Tag Archives: Takhtiman

Takhtiman Alquran Ke-38 PPMQ

Lirboyonet, Kediri. Malam kemarin (09/10) menjadi malam yang membahagiakan bagi ratusan khotimin dan khotimat Madrasah Murottilil Quran Lirboyo. Pasalnya, tak kurang dari seratus enam puluh empat khotimin dan khotimat, baik putra maupun putri resmi menamatkan pendidikan mengaji Alquran mereka di Madrasah murottilil Quran, dan menjalani wisuda. Dalam cuaca malam yang cerah, para khotimin yang terdiri dari sebelas khotimin putra bil ghoib, sembilan khotimat putri bil ghoib, seratus tiga khotimin putra bin nadzar, dan empat puluh satu khotimat putri bin nadzar dari beragam daerah naik panggung dan melantunkan ayat suci Alquran dengan berbagai macam bacaan dari beragam rawi qiraah sab’ah. Wajah-wajah bahagia mereka makin nampak ketika satu persatu dari mereka menerima syahadah dan menjalani sesi sungkeman bersama KH. Abdul hamid Abdul Qadir, pengasuh PP. Ma’unah Sari, Bandar Kidul, Kediri.

Acara yang berlangsung di Aula Al-Muktamar Ponpes Lirboyo tersebut berjalan khidmat. Para wali santri juga turut hadir menyaksikan putra-putri mereka diwisuda. Dalam sambutan atas nama pengasuh, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus tak henti-hentinya mengingatkan tentang keutamaan para santri yang mengaji dan mengajar Alquran.  “Sebaik-baik orang belajar adalah belajar Alquran, sebaik-baik mengajar adalah mengajar Alquran.” Tutur beliau mengutip salah satu hadis Nabi Muhammad SAW. “Orang-orang dahulu meski bisa membaca kitab, namun yang digeluti adalah mengajar Alquran, berharap bisa masuk dalam hadis tersebut.” Tambah beliau.

Sementara Al-Habib Muhammad bin Anis bin Shahab dari Lawang, Malang, dalam mau’idhatul hasanah menyampaikan pentingnya menata kembali niat kita, dan jangan ragu untuk memiliki niat baik sebanyak-banyaknya. “Mumpung tasih ngaji, sedoyo kudu gadah niat sing duwur.” (mumpung masih mengaji, semuanya harus memiliki niat yang tinggi.) Ungkap beliau. “Setiap seseorang yang punya niat baik dalam amal ibadah, diberi tujuh puluh taufiq.” Pungkas Al-Habib Muhammad.

Takhtiman Santri putri Al-Baqoroh

LirboyoNet, Kediri. Menghkhatamkan mengaji Alquran memang bukan sesuatu yang mudah. Butuh kesabaran, ketelatenan, dan keseriusan agar dapat mencicipi manisnya didoakan puluan ribu malaikat. Tentu saja, sebab Allah telah menjanjikan enam puuluh ribu malaikat-Nya turun ke bumi untuk sekedar mendoakan mereka yang telah mengkhatamkan Alquran.

Kemarin (20/04), sebanyak lima puluh tujuh orang santri putri Ponpes Putri Al-Baqoroh Lirboyo diwisuda. Mereka naik panggung kehormatan, melantunkan bacaan suci Alquran dengan berbagai macam riwayat yang cukup “asing” di telinga masyarajat kita, dan mereka mendapatkan penghargaan langsung dari para masyayikh, dan guru. Satu persatu daari mereka menerima syahadah yang diserahkan langsung oleh Pengasuh Ponpes Albaqoroh, KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, beserta segenap dzuriyah lain. Tak hanya itu, ada juga sesi foto bersama sebagai bentuk kenang-kenangan.  Santri yang diwisuda sendiri meliputi dua puluh tujuh orang peserta bil ghoib, tiga orang peserta bil ghoib dan qiroah sab’ah, empat orang peserta qiro’ah sab’ah, dan dua puluh tiga peserta bin nadzhor yang kesemuanya adalah santri putri Ponpes Al-Baqoroh.

Khataman yang ke lima kalinya ini bertempat di Aula Al-Muktamar Ponpes Lirboyo, setelah tahun sebelumnya bertempat di halaman ndalem Ponpes Al-Baqoroh Lirboyo. Acara ini juga diramu dengan peringatan isrâ’ dan mi’râj baginda Nabi Muhammad SAW.

Dengan bangga dan terharu, KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, atau yang biasa disapa Kiai Zam menuturkan, “Njenengan sedoyo (santri-santri –Red) leres mlebet dawuh ipun kanjeng Nabi, khoirukum man ta’allamal qur’ana wa’allamah.” (Kalian semua (para santri –Red) benar masuk dalam sabda Nabi, khoirukum man ta’allamal qur’ân wa ‘allamah, sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya).

Sementara KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, punya cerita sendiri dibalik penamaan unik pondok pesantren yang diasuh adik kandung beliau ini. Beliau berkata, “Pondok Pesantren Al-Baqoroh itu memang namanya aneh, Al-Baqoroh. Pondok kok namanya Al-Baqoroh, tapi yang menempatinya manusia, hafal Alquran pula.” Yang segera disambut tawa para hadirin. Al-Baqoroh sendiri jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia memiliki makna sapi. “ini cereitanya, dinamakan Al-Baqoroh, yang memberikan nama langsung KH. Imam Yahya Mahrus.” Waktu itu, ketika awal-awal pondok pesantren ini baru berdiri, KH. Imam Yahya masih sugeng. Beliau sendiri wafat tahun 2012 silam. “Yang dimaksud Al-Baqoroh itu, surat Al-Baqoroh.” Pungkas Kiai Kafabihi.

Dalam mau’idzotul hasanah, KH. Reza Ahmad Zahid sedikit banyak mengakui tentang kemuliaan para penghafal Alquran, “Satu kaidah dikatakan, segala sesuatu yang ada di dunia ini, bisa menjadi mulia karena sesuatu yang melekat kepadanya, karena sesuatu yang menempel kepadanya. Para santri-santri putri Al-Baqoroh saat ini sudah mendapatkan tempelan barokah yang luar biasa. Tempelan Alquran karim, tempelan ilmu-ilmu agama.” Ungkap Gus Reza, sapaan akrab KH. Reza Ahmad Zahid. Beliau juga menambahkan, “Hakikat manusia tidak ada apa-apanya, kita melihat manusia karena sesuatu yang menempel padanya. Kita melihat harga manusia karena sesuatu yang melekat padanya.

Beliau mendoakan, ”Para alumni-alumni dan para khâtimât-khâtimât insya Allah mendapatkan barokah yang menempel pada dirinya, yaitu barokâtul qur’ân, dan barokâtul ‘ulûm syar’iyyah. Moga-moga, keluar dari pondok insya Allah akan menjadi lebih wibawa dan lebih berharga.

Sebagai pengingat, rangkaian agenda akhirus sanah di pondok pesantren Lirboyo sudah hampir tiba. Jangan lupa pula untuk turut memeriahkan haul dan haflah akhirussanah Ponpes Lirboyo, yang malam puncaknya akan dilaksanakan pada0 9 Sya’ban 1438 H, atau bertepatan dengan jumat malam sabtu, tanggal 05 Mei 2017 M. sebagai penceramah tunggal, insya Allah akan hadir KH. Maimun Zubair, pengasuh Ponpes Al-Anwar Sarang, juga selaku dewan Rais Syuriah PBNU.[]

Mengenang Masyayikh dalam Takhtiman P3TQ

LirboyoNet, Kediri – Setelah Ramah Tamah Purna Siswa Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Aula Muktamar kembali menjadi tempat tergelarnya acara pelepasan siswa. Selasa malam, (17/05) 24 khatimaat bil ghoib (penghafal Alquran 30 juz) dilepas oleh Ibu Nyai Hj. Khodijah Idris. Mereka adalah para santri Pondok Pesantren Putri Tahfizhil Qur-an (P3TQ) yang mengikuti program tahfizul quran.

Tidak hanya mereka. Di malam terang itu, Ibu Nyai juga memberikan apresiasi kepada 62 santri yang berhasil mengkhatamkan alquran binnadzori (dengan membaca). Adapun Madrasah Hidayatul Mubtadi-aat Fittahfizhi wal Qiro-at (MHMTQ), dalam acara yang sama meluluskan 177 siswinya. Jumlah itu terbagi atas 53 siswi tamatan Aliyah dan 124 siswi tamatan Tsanawiyah.

Sang muballigh, KH. Abdul Qoyyum Mansur, memberikan apresiasi tinggi kepada para santri yang berjuang untuk menghafalkan Alquran di pesantren ini. “Ibu Nyai Nafisah, sebelum beliau wafat, beliau lebih dulu menggali kuburannya. Beliau guru dari Imam Syafi’i. Saking cintanya kepada Alquran, setiap malam beliau masuk ke kuburnya, sampai khatam sebanyak enam ribu kali. Begitu mulia perjuangan para pecinta Alquran itu.”

KH. Hasyim Asy’ari begitu menghargai para penghafal Alquran. Setiap shalat tarawih, beliau memilih berdiri di belakang menantunya. “Yai Idris Kempek, itu hafal Alquran. Kiai Maksum, menantu beliau yang lain, juga hafal Alquran. Menantu-menantunya ini yang beliau suruh untuk menjadi imam shalat tarawih,” imbuh kiai yang menjadi pengasuh PP An-Nur, Lasem Rembang Jawa Tengah.

Meski orang awam, jika dia mencintai Alquran, Allah akan mengistimewakannya. Seorang awam di negara Turki, khawatir jika di masa tuanya nanti matanya tidak mampu lagi membaca Alquran. Karenanya, ia tulis ulang Alquran dengan huruf yang besar. Dengan telaten ia balik lembar per lembar sampai tuntas tiga puluh juz. Saat ia akan wafat, ia berpesan kepada putranya, untuk mengubur Alquran yang ia tulis bersama mayatnya nanti.

Setahun setelah sang ayah wafat, ia berkunjung ke Baitullah. Saat di Madinah, matanya memicing pada satu toko. Di salah satu almarinya, terpampang Alquran yang sangat ia kenali. Ia yakin, ‘itu Alquran milik ayah’. Terang penjaga toko, kitab ini ditemukan oleh seorang penggali kuburan. Ditemuinya penggali kubur itu. Betapa kaget si anak, ketika diketahui bahwa makam yang digali berada di Madinah. ‘Bagaimana bisa, ayahku yang kukubur sendiri di Turki, sekarang berpindah ke Madinah?’. Jenazah sang ayah juga masih utuh.

Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki menceritakan kisah ini di suatu ketika. “Inilah cara Allah memuliakan Alquran dan para pecintanya,” terang Kiai Abdul Qoyyum. “Kisah ini mengingatkan saya kepada Kiai Marzuqi (KH. Marzuqi Dahlan). Tahun 1952, abah saya kebetulan berangkat haji bersama beliau.”

Saat di Makkah, bersama Syekh Yasin Al-Fadani dan para ulama lain, Kiai Marzuqi seringkali berpesan kepada teman sekitarnya, ‘doakan saya wafat di sini.’ Saat di tempat makan, beliau mengatakan hal yang sama. Beliau ulang saat di kamar, dan di mana-mana saat mereka bersama. “Karena belum kehendak Allah, beliau wafatnya di Kediri. Tapi mungkin saja, berkat keinginan beliau yang besar, jenazah beliau oleh Allah didekatkan kepada makam Nabi Muhammad Saw.” Kisah beliau ini segera diamini oleh para hadirin.

Selain Tasyakuran Takhtiman dan Tamatan Tsanawiyah-Aliyah, acara yang dilaksanakan di Aula Al Muktamar ini juga menjadi peringatan Dzikrul Haul KH. Abdul Karim, KH. Marzuqi Dahlan, KH. Mahrus Ali, dan KH. Ahmad Idris Marzuqi. Ghafarallahu lahum, alfatihah.][