Cerpen

CERPEN: Elegi

Tubuh bergetar. Kegelapan menelan cahaya. Duka mencabik tawa. Kami harus kehilangan, lagi dan lagi.

Tempat itu sangat mengerikan. Lebar dan dalam bagai gua, di bagian dalamnya terdapat jeruji-jeruji putih beraturan. Saat gua itu menutup, jeruji-jerujinya bergerak, mencabik-cabik tubuh teman kami tanpa kasih, hingga hancur tak berbentuk.

“Kau lihat itu? Donat sudah dilumat habis!” seru Donat Keju. Ia selalu menakut-nakutiku, menceritakan gua menakutkan yang disebut mulut manusia. Dan barusan aku melihat langsung peristiwa mengerikan itu.
Kami kaum makanan yang tertata rapi di etalase tak memiliki usia panjang. Ada yang sanggup bertahan berhari-hari seperti para kue, ada yang hanya bertahan satu hari, bahkan ada yang baru saja terpajang langsung lenyap. Ketika tangan itu bergerak di atas kami, semua akan berteriak ketakutan. Takut menjadi korban berikutnya.

Usiaku sudah satu hari di tempat ini dan waktuku habis oleh rasa takut. Aku duduk tepat di sebelah Donat Keju. Ia selalu berteriak penuh ketakutan karena jenisnya sudah habis.

“Hei Kue Kelapa, lihat tangan yang sedang bergerak untuk memilih itu!” Serunya.
“Tapi tidak ada pelanggan,” ucapku.
“Tetap saja, apa yang harus kulakukan? Aku ingin berlari, tapi apa daya? Ini mengerikan, mengerikan… tidak… tubuhku!” ia berteriak histeris, dan semakin histeris saat tangan itu berhenti di antara kami. Aku memejamkan mata.

“Kelapa…Kue Kelapa…!!” aku mendengar teriakannya semakin menjauh, aku tak tega melihatnya pergi.
“Tidak! Kue Kelapa, selamat tinggal kau akan terlumat!” Aku terkejut mendengarnya. Ternyata tangan itu mengambilku. Tapi ia tak memberikanku pada pelanggan, ia justru membawaku pergi jauh menyeberangi etalase demi etalase hingga tiba di etalase paling ujung. Aku diletakan di sana, ternyata aku hanya dipindah di tempat sejenisku, kue kering. Di sampingku ada Kue Bolu, tapi ia terlihat begitu murung. Aku pun menyapanya.

“Hai!” Ia hanya melirik. Kuulangi sapaanku, “Hai!”
“Ada apa?” tanyanya merespon.
“Aku baru datang,” jawabku.
Kue Bolu menatapku sebal, “Aku sudah melihatnya. Jangan ajak aku bicara. Aku sedang merenung.”
“Apa yang kau renungkan?” tanyaku penasaran.
Kue Bolu menghela nafas, “Aku tak terpilih.”
Ini mengejutkan! “Bagaimana bisa kau ingin terpilih? Di tempatku sebelumnya semua menangis dan merengek karena takut terpilih!”
“Kau perlu banyak belajar, nak,” kata Kue Bolu seraya menatapku takzim. “Menurutmu untuk apa kita diciptakan? Untuk dipamerkan di etalase atau dimakan?”
“Di-ma-kan…” jawabku ragu.

“Benar. Itulah takdir kita. Bagaimana menurutmu jika kita melenceng dari tujuan penciptaan kita? Saat harusnya kita dimakan tapi hanya dipajang? Itu menyakitkan!” seru Kue Bolu. “Apakah bentukku terlalu buruk, apa rasaku terlihat tak enak, aku tak menarik? Pertanyaan-pertanyaan itu akan muncul saat kau dibiarkan terlalu lama di etalase. Dan yang lebih mengerikan lagi, saat jamur-jamur menggerogoti tubuhmu, kau akan dibuang, dibiarkan membusuk. Bakteri-bakteri kotor akan mengurai dan menyelapkanmu, belatung-belatung akan muncul dari dalam dirimu. Itu membuktikan bahwa kau tidak berguna. Menyedihkan…”

Aku menyetujui setiap perkataannya. Jenis kami memang jarang diminati, mungkin itu yang menimbulkan perasaan iri pada jenis yang lain. Hingga Bolu berpikir lebih baik dimakan daripada dibiarkan membusuk. Aku terdiam, merenung, memikirkan hal-hal yang harus kami alami. Aku juga tak tahu mana yang lebih baik, dimakan atau dibuang? Mataku terasa berat, perlahan terpejam, meraih alam mimpi.

Aku melihat tempat yang gelap, panas, berbau busuk, menjijikkan. Dari sudut kiriku terdengar rintihan tangis, suaranya begitu pilu menyayat hati, tubuhku bergetar mendengarnya. Saat kuperhatikan lebih dalam, aku mulai mengenal pemilik suara itu itu. Ya, aku mengenalnya. Donat keju! Kupanggil ia agar menoleh ke arahku.

“Donat Keju…!” Ia tak menoleh hingga panggilan ketiga berhasil memalingkannya. Saat ia menoleh ke arahku, aku tak sanggup melihatnya, bentuknya sangat mengerikan.
“Kue Kelapa, kau disana?” tanyanya. Suaranya berat, seperti menahan sakit.
“Ya, apa yang terjadi denganmu? Dimana ini?”
“Apa kau masih di etalase? Semoga kau tak bernasib seperti ini. Aku sudah tertelan, itu sangat menyakitkan, gigi-gigi itu begitu keras.” Ia menangis meratap. “kau tahu,” lanjutnya, “saat tubuhmu hancur itu tak sebanding ketika kau masuk tempat ini, ini lebih mengerikan.”
“Dimana ini?” tanyaku.
“Perut orang rakus. Saat kau dimakan orang seperti ini, ragamu masuk ke dalam perutnya, tapi tidak dengan jiwamu. Karena jiwamu akan masuk ke perut makhluk terkutuk bernama setan.”
“Bagaimana bisa?” tanyaku.
“Entahlah, mungkin mereka berteman. Kau harus segera pergi Kue Kelapa, tempat ini tak baik untukmu. Semoga kau tak bernasib sepertiku.” Ia kembali memalingkan wajah dan menangis meratapi nasibnya.

Aku terbangun dari mimpiku, mimpi yang mengerikan. Kuceritakan mimpi itu pada Kue Bolu. Ia menyimak setiap perkataanku. Kami pun merenung, seperti itukah nasib yang harus kami alami? Tak ada pilihan yang menggembirakan? Termakan lantas jatuh ke dalam lebah berapi atau dibiarkan hingga belatung menghampiri kami, keduanya sama-sama buruk.

Di etalase lain, makanannya sudah banyak yang berganti, tapi tidak dengan etalase ini.
“Oh tidak!”
Aku menoleh ke arah Kue Bolu yang berteriak. “Ada apa Kue Bolu?” tanyaku.
“Lihat tubuhku! Ada bintik di sini! Apa yang harus kulakukan?” Bolu menangis. Apa yang ia takutkan telah terjadi, ada bintik hitam dengan semburat abu-abu di sekitarnya. Jika bintik itu muncul, maka itu pertanda bahwa Bolu tak lagi berguna. Bolu semakin lemah, makin banyak bintik hitam yang muncul, hingga tangan itu datang dan membawanya pergi. Ia berikan seulas senyum sebagai ucapan perpisahan dan seakan mendoakan semoga aku tak bernasib seperti dirinya. Kini aku merasa sendirian. Sebenarnya ada banyak makanan yang lain, tapi aku malas mengajak mereka berbincang.

Aku mengisi waktu untuk membenahi diri, mempersiapkan diri, menyambut jalan mana yang akan menimpaku. Jalan mana pun aku sudah siap. Lalu tiba-tiba aku merindukan Kue Keju, bagaimana ia sekarang di lembah itu? Aku juga merindukan Kue Bolu, ia pasti sedang berteriak dan menangis di dalam tong sampah bersama makanan-makanan sisa yang tak diinginkan.

Saat mataku terpejam, tubuhku seakan melayang di ruang hampa, aku mendengar bisikan-bisikan seorang lelaki dan perempuan, ternyata pemilik toko dan pelanggan. Aku terjual, ada yang membeliku. Pemilik toko memasukkan aku ke dalam kotak kecil bersama dua makanan lain. Lama kami terdiam di dalam kotak, udaranya sangat panas. Andai aku cokelat, sekarang aku pasti sudah meleleh. Aku heran, kenapa pembeli itu tak segera memakan kami.
Tiba-tiba kotak ini terbuka, tangan pembeli mengambilku sebagai santapan pertama. Aku memejamkan mata, menguatkan hati, sebelum tubuhku masuk ke dalam gua itu. Namun mulut mungil itu bergerak-gerak mengucapkan suatu kalimat yang baik dan nama yang agung. Mungkin itu yang disebut doa. Lantas, perlahan ia memasukkanku ke dalam mulutnya, benar-benar gelap, gigi-gigi itu mulai memotong tubuhku, dan yang mengherankan, aku tak merasakan sakit, aku baik-baik saja.

Ia terus memotong hingga aku hancur berkeping-keping, tubuh lembutku turun perlahan melewati kerongkongan, dan terus ke bawah hingga usus dua belas jari, sampai tempat terujung. Dan jiwaku tak ingin masuki ini, di dalam lembah gelap seperti Donat keju. Aku tetap bersemayam dalam tubuh pembeli, meresap dalam darah dan dagingnya. Mungkin karena doa itu. Pembeli mengikatku, setan pun tak bisa menyeretku ke dalam lebah terkutuknya. Dengan doa itu pembeli membuatku bermanfaaat untuknya. Aku menjadi paham, seperti apa seharusnya kaum kami berakhir. Seperti ini, setiap makanan harus berakhir sepertiku, tidak seperti Donat Keju apalagi Bolu.

Oleh: Khijatul Karomah. Penulis adalah santri PPTQ, kelahiran 23 Mei 1995, asal Wonosobo, Jawa Tengah.

*Tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah. Mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan kita. Setiap hal baik yang diniatkan ibadah, maka hal itu akan menjadi berkah.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.