Tag Archives: sholat

Hukum Salat Menggunakan Masker

Di tengah wabah virus corona atau covid-19, penggunaan masker merupakan hal yang sangat lumrah di kalangan masyarakat, bahkan pada saat salat sekalipun.

Pada dasarnya, memakai penutup mulut ketika salat, seperti masker dan semacamnya, hukumnya adalah makruh berdasarkan hadis berikut:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ فِي الصَّلَاةِ

“Rasulullah Saw. melarang seseorang menutup mulutnya ketika salat.” (Faidah al-Qadir, VI/315)

Imam Nawawi menegaskan:

وَيُكْرَه أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَمِهِ فِي الصَّلَاةِ إلَّا إذَا تَثَاءَبَ فَإِنَّ السُّنَّةَ وَضْعُ الْيَدِ … وَهَذِهِ كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ لا تمنع صحة الصَّلَاةِ

“Dan dimakruhkan menurut mulut dengan tangan dalam salat kecuali saat ia menguap… Makruh di sini adalah makruh tanzih (tidak haram) sehingga tidak menghalangi keabsahan salat.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, III/719)

Meskipun demikian, jika pemakain masker dalam salat sangat dibutuhkan, seperti karena khawatir terpapar virus corona, maka hal itu tidak masalah. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah:

أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ عَلَى الْمَرْأَةِ أَنْ تَكْشِفَ وَجْهَهَا فِي الصَّلاَةِ وَالإِْحْرَامِ، وَلأَِنَّ سَتْرَ الْوَجْهِ يُخِل بِمُبَاشَرَةِ الْمُصَلِّي بِالْجَبْهَةِ وَيُغَطِّي الْفَمَ ، وَقَدْ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُل عَنْهُ، فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ كَحُضُورِ أَجَانِبَ، فَلاَ كَرَاهَةَ

“Para ulama sepakat bahwa wanita harus membuka wajahnya ketika salat dan ihram. Karena sesungguhnya penutup wajah itu menghalangi seseorang yang melaksanakan salat (untuk menempelkan) secara langsung dahi dan hidung serta dapat menutupi mulut. Nabi Saw. juga melarang seorang laki-laki melakukan hal itu. Jika ada kebutuhan, seperti adanya laki-laki lain (bukan mahramnya bereda di dekatnya ketika salat), maka tidak makruh.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, XXXXI/136)

Dengan demikian, menutup mulut menggunakan masker apabila ada kebutuhan semisal mengantisipasi penyebaran virus corona atau covid-19 diperbolehkan.
waAllahu a’lam.

Khutbah Jumat : Sholat Khusyu’ Sebagai Kunci Hidup Sukses

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ لِلّه الْوَاحِدِ الْأَحَدِ الصَّمَد, الْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَيْسَ لِعَجَائِبِهِ نَفَاد, الْمُنْعِمِ عَلَيْنَا بِنِعَمٍ لَا حَصْرَ لَهَا وَلَا عِدَاد, أَحْمَدُهُ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَه, وَأَسْأَلُهُ التَّوْفِيقَ لِمَا أَكْرَمَ بِهِ أَوْلِيَاءَه, وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ البَرُّ الرَّحِيْمُ الغَافِر, الْقَهَّارُ الَّذِي قَهَرَ عِبَادَهُ فِي السَّابِقِ وَالآخِرِ,  وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِتَعْظِيمِ الشَّعَائِرِ, الآمِرِ بِتَكرِيمِ أَهْلِ بَيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ وَتَابِعِيهِم والعَشَائِرِ, صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَينِ مُتَلَازِمَينِ فِي كُلِّ مَاضٍ وَغَابِرِ, اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم وَبَارِك عَلَى سيِّدِنا محمد وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ آمَنَ بِاللهِ واليَومِ الآخِرِ

مَعَاشِرَ المُسلِمِينَ رَحِمَكُمُ اللّه…

أُوْصِيكُم وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى الله, وَتَزَوَّدُوا فإنَّ خَيرَ الزَّاد التَّقوى, فَقَد فَازَ المُؤمِنون المُتَّقُون, حَيثُ قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ, أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَولًا سَدِيدا.
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Alloh . ..

                Memasuki tahun baru ini, marilah Kita tingkatkan ketaqwaan Kita kepada Alloh S.W.T., dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Marilah Kita segarkan kembali nilai-nilai keimanan dan keislaman dalam hati, dan Kita wujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Alloh…

                Salah satu wujud nyata kesempurnaan iman seseorang dapat tergambar dalam pelaksanaan Sholat. Sholat merupakan salah satu komponen bangunan Islam. Ia bagaikan tiang penyangga berdirinya agama  ini. Jika sholat tidak ditegakkan, bisa dipastikan agama ini akan roboh. Sekali tempo Rasululloh S.A.W. ditanya oleh seorang lelaki perihal sesuatu apakah yang paling dicintai Alloh dalam agama Islam. Rosululloh menjawab:

اَلصَّلَاةُ لِوَقْتِهَا وَمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ فَلَا دِيْنَ لَهُ وَالصَّلَاةُ عِمَادُ الدُّيْنِ

Artinya: “(Yang paling dicinta di sisi Allah) adalah shalat pada waktunya. Barang siapa meninggalkan sholat, maka tidak ada agama baginya,dan sholat adalah tiang agama.” (H.R. Al-Baihaqi)

                Sholat juga merupakan kunci segala pintu kebaikan. Sebab, dengan sholat seseorang akan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Alloh S.W.T. berfirman:

وَاَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَا عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Artinya: “Dan dirikanlah Sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (Q.S. Al-‘Ankabut; 45)

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Alloh…

                Alhamdulillah, di Indonesia khususnya, syiar Islam bisa menggema hampir di seluruh cakrawala. Sholat berjama’ah ditegakkan di masjid dan surau, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Namun, sepertinya perlu kita renungkan, mengapa perbuatan maksiat dan mungkar masih sering Kita dengar dan Kita lihat? Mengapa tindak kejahatan dan kriminalitas masih memenuhi kabar berita setiap hari? Bukankah sholat dapat mencegah perbuata keji dan mungkar?

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Alloh…

                Satu hal yang perlu Kita garis bawahi adalah, sholat dapat berfungsi sebagaimana dalam firman Alloh S.W.T. tadi jika dilaksanakan dengan khusyu’. Sholat bukan hanya ibadah lahiriah dengan gerakan anggota tubuh saja. Lebih dari itu, Sholat adalah ibadah hati dan pikiran untuk mengingat Alloh Sang Pencipta. Menyadari kelemahan diri sebagai hamba yang tak berdaya. Alloh S.W.T. berfirman:

إِنَّنِي أَنَا اللهُ لَا إِلهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِيْ

Artinya: “Sesungguhnya Aku ini adalah Alloh, tidak ada Tuhan (yang hak) sealin Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.” (Q.S. Thaha; 14)

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Alloh…

                Istilah khusyu’dalam sholat ada dua macam, Khusyu’ lahiriah dan bathiniyyah. Khusyu’ lahiriah artinya melaksanakan syarat dan rukun sholat secara sempurna, sesuai tata cara yang telah diajarkan Rosululloh. Mulai dari bersuci, menutup aurat, hingga pelaksanaan rukun-rukun sholat. Sedangkan khusyu’ bathiniah  adalah mengkonsentrasikan hati dan pikiran untuk mengingat Alloh. Sholat yang demikian inilah yang bisa mengantarkan seorang mukmin kepada keberuntungan, dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar. Alloh S.W.T. berfirman:

قَد أَفلَحَ ٱلمُؤمِنُونَ (1)  ٱلَّذِينَ هُم فِي صَلَاتِهِم خَٰشِعُونَ (2

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.” (Q.S. Al-Mu’minun; 1-2)

            Sholat adalah gambaran akhlak seseorang. Sholat adalah miniatur kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, jika seseorang melaksanakan sholat dengan khusyu’, niscaya perilaku kesehariannya akan tertata dengan disiplin dan rapi. Setidaknya, ada beberapa hikmah sholat khusyu’ yang secara langsung berpengaruh pada keseharian seseorang, di antaranya:

            Pertama, pelaksanaan sholat secara disiplin mengajarkan seseorang membagi waktunya secara teratur. Terbiasa memperhatikan waktu sholat akan mempengaruhi disiplin waktu dalam segala aktifitas.

            Kedua, sholat dengan khusyu’ juga membuat seseorang terbiasa hidup bersih dan rapi. Sebab, sholat harus dilaksanakan dalam keadaan bersih dari hadats dan najis. Setiap kali akan melaksanakan sholat seseorang harus bersuci terlebih dahulu, membersihkan baju dan tempat sholat dari najis dan kotoran. Dengan demikian, akan terciptalah kepribadian yang bersih dan mencintai kebersihan.

            Ketiga, sholat khusyu’ juga memberikan pelajaran untuk melakukan pekerjaan dengan penuh kosentrasi. Tidak memikirkan hal-hal yang lain sebelum pekerjaan itu selesai. Dengan demikian, setiap pekerjaan akan terselesaikan dengan cepat dan maksimal.

            Jama’ah Jumat yang dirahmati Alloh…

            Mari Kita introspeksi diri, sudahkah Kita laksanakan sholat dengan khusyu’ dan benar? Mari Kita ubah hal-hal yang salah dan kita sempurnakan hal-hal yang masih kurang. Agar sholat yang kita lakukan benar-benar menjadi media pendekatan Kita kepada Alloh. Sebab, lalai dalam sholat adalah penyebab seseorang menjadi celaka. Alloh S.W.T. berfirman:

فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ (4)  ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ (5)

Artinya: “Maka, celakalah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya.” (Q.S. Al-Maa’uun; 4-5)

            Mari Kita perbaiki sholat Kita agar benar-benar bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Menjauhkan Kita dari murka Alloh dan mendekatkan kita pada ridlo-Nya. Rosululloh S.A.W. bersabda:

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ الله إِلَّا بُعْدًا

Artinya: “Barang siapa yang sholatnya tidak bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah kecuali semakin jauh dari Alloh.” (H.R. ath-Thobroni)

            Jama’ah Jumat yang dimuliakan Alloh…

            Semoga Alloh memberikan kekuatan kepada Kita untuk selalu memperbaiki perilaku Kita dan meningkatkan ketaqwaan. Menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan esok lebih baik dari sekarang.

أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ, قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِم خَاشِعُونَ, بَارَكَ اللّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآن العَظِيمِ, وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُم بِمَا فِيهِ مِنَ الآ يَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيم.

Khutbah ke 2

اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَ كَفَرَ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ حَبِيْبُهُ وَ خَلِيْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَ الْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَ سَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله اِتَّقُوْا الله وَ اعْلَمُوْا اَنَّ الله يُحِبُّ مَكَارِمَ الْأُمُوْرِ وَ يَكْرَهُ سَفَاسِفَهَا يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ اَنْ يَّكُوْنُوْا فِى تَكْمِيْلِ اِسْلَامِهِ وَ اِيْمَانِهِ وَ اِنَّهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبَنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ الله! اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.

Khotbah Jumat: Jemaah Laku Kang Utomo

أَلْحَمْدُ للهِ فَرَضَ عَلَى عِبَادِهِ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ بِأُجُوْرٍ عَظِيْمَةٍ وَأَمَرَهُمْ بِالْجَمَاعَةِ لِحِكَمٍ وَ أَسْرَارٍ جَلِيْلَةٍ وَجَعَلَ هَذِهِ الصَّلَاةَ مُكَفِّرَاتٍ لِمَا بَيْنَهُنَّ مِنْ صَغَائِرِ الذَّنْبِ وَالْخَطِيْئَةِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ وَالْبَرَرَة

أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَعَظِّمْ وَتَرَحَّمْ وَ تَحَنَّنْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا وَ مَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. 

أَمَّا بَعْدٌ: فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَادَ التَّقْوَى فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

 

Jamaah Jumah Ingkang Minulyo.

Monggo kito sedoyo tansah ningkataken takwa kito dumateng Allah swt. kanti nglampahi punopo ingkang sampun dipun printahaken soho nebihi sedoyo cecegahanipun. Kito nglampahi taqwa puniko mboten lintu wujud ngawulo kito sedoyo dumateng Allah swt. Ingkang ngratoni sedanten alam.

Kito sedoyo ugi kedah nderek tindak lampahipun Rasulullah saw. Inggih puniko menungso ingkang sampurno ingkang dados rahmat dateng sedanten alam. Dene kasunnahan-kasunnahan ingkang dipun anjuraken Rasulullah inggih puniko salat kanti jamaah. Hukum salat kanti jamaah ing sholat gangsal wekdal puniko sunah muakkad. Mboten lintu inggih puniko tindak lampahipun kanjeng nabi ingkang dipun anjuraken sanget supados dipun tiru umatipun.

Ngantos-ngantos wonten salah setunggalipun ulama’ ingkang ndawuhaken bilih jamaah puniko hukumipun fardu kifayah. Artosipun bilih saben-saben padukuhan kedah wonten sholat kanti jamaah kangge syiar Islam. Menawi mboten wonten salah setunggaling wargo  ingkang sholat kanti jamaah, sakmangkih sedanten wargo padukuhan puniko pikantuk tatrapan dosa.

Jamaah Jumah Ingkang Minulyo.

Salat jamaah puniko anggadahi faedah ingkang katah ingkang magayutan kalian sholat ingkang dipun lampahi soho perkawis perkawis ingkang sifatipun sosial. Salah setunggaling faedah jamaah ingkang agung inggih puniko kados ingkang dipun dawuhaken kanjeng nabi saw.:

صَلَاةُ  الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Artosipun: ‘Salat jamaah puniko langkung utomo tinimbang sholat ijen kanti kacek 27 derajat’ (HR. Bukhari Muslim)

Salat kanti jamaah puniko ugi lankung gampil dipun tampi dening Allah swt. Kados keterangan ingkang sampun dipun jelasaken wonten kitab I’anatut Tholibin inggih puniko menawi poro jamaah wonten kekirangan saget dipun tambel kalian lintunipun sehinggo saking meniko, sedanten dipun anggep sempurno amargi sami nglampahi kanti jamaah. Kados tiyang ingkang nyade jeruk menawi dipun sade kanti setungal setunggal sampun tamtu tiyang milih ingkang sae kemawon. Ananging menawi dipun sade kanti borongan sakmangkeh jeruk ingkang kirang sae ugi pajeng. Mekaten ugi sholat kito sedoyo.

Babakan puniko, kanjeng nabi sampun paring tulodo bilih hewan ingkang arupi macan puniko bade nyatru mendo ingkang kapijen soho setan lankung gampil mlebet dumateng tiyang ingkang kapisah saking jamaah.

Rasululloh ndawuhaken….

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِيْ قَرْيَةٍ أَوْ بَدْوٍ لَاتُقَامُ فِيْهِمُ الْجَمَاعَةُ إِلَّا اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

Artosipun: ‘Mboten wonten saking tigo ing padukuhan utawi alas ingkang mboten njumenengaken jamaah kejawi dipun kuwasani setan. Pramilo jumenengaken jamaah amargi macan puniko nyatru dateng mendo ingkang kepijen’.

 

Poro Jamaah Ingkang Minulyo…

Saking mriki kito saged mangertosi bilih jamaah puniko mbimbing kito sedoyo derajat ingkang sapodo tumpraping manungso. Ingkang miskin saget sesandingan kalian ingkang sugih, ingkang ageng saget sesandingan kalian ingkang alit, ingkang sepuh saget sesandingan kalian ingkang poro taruno wonten satunggaling baris. Meniko inggih salah setunggaling conto bilih sedanten tiyang sami derajat pangkatipun wonten ngarso dalem Allah swt. Namung takwa kulo panjenengan sedoyo ingkang ndadosaken mulyo lan parek dateng Allah swt. Alloh swt. Sampun dawuh:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artosipun: ‘Saestunipun tiyang ingkang langkung mulyo menggah Allah inggih puniko tiyang ingkang langkung taqwa. Saestunipun Allah puniko dzat ingkang ngudaneni soho dzat ingkang waspodo’. (QS. Al-Hujarat:13).

 

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَاتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

 

Lupa Tidak Mengerjakan Rukun Shalat

Assalamualaikum wr. Wb.

Saya ingin bertanya. Bagaimana tindakan makmum yang lupa tidak mengerjakan rukuk, padahal imam sudah di posisi sujud. Apakah ia langsung memenuhi rukun yang lupa tidak ia kerjakan? Padahal ia sedang sholat berjamaah, yang mana harus mengikuti imam, dan kalau dikerjakan langsung berarti ia sudah keluar dari jamaah, ataukah bagaimana?

Mohon penjelasannya, terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Sa’adah, Jember

 

Walaikum salam wr. wb.

Keutuhan gerakan atau ucapan dalam sholat merupakan hal pokok yang harus dijaga. Sehingga ketika ada yang tertinggal, yakni tidak dikerjakan oleh mushalli (orang yang mengerjakan sholat), maka ia tetap dituntut untuk mengerjakannya. Walaupun toh itu berupa kesunnahan, lebih-lebih rukun.

Untuk kesunnahan yang tertinggal, tidak dikerjakan, entah itu secara sengaja ataupun lupa, ada catatan tersendiri untuk ini. Semisal lupa tidak mengerjakan duduk tahiyat yang pertama, yang mana hukumnya sunnah. Jika ia terlanjur beranjak untuk berdiri, tetapi belum sampai berdiri tegak, ia masih diperkenankan untuk kembali duduk. Namun, ketika ia sudah berdiri tegak, maka tidak diperkenankan kembali ke posisi duduk.

Begitu juga dengan kesunahan-kesunahan di dalam shalat yang lain, semisal qunut, membaca doa di setiap gerakan shalat, dan lain-lain. Ketika telah meninggalkan kesunahan ini, dan terlanjur melaksanakan rukun shalat selanjutnya, maka tidak diperbolehkan untuk kembali ke posisi sebelumnya.

Sedangkan untuk masalah rukun, wajib bagi mushalli untuk bersegera kembali mengerjakan rukun yang lupa ia kerjakan. Setidaknya, ada tiga catatan yang harus diperhatikan:

Pertama, rukun yang lupa tidak dikerjakan adalah rukun yang selain niat. ketika lupa untuk niat, maka wajib mengulangi shalatnya dari awal.

Kedua ia bukan seseorang yang menjadi makmum. Kalau ia seorang makmum, maka ia harus tetap mengikuti gerak imam. Dan ketika imam selesai menunaikan salam, makmum berdiri untuk menambah satu rakaat.

Ketiga, ketika ia shalat sendiri atau menjadi imam, ia wajib bersegera kembali pada posisi rukun yang ia tidak mengerjakannya. Ketentuannya, kondisi ketika ia ingat bahwa ada rukun yang tertinggal, tidaklah melewati dan sama dengan rukun yang ia lupakan tadi.

Contohnya, ia lupa tidak membaca surat al-fatihah. Ketika posisinya bersujud, ia tiba-tiba ingat belum membaca surat al-fatihah. maka segera saja berdiri  lagi dan membaca fatihah. Tapi kalau ternyata ia ingat ketika kondisinya sudah pada rakaat berikutnya, dan ia sudah membaca al-fatihah, maka rakaat yang ini menjadi pengganti rakaat yang kosong dari fatihah itu tadi. Artinya, rakaat yang telah lewat tidak dihitung sebagai rakaat shalat. Maka, ia berkewajiban menambah satu rakaat dari jumlah aslinya.

Kiranya demikian.

Wassalamualaikum wr wb