Tag Archives: masjid

Hukum Memanfaatkan Halaman Sekitar Masjid untuk Penyembelihan Hewan Kurban

Saat hari raya Idul Adha, sering ditemui di masyarakat proses penyembelihan hewan kurban yang dilakukan pada lahan di sekitar halaman masjid.

Dilihat dalam kacamata syariat, lahan di sekitar masjid tersebut boleh dimanfaatkan selama sesuai dengan kebiasaan (urf’) tanpa ada yang mengingkari, misalkan untuk tempat penyembelihan hewan kurban. (Ghayah Talkhish al-Murad, hlm. 94-95)

Sayyid Abdurrahman al-Masyhur menegaskan pada persoalan lahan yang berada di sekitar masjid:

‏ﻟَﻴْﺴَﺖِ ﺍْﻟﺠَﻮَﺍﺑِﻲْ ﺍَﻟْﻤَﻌْﺮُﻭْﻓَﺔُ ﻭَﺯَﻭَﺍﻳَﺎﻫَﺎ ﻣِﻦْ ﺭَﺣْﺒَﺔِ ﺍْﻟﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻭَﻻَ ﺣَﺮِﻳْﻤُﻪُ، ﺑَﻞْ ﻫِﻲَ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻠَّﺔٌ ﻟﻤَﺎَ ﻭُﺿِﻌَﺖْ ﻟَﻪُ، ﻭَﻳَﺴْﺘَﻌْﻤِﻞُ ﻛُﻞٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻋُﻬِﺪَ ﻓِﻴْﻪِ ﺑِﻼَ ﻧَﻜِﻴْﺮٍ … ﻭَﻻَ ﺗَﺤْﺘَﺎﺝُ ﺇِﻟﻰَ ﻣَﻌْﺮِﻓَﺔِ ﻧَﺺِّ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻗِﻔِﻬَﺎ، ﺇِﺫِ ﺍْﻟﻌُﺮْﻑُ ﻛَﺎﻑٍ ﻓﻲِ ﺫَﻟِﻚَ

“Beberapa kolam dan tepiannya (yang berada di sekitar masjid) bukanlah bagian dari serambi dan pelataran masjid. Akan tetapi ia menyendiri sesuai tujuan awal. Dan setiap orang boleh memanfaatkan dengan pemanfaatan yang diketahui tanpa ada yang mengingkari…. Dan tidak butuh untuk mengetahui penjelasan orang yang mewakafkan. Karena kebiasaan sudah mencukupi untuk memperbolehkan.” (Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 63)

Kendati demikian, proses penyembelihan hewan kurban di sekitar masjid tidak boleh mengganggu pemanfaatan asli masjid, seperti menghilangkan kekhusyukan orang salat disebabkan bau yang menyengat dan lain sebagainya. (Al-Hawi al-Kabir, VII/1273) []waAllahu a’lam

Pembunuhan di Masjid pada Masa Sahabat

Fajar mulai menunjukkan sinar emasnya di ufuk timur.  Umar bin Khattab ra. berjalan menuju masjid. Di dalam masjid, tampak para jamaah sudah ramai. Sang Khalifah menunaikan salat sunah Fajar. Sesaat kemudian muadzin melantunkan iqamat. Sang Khalifah berjalan menuju mimbar dan memberikan instruksi kepada jamaah untuk meluruskan dan merapatkan barisan.

Para jamaah sudah bersiap-siap menunggu takbir sang Imam. Waktu bergulir sejenak. Tiba-tiba tubuh Umar seketika itu ambruk. Ia roboh. Darah segar membasahi jubah yang ia kenakan dan lantai mihrab.

Seseorang telah menikam sahabat Umar bin Khattab ra. Ia berdiri di barisan pertama, tepat di belakang Umar. Orang tersebut kemudian kabur dari masjid sambil berusaha menikam siapapun yang ia temui di kanan kirinya.

Umar yang tengah terkapar menarik sahabat Abdurrahman bin Auf untuk menggantikannya mengimami shalat. Suasana di dalam masjid seketika itu penuh ketegangan. Abdurrahman bin ‘Auf mengimami salat Subuh dengan sangat cepat. Setelah salat selesai, Umar bertanya kepada sahabat Abdullah bin Abbas, “Wahai putra Abbas, siapakah yang menikamku?”

Budak Mughiroh.” jawab Ibnu Abbas.

Apakah ia Abu Lu’lu’ah?” tanya Umar lagi.

Ya.” Jawab Ibnu Abbas.

Setelah itu Sang Khalifah segera dibopong menuju kediamannya. Para jamaah hadirin ikut serta. Semua orang kala itu panik, seakan-akan mereka tak pernah terkena musibah seberat ini.  Tepat tiga hari setelah tragedi itu, Hari Rabu, bulan Dzulhijjah tahun 23 Hijriyah, sahabat Umar bin Khattab ra. Menghembuskan nafas terakhirnya dengan penuh kedamaian menuju keindahan tak terlukiskan yang pernah disampaikan Rasulullah saw.

Di hari yang sama banyak pula para sahabat Rasulullah yang wafat, seperti Suahil bin ‘Amr, Utbah Bin Ghazwan, ‘Ala bin Hadlrami, dan para sahabat yang lainnya.[1]


[1] As-Suyuti, Tarikh Al-Khulafa’, hal. 119 cet. Dar Ibn Hazm

Hukum Mengisi Baterai (Ngecas) Hp di Masjid


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimanakah hukum mengisi baterai (ngecas) telepon seluler pada colokan daya yang ada di masjid? Apakah tindakan tersebut dapat dibenarkan menurut syariat? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Rijal- Bandung)

____________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Ketika mampir di sebuah masjid, sering kali terlihat beberapa orang yang mengisi (Charging/ngecash) baterai hp pada colokan daya yang bertebaran di beberapa sisi masjid. Mengenai legalitas hukumnya, dalam kitab Risalah al-Amajid dijelaskan:

أَقُوْلُ وَفُهِمَ مِمَّا ذُكِرَ نَقْلُ نَحْوِ الْمُكَبِّرِ لِلصَّوْتِ لِلْمَسْجِدِ وَاسْتِعْمَالُهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ الْمَسْجِدِ غَيْرُ جَائِزٍ اللهم إِلَّا اِنِ اشْتَرَاهُ النَّاظِرُبِقَصْدِ إِيْجَارِهِ فَيَجُوْزُ اسْتِعْمَالُهُ لِلْغَيْرِ بِأُجْرَةٍ لَا مَجَانًا

Aku berpendapat dari permasalahan yang telah disebutkan, yaitu memindah semacam pengeras suara milik masjid dan menggunakannya untuk keperluan selain masjid adalah tidak diperbolehkan. Kecuali Nazir membeli (semacam pengeras suara) itu dengan tujuan untuk menyewakannya, maka diperbolehkan bagi orang lain untuk menggunakannya dengan membayar ongkos sewa, tidak gratis”.[1]

Stop kontak atau colokan daya listrikyang tersedia merupakan fasilitas yang dimiliki oleh masjid, sama halnya seperti pengeras suara dalam keterangan yang dijelaskan di atas. Sehingga penggunaannya untuk charging atau ngecash telepon seluler tidak diperbolehkan serta berkonsekuensi kewajiban membayar ongkos sewa secara umum (ujroh mitsli) untuk menaksir ganti rugi atas daya listrik yang telah digunakannya.

Namun kewajiban tersebut bisa gugur apabila orang yang menggunakan daya listrik atau charger tersebut mendapatkan izin dari takmir masjid dan ia melakukan ibadah yang berhubungan langsung dengan masjid,seperti salat, iktikaf, dan sesamanya. []waAllahu a’lam


[1] Risalah al-Amajid, hal. 29

Memanfaatkan Air Masjid

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sudah menjadi realita di masyarakat, terkadang mereka sering mengambil air yang berada di masjid untuk kepentingan pribadi. Dari sini sudah jelas bahwa praktek demikian termasuk menggunakan fasilitas masjid yang bukan untuk ibadah. Apakah hal yang demikian dapat dibenarkan menurut kacamata fiqih?, terimakasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ita Fitria, Lumajang.

_______

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Sebelumnya perlu adanya penegasan dari segi kepemilikan, karena tidak semua masjid berasal dari tanah wakafan. Walaupun sebagian besar, keberadaan masjid yang ada sekarang berasal dari proses pewakafan. Sebab, permasalahan yang ditanyakan merupakan bagian dari konsep pemanfaatan barang-barang yang ada di masjid.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa air yang berada di masjid wakaf statusnya adalah milik masjid. Adapun pemanfaatannya menjadi satu paket dalam pemanfaatan masjid yang berupa barang wakafan. Pemanfaatan barang yang telah diwakafkan harus sesuai dengan tujuan pihak yang mewakafkan (Qasdul Waqif). Hal ini terus berlaku selama tujuan pewakafan tersebut dapat dibenarkan menurut syariat dan menghasilkan kemaslahatan. Namun, apabila tujuan pihak yang mewakafkan (Qasdul Waqif) tersebut belum jelas, maka yang menjadi tolak ukur adalah kebiasaan (‘Urf) yang berlaku di daerah tersebut.[1]

Pemanfaatan air yang berada di masjid sangat mirip dengan permasalahan yang dibahas di dalam Bab Wakaf dari kitab Fathul Mu’in. Syaikh Zainuddin Al-Malibari berkata sebagai berikut:

وَسُئِلَ الْعَلَّامَةُ الطَّنْبَدَاوِيْ عَنِ الْجِوَابِيْ وَالْجِرَارِ الَّتِيْ عِنْدَ الْمَسَاجِدِ فِيْهَا الْمَاءُ إِذَا لَمْ يُعْلَمْ أَنَّهَا مَوْقُوْفَةٌ لِلشُّرْبِ أَوِ الْوُضُوْءِ أَوِ الْغُسْلِ الْوَاجِبِ أَوِ الْمَسْنُوْنِ أَوْ غَسْلِ النَّجَاسَةِ؟ فَأَجَابَ إِنَّهُ إِذَا دَلَّتْ قَرِيْنَةٌ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ مَوْضُوْعٌ لِتَعْمِيْمِ الْاِنْتِفَاعِ: جَازَ جَمِيْعُ مَا ذُكِرَ مِنَ الشَّرْبِ وَغَسْلُ النَّجَاسَةِ وَغَسْلُ الْجِنَابَةِ وَغَيْرُهَا وَمِثَالُ الْقَرِيْنَةِ: جِرْيَانُ النَّاسِ عَلَى تَعْمِيْمٍ لِاِنْتِفَاعٍ مِنْ غَيْرِ نَكِيْرٍ مِنْ فَقِيْهٍ وَغَيْرِهِ إِذِ الظَّاهِرُ مِنْ عَدَمِ النَّكِيْرِ: أَنَّهُمْ أَقْدَمُوْا عَلَى تَعْمِيْمِ الْاِنْتِفَاعِ بِالْمَاءِ بِغُسْلٍ وَشُرْبٍ وَوُضُوْءٍ وَغَسْلِ نَجَاسَةٍ فَمِثْلُ هَذَا إِيْقَاعٌ يُقَالُ بِالْجَوَازِ

“Al-‘Allamah Syaikh Thambadawi ditanya tentang masalah kamar mandi dan tempat air yang berada di masjid yang berisi air ketika tidak diketahui status pewakafan air tersebut,  apakah untuk minum, untuk wudlu, untuk mandi wajib atau sunnah, atau membasuh najis?. Beliau menjawab: Sesungguhnya apabila terdapat tanda-tanda (Qorinah) bahwa air tersebut disediakan untuk kemanfaatan umum, maka boleh menggunakannya untuk semua kepentingan di atas, yaitu untuk minum, membasuh najis, mandi junub dan lain sebagainya. Contoh dari tanda-tanda (qorinah) tersebut adalah kebiasaan manusia untuk memanfaatkannya secara umum tanpa ada inkar dari orang yang ahli fikih ataupun yang lainnya. Dan contoh pemanfaatan air sebagaimana contoh di atas adalah boleh,”.[2]

Dari penjelasan Syaikh Zainuddin Al-Malibari yang mengutip pendapat Syaikh Thambadawi dapat ditarik kesimpukan bahwa memanfaatkan air yang berada di masjid dengan cara mengambilnya untuk kepentingan pribadi dapat dibenarkan secara syariat. waAllahu a’lam[]

Referensi:

[1] Hasyiyah Al-Qulyubi, vol. III/100.

[2] Fathul Mu’in, hlm 88-89, cet. Al-Haramain.