bahasa arab (gramatika Arab).

Hal ini dikarenakan sumber hukum yang terbesar adalah Alquran dan Hadis yang semuanya menggunkan bahasa sastra Arab. Dan keduanya sudah jelas tidak akan dipahami maknanya kecuali dengan penguasaan yang memadai dalam didang kelimuan ini.

  1. Ilmu Mustholah Hadits.

Yaitu dengan memahami berbagai karakteristik sebuah Hadis dari berbagi sudut pandang. Hal ini juga akan membantu ketika terjadi kontradiksi  antara beberapa dalil suatu hukum syariat.

  1. Ilmu kalam (logika).

Dalam memahami permasalahan dibutuhkan sebuah penalaran yang memadai dalam menghasilkan kesimpulan objek secar logis. Dengan begitu, peran ilmu kalam sangat urgen dalam konteks seperti ini.

  1. Beberapa hukum syariat.

Yaitu dari sisi mengetahui macam-macam hukum syariat. Karena yang dimaksud disini adalah memberikan keputusan ada dan tidaknya hukum tersebut. Selain itu, perangkat ilmu pendukung tak kalah pentingnya dalam proses pengkajian ilmu ushul fiqih, seperti asbabun nuzul, ulum at-tafsir dan lain-lain.

Perbedaan Ushul Fikih dan Qowaidul Fiqih

Tidak jarang anggapan bahwa ilmu ushul fiqih dan qowaidul fiqih adalah sinonim, mempunyai arti dan maksud yang sama. Padahal dua ilmu tersebut sangat berbeda dalam operasionalnya, walaupun ada persamaan dalam segi pedoman yang global (kully) yang dibawahnya mencakup beberapa bagian (juz’iy) persoalan yang dihukumi. Karena dalam ilmu qowaid al-fiqih hanya mengumpulkan masalah-masalah fiqih yang serupa pada kaidah global (qowaid kulliyyah) yang memuat beberapa permasalahan hukum syariat yang saling memiliki kemiripan.

Tujuan Ilmu Ushul Fiqih

Menurut Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya, Ushul al-Fiqhi al-Islami, beberapa tujuan dan manfaat mempelajari ilmu ushul fiqih adalah sebagai berikut:

  1. Dengan kaidah-kaidah ushul fiqih, seseorang dapat mengetahui dalil-dalil dan metode yang digunakan oleh para mujtahid dalam merumuskan berbagai produk hukum syariat.

Bagaimana para mujtahid dapat menghasilkan begitu banyak rumusan hukum dari Alquan, hadis, ijma, dan qiyas. Karena semua itu tidak akan pernah lepas dari pengetahuan terhadap bangunan dalil-dalil itu sendiri. Baik yang berbentuk ‘am, khos , mujmal, mutlaq, muqoyyad, mubayyan, dhohir, muawwal, hakikat, majaz dan lain-lain.[13]

  1. Menghasilkan kemampuan untuk menggali hukum dari dalilnya. Namun untuk hal ini hanya otoritas sesesorang yang telah mencapai derajat mujtahid. Adapun bagi para muqollid (pengikut mujtahid), ilmu ushul fiqih sebagai sarana untuk mengetahui dan memahami dalil dan metode yang digunakan oleh para mujtahid dalam menggali hukum syariat. Karena dengan mengetahui hal tersebut, seseorang akan lebih memantapkan keyakinannya pada rumusan hukum yang dicetuskan para mujtahid. Secara otomatis, keyakinan dan kemantapan tersebut akan membangkitkan semangatnya untuk mengamalkan syariat agama Islam.
  2. Membantu peran mujtahid dalam mengambil hukum dari sumber-sumbernya. Sudah maklum adanya, nash-nash Alquran dan Hadis sudah final dan tidak akan ada lagi penambahan. Sementara itu, problematika umat semakin kompleks dan beragam. Sesuai dengan maqolah:

وما يتناهى لا يحيط بأحكام غير المتناهي إلا بطريق الإجتهاد

“Sesuatu yang terbatas tidak dapat mencakup hukum-hukum perkara yang tidak ada batasnya kecuali dengan jalan ijtihad”.

  1. Ushul fiqih sebagai mediator untuk mengetahui hukum syariat beserta dalil-dalilnya. Dan mengajak seorang mukallaf untuk memahami dan mengamalkan perintah agama. Senada dengan ini, para ulama ushul fiqih berkata:

فائدة أصول الفقه معرفة أحكام الله تعالى وهي سبب الفوز بالسعادة الدينية والدنيوية

“Faedah ushul fiqih adalah mengetahui hukum-hukum Allah SWT, yang menjadi sebab keberuntungan agama (akhirat) dan keberuntungan dunia”.[14]

waAllahu a’lam bis shawab.

Penulis: Nasikhun Amin,

______________________
[1]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 25. Dar Al-Fikr.

[2]An-nafahat, hal 13, Santri Salaf press.

[3]al-Taqrir wa al-Tahbir,juz 1 hal 17.tt.

[4]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 29. Dar Al-Fikr.

[5]Ibid, hal 25.

[6]Syarh Jam’u al-Jawami’, juz 1 hal. 34. Tt.

[7]Ghoyah al-Wushul, hal 9, Mabadi’ sejahtera.

[8]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 33. Dar Al-Fikr.

[9] Materi seminar kuliah ushul Fiqih LBM P2L.

[10]Syarh Kawakib as-Sathi’, juz 1 hal 10. Tt.

[11]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 35. Dar Al-Fikr.

[12]Ghoyah al-Wushul, hal  11, Mabadi’ sejahtera.

[13]An-nafahat, hal 3. Santri salaf press.

[14]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 40. Dar Al-Fikr.

Epistemologi Ushul Fiqih (Bag-2)

Baca dulu Bagian I

Pengertian Ushul Fiqih

Para ulama ushul (ushuliyyin) memetakan definisi  ushul fiqih dengan 2 sudut pandang, yaitu dari segi etimologi dan terminologi, serta ushul fiqih sebagai cabang ilmu keislaman. [1]

  1. Ushul fiqih dari segi etimologi dan terminologi.

Penguraian makna ushul fiqih dalam hal ini merupakan konteks definitif dari segi etimologi (lughot) dan terminologi (istilah). Dan sudah diketahui bahwa kata ushul fiqih tersebut tersusun atas dua lafadz dengan menggunakan tarkib idhofy (susunan penyandaran) yang masih membutuhkan penguraian makna masing-masing lafadznya.

Pada dasarnya, “ushul al-fiqh” merupakan kalimat yang terdiri dari dua suku kata. “ushul” dan “al-fiqh”. Lafadz “ushul”adalah bentuk jamak dari mufrad (bentuk tunggal) lafadz “ashl”. Secara bahasa, “ashl” adalah sesuatu yang menjadi dasar dari sesuatu yang lain. Sebagaimana akar ialah “ashl” dari sebuah pohoh yang diatasnya terdapat batang, daun, ranting dan buah. Ushul fiqih juga demikian, ia merupakan “ashl’’  atau dasar pondasi fiqih, diatas kaidah dan teori ushul fiqih tersebutlah terbangun begitu banyak rumusan hukum fiqih.[2] Menurut sebagian pendapat, yang dimaksud lafadz “ashl” dalam pembahasan ini adalah bermakna dalil. Mengikuti pendapat ini,  ushul fiqih memiliki makna kumpulan dalil-dalil fiqih seperti Alquran, hadis, ijma, qiyas dan lain-lain.[3]

Pengertian “al-Fiqh”, secara etimologi memiliki arti al-fahm (pemahaman). Adapun fiqih secara terminologi memiliki beberapa makna, salah satunya adalah sebagai berikut:

اَلْعِلْمُ بالْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْمُكْتَسَبِ مِنْ أدِلَّتِهَا التَّفْصِيْلِيَّةِ

“Pengetahuan tentang hukum syariat yang bersifat pengamalan yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci“.[4]

Dalam redaksi tersebut, penggunaan lafadz  “al-‘ilmu” dalam definisi fiqih bukan menggunakan makna aslinya yang semestinya digunakan untuk perkara-perkara yang dipastikan kebenarannya seperti dalam ilmu teologi (tauhid). Karena dalam konteks fiqih, prasangka atau asumsi (dzon) sudah dianggap cukup.[5]

  1. Ushul fiqih sebagai cabang ilmu keislaman.

Para ulama ushul (ushuliyyin) dari golongan Syafi’iyyah masih terjadi perbedaan pendapat dalam memaknai ushul fiqih dipandang dari sudut salah satu nama cabang ilmu syariat. Secara terminologi sebagai berikut:

دَلاَئِلُ الْفِقْهِ الإِجْمَالِيَّةِ وَبِطُرُقِ اِسْتِفَادَتِهَا وَمُسْتَفِيْدِهَا

“Dalil-dalil fiqih yang bersifat global, dan metode penggunaan dalil tersebut, serta karakteristik seseorang yang menggunakan dalil tersebut”.

Adapun pendapat lain mendefinisikan ushul fiqih dengan menggunakan redaksi: “Pengetahuan mengenai dalil-dalil fiqih yang bersifat global, metode penggunaan dalil tersebut, dan karakteristik  orang yang menggunakannya”.[6]

Yang dimaksud dalil ijmaly (global) adalah kaidah umum sebuah dalil yang masih belum berkaitan dengan hukum tertentu. Karena dalam konteks ini, yang disorot hanya keadaan dalil secara umum, misalkan: ijma’ (konsensus) ulama merupakan hujjah dalam hukum Islam.[7]

Metode penggunaan dalil yang dimaksud adalah sebuah metode penyelesaian yang dilakukan oleh seorang mujtahid  yang menggali hukum apabila terjadi kontradiksi diantara dalil-dalil yang bersifat tafsily (terperinci). Seperti mendahulukan dalil yang khash (khusus) daripada dalil yang bersifat ‘am (umum).

Adapun  karakteristik seseorang yang menggunakan dalil ijmali (global) tersebut adalah seseorang yang telah mencapai kriteria sebagai seorang mujtahid. Namun menurut pendapat yang lain, yang dimaksud lafadz “mustafidiha” dalam redaksi tersebut adalah seseorang yang mencari hukum Allah SWT, sehingga dapat memasukkan mujtahid maupun muqollid (orang yang bertaqlid). Karena seorang mujtahid mengambil hukum dari dalil dan seorang muqollid mengambil hukum dari seorang mujtahid.

Menurut ulama madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah dan Hanabilah, ushul fiqih bermakna kaidah-kaidah yang mengantarkan metode penggalian hukum dari dalil yang terperinci.[8]

Metode Ushul Fiqih

Secara umum, teori pembahasan dalam ilmu ushul fiqih terbagi menjadi tiga metode:

  1. Metode Mutakallimin.

Yakni metode yang dipakai oleh golongan Asya’iroh, Maturidiyyah, dan Mu’tazilah. Jalan pikiran mereka adalah dengan melalui hujjah logika dengan mentahqiq beberapa kaidah tanpa terkait dengan imam madzhab. Mereka memperkokoh kaidah-kaidahnya dengan beberapa dalil tanpa harus melihat apakah sesuai dengan madzhabnya ataukah tidak.

  1. Metode Hanafiyyah.

Yakni dengan cara menjelaskan kaidah-kaidah ushuliyyah. Metode ini dilakukan dengan cara mengutip furu’ fiqhiyyah dari imam madzhabnya dan kemudian dicari kaidah ushuliyyahnya. Dengan demikian, rumusan hukum metode ini selalu sama persis dengan para imam madzhabnya.

  1. Metode Mutaakhirin.

Yakni sebuah metode yang menggabungkan metode mutakallimin dan metode hanafiyyah.[9]

Ruang Lingkup Kajian Ushul Fikih

Berbicara ruang lingkup dan objek kajian usul fiqih sama halnya dengan mengakaji  kembali silang pendapat para ulama dalam mendefinisikan ushul fiqih itu sendiri. Menurut ulama yang mendefinisikan ushul fiqih sebagai  “dalil-dalil fiqih yang bersifat global, dan metode penggunaan dalil tersebut, serta karakteristik seseorang yang menggunakan dalil tersebut”, pokok pembahasan ushul fiqh adalah dzatiyyah/bentuk dalil-dalil ijmali (global), teori pengambilan dalil tafshili (terperinci), dan persyaratan orang yang menggali dalil tersebut.

Menurut ulama yang mendefinisikan ushul fiqih sebagai “pengetahuan mengenai dalil-dalil fiqih yang bersifat global, metode penggunaan dalil tersebut, dan karakteristik  orang yang menggunakannya”, pokok pembahasan ushul fiqih adalah pengetahuan mengenai dalil-dalil ijmali (global),  teori pengambilan dalil tafshili (terperinci), dan persyaratan orang yang menggali dalil tersebut.[10] Apabila ditarik benang merah, perbedaan diantara dua pendapat ini hanya dalam mengartikan apakah ushul fiqih itu sebuah dzat (bentuk) atau sifat.

Namun, salah satu pendapat mengatakan, secara garis besar maudlu’ (pokok pembahasan) dalam ushul fiqih diartikan dengan redaksi berikut:

الشيئ الذي يبحث في ذلك العلم عن أحواله العارضة لذاته

“Suatu permasalahan yang dibahas di dalam ilmu tersebut yang mencakup perkara-perkara yang baru datang terhadap bentuk sesuatu tersebut”[11]. Sehingga, pokok pembahasan dalam ushul fiqih sangatlah luas, seperti: eksistensi Alquran sebagai hujjah, bentuk shighot amr (perintah) mutlak menunjukkan wajib, lafadz nahi (larangan) berkonsekuensi hukum haram, dan sebagainya.

Yang menjadi objek utama dalam pembahasan ushul fiqih ialah ادلة شرعية (dalil-dalil syar’it) yang merupakan sumber hukum dalam ajaran Islam. Selain membicarakan pengertian dan kedudukannya, juga menyinggung berbagai ketentuan dalam merumuskan hukum dengan menggunakan dalil-dalil tersebut.[12] Ilmu ushul fiqih menjadi barometer terhadap rumusan hukum fiqih, apakah hukum tersebut sudah sesuai dengan dalilnya apakah tidak. Karena ilmu ini menjadi jalan tengah  yang menjembatani sebuah dalil dengan rumusan hukum yang dihasilkan.

Bersambung ke Bagian III (Habis)

Musabaqoh Kitab Kuning

LirboyoNet, Kediri – Siang ini, sekitar 100 santri putra dan putri yang berusia antara 17-25 tahun sedang mengikuti seleksi Musabaqoh Kitab Kuning Zona Jawa Timur II, di Aula Al Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur. Kegiatan ini diselenggarakan oleh organisasi pemuda sayap Partai Kebangkitan Bangsa, Gerakan Pemuda Kebangkitan Bangsa, atau disingkat GARDA BANGSA. Acara serupa juga berlangsung di 31 pondok pesantren yang tersebar di 20 provinsi seluruh Indonesia.

Tujuan kegiatan ini antara lain untuk melestarikan tradisi intelektual pesantren, mengembangkan khazanah pengetahuan pesantren, memotivasi para santri untuk meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning, dan untuk syiar kepada publik akan pentingnya khazanah pengetahuan pesantren sebagai salah satu solusi menghadapi problematika kemasyarakatan.

Untuk menguji kemampuan peserta dalam menguraikan kitab ”Ihya Ulumuddin” karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i, di Zona Jawa Timur II ini, panitia menghadirkan nama-nama ternama dalam kancah Bahtul Masail sebagai dewan juri: Komisi A (Putra, bertempat di Aula Al-Muktamar), K.H. Yasin Asmuni (PP Petuk, Kediri), Ust. Ali Musthofa (Kediri), K.H. Abu Musa Al-Asy’ari, (PP. Darussalam,  Sumbersari, Kediri). Komisi B (Putra, bertempat di Ballroom Belakang Aula Al-Muktamar), K.H. Hafidz (PP Ringin Agung, Kediri), K.H. Abd. Hamid Abdul Qodir (PP Maunah Sari, Kediri), K.H. Romadhon Khotib (Malang). Dan Komisi C (Putri, bertempat di Gedung Serba Guna belakang Aula Al-Muktamar), Ust. Musta’in Syafi’i (PP. Tebuireng, Jombang), Ust. Munir Akromin (Kediri), Ust. Anang Darunnaja (PP. As-Sya’idiyah, Kediri).

Dari kegiatan yang terbuka untuk seluruh santri putra dan putri yang sedang menempuh pendidikan di seluruh pondok pesantren yang berhaluan ahlussunnah wal jamaah di Jawa Timur ini, akan dipilih 4 orang pemenang yang kemudian akan mengikuti Babak Final di Jakarta pada tanggal 12-13 April 2016 nanti.

Dari Babak Final tersebut, selain para pemenang mendapatkan penghargaan, nantinya satu santri putra dan satu santri putri juga berhak mengantongi Tiket Umroh & Ziarah ke makam Imam Ghazali serta bantuan biaya pendidikan puluhan juta rupiah. (tv)